
π
π
"Hey, bekalmu." Ucapan Daryl menghentikan Nania yang hampir saja turun dari mobil.
"Oh iya, lupa. Thanks, Dadd." Lalu perempuan itu menyambar uang tunai yang disodorkan Daryl kepadanya.
Dia kemudian mengecup sudut bibir suaminya sebelum akhirnya benar-benar turun.
"Jangan pergi sebelum Regan menjemputmu ya? Atau telfon aku jika kamu pulang lebih awal." Pria itu sedikit berteriak dari dalam mobil sebelum Regan menutup pintu.
"Oke, aku buru-buru." Dan Nania berlari sambil melambaikan tangannya.
"Jadwalnya berantakan sekali bulan ini. Apa tidak bisa diatur seperti di awal?" Mobil melaju keluar dari area kampus yang cukup ramai.
"Bukan jadwalnya yang berantakan tapi dosennya, Pak." Regan yang kini lebih sering mendampingi Daryl memastikan semuanya siap.
"Memangnya mereka tidak mengatur jadwal dengan benar? Bisa-bisanya membuat mahasiswa kuliah tidak tepat waktu. Kadang muncul jadwal pagi-pagi sekali, kadang mundur sampai beberapa jam."
"Sebagian dosen punya lebih banyak jadwal di tempat lain sehingga terjadi hal seperti itu."
"Kenapa bisa begitu? Apa mereka keurangan uang sehingga mengambil banyak pekerjaan selain di satu kampus saja?"
"Bukan kekurangan uang, tapi terkadang ada tawaran lebih bagus dan mereka tidak bisa menolaknya. Atau ada beberapa dosen yang menjadi pembimbing mahasiswa tingkat akhir sehingga waktu yang ada habis untuk mereka."
"Hah β¦ kalau begini bisa kacau kuliahnya Nania." Daryl menyandarkan punggungnya pada kursi.
"Jangan khawatir, Pak. Kuliahnya Nania tidak akan kacau. Hanya waktunya saya yang tidak tentu."
"Itu maksudku. Dia akan lebih sering berada diluar rumah untuk menunggu."
Regan tak menyahut, dia tahu perkara waktu ini akan menjadi urusan panjang untuk atasannya. Dan dia tak ingin mendengar ocehan tak berfaedah keluar dari mulut atasannya itu seperti beberapa minggu yang lalu ketika Nania sering pulang diluar jam biasanya, karena beberapa mata kuliah mundur akibat dosen yang terlalu banyak urusan. Dan itu sudah berlangsung selama dua bulan belakangan.
"Regan, kau sudah dapat orang untuk mengawasi Nania dari dekat? Tidak mungkin juga aku menugaskanmu untuk menungguinya di kampus kan?" Daryl berbicara lagi setelah terdiam cukup lama.
"Belum, Pak. Saya pikir belum perlu? Bapak mau saya carikan sekarang?" Regan melirik atasannya lewat kaca spion.
"Kalau keadaannya terus begini aku rasa kau perlu mencarinya sekarang. Nania bisa saja diluar jangkauan kita karena kegiatannya dan seperti kataku tadi, kau tidak mungkin aku tugaskan untuk selalu ada di dekatnya, bukan?"
"Apa kita perlu merekrut teman sekelasnya?" Regan dengan idenya yang brilian.
"Teman sekelasnya?"
"Ya. Aka sangat aneh jika kita menempatkan orang lain di kampus, dan lagi Nania akan merasa tidak nyaman dengan hal itu."
"Apa temannya banyak?"
"Di kelasnya ada setidaknya 40 orang, tapi Nania hanya dekat dengan satu orang saja."
"Siapa?"
"Kita tahu istri Anda tidak mudah berteman dengan sembarang orang meski ada juga beberapa yang berusaha mendekatinya."
Sebuah senyum tersungging di bibir Daryl, karena dia merasa senang mendengar hal tersebut. "Good girl. Dia tidak mudah percaya orang asing sekarang." katanya.
"Ya, memang."
__ADS_1
"Jadi menurutmu siapa yang bisa kita gunakan untuk menjaganya?" Daryl bertanya lagi.
"Sepertinya Mahira bisa. Hanya dia yang dekat dengan Nania sejak mereka kuliah, bukan?"
"Mahira?" Pria itu mengerutkan dahi.
"Teman barunya Nania."
"Oh .. Gadis itu?"
"Iya Pak."
"Kau pikir dia bisa?"
"Kalau sekedar mengawasi Nania dari dekat tentu saja bisa. Dan istri Anda sangat mempercayainya, bukan?"
"Apa dia kita bisa percaya?"
"Saya pikir bisa. Karena dari Mahira kita bisa mengetahui apa saja yang mereka lakukan tanpa membuat Nania merasa curiga."
Daryl terdiam sebentar.
"Kau pikir itu ide yang bagus?"
"Ya. Setidaknya ada yang melapor kalau ada apa-apa, dan orang kita yang terdekat bisa langsung mengambil tindakan."
