The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Kecemburuan


__ADS_3

💕


💕


"Berhenti dulu, itu ada Ann." Nania bangkit menegakkan tubuhnya saat mobil yang dia tumpangi melewati depan sekolah di mana keponakannya berada.


Lalu Regan segera menepi dan berhenti di dekat trotoar.


"Ann?" Perempuan itu menurunkan kaca mobilnya lalu melambaikan tangan.


"Tante!!" Dan Anandita berlari ke arahnya.


"Mau pulang?"


"Nggak. Mau kerja kelompok dulu. Tante sendiri mau ke mana? Pulang?"


"Nggak. Aku mau ke FSH."


"FSH?"


"Iya."


"Kuliahnya udah selesai?"


"Belum. Kan lagi ada bazar, tapi agak sepi. Jadinya mau ke FSH aja deh."


"Oohh …."


"Kamu kerja kelompoknya di mana?" Nania bertanya.


"Rumah temen."


"Kerja kelompok atau pacaran? Ahahaha."


"Kerja kelompk lah, mana ada pacar-pacaran?" Gadis itu melirik ke arah depan di mana Regan berada.


"Beneran?"


"Beneran, Tan."


Lalu terdengar suara klakson dari belakang dan teriakan salah seorang temannya.


"Ann, jadi ikut nggak? Kalau jadi kamu ikut Rangga."


"Iya, sebentar." Anandita balik berteriak.


"Duh, kerja kelompoknya berapa orang?" Nania melihat ke arah belakang di mana sekumpulan anak-anak sekolah itu berada.


"Banyakan. Sebentar lagi ujian, Tan. Jadi harus sering belajar." jawab sang keponakan.


"Ann, cepetan dong. Keburu sore nih." Pemuda yang berada di balik kemudi sebuah sedan hitam sedikit berteriak.


"Iya, Rangga. Sebentar." Anandita menjawabnya. "Pergi dulu ya, Tan? Dah Om Regan?" Lalu dia melambaikan tangan dan segera menjauh.


"Ayo, Regan jalan lagi. Kenapa kamu malah melamun." Nania menepuk pundak Regan yang terdiam menatap spion di atas kemudi.


"Umm …."


"Atasan kamu masih makan siang sama temen kerjanya nggak sih?" Nania berbicara saat kendaraan roda empat itu mulai melaju.


"Tadi sih masih." Regan menatap sedan hitam yang melaju mendahuluinya. Apalagi ketika Anandita kembali melambai dan tersenyum kepadanya sambil memberinya finger heart seperti biasa.


"Berapa orang yang dateng?" Nania bertanya lagi.


"Sekitar sepuluh orang." Regan menambah kecepatan mobilnya ketika sedan di depan hampir luput dari penglihatannya.


"Aduh, banyak juga ya? Itu model semua?"


"Tidak juga. Ada satu pemilik agensi, satu manager, dan yang lainnya staff."


"Temenya bos kamu yang mana?"


"Manager agensi."


"Cewek?"


"Ya."


"Cantik?"

__ADS_1


"Lumayan."


Nania mengangguk-anggukkan kepala.


"Ugh! Apa maunya anak itu? Kenapa malah kebut-kebutan?" Regan menggerutu sambil terus menambah kecepatan mobilnya.


"Regan, kamu ini ngapain?" Lalu Naia bereaksi. Dia berpegangan pada belakang kursi saat kendaraan itu melaju kencang di antara kendaraan lainnya.


"Itu … temannya Ann kebut-kebutan!" Regan hampir mensejajari sedan hitam yang di dalamnya ada Anandita.


Namun kemudian kendaraan itu memelan ketika menemukan sebuah tikungan di sisi kanan. Lalu mereka berbelok dan kembali melaju kencang.


"Regan, kita mau ke mana?" Dan pria itu pun hampir saja membelokkan mobilnya untuk mengikuti ketika pertanyaan Nania menyadarkannya.


