
💕
💕
Nania memaksa untuk membuka mata ketika indra penciumannya menangkap aroma manis yang menguar. Lalu dia mengerjap untuk mengumpulkan kesadarannya.
Daryl sudah tak ada di sampingnya, namun tirai dan jendela masih tertutup rapat. Padahal waktu di jam digitalnya sudah menunjukkan pukul delapan pagi.
Perempuan itu bangkit, lalu mengeluh saat merasakan kaki kanannya yang baru dia ingat tengah cedera akibat menendang batu semalam.
"Ah, kenapa juga harus nendang batu kan? Begini deh jadinya?" Dia bergumam sambil mencoba mencari posisi yang baik untuk berdiri.
"Hey, sudah bangun? Kenapa tidak memanggilku?" Tiba-tiba saja Daryl masuk, lalu dia bergegas menghampirinya. Meletakkan sebuah nampan di atas meja lalu membantunya bangkit.
"Baru aja." Nania menjawab dan dia membiarkan pria itu membantunya.
"Mau mandi?" tawarnya Daryl yang menuntunnya ke dalam kamar mandi.
"Kayaknya iya." Nania menganggukkan kepala.
"Baik."
"Tapi mau di shower aja biar cepet," katanya, setelah tiba di dalam kamar mandi.
"Oke." Dan Daryl mengantarkannya ke ruangan berbilas di samping bathtub.
Perempuan itu melepaskan seluruh pakaiannya meski Daryl pun membantunya. Namun tak ada yang terjadi setelahnya selain hanya aktivitas mandi saja saja.
Daryl membantunya mengusapkan sabun pada punggung dan menungguinya hingga Nania benar-benar bersih, lalu menuntunnya kembali keluar dan mengganti pakaiannya dengan yang baru.
"Kamu bikin sarapan?" Nania menatap nampan di atas meja.
Sepiring roti panggang dengan selai kacang, sepiring telor mata sapi dengan daging asap, ditambah semangkuk salad buah menjadi sarapan mereka pagi itu. Tidak lupa segelas air putih dan secangkir milk tea yang menjadi kesukaan perempuan itu.
"Hmm …." Daryl menggumam, kemudian membawa nampan yang diletakkannya di atas meja di depan sofa ujung tempat tidur di mana Nania duduk.
"Masa? Kirain Mbak Mima?"
"No, aku yang membuatnya. Believe me." Pria itu pun duduk di sampingnya dan menarik nampan agar lebih dekat.
"Bisa masak juga?"
"Sedikit. Aku ingat-ingat bagaimana caramu melakukannya."
Nania terkekeh, dan itu membuatnya merasa lega. Setidaknya perempuan itu sudah benar-benar memaafkannya.
"Kita coba, enak apa nggak?" Dia meraih garpu di sisi kanan piring.
"Mungkin tidak enak, jadi maafkan aku. Tapi setidaknya aku sudah berusaha membuatkan sarapan untukmu."
Nania tertawa sambil memotong roti yang sedikit garing, namun didalamnya ada lelehan selai kacang. Lalu dia segera melahapnya dengan semangat.
"Mm …." Nania mengangguk-anggukkan kepala.
"Bagaimana? Enak?" Daryl menatapnya dengan serius.
"Enak, rasa roti bakar selai kacang." Perempuan itu menjawab. Lalu dia beralih pada telur dan daging asapnya.
"Telurnya kematangan, daging asapnya kegaringan. Jadinya alot." Dia mengunyah daging dengan sedikit perjuangan.
"Ah, sudah aku duga." Daryl tampak kecewa.
"Tapi …." Nania mencicipi salad buahnya yang tampak menggiurkan. Berisi stroberi, black berry, blue berry, kiwi dan potongan kecil keju.Â
"Saladnya enak, rasanya seger."
"Benarkah?" Daryl sumringah.
"Ya, cocok juga untuk sarapan." Dan dia melahapnya setelah menghabiskan sepotong roti, lalu meneguk sedikit air putih disusul milk tea favoritnya.
"Sarapannya enak. Makasih Dadd," ucap Nania yang mendaratkan kecupan lembut di pipi suaminya.
Daryl terdiam, namun kedua sudut bibirnya perlahan tertarik membentuk senyuman dengan pipinya yang merona. Ini pertama kalinya perempuan itu bersikap manis lagi kepadanya, dan rasanya membahagiakan.
"Kayaknya aku harus nelpon Mahira nih." Nania mencari keberadaan ponselnya yang semalam berada di tasnya.
"Tadi subuh aku charge, mungkin sudah penuh." Daryl bangkit, kemudian mengambil ponsel milik istrinya di atas nakas lalu menyerahkannya.
"Oh iya, baiklah …." Dam perempuan itu segera menyalakannya.
__ADS_1
Ada banyak pesan yang masuk terutama chat di grup pedagang di bazar kampus. Yang isinya kurang lebih berdiskusi tentang penyerahan hasil penjualan selama satu minggu itu.
"Hallo, Mahira?" Telepon tersambung.
"Ya?" Lalu terdengar jawaban dari seberang.
"Kamu bisa ke kampus untuk ngasih uang donasi? Aku nggak bisa." katanya.
"Bisa. Sekalian mau ke restoran bantu Mama dan Papa. Memangnya kamu kenapa?"
"Aku kurang enak badan, jadi nggak bisa pergi."
"Oh, oke. Aku ke rumah kamu dulu apa gimana?"
