The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Hari Yang Biasa


__ADS_3

πŸ’•


πŸ’•


"Daddy … masih belum mau bangun apa? Nanti kesiangan lho." Nania membuka tirai jendela kamarnya lebar-lebar sehingga sinar mentari pagi masuk dengan leluasa.


"Sarapannya udah siap, nanti keburu dingin lho." Kemudian dia mendekat ke ranjang di mana Daryl masih terlelap.


"Daddy?" Nania mengusap wajah suaminya, dan pria itu sedikit mengerjap.


"Ayolah …."


"Jam berapa ini, Malyshka? Kenapa kamu sudah ribut?" Lalu Daryl bergumam sambil mengumpulkan segenap kesadarannya.


"Jam enam." Dan Nania menyingkap selimut tebal itu sehingga tubuh setengah telanjang Daryl terpampang nyata di depan mata.


"Masih pagi." gumamnya sambil mengusap wajah dan menggaruk kepalanya, hingga membuat rambut gondrongnya semakin berantakan.


"Kan cukup, biar nggak terburu-buru." Nania bolak-balik membereskan seisi kamar yang sebenarnya tidak terlalu berantakan.


"Ck!" Namun dia berdecak ketika mendapati suaminya yang malah kembali tenggelam dalam lelapnya tidur.


"Ish!" Tiba-tiba saja ia naik ke tempat tidur dan menduduki perut pria itu untuk membuatnya bangun.


"Malah tidur lagi, nggak akan pergi kerja apa?" katanya sambil mengguncang-guncangkan tubuh suaminya.


"Aaa … Malyshka!!! Stop!!" Yang akhirnya membuat Daryl bangun juga.


"Habisnya kamu dibangunin dari tadi susah amat? Biasanya juga bangun pagi-pagi?" jawab Nania.


"Iya iya, aku bangun." Daryl menyahut seraya melebarkan matanya yang masih terkantuk-kantuk.


Nania terkekeh. "Ayo Daddy, mandi. Soalnya aku udah." Dan dia hampir saja turun ketika di saat yang bersamaan pria itu menahan pahanya.


"Kamu sudah mandi?" Daryl bertanya.


"Uh'um." Nania menganggukkan kepala.


Dan ya, dia memang tampak segar dengan wajah yang belum mengenakan make up dan rambut hitam panjangnya yang hampir kering. Wangi sabun dan shampo yang segar juga menguar di indra penciumannya.


"Ayo Dadd, mandi. Sarapannya keburu dingin." Dan Nania hampir benar-benar turun ketika tiba-tiba saja Daryl mendorongnya sehingga dia terjatuh ke tempat tidur.


"Daddy!" Dan kini dia ada dibawah kungkungan pria itu.


"Baru jam enam kan ya?" Daryl mulai menggelitiknya, membuat Nania tertawa sambil berusaha menyingkirkan tangan nakalnya.


"Jam enam lebih, makanya buruan mandi!" Dia menahan tangannya yang makin menyusup ke dalam kausnya.


"Daddy!" tawa Nania menjadi semakin keras, dan dia meronta saat Daryl terus menggelitiknya.


"Ampuuun! Lepasin, kan kamunya mau mandi."


Namun pria itu malah menyingkap kaus dan menaikkan bra milik Nania sehingga dua bulatan kenyal miliknya terpampang menggoda.

__ADS_1


"Daddy?"


"Nanti aku mandinya setelah ini." Daryl menunduk dan dia segera meremat lalu mengecup dada indah itu, kemudian mel*mat puncaknya yang mulai mengeras karena sentuhannya.


"Daddy, udah pagi. Masa mau … aahh!" des*han pelan keluar saat pria itu mulai menyusu seperti bayi yang kehausan.


"Daddy, udah!" Nania mendorong pundaknya agar Daryl menjauh, namun dia malah menyesap lebih keras.


"Mmm … Daddy!"


Daryl menulikan pendengaran dan dia menyesap dada Nania secara bergantian.


Napasnya mulai menderu dan dia hampir tak bisa menahan diri, sementara Daryl semakin melancarkan aksinya. Tampaknya pria itu tak hanya ingin bermain-main saja, melainkan bertujuan lebih.


"You know what?" Daryl menjeda kegiatannya.


"Eragon sedang tidak ingin ditolak sekarang." katanya yang sebelah tangannya menelusup ke bawah mencari pusat tubuh Nania. Dan dengan mudah dia menemukan jika benda di bawah sana sudah sangat siap.