"Kita kan mau ke FSH, kenapa malah ngikutin Ann?" ujar perempuan itu.


"Umm … tapi itu tadi … Ann … temannya …." Regan menghentikan laju mobilnya.


"Biarin lah, bukan urusan kita."


"Tapi itu Ann …."


"Tugas kamu sekarang kan bawa aku ke FSH, bukan ngurusin Ann." ucap Nania lagi yang membuat Regan terdiam.


"Udah, cepetan kita ke FSH. Aku mau lihat temennya suami aku."


"Umm … baik." Dan Regan segera memalingkan pandangan saat sedan hitam itu menghilang di kejauhan, lalu dia melanjutkan perjalanan membawa Nania ke Fia's Secret House.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Hai Nna? Pulang kuliah?" Dinna menyapanya begitu mereka tiba di tempat tersebut.


"Iya, Kak. Lagi sibuk?" Nania menatap sekeliling area yang cukup ramai.


Fia's Secret House memang manjadi semacam sarana berbelanja perlengkapan fashion sekaligus sebagai tempat orang-orang berkumpul menikmati waktu.


Kebanyakan dari mereka adalah anak muda atau para sosialita dan penikmat pergaulan kelas menengah ke atas yang memang mementingkan dari segi gaya dan penampilan. Dan Fia's Secret House adalah tempat yang tepat untuk hal tersebut.


"Begitulah, setiap hari ada saja acara."


Nania tertawa pelan.


"Iya, nggak apa-apa. Aku nunggu aja." 


"Oke, kamu nunggunya di dekat ruang makan saja, jadi pas mereka selesai kamu bisa langsung ketemu Pak Daryl."


Nania menganggukkan kepala.


Kemudian Dinna membawanya ke area samping di mana tempat makan berada, dan memang di sana tampak Daryl yang tengah menjamu tamu-tamunya.


"Kamu bisa tunggu di sini, atau mau sekalian ke sana aja ketemu Pak Daryl? Aku kasih tahu dulu sekarang." Dinna menawarkan.


"Umm … nggak usah, Kak. Aku nunggu aja di sini sampai selesai. Sebentar lagi kan?"


"Ya."


"Ya udah, nggak apa-apa."


"Oke, mau aku pesankan sesuatu?"


"Jus aja boleh."


"Baik kalau begitu. Nanti jusnya diantar ya? Aku balik ke dalam?"


Nania menganggukkan kepala, kemudian Dinna pun segera pergi.


"Baik, senang sekali menerima kunjungan kalian di sini. Semoga selanjutnya kita bisa bekerja sama dengan baik ya?" Beberapa perempuan dengan penampilan aduhai keluar berurutan.


"Kami juga. Terima kasih atas makan siangnya." Dan perempuan yang usianya kira-kira sama dengan Daryl pun menghentikan langkah mereka.


"Ya, semoga kalian senang, Sherin." Daryl tampak ramah, begitupun perempuan-perempuan itu.


"Senang sekali, apalagi pimpinan FSH langsung yang menjamu kami." jawab perempuan di samping Daryl.


"Ah, itu bukan apa-apa. Hanya sedikit yang perlu aku lakukan kepada para model. Iya kan?" Pria itu tertawa, diikuti oleh tamu-tamunya.


"Baiklah, kalau begitu kami pamit. Semoga secepatnya kita bisa bekerja sama." Sherin mengukurkan tangan untuk bersalaman, yang segera disambut oleh Daryl. Dan tanpa diduga perempuan itu mendekat dan memeluknya.


Lalu hal yang sama pun di lakukan oleh model-model yang dia bawa, yang tanpa bisa dihindari oleh Daryl.

__ADS_1


"Eee … ya, semoga." Pria itu tampak canggung. Meski di dunia yang dia geluti hal itu sudah biasa, namun kali ini rasanya lain.


"Kami pergi, Daryl. Sampai bertemu lagi nanti." pamit Sherin yang segera menggiring model-modelnya untuk meninggalkan tempat tersebut.


