The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Promosi Gratis


__ADS_3

πŸ’•


πŸ’•


Nania tersenyum puas saat melihat beberapa kotak karton yang berada di bagian belakang Rubicon milik Daryl.


Dia lantas memeriksanya, dan di dalamnya ada puluhan botol parfum Fia's Secret berukuran kecil yang dia sesain sendiri.


"Sudah?" Daryl segera menghampiri, diikuti Regan yang datang untuk membantu.


"Udah."


Lalu dua pria itu bersama-sama memindahkan kotak-kotak tersebut ke sebuah tenda yang sudah diatur sedemikian rupa untuk berjualan.


"Kapan bikinnya ini? Pagi-pagi pas aku datang udah ada aja. Mana bannernya lucu banget lagi." Nania menyentuh banner diluar tenda yang bergambar dirinya sedang berpose memegang botol parfum sambil tersenyum.


"Kamu benar. Bannernya lucu, apalagi kalau aku juga ikut. Tapi sayang, Regan bilang itu aka sangat berlebihan." Pria itu melirik ke arah asistennya yang sibuk menata barang dagangan Nania.


"Ish, kan ini untuk keperluan kampus, Dadd. Bukan untuk komersil."


"Iya, aku tahu. Itu juga yang Regan katakan."


Nania tertawa.


"Maaf aku telat!" Mahira tiba setelah beberapa saat dan segera ikut membereskan parfum-parfum tersebut bersama Regan.


"Kamu ngapain? Ikut jualan juga?" Nania menatap teman sekelasnya itu.


"Nggak, kan aku mau bantuin kamu." Mahira menjawab.


"Bantuin aku?"


"Ya."


"Kenapa?"


"Nggak kenapa-kenapa, bantuin aja. Dari pada bengong atau jajan nggak jelas, mending bantuin kan?"


Nania sedikit menjengit.


"Jadi, mana aja nih yang harus diberesin? Masa udah semuanya?" Gadis itu menatap meja yanh sudah diisi dua karton yang ditumpuk beserta botol-botol patfum dengan berbagai varian.


"Tidak usah repot-repot. Kalau mau, temani saja Nania selama berjualan." Daryl menyahut.


"Eee … iya, Pak."


"Regan, apa sudah selesai?" Lalu pria itu beralih kepada bawahannya.


"Sudah, Pak." Regan pun menjawab.


"Kalau begitu, apa kita bisa pergi?"


"Baik, Pak. Silahkan."


"Oke, aku akan pergi setelah ini." Daryl beralih kepada Nania, dan perempuan itu pun menganggukkan kepala.


"Jualannya sampai sore kan? Jadi Regan tak harus bolak-balik ke sini untuk menjemputmu?"


"Iya." Nania pun mengangguk lagi.


"Baiklah, kamu aku tinggal. Jangan nakal ya?" Pria itu merangkul Nania yang tertawa.


"Aku serius, kalau nakal nanti aku tidak akan mengizinkanmu lagi ikut acara seperti ini." Dia melirik kepada Mahira.


"Iya, Dadd."


"Aku pergi." Lalu pria itu mengecup pelipisnya sebelum akhirnya dia melepaskan Nania.


"Keep your eyes on her." Pria itu melirik kepada Mahira sambil bergumam, kemudian dia segera pergi.


"Nania?" Mereka menatap kepergian dua pria berstelan jas itu hingga mereka menghilang di antara kerumunan yang mulai terbentuk saat matahari sudah benar-benar bersinar terik.


"Ya?"


"Gimana rasanya diposesifin kayak gitu sama Pak Daryl?" Mahira bertanya.

__ADS_1


"Maksud kamu?" Lalu Nania menoleh kepadanya.


"Selalu diawasi, terus pergerakan kita dibatasi tanpa kompromi."


Β 


Nania terdiam sebentar.


"Apa terkekang, atau pernah merasa nggak leluasa bergerak?" Gadis itupun melakukan hal yang sama.


"Ya. Siapa yang nggak? Aku dulu terbiasa hidup bebas, melakukan semua yang aku suka dan nggak mikirin hal-hal semacam itu. Tiba-tiba aja harus ikut semua aturan suami dan nurut sama apa yang dia bilang."


Mahira mendengarkan.


"Aku ngerasa kayak mau napas tapi susahnya minta ampun. Tapi di sisi lain itulah resiko nikah sama seorang Nikolai, se nggaknya hidup aku kebih baik dari sebelumnya."


"Masa?"


"Ya. Se nggaknya ada yang melindungi aku dari orang-orang yang punya niat nggak baik. Yang cuma bisa membebankan segala hal di pundak aku."


Dua sahabat itu saling pandang.Β 


"Kayaknya itu lebih baik deh dari pada selalu ngerasa was-was setiap habis gajian karena tahu kalau hasil kerja kamu setiap hari nggak akan cukup untuk biaya semua anggota keluarga. Tapi itu semua nggak pernah dihargai." Nania tertawa, kemudian dia melenggang masuk ke dalam tenda dan akan memulai kegiatan dagangnya hari itu.


***


"Parfum kualitas premiumnya silahkan. Boleh dicoba kak, siapa tahu tertarik." Nania dengan semangatnya menawarkan barang dagangan meski belum begitu terlihat antusiasme para pengunjung yang berdatangan pada hari itu.