"Nggak usah, aku transfer aja dari sini ya, biar kamu nggak repot? Nanti kamu serahin ke panitia, terus minta tanda terimanya."
"Baik."
"Oke kalau gitu. Makasih ya, Mahira?" Nania mengakhiri percakapan.
"Ya, Nna." Lalu sambungan pun terputus.
"Apa kakimu sangat sakit sehingga menyulitkanmu untuk berjalan?" Daryl menatap kaki kanan Nania yang ujung jarinya dibungkus perban.
"Lumayan, mana mulai bengkak lagi." Dan perempuan itu pun melakukan hal yang sama.
"Sayang sekali. Bagaimana kamu menghadiri fashion show kalau begitu?" Daryl dengan raut kecewa.
"Fashion show?"
"Ya, nanti malam di Fia's Secret House, ingat? Pembukaan FSH fashion week yang akan mengawali malam-malam pagelaran busana hingga satu minggu ke depan."
"Lama amat?"
"Namanya juga fashion week."
"Banyak model dong?" Nania sedikit menyindir.
"Tentu saja. Fashion designer juga banyak." Daryl menjawab dengan tenang meski dia tahu apa yang mungkin sedang Nania pikirkan.
"Wow."
"Kayaknya nggak bisa."
"Kenapa?"
"Kaki akunya?" Dia menunjukkan kakinya yang mengalami cedera.
"Tidak apa-apa, bisa pakai sepatu khusus."
"Sepatu khusus apa?"
"Khusus cedera."
"Emang ada?"
"Ada, nanti kita minta Regan membawakannya."
"Mmm … kayaknya nggak usah deh, aku di rumah aja. Nanti ribet lagi …."
"Tidak, aku mau kamu juga ikut. Dan memang harus iku."
"Tapi nanti malu ketemu orang-orang."Â
"Malu kenapa? Karena kamu cedera?"
Nania menganggukkan kepala.
"Kenapa cedera seperti ini membuatmu malu? Bukan aib, bukan juga hal buruk. Jadi sebaiknya ikut saja."
Perempuan itu terdiam.
"Bukankah agar semua orang tahu kalau aku ini bukan lajang?" Daryl berujar.
"Mereka emang udah tahu, cuma pada ngeyel aja maunya deket-deketan melulu."
Daryl terkekeh. "Makanya kamu harus ikut, sehingga mereka tidak berani mendekat."
"Nggak yakin."
__ADS_1
"Percayalah. Jika mereka melihat ada istriku di sana, mungkin tidak akan terlalu berani mendekat?"
"Masa?"
"Ya."
"Hmm … tapi aku nggak ada persiapan. Nggak ada baju buat pergi."
"Astaga!" Daryl memutar bola matanya. "Lalu yang ada di ruang ganti itu apa? Yang menumpuk di lemari, berjejer di gantungan? Kamu pikir kain pel?"
"Maksudnya nggak tahu apa yang cocok. Dresscode nya apa?"
"Hanya formal casual, jadi agak bebas. Dan undangan diharapkan bisa berkreasi dengan penampilan mereka untuk menghadiri acara ini."
"Jadi bebas aja?"
"Ya, tapi dalam artian bukan pakaian sehari-hari lho."
Nania tertawa, "Ya iyalah, masa ke acara kayak gitu pakai baju rumahan?"
"Makanya."
"Umm …."
"Jadi bersiap-siaplah nanti sore."
"Oke, kalau gitu."
"Makannya sudah?" Lalu Daryl beralih pada nampan yang isinya hampir kosong.
"Udah."
"Baik kalau begitu." Dan pria itu membereskannya, kemudian membawanya keluar dari kamar.
Sedangkan Nania hanya membiarkannya berbuat begitu. Menyenangkan juga rasanya dilayani suami, pikirnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kamu nggak mau gitu nyoba main di sini sebentar?" Anandita melepaskan helm dari kepalanya, lalu menyerahkannya kepada Arkhan.
"Main-main apaan? Masa main-main di rumah baca? Ogah. Mendingan aku ke Bogor lah." Sang kembaran menjawab.
"Udah Papa bilangin jangan ke Bogor terus. Tadi nggak denger ya?"
"Nggak."
"Dih, segitu jelasnya nggak denger?"
"Nggak mau denger maksudnya, hahaha." Pemuda itu tertawa sambil memarkirkan motornya.
"Kena jitak Papa baru tahu lho." Anandita memperingatkan.
"Nggak akan."
"Yakin amat?"
"Dari pada aku kelayapan nggak jelas?"
"Makanya, sekali-kali diem di rumah kek."
"Nggak asik weekend di rumah. Mending healing."
"Tapi kan nggak sama Kak Galang?"
"Ya biarin, orang aku cuma ke Bogor."
"Ish, ngeyel kalau dibilangin." Anandita mendorong belakang kepala saudaranya.
"Ann! Nggak sopan, aku bilangin Mommy lho!" ancam Arkhan dengan raut kesal.
"Sana bilangin, dasar anak Mama!" cibir gadis itu yang kemudian berlari masuk ke dalam rumah baca ketika melihat raut kesal saudaranya yang hampir menyemburkan omelan kepadanya. Dia tahu bahwa Arkhan paling tidak suka jika mendengar sebutan itu.
"Yah, nggak ada Om Regan?" Lalu gadis itu menatap sekeliling rumah baca dengan sedikit perasaan kecewa.
💕
💕
💕
__ADS_1
Bersambung ....