
💞
💞
"Sekarang kau mengerti kan? Posisiku sulit. Di sisi lain kau adalah rekanku, tapi di sisi lain Pak Arfan itu adalah bosku." Piere menyandarkan punggungnya pada kepala kursi, sementara Regan menyesap minumannya.
Pria berdarah Prancis yang memutuskan untuk menetap di Indonesia selama setahun belakangan itu menatap rekannya untuk beberapa saat.
"Saranku jangan terlalu mencolok jika kau belum siap menerima konsekuensinya. Maksudku, Arfan Sanjaya tidak akan melepaskan anak gadisnya bebas begitu saja apalagi jika itu berhubungan dengan laki-laki. Dan kau lebih mengetahuinya dari pada aku."
Regan masih terdiam.
"Memangnya kau serius dengan Anandita?" Piere bangkit lalu mencondongkan tubuhnya ke arah rekannya tersebut.
"Memangnya di usiaku yang sekarang ini masih pantas untuk bermain-main?" Regan balik bertanya.
"Ya siapa tahu kau hanya ingin bermain-main." Piere memicingkan mata, dan nada bicaranya seperti setengah mengejek.
"Aku salah pilih target kalau hanya ingin bermain-main. Arfan Sanjaya akan mengetahuinya dan dia akan menghajarku jika aku begitu."
"Right, and you know that." Piere pun tertawa.
"Makanya. Aku hanya butuh waktu sebentar lagi sampai Ann lulus sekolah. Lalu setelahnya aku akan secara terang-terangan meminta izin kepada ayahnya untuk berhubungan." ucap Regan lagi dengan penuh keyakinan.
"Wow, you such a fighter. Walau tahu Arfan Sanjaya tidak akan dengan mudah melepaskan anaknya begitu saja, tapi kau akan tetap maju ya? Hebat!" Pria berambut pirang dan bermata biru itu bertepuk tangan.
"Kau tidak tahu rasanya menjadi aku."
"Realy?"
"Aku rasa ya."
"You just don't know. Hahaha."
"Memangnya kau pernah mengalaminya juga, heh?" Kini Regan yang bertanya.
"Please! Aku tidak mau membicarakan masalah pribadi untuk sekarang ini. Prioritasku hanya pekerjaan saja."
Regan memutar bola matanya.
"Tapi jangan khawatir, aku mengerti keadaanmu. Apalagi kau juga sedang menghadapi ibumu yang sakit. Hanya satu pesanku, kau tidak boleh gegabah dalam segala hal."
"Yeah, akan aku coba. Masalahnya Ann selalu membuatku hilang kesabaran dan sangat sulit untuk membuatnya mengerti." Regan menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
"Begitulah anak-anak, hahaha." Piere tertawa. "Makanya aku tidak mau berhubungan dengan anak-anak, begini kan akibatnya?" Suara tawanya terdengar puas.
"Cih! Kau tidak tahu saja dulu aku juga bilang begitu. Tapi lihat akibatnya? Anak gadisnya Arfan Sanjaya yang belum lulus SMA malah membuatku tak bisa berpikir jernih." Regan memijit pelipisnya yang terasa nyeri.
__ADS_1
Piere tertawa lagi.
"Sudahlah, aku mau menjemput ibuku dulu. Siapa tahu kemoterapinya sudah selesai." Regan pun bangkit sambil merogoh saku jasnya dan mengeluarkan selembar uang berwarna merah yang dia letakkan di treybill.
"Oh, tidak usah mentraktir. Aku tidak mau menerima imbalan soal laporan. Ini murni pertemanan saja." Piere berniat menolak pembayaran dari Regan.
"Itu bukan imbalan, tetapi bentuk pertemanan juga. Jangan ditanggapi terlalu serius." Pria itu menjawab, lalu setelahnya dia segera keluar dari restoran tempat mereka berbincang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kamu mau makanannya aku bawa ke sini?" Nania duduk di tepi ranjang di mana Daryl sudah meringkuk.
Malam sudah larut tapi pria itu masih merasakan mual dan muntah hebat beberapa saat yang lalu. Padahal sejak sore dia belum mengisi perutnya lagi dengan makanan.
"Makanan apa? Sepertinya perutku menolak semua makanan, Malyska." Daryl menjawab.
"Nggak tahu. Menurut aku semua makanan enak-enak aja, tapi kenapa ke kamu nggak bisa masuk? Bukankah kamu ini omnivora?"
Daryl mendengus.
"Daddy? Mau aku bikinin apa? Aku bingung kalau kamu begini, takutnya nanti kamu beneran sakit. Paksain makan kenapa?" Nania mengusap-usap punggung suaminya.
"Tidak mau ahhh!" Daryl tetap menolak.
"Kalau makan yang lain mau nggak?" ucap Nania kemudian, yang membuat Daryl mengangkat kepala.
Perempuan itu menahan senyum.
