The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Kecurigaan Nania


__ADS_3

💕


💕


"Aku udah bilang belum sih kalau hari ini mau ke kampus?" Nania menyesap minuman favoritnya.


Pagi-pagi sekali dia sudah rapi dan siap untuk pergi.


"Mau daftar untuk bazar?" Daryl pun duduk di kursinya, lalu meraih cangkir kopi yang masih mengepulkan uap panas.


"Iya."


"Tidak usah."


"Kok nggak usah?"


"Sudah ada yang daftarkan."


"Lho, siapa?"


Pria itu meniup uap kopi lalu menyesapnya pelan-pelan.


"Regan." jawabnya, kemudian.


"Regan?"


"Ya."


"Kenapa Regan? Kan harus daftar sendiri."


"Regan juga daftar atas namamu, jadi ya sama saja."


"Masa bisa gitu?"


"Ya bisa saja."


"Masalahnya, aku tahunya kalau mau daftar ya harus datang sendiri."


"Tidak harus. Diwakilkan juga sudah bisa asal semua datanya jelas."


"Tapi kan …."


"Regan kan memegang semua datamu, jadi bisa saja dia melakukannya."


"Euuhhh … aku lupa Regan itu siapa." Nania memutar bola matanya. "Tahu gitu kenapa nggak bilang dari tadi? Kan aku nggak akan repot-repot mandi sama dandan dari pagi." Nania kemudian beranjak dan pindah ke sofa di depan televisi.


"Memang apa ruginya mandi juga dandan sejak pagi? Bagus kan rasanya segar, sehat pula?" Dan Daryl segera mengikuti perempuan itu.


"Sayang aja, udah dandan rapi-rapi pakai baju bagus, tahunya nggak pergi." Nania menyahut dari tempat duduknya.


"Memangnya salah kalau dirumah dandan rapi? Apa harus dandan ketika pergi saja? Sebenarnya untuk siapa kamu berdandan sementara aku ada di rumah pas hari libur?"


"Ya … rasanya sayang gitu kalau dandan tapi cuma diam di rumah. Mau ngapain?"


"Sayang juga ya kalau dandan untukku? Merasa tidak pantas bersolek dan tampil rapi di depan suamimu?"


"Umm …."


"Lebih bangga terlihat baik di mata orang lain?" ucap pria itu sambil mendelik.


"Nggak, Dadd. Aku kan biasanya gitu, kenapa malah jadi ke mana-mana?" Nania tertawa sambil menarik wajahnya untuk dia kecup.


Sebentar lagi akan ada yang merajuk jika tak segera diluruskan. Batinnya.


"Tante Nna?" Suara khas itu mengintetupsi tak lama setelah keduanya terdiam. Dan Ann menerobos pintu rumah pamannya yang pagi itu baru saja dibuka, seperti biasa.

__ADS_1


"Masih pagi, Ann. Kenapa kamu bersemangat sekali?" Daryl menoleh ketika sang keponakan mendekat.


"Iya, orang rumah baca aja masih di rumah mereka masing-masing kalau jam segini." Nania melirik jam dinding yang baru menunjukkan pukul 7 pagi.


"Takut ditinggalin ih, lagian hari ini papa sama mommy pergi ke Bogor kan?" Anandita menjawab.


"Siapa juga yang akan meninggalkan kamu? Regan juga belum datang." Daryl menjawab.


"Iya, itu maksudnya. Hehehe."


"Adik-adik kamu mana? Kenapa sepi sekali?" Daryl kemudian menoleh ke arah rumah besar yang tidak berbeda. Padahal ini adalah hari Sabtu di mana semua orang akan berkumpul seperti biasanya.


"Iku ke Bogor." Anandita menjawab.


"Kenapa kamu tidak ikut?"


"Om ini lupa ya? Aku kan harus ngajar di rumah baca." 


"Nggak harus juga, Ann. Kalau mau libur juga boleh, di sana kan nggak cuma ada kamu doang. Yang lain bisa gantiin kok kalau memang kamu ada keperluan lain. Keluarga juga penting lho." Nania menyahut.


"Nggak ah, aku kan punya prioritas. Harus pilih mana yang harus aku duluin, dan mana yang nggak."


"Prioritas?" Daryl membeo. "Kamu ini masih SMA. Prioritasmu hanya belajar agar berhasil di sekolah. Diluar itu ya hanya selingan." Dia menertawakan keponakannya.


"Yeee Om nggak ngerti deh."


"Ya memang. Kamu kan pelajar. Satu-satunya yang menjadi hal yang harus kamu dahulukan ya belajar. Bukannya mementingkan hal lain. Tantemu saja sekarang lebih fokus kuliah dan menjadikan rumah baca sebagai nomor dua. Apalagi jika di sana sudah banyak orang yang bisa diandalkan."


"Aaahhh, pokoknya Om mah nggak akan ngerti." Anandita menghempaskan punggungnya pada sandaran sofa, sementara Daryl hanya mencebikkan mulutnya.


"Ini kita pergi sendiri apa nungguin Om Regan sih, lama amat?" Anandita kembali bersuara setelah beberapa saat fokus pada ponselnya.


"Lah, biasanya juga pergi jam sembilan, ini baru jam delapan. Kamunya aja yang datang kepagian?" Nania menyahut tanpa memalingkan pandangan dari layar televisi yang sedang menayangkan acara liburan anak.


"Ya akunya takut papa tinggalin tadi, makanya ikut aja sambil lewat ke sini kan?" Anandita menjawab.


"Bener juga ya, kenapa tadi nggak kepikiran minta jemput aja? Iya ah, minggu depan gitu aja biar nggak kelamaan di sini. Lumayan kan?" Gadis itu bergumam, kemudian dia tertawa sambil menutup mulutnya.


