
🍂
🍂
"Selamat siang, Bu?" Regan berdiri di teras begitu Amara membuka pintu.
"Ya, Regan?" Perempuan itu mengerutkan dahi.
"Maaf, Ann ada?"
Belum Amara menjawab, namun suara langkah kaki yang tergesa terdengar mendekat. Dan gadis yang dimaksud sudah tiba di tengah-tengah tangga. Dia berlari dari kamarnya begitu mengetahui Regan sudah tiba.
"Itu, Ann." Amara menoleh ke belakang.
"Umm …." Suasana terasa canggung untuk beberapa saat. "Salep." Regan kemudian mengangkat bungkusan di tangannya yang berisi salep dan plester yang dia beli dari apotek dalam perjalanan menuju ke rumah Galang.
Pria itu menyempatkan diri keluar dari kantor Fia's Secret begitu jam istirahat baginya tiba. Tujuannya apa lagi kalau bukan untuk menemui kekasihnya.
"Kenapa nggak dari tadi sih? Kaki aku kan sakit." Sedangkan Anandita segera menghampirinya.
"Eee … saya harus menyelesaikan …." Namun gadis itu langsung menyeretnya keluar.
"Ann?" Amara menatap interaksi tersebut dengan heran.
"Aku di luar sini kak, cuma sebentar." Anandita sedikit berteriak.
Dua orang itu duduk di kursi taman di samping rumah besar milik Amara dan Galang.
Anandita mengoleskan salep berbentuk gel bening pada lecet di kakinya, lalu setelah sedikit mengering dia tutup dengan plester.
"Seharusnya tidak kamu tutup seperti itu kalau tidak menggunakan sepatu. Biarkan terbuka saja agar cepat kering." Regan di sampingnya, memperhatikan.
"Ini sakit tahu!" Gadis itu masih menunduk fokus pada kakinya.
"Ya kalau ditutup seperti itu nanti susah keringnya."
"Nggak apa-apa lah, nggak ke mana-mana ini." Dia menjawab.
"Tapi sakitnya jadi lebih lama."
Anandita mendongak. "Tapi jadi lebih sering ketemu sama Om nya." Dia tersenyum lebar memperlihatkan gigi putihnya yang berjejer rapi.
"Aih …."
"Om istirahatnya lama emang? Kok nyempetin ke sini?" Gadis itu berbicara lagi.
"Tidak, hanya satu jam seperti biasa." Dan Regan menatap jam tangannya yang menunjukkan pukul 12.25.
"Udah makan?"
Pria itu menggelengkan kepala.
"Belum? Kenapa?"
"Kan harus mengantar salep untukmu dulu."
Anandita tersenyum lagi, kali ini pipinya sedikit merona.
"Kamu kok menginap di sini?" Kini Regan yang bertanya.
"Ya kan tanggung kemarin ikut Kak Galang. Lagian biar gampang juga kan?"
"Gampang untuk apa?"
"Biar Om gampang nemuin aku kalau kangen, soalnya kalau di rumah kan ada CCTV."
Pria itu mengedarkan pandangan ke sekeliling halaman samping tersebut.
"Tapi di sini juga mustahil tidak ada CCTV," katanya yang menatap sudut langit-langit teras.
"Tapi nggak seketat kayak di rumah."
"Dasar kamu ini!"
Anandita tertawa.
"Om mau makan?" tanya nya kemudian, dan dia membereskan salep dan plester yang berserakan di dekatnya.
"Tidak usah, terima kasih." Regan menolak.
"Terus mau apa dong? Aku bingung."
__ADS_1
"Mau kamu." Pria itu berguman sambil menempelkan punggungnya pada sandaran kursi dengan kedua tangan dilipat di dada.
"Hah?"
"Bercanda, hahaha." Lalu Regan tertawa.
"Candaan Om nggak jelas."
"Memang. Ini aneh sekali, duh." Regan menggaruk kepalanya yang tak gatal, kemudian dia terkekeh.
"Aku … kembali ke Fia's Secret lah, takut Pak Daryl mencari. Bisa marah kalau tidak ada di sana." Lalu dia bangkit.
"Baru juga sampai?" Dan Anandita mengikutinya dengan pandangan.
"Ya, tapi masa mau lama-lama di sini? Nanti Bu Ara curiga." Regan melirik ke arah rumah besar Amara.