"Apa maksudmu?" Daryl terkekeh kemudian bangkit lalu mendekatinya.
Dia merangkul tubuh Nania kemudian mendekatkan wajahnya. "Jangan macam-macam, Malyshka!" katanya, seraya menempelkan kening mereka berdua.
"Nggak kok, cuma satu macam. Hahaha." Nania tertawa.
"Dan apakah itu?" Daryl memindai wajahnya, dan kedua bola matanya yang berkilauan ditimpa cahaya dari lampu di langit-langit kamar.
Nania hanya tersenyum, lalu kedua tangannya merangkul pundak pria itu dan tanpa basa-basi dia mengecup bibirnya dengan lembut.
Daryl tertegun.
"Nggak jadi deh, kan kata dokter jangan dulu. Apalagi kamunya suka grasak-grusuk. Kasihan anak kita kena guncangan." Namun setelahnya dia melepaskan rangkulan, kemudian bergeser dan berniat untuk merebahkan tubuh.
"Eh?" Dan seketika membuat Daryl bereaksi lalu mengikuti pergerakannya.
"Daddy, kamu mau ngapain?" Nania sedikit tertawa ketika pria itu melepaskan pakaiannya.
"Ah, jangan banyak tanya karena kamu sendiri yang menggodaku." Daryl menjawab seraya menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Nggak ih, siapa yang …." Lalu pria itu membingkai wajah Nania dan segera mendaratkan ciuman di bibirnya.
Rasa gemas dan tidak sabaran bercampur dengan gairah yang tersulut begitu saja ketika mereka bersentuhan.
"Daddy, kata dokter …."
"Ssstt!" Daryl menyentuh bibir basah Nania dengan ibu jarinya, lalu dia menarik lepas pakaian tidur perempuan itu sehingga semuanya terpampang di depan mata.
Dada ranumnya yang semakin menggoda dan segala apa yang ada pada dirinya memang selalu menjadi hal yang paling dia inginkan. Apalagi kini Nania tengah mengandung anak mereka, maka bertambah besar pula lah perasaan itu kepadanya.
Bibir hangatnya menyusuri setiap inchi wajahnya, lalu turun ke leher hingga dia menemukan dada yang tengah diremat lembut, membuat perempuan di bawah sedikit mengejang karena rasa geli yang merambat di sekujur tubuhnya.
Daryl tersenyum, dan dia merasakan hal-hal gila lainnya bermunculan.
"Daddy!" Nania mengerang ketika Daryl membenamkan miliknya, dan dia menahan dadanya hingga merasa nyaman dengan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.
Namun Daryl segera meraih tangan kecil dengan jemari lentik itu kemudian menariknya ke atas kepala dan dia menahannya di sana. Lalu di detik berikutnya dia menghentakkan pinggulnya.
"Oohh!" Nania menggeliat dengan kedua mata terpejam erat.
Tubuhnya bereaksi dengan begitu hebat saat perasaan indah menjalar begitu saja ke segala arah, dan itu membuat Daryl ingin melakukan segala hal kepadanya.
Menyesap dadanya, meremat bokongnya, juga mengobrak-abrik bagian terdalam perempuan itu sehingga dia terus mengerang dan meneriakkan namanya.
"Uuggghh, Daddy!" Nania pun terus merintih seiring tubuh kekar di atasnya yang terus berpacu, dan keduanya sudah tenggelam dalam lautan hasrat yang menggelora.
Pria itu tak berhenti menyentuh tubuh Nania dan tak ada satupun yang luput dari ciuman dan sesapannya. Sehingga meninggalkan bekas yang kentara di sana. Dia bahkan hampir saja kehilangan kendali ketika merasakan kedutan di bawah memanjakan alat tempurnya, dan apa yang terjadi selanjutnya memang membuatnya tidak tahan lagi.
Meski dia bersusah payah untuk menahan diri, namun pada kenyataannya Daryl tak mampu untuk bertahan lebih lama.
Tubuhnya bergerak semakin intens seiring perasaan hebat yang terus menguasai akal sehatnya, dan dia semakin merasa tidak sabar.
******* dan erangan terus mengudara mengisi kamar pada malam itu, dan dua manusia yang sudah saling terikat lahir dan batin itu sudah sama-sama menuntut pelepasan.
Peluh mulai membasahi tubuh telanjang mereka, dan keduanya sama-sama kehilangan akal. Sehingga mereka sama-sama berpacu untuk meraih pelepasan.
Hingga pada akhirnya rasa yang diinginkan itu segera muncul dan mendobrak pertahanan mereka, dan di detik berikutnya keduanya saling menekan dan memeluk tubuh masing-masing ketika klim*ks menyerang bersamaan.
"Oohhh!" Dan lenguhan panjang itu terdengar begitu jelas dalam keremangan kamar seiring terhentinya pergumulan.
💞
💞
💞
Bersambung ....
__ADS_1