
💕
💕
Meja makan di area samping rumah Daryl menjadi tempat ternyaman bagi keluarga besar ini untuk merayakan kebersamaan, sekaligus kemenangan Rania.
Setelah melakukan panggilan video dengan Dimitri dan menanyakan banyak hal yang terjadi di Spanyol, mereka berkumpul dengan segala kegembiraan dan suka cita yang besar.
Dan halaman samping menjadi terang benderang pada petang itu, sebagai saksi betapa keluarga Nikolai sangat berbahagia dengan hal tersebut.
Nania menatap Daryl yang sedang mendekap Lev disela perbincangannya dengan keluarga. Bukan dia yang sengaja ingin memegang bayi itu, tapi karena Darren yang memintanya karena harus mengambil sesuatu.
Bukankah dia sudah cocok? Seperti halnya Darren, Daryl pun terlihat pas jika menjadi seorang ayah. Meski saat ini dia tampak sedikit canggung dan hati-hati karena tidak terbiasa dengan seorang bayi.
Nania kemudian melirik ke arah hutan kecil di bagian belakang. Tiba-tiba saja dia ingat anak mereka yang terpaksa dikeluarkan karena peristiwa buruk enam bulan lalu.
Jika saja itu tak terjadi, mungkin hari ini mereka sedang menanti hari kelahiran. Atau mungkin sudah lahir? Entahlah.
Dan seketika perasaan sedih juga menyesal menggelayuti hati.
"Titip sebentar, aku mau ke air." Amara menyerahkan Angkasa kepadanya kemudian buru-buru masuk ke dalam rumah.
Tentu saja membuat lamunannya buyar, namun disaat yang sama kesedihannya memudar. Apalagi ketika menatap wajah imut balita di pangkuannya.
Angkasa yang tersenyum, dan dengan ekspresi menggemaskannya dia menyentuh wajah Nania. Membuat perempuan itu ikut tersenyum juga, lalu menciuminya.
"Ih, kamu lucu banget sih. Pengen gigit!" Dan balita itu tertawa dengan suaranya yang lucu.
Kemudian Amara kembali dan duduk di samping Nania.
"Kamu program anaknya ditunda berapa lama?" Perempuan itu memulai percakapan.
Sudah lama sekali sejak Nania berhenti bekerja di Amara's Love mereka tak berbincang seperti ini. Apalagi karena memang jarang berkunjung juga meski rumah mereka tidak terlalu jauh. Tapi kegiatan mengurus bayi kembarnya sendirian membuatnya tak punya banyak waktu untuk keluar.
"Nggak tahu, tapi kemarin baru di kb lagi yang tiga bulan." Nania menjawab.
"Nggak apa-apa, santai aja dulu. Nunggu sebentar untuk kebaikan semuanya." Amara membesarkan hatinya.
"Iya." Dan Nania menganggukkan kepala.
"Ya kalau mau kamu kan bisa main ke rumah. Aku kan jarang ke mana-mana sekarang." ucap Amara lagi yang memberikan makanan untuk Angkasa. Sementara Azura bersama Dygta dan Sofia di sisi lain halaman.
"Masa? Udah nggak ke kedai?"
"Kadang-kadang aja. Sekarang mereka udah bisa sendiri lah. Lagian akunya nggak tega ninggalin Angkasa sama Azura. Berasa gimana gitu."
"Kamu memangnya nggak pakai jasa pengasuh?"
"Nggak ah, masih bisa. Ya … biarpun repot."
"Nggak capek emang?"
"Capek sih, tapi bermakna." Amara tertawa. "Lagian kalau pakai pengasuh nanti aku nggak bisa mengawasi mereka dengan benar. Perkembangannya, kesehatan, makanan. Semuanya. Mungkin nanti kalau udah agak gede, baru pakai."
"Hmm …."
"Kan aku di rumah. Usaha bisa ditinggal. Beda cerita kalau aku kerja sama orang." Amara melanjutkan.
"Iya juga ya?"
__ADS_1
"Ya, lagian ada nenek kakeknya ini. Kalau ada apa-apa tinggal minta bantuan aja, hahaha."Â
Dua perempuan itu tertawa.
"Neng, sudah malam. Ayo pulang?" Galang mendekat sambil membawa putri mereka.
"Lah, orang-orang pada nginep masa malah pulang?" Nania menyahut.
"Iya, soalnya besok mau ke Bandung." Galang menjawab, sementara Amara pun bersiap untuk pergi.
"Pagi-pagi?"
"Iya. Ada acara di tempat saudaranya Ibu, jadi harus hadir. Kalau nginep di sini perginya pasti repot. Maklum, kalau punya anak kecil kan banyak yang harus diaiapin." jawab pria itu lagi.
"Iya juga."
"Ya udah, aku pamit ya?" Lalu kedua orang itu pun berpamitan kepada yang lainnya, kemudian segera pergi.
"Jangan sedih, ini masih ada bayi lucu yang perlu diasuh." Daryl menyerahkan Lev kepada Nania yang tampak melamun setelah kepergian Amara da kedua anaknya.Â
"Apa sih kamu?" Perempuan itu tertawa sambil mendekap Lev.