"And you too, hum?" Lalu dia menyeringai dengan perasaan yang begitu bersemangat.


Dua jarinya dia dorong masuk dan menggerakkannya perlahan di dalam sana, namun hal itu membuat Nania menggeliat sambil menggigit bibirnya dengan keras.


"Nggaaaakkkk …." Perempuan itu masih berusaha menolak meski reaksi pada tubuhnya menunjukkan hal sebaliknya.


Seringaian di wajah Daryl menjadi semakin kentara dan dia tahu kali ini tak akan ada penolakan.


Dia lantas menarik lepas tangannya lalu beralih untuk melepaskan celana pendek Nania. Dan tak ada perlawanan berarti dari perempuan itu, apalagi dirinya pun melepaskan boxer yang menjadi satu-satunya penghalang yang menutupi alat tempurnya yang sudah menegang sempurna.


Nania hanya menatap hal tersebut sambil menggigit bibirnya dengan keras. Memangnya apa lagi yang bisa dia lakukan selain diam dan menurut? Percuma saja, karena ujung-ujungnya, dia akan menikmatinya juga.


"Aahhh!" Keduanya sama-sama mengerang, lalu dia segera menghentak.


"Yeah, Baby!" Daryl berbisik lalu mengecupi leher jenjang Nania.


Des*han dan erangan saling bersahutan mengawali kegiatan di pagi hari itu, dan keduanya memang benar-benar menikmatinya.Β 


Gairah di dadanya meledak-ledak tak karuan dan dia tidak bisa melakukannya dengan perlahan. Daryl segera berpacu cepat seiring hasrat yang terus menanjak yang membuat kesabarannya tidak bisa bertahan lama.


Dan dia tak berusaha menahan diri ketika pelepasan tiba dan menggulung segala apa yang ada pada dirinya. Begitu pun yang terjadi pada Nania yang membiarkan klim*ks menghantam dengan sendirinya.


***


"Nggak usah turun, Dadd. Nanti kamu telat." Nania memeluk dan mencium suaminya sebelum membuka pintu.


Dia memasukkan lembaran uang yang pria itu berikan ke dalam saku celana kemudian memastikan barang bawaannya tidak ada yang tertinggal.


"Kalau barangnya habis langsung minta kepada Regan saja ya? Soalnya aku akan sangat sibuk hari ini." Daryl berpesan.


"Oke."


"Bisa sendiri kan?" Dan pria itu memastikan.


"Bisa, kan sering."

__ADS_1


"Iya, aku takutnya …."


"Jangan khawatir, cuma bazar di kampus kan?" Nania meremat wajah suaminya sambil tersenyum.


"Yeah, baiklah."


"Oke, aku turun ya?" Nania segera berpamitan.


"Ya, baik."


"Bye."


"Mau aku antar sampai lapangan?"


"Udah aku bilang nggak usah." Perempuan itu segera turun.


"Baik." Dan Daryl hanya memberikan senyumnya yang menawan.


Nania menutup pintu lalu melambaikan tangan sebelum akhirnya benar-benar masuk ke area kampus.


"Jam berapa kamu ke sini? Kok udah siap aja?" Dia meletakkan tas dan barang bawaannya di kursi sambil menatap stand yang sudah rapi.


Parfum-parfum sudah ditata rapi di meja, dan alat promosi juga banner sudah siap menarik pembeli.


"Baru." Mahira menjawab setelah menyelesaikan tugasnya.


"Rajin amat?"


"Harus, biar rezeki kita makin lancar." Gadis itu dengan senyum yang ceria, seperti biasa.


"Kita butuh kiriman lagi nggak untuk hari ini?" Nania memeriksa beberapa hal.


"Kayaknya belum. Kita lihat dulu aja gimana penjualan hari ini. Kalau misalnya ramai kan bisa langsung telpon Pak Regan." Mahira menjelaskan.


"Iya sih, tapi kayaknya nggak akan seramai kemarin ya? Hari biasa soalnya."Β 


"Ya, gitu deh."


"Nggak apa-apa, jualan nggak harus selalu rame kan?"


Mahira menganggukkan kepala.


πŸ’•


πŸ’•


πŸ’•


Bersambung ...


Hai gaess, buat yang udah follow ig emak yang sebelumnya, bisa ya follow ig emak yang baru di tiyana.pratama. Soalnya ig yang lama dibanned jadi udah nggak bisa emak akses lagi, terpaksa deh pake ig baru.


Makasih sebelumnya, alopyu sekebon😘

__ADS_1


Ig baru emak



__ADS_2