"Dih, ketawa sendirian. Kamu sehat, Ann?" Nania menatap keponakannya dengan raut heran.


"Nggak ih, apaan? Dipikirnya aku gila apa? Sembarangan!" Gadis itu menjawab dan sesaat kemudian dia mendelik kesal.


"Habisnya kamu aneh deh. Iyakan, Dadd? Akhir-akhir ini Ann rada-rada lain ya?" Dia kemudian beralih pada suaminya yang melirik sekilas pada Anandita.


"Aneh apaan? Akunya biasa aja kok."


"Nggak tahu. Kamu agak lain pokoknya."


Anandita memutar bola matanya, kemudian memilih diam. 


Lalu perhatian mereka beralih ketika suara mobil yang dikenali sebagai milik Regan tiba, dan Anandita tentu saja segera beranjak untuk melihatnya meski dari dalam rumah pun sudah jelas.


"Panjang umur, baru aja diomongin?" ujar gadis itu yang hampir melewati pintu.


Regan yang turun dari mobilnya melirik dari balik kacamata hitamnya, dan dua sudut bibirnya sedikit tertarik membentuk lengkungan senyum yang samar.


"Om kok lama amat? mampir kemana dulu sih? Nggak tahu ya kalau aku udah di sini dari pagi?" Anandita segera menodongnya dengan pertanyaan.


"Ann?" Namun Daryl berusaha menghentikannya saat bawahannya itu berjalan mendekati rumah mereka sambil melepas kacamata hitamnya.


"Maaf, Pak? Apa saya terlambat? Nania sudah pergi?" Regan segera bertanya begitu dia tiba di teras.


"Tidak. Anak ini saja yang berlebihan dan merasa kita semua terlambat, padahal dia satu-satunya yang datang kepagian." Daryl pun beranjak dari tempat duduknya bersama Nania.


"Oh, saya pikir …." Regan sesekali melirik kepada gadis yang menunggu di ambang pintu, yang berusaha mengambil perhatian dengan melambaikan tangannya meski jarak mereka cukup dekat.

__ADS_1


"Hai Ann, selamat pagi. Apa kabar?" Regan pun lantas menyapanya, yang membuat Anandita tersenyum sumringah.


"Baik, Om." Gadis itu menjawab.


"Itu bagus." Lalu Regan melenggang masuk ke dalam rumah. "Apa ada yang harus saya bawa?" tanya nya saat melihat Nania yang tengah bersiap.


"Nggak usah. Aku nggak bikin apa-apa, kan tadinya mau ke rumah bacanya siang aja setelah dari kampus."


"Lho, terus?"


"Ke kampusnya nggak jadi." adu Nania.


"Memangnya ada kegiatan apa lagi? Bukannya kuliah libur?"


"Kan mau daftar untuk bazar. Tahunya udah kamu daftarin kan? Emangnya jam segini BEM udah buka ya?"


"Oh, soal itu? Memang sudah saya daftarkan semalam lewat kontaknya ketua BEM. Dan dia bersedia mendaftarkan stand FSH parfum. Mungkin nanti siang Mahira akan mengambilkan tanda bukti keikut sertaan juga name tagg punyamu."


"Mahira?" Nania dan Anandita bersamaan.


Nania sempat melirik ke arah keponakannya sebelum berbicara lagi.


"Apa hubungannya sama Mahira? Kenapa kamu nyuruh dia? Dan sejak kapan kamu punya kontaknya Mahira?" Nania segera bertanya.


"Eee …."


Daryl membulatkan matanya saat sang bawahan melirik.


"Maksudnya, saya meminta ketua BEM atau anggota mereka untuk menghubungi Mahira jika proses pendaftarannya sudah selesai dan semua hal siap untuk dilaksanakan."


"Kenapa menghubungi Mahira? Kenapa nggak langsung sama aku aja?" Nania bertanya lagi.


"Kamu kan hari ini mau ke rumah baca? Repot juga kalau harus bolak-balik ke kampus? Lagipula Mahira memang sedang ada kegiatan di kampus."


"Kegiatan apa? Kok aku nggak tahu? Tapi malah kamu yang lebih tahu?" Nania menatap curiga pada bawahan suaminya tersebut.


"Saya tahu dari ketua BEM. Katanya Mahira memang ada kegiatan di sana." Regan kembali melirik ke arah Daryl yang tampak memberikan isyarat padanya.


"Emang kamu kenal sama ketua BEM nya sampai-sampai bisa menghubungi dia?" tanya Nania lagi.


"Kenal." Regan menjawab.


"Kok bisa kenal?"


"Bisa. Kalau itu dibutuhkan ya mau tidak mau harus kenal." 


Nania menoleh ke arah suaminya dengan raut curiga. "Curiga ada sesuatu nih?" gumamnya, pelan. Namun dua pria itu masih bisa mendengar ucapannya.


"Hey, kenapa menatap aku seperti itu?" Dan Daryl bereaksi karenanya.


"Nggak tahu, aku ngerasa ada sesuatu aja pokoknya."


Daryl tertawa. "Kamu ini konyol. Ayo cepat kita pergi ke rumah baca? Setelah itu aku mau membawamu jalan-jalan." Lalu dia menarik Nania keluar dari rumah.


"Regan, pakai mobilku seperti biasa ya?" Pria itu kemudian melemparkan kunci mobilnya ke arah belakang di mana Regan berada. Dan sang bawahan memang mampu menangkapnya dengan tepat.


Dia lantas mengikuti keduanya keluar dari rumah seraya menyentakkan kepala pada Anandita.


💕


💕


💕


Bersambung ...

__ADS_1


Selamat hari Vote!!


__ADS_2