Maklum, ini hari pertama dan kampus tersebut tidak terlalu membuka diri secara umum. Sengaja, untuk menghindarkan hal-hal yang mungkin bisa mengganggu proses perkuliahan yang masih berlangsung di sebagian fakultas.


Meski acara diadakan di lapangan olah raga, tetap saja jam kuliah yang masih berlangsung untuk beberapa fakultas yang berisi mahasiswa tingkat akhir menjadi hambatannya.


"Gimana?" Mahendra dan beberapa teman anggota BEM nya berhenti di depan stand milik Nania.


"Siang Kak. Baru mulai jadi belum terlalu ramai." Mahira langsung menyapanya.


"Hmm …."


"Tapi udah ada yang beli kok. Lumayan lah."


Dan pria itu hampir saja pergi untuk berkeliling memeriksa situasi bazar tersebut lagi sebelum akhirnya, langkahnya terhenti ketika Nania menyodorkan sebotol parfum kepadanya.


"Kakak mau sampelnya?" ucap Nania dengan wajah sumringah.


Mahendra menatap perempuan itu untuk beberapa saat.


"Ini gratis." Lalu dia beralih pada dua teman di belakangnya. "Kakak juga kalau mau boleh ambil." katanya lagi, dan dia pun menyodorkannya pada mereka, yang segera diterima dengan riang gembira.


"Ayo Kak, atau mau pilih varian apa? Silahkan." Dia pun mundur lalu menunjukkan sebuah kotak berisi botol-botol parfumnya.


"Kalau untuk cowok yang ini, semuanya best seller. Untuk versi originalnya bisa order di website Fia's Secret parfum atau datang sendiri ke outlet kami. Gampang kok nemuinnya, di mall juga ada." Nania terus saja berbicara sementara Mahendra hanya mendengarkan.


Ini pertama kalinya dia mendengar perempuan itu banyak bicara sejak kegiatan perkuliahan di mulai.


"Itu kayaknya bagus untuk Kakak." ucap Nania lagi saat Mahendra menyentuh botol parfum dengan tutup berwarna biru.


Dan pria itu lagi-lagi beralih menatap ke arahnya.


"Sample gratis, Kak."


"Serius?" Mahendra buka suara.


"Iya."


"Syaratnya?"


"Nggak ada."


"Masa saya menerima pemberian tanpa ada syaratnya?" Dia berujar.


"Nggak ada, asli." Nania meyakinkan.


Mahendra terdiam sebentar. "Oke." Lau dia mengambil satu botol yang telah dipilihnya, membuka tutupnya kemudian mengusapkan ujung botol yang berupa roll on tersebut ke pergelangan tangannya.


Dia menciumnya sebentar saat benda itu menguarkan aroma yang sangat menyenangkan.

__ADS_1


"Nanti saya tawarkan sama temen-temen di grup. Stok kamu banyak kan?" katanya kemudian.


"Banyak Kak."


"Baiklah, terima kasih." Mahendra pun tersenyum, lalu dia melanjutkan niatnya untuk berpatroli ke semua stand pedagang.


"Parfumnya malah dibagi-bagi? kamu gila ya?" Mahira bereaksi sepeninggal senior mereka.


"Nania!" Lalu dia menepuk lengan temannya tersebut yang menatap punggung Mahendra dan kedua temannya.


"Apaan ih?"


"Itu, parfumnya malah kamu bagiin."


"Terus kenapa?"


"Belum apa-apa kamu udah rugi, tahu?"


Nania tertawa.


"Dih, dikasih tahu malah ketawa?"


"Nggak apa-apa." Perempuan itu berucap.


"Nggak apa-apa gimana? Segitu juga kamu udah kehilangan seratus ribuan, tahu?"


"Ya udah, nggak apa-apa. Nanti juga bakal balik berkali-kali lipat."


"Maksud kamu?"


"Kamu nggak denger tadi Kak Mahendra bilang apa?"


Mahira mengerutkan dahi.


"Promo yang sukarela dan tanpa disengaja itu bakalan lebih besar pengaruhnya dari pada kita teriak-teriak di sini."


"Hum?" Gadis itu belum paham apa maksudnya.


"Anggap aja itu endorse. Jadi, kamu tinggal diam dan menunggu pembeli aja tanpa harus terlalu capek teriak-teriak."


"Promosi … gratis."


"Ya … benar. Dan tiga orang yang dikasih gratis udah cukup dari pada harus teriak kenceng apalagi harus bayar orang sana-sini untuk promo." Nania menjelaskan maksudnya.


"Oooo … iya iya."


"Ngerti sekarang?"


"Ngerti ngerti." Mahira menganggukkan kepala.


"Bagus, kalau gitu ayo kita bersikap normal?" Nania keluar lagi dari tenda.


"Maksudnya bersikap normal?"


"Teriak-teriak lagi kayak tadi sambil nunggu serbuan pembeli yang nggak tahu kapan datangnya." Perempuan itu tertawa.


"Formalitas, gitu?"


"Iya. Biar kelihatan ada kerjaan kayak orang-orang. Hahaha."


"Kalau tetep sepi gimana?"


"Nggak apa-apa, kita nggak rugi."


"Hmmm …."


Lalu dua perempuan itu kembali menawarkan barang dagangannya seperti yang lain.Β 


πŸ’•


πŸ’•


πŸ’•


Bersambung ....

__ADS_1


Ide yang cemerlangπŸ˜‚πŸ˜‚


__ADS_2