"Ya, sampai nanti." Daryl pun mengantar kepergian mereka dengan pandangan.


Dia tertegun sebentar, lalu berbalik dan bermaksud kembali ke ruang kerjanya ketika menemukan sosok Nania yang duduk menatapnya di taman sebelah tempat makan.


Pria itu terkesiap, dan dia merasa bahwa adegan tadi tertangkap pandangan perempuan itu.


"Malyshka, kamu sudah lama di sana?" Daryl segera menghampirinya.


"Lumayan." Nania menjawab.


"Kenapa tidak masuk dan menemui aku?"


"Takut ganggu, kayaknya kamu sibuk banget?" Perempuan itu melipat kedua tangannya di dada.


"Ah, … hanya bertemu model."


"Modelnya seksi-seksi ya?" Nania memiringkan kepala untuk melihat perempuan-perempuan cantik itu.


"Ya … namanya juga model kan?" Daryl segera duduk di sampingnya.


"Agennya juga nggak kalah cantiknya ya? Sampai peluk-peluk cium gitu." Nania mengerucutkan  mulutnya.


"Hanya formalitas, Sayang."


"Tetep aja aku kesel lihatnya." Nania bergumam.


"Apa?" Namun Daryl malah tertawa.


"Emang mereka nggak tahu ya kalau kamu udah nikah? Kok dengan seenaknya kayak gitu?" Nania memalingkan wajah ke arah suaminya.


"Mungkin tahu. Apalagi Sherin."


"Sherin itu yang mana? Yang pertama peluk cium kamu tadi ya?"


"Eee … ya …." Daryl mengusap tengkuknya yang terasa meremang. 


"Hmm …." Nania mendenguskan napasnya dengan keras.


"Sudah, jangan dipermasalahkan. Itu bukan apa-apa." Pria itu bangkit seraya meraih pergelangan tangannya. "Ayo kita ke atas? Bukankah kamu kesini karena mau bertemu aku?" Lalu dia menariknya ke arah lift.


"Nggak jadi ah, aku mau pulang aja." Namun Nania menahan langkahnya.


"Lho, kenapa?"


"Aku bete."


"Bete?" Daryl mengerutkan dahi.


"Setelah lihat ada cewek lain yang meluk-meluk sama cium kamu, rasanya aku kesel." Nania cemberut.


"Sudah aku katakan itu hanya formalitas, jangan dianggap terlalu serius. Di dunia entertain memang seperti itu." Namun Daryl tetap menariknya ke arah lift yang pintunya sudah terbuka. Meski perempuan itu semakin mengerucutkan mulutnya.


"Sudah, sudah. Kamu jelek kalau seperti itu!" Dan Daryl malah tertawa. Entah mengapa dia merasa senang akan hal tersebut.


"Kamu nggak ngerti perasaan aku, Dadd. Gimana pas lihat suami aku dipeluk cewek lain, rasanya … ugh!! Kayaknya aku ini cemburu, tahu?"


"Iya iya, aku tahu. Hahaha …." Pria itu tertawa lagi sambil merangkul pundak Nania.


"Ah, kamu nyebelin!" Lalu dia menyentakkan sikutnya sehingga menekan perut Daryl.


"Awww!! Jangan begitu. Kan bukan aku yang sengaja memeluk. Mereka sendiri yang melakukannya secara suka rela." Daryl membela diri, tapi dia masih tertawa.


"Tapi kamunya malah diam aja." 


"Sudah terlanjur, dan aku tidak bisa menghindar."


"Ah, bilang aja kamu seneng. Cowok emang gitu!" Lift berhenti, lalu pintunya terbuka. Kemudian mereka segera keluar dan menuju ke ruang kerja milik Daryl.


💕


💕


💕


Bersambung ...

__ADS_1


Nah lu ... Gimana cara nenanginnya itu? 😂😂


__ADS_2