"Hmm β¦." Daryl mengguman sambil mengerucutkan mulutnya.
"Kalau Bapak izinkan, mungkin nanti malam saya akan menghubungi Mahira dan orang tuanya."
"Apa kau bilang? Menghubungi dia dan orang tuanya? Memangnya mau ada acara lamaran ya?" Daryl sedikit tertawa mendengar ucapan bawahannya.
Daryl tertawa lagi. "Aku kira kau mau sekalian minta izin untuk mengencani putri mereka?" Dan dia mencondongkan tubuhnya ke depan.
Regan hanya memutar bola matanya.
"Hey Regan, apa kau masih belum punya pacar?" Pria itu lantas bertanya.
"Maaf Pak, itu urusan pribadi." Regan menjawab.
"Aaa β¦ kau masih jomblo ya? Belum dapat siapa-siapa?"
Regan takΒ menjawab.
"Kenapa? Apa tidak ada yang menyukaimu?" Dia terus menggoda bawahannya tersebut.
"Saya terlalu sibuk untuk memikirkan urusan pribadi, Pak." Akhirnya Regan menjawab meski sedikit enggan.
"Ah, benar juga. Kau lebih banyak bekerja dari pada bergaul ya? Kalau begitu kenapa tidak kau pacari temannya Nania sekalian? Kan kau tidak harus meluangkan waktu. Setiap hari akan bertemu jika mengantar dan menjemput Nania." Daryl kembali tertawa.
"Bagaimana? Bagus kan ideku?" Pria itu menepuk bahu Regan.
"Ya, tapi sayangnya saya tidak suka perempuan yang lebih muda, Pak. Rasanya seperti mengasuh anak TK." Dia kembali menjawab.
"Apa katamu?"
"Saya tidak terbiasa berhubungan dengan anak dibawah umur." Regan berujar dengan santainya, membuat sang atasan terdiam sambil memicingkan mata.
__ADS_1
...β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦...
Nania menoleh ketika mendengar keriuhan saat dia dan Mahira melintasi kantin pada saat istirahat. Dan kerumunan yang berisi beberapa orang senior menyita pandangan.
"Jangan Hen, jangan. Itu udah ada yang punya." Seseorang menepuk bahu Mahendra, kemudian mereka sama-sama tertawa.
"Yang singel banyak, Hen. Jangan yang udah ada pawangnya. Bahaya." Kerumunan itu terus berisik sehingga benar-benar menyita perhatian hampir semua yang berada di dalam kantin, tak terkecuali Nania dan Mahira.
"Kamu bekalnya apa hari ini?" Dan gadis itu melihat isi kotak makan milik Nania.
"Nasi kepal sama ayam kayaknya." Nania menggeser kotak berisi makanan yang dihias buatan asisten rumah tangga mertuanya.
"Rajin banget sih mereka bikinin makanan untuk kamu? Mana lucu-lucu lagi bentuknya?" Mereka makan bersama seperti biasa, karena Nania memang membawa makanan lebih untuknya.
"Hu'um. Kalau nggak rajin, suami aku bisa ngomel seharian."
"Masa? Suami kamu galak ya?" Mahira mengunyah makanannya dengan semangat sama seperti Nania.
"Nggak juga, cuma dia suka ngomel kalau perintahnya nggak diturutin."
Mahira tertawa. "Apa anggota keluarga Nikolai semuanya begitu?"
"Nggak juga. Ada kak Dim yang perhatian, ada Darren yang baik." Nania bercerita.
"Suami kamu itu bukannya kembar ya?"
"Ya, sama Darren. Tapi dia kebalikannya."
"Ohh β¦ pernah ketuker nggak sih sama kembarannya? Mereka kelihatan sama kan?"
"Nggak. Kalau udah kenal mereka beda kok."
"Masa? Aku pernah lihat foto kalian di iklan parfum, dan kayaknya sama aja deh."
"Beda tahu?"
"Iya gitu? Aku nggak bisa bedainnya."
"Ya kalau udah nikah mah bisa-bisa aja cuma lewat feeling juga."
"Lewat feeling gimana?"
"Ah, kamu nggak akan ngerti biar aku jelasin juga. Soalnya rumit." Nania menyuapkan nasi kepal terakhir di kotak makanannya.
"Rumit gimana?"
"Kalau soal itu kayaknya cuma yang udah nikah aja yang ngerti. Jomblo mah nggak akan ngerti." Lalu dia tertawa, sementara Mahira mendelik.
Dan lagi-lagi perhatian mereka beralih ketika para senior di belakang kembali bersorak saat Mahendra tampak beranjak dari tempat duduknya. Dan pria itu sempat melirik ke arah Nania dan Mahira sebelum akhirnya pergi diiringi sorakan teman-temannya yang mengikuti di belakang.
π
π
π
Bersambung ....
__ADS_1
Ada apa ya kira-kira?π€π€π€