"Dia berat, jadinya tanganku pegal sekali." Daryl menggerak-gerakkan lengannya yang sejak tadi memegangi bayi dari saudara kembarnya, lalu duduk di samping Nania.
"Dih, masih beratan ngangkat aku kali?" Nania menjawab sambil tertawa.
"Itu beratnya beda, Malyshka. Kamu bisa aku bawa di pundak, sedangkan dia? Salah pegang bisa fatal akibatnya."
"Hmm …. Berasa jadi karung beras kalau ingat itu?" Nania bergumam pelan, namun Daryl masih bisa mendengarnya.
"Ya anggap saja begitu, karung beras yang menggemaskan!" Daryl mencubit pipi istrinya dengan gemas.
"Dadd, ih! Sakit tahu!" Lalu perempuan itu menepis tangannya, dan membuat Daryl tertawa.
"Ini ada?" Dan Daryl merangkul pundaknya sehingga posisi mereka kini cukup dekat.
"Jadi, kamu nganggap aku karung beras?" Nania bereaksi.
"Tidak, siapa bilang?"
"Itu tadi?"
"Kan awalnya kamu yang bilang merasa jadi seperti karung beras? Bukan aku."
"Umm …."
"Ini acaranya sampai jam berapa sih? Aku sudah ngantuk." Lalu Daryl melihat jam tangannya yang sudah menunjukkam hampir jam sembilan malam.
"Nggak tahu, mereka masih betah ngobrol kan?" Keduanya menatap keluarga mereka yang masih asyik berbincang, kecuali anak-anak yang sudah masuk ke dalam rumah.
"Ini bayi juga kenapa jam segini belum tidur? Padahal kan harusnya sudah?" Daryl mencubit pipi gembil Lev yang memang masih terjaga.
"Ya kalau lagi ada acara keluarga biasanya bayi gitu. Dia tahu banyak orang yang harus diganggu. Iya kan, Lev?" Nania menempelkan keningnya pada kening Lev yang lagi-lagi tersenyum.
"Manis banget sih kamu senyum terus? Anak ganteng!" Nania mengusap rambut kecoklatannya dengan lembut, lalu dia menciuminya lagi seperti tadi. Dan Nania tak pernah merasa bosan untuk melakukannya, karena hatinya terasa bahagia jika dia bertemu dengan anak-anak. Apalagi berinteraksi dengan bayi seperti Lev.
"Aku juga suka senyum, tapi kamu tidak menyebutku manis?" Daryl menggumam.
"Apa?"
__ADS_1
"Aku sering senyum dan tertawa tapi kamu jarang memujiku."
"Dih? Kamu lebih sering misuh-misuh dari pada senyum. Apalagi kalau marah."
"Ya mana ada orang marah senyum-senyum? Memangnya aku ini gila apa?"
Nania tertawa.
"Sudah, berikan Lev kepada Ibunya, sana! Masa mereka asik ngobrol tapi anaknya dibiarkan dengan orang lain? Enak saja!" Daryl menatap saudara-saudara dan orang tuanya yang masih asyik berbincang.
"Dih, bilang aja kamu cemburu sama Lev?" Nania sedikit mencinbir.
"Itu kamu tahu? Enak saja masa istriku terus memeluk dan mencium Lev terus?"
"Astaga! Lev kan masih bayi?"
"Tetap saja, dia itu bayi laki-laki. Sama seperti Angkasa, atau Zen."
"Ck!" Nania berdecak.
"Sudah, sana berikan Lev kepada Kirana! Aku mau ke rumah setelah ini." ucap Daryl lagi yang bangkit dari sofa.
"Kalau mau masuk ke rumah ya masuk aja, aku masih mau di sini. Besok kan Lev pulang."
"Tapi aku mau ke rumah denganmu." Pria itu menjawab.
"Duh, curiga mau macam-macam?" Nania menyipitkan mata.
"Umm … tadinya tidak. Tapi karena kamu mengingatkan, ya sudah … kita macam-macam saja?" Pria itu tertawa.
"Hadeh …."
"Ayolah, Malyshka. Salahmu mengingatkan aku soal itu, padahal tadinya aku mau istirahat saja."
"Tapi orang-orang masih di sini, Dadd?"
"Ya biarkan saja. Nanti mereka juga pergi kalau sudah puas ngobrol."
"Tapi kan .. ."
"Cepat, Mayshka!"
"Umm … kamu mah gitu!"
"Memang, baru tahu ya? Ke mana saja kamu selama ini?"
Nania memutar bola matanya.
"Come on, Baby!" Daryl terkekeh, apalagi ketika Nania menuruti perkataannya dengan terpaksa.
Lalu keduanya benar-benar berpamitan dan segera masuk ke dalam rumah mereka.
💕
💕
💕
Bersambung ...
__ADS_1
Selamat hari vote. Jangan lupa like komen dan kirim hadiahnya juga ya?
Alopyu sekebon😘😘