Anandita pun bangkit, dan pria itu mengulurkan tangannya untuk membantu. Yang segera disambut dengan riang olehnya.
"Ann?" Lalu terdengar suara Amara memanggil, yang membuat mereka melepaskan genggaman tangan.
"Ya?" Anandita memutar tubuhnya.
"Makan. Sekalian ajak Regan juga." ucap sang kakak.
"Umm …." Gadis itu menoleh ke belakang di mana Regan berada.
"Tidak usah, Bu. Saya harus segera kembali ke Fia's Secret." Namun pria itu menolak.
"Baru setengah satu?" ucap Amara lagi.
"Ya, tapi perjalanan ke sana membutuhkan cukup waktu. Tahu sendiri bagaimana jalanan di Jakarta."
"Hmm …."
"Saya pamit Bu?" Regan pun segera berlalu.
"Mencurigakan." Amara bergumam sambil menatap pria itu yang masuk ke dalam mobilnya kemudian segera pergi.
"Hum? Apaan?" Anandita merespon ucapan sang kakak.
"Regan."
"Kenapa?"
"Emangnya kenapa? Orang dia cuma nganter salep."
Amara memicingkan mata.
"Bisa-bisanya asisten Om Der nganterin salep buat kamu?"
"Aku yang minta." Anandita meraih bungkusan berisi salep yang diantar oleh Regan, kemudian melenggang ke arah rumah.
"Emangnya dia kurang kerjaan? Tugas dari Om Der aja kayaknya banyak banget." Dia mengikuti sang adik.
"Katanya sambil lewat."
"Baik bener." Amara menatap curiga.
"Iyalah, orang aku tanya salep apa yang kemarin dia kasih. Habis itu dia nawarin mau dibawain apa nggak? Katanya sambil lewat aja habis antar apa gitu punya klien."
Amara masih merasa tidak percaya, namun sang adik melenggang begitu saja ke kamarnya tanpa ekspresi yang berlebihan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Daryl tersenyum begitu melihat Nania keluar dari gerbang kampusnya, bersama Mahira seperti biasa.
"Kamu nunggu lama?" Perempuan itu bergegas menghampiri setelah terlebih dahulu berpisah dengan teman sekelasnya.
"Tidak, baru saja." Daryl mengulurkan tangan meminta tote bag berisi buku dan beberapa tugas milik istrinya, kemudian dia simpan di kursi belakang.
"Aku pikir Regan yang jemput?"
"Tidak, dia banyak pekerjaan." Pria itu melihat jam tangannya yang baru menunjukkan pukul dua siang. Dan cuaca Jakarta sedang panas-panasnya.
"Iyalah, orang kerjaan kamu dia yang beresin."
Daryl tertawa. "Itu kan sudah tugasnya. Dan untuk itu pula lah dia dibayar."
"Menggantikan tugas atasan ya?"
"Uh'um …."
__ADS_1
"Biar kamu bisa pulang lebih awal?"
"Ya sesekali." Daryl membuka pintu penumpang. "Shall we?" Lalu dia mengisyaratkan kepada perempuan itu untuk masuk.
"Bagaimana hari pertama kuliah setelah liburan?" Mereka melewati jalan kota seperti biasanya, yang siang itu cukup padat. Memangnya apa lagi? Posisi Jakarta sebagai ibu kota memang menjadikannya sebagai pusat pemerintahan dan ekonomi membuatnya mengalami kesibukan yang luar biasa.
"Biasa aja, tapi dapat banyak tugas juga."
"Banyak?"
"Iya."
"Kejam sekali dosen mudmu itu. Baru masuk kuliah sudah banyak tugas?"
Nania tertawa. "Emang harusnya gitu, Dadd."
"Tapi istriku ini nanti kelelahan kan?" Pria itu mengusap puncak kepala Nania dengan lembut.
"Udah biasa. Nggak ada tugas kampus juga sering kecapean." Nania menjawab asal.
"Apa?"
"Tugas di rumah. Belum lagi momong bayi yang manjanya luar biasa."
Daryl tergelak ketika mengerti dengan ucapan istrinya.
Nania mengerutkan dahi sambil memicingkan mata ketika merasa seperti melihat sosok yang dikenalnya di depan sana.
Di sana, di trotoar tampak Mirna yang seperti menunggu sesuatu.
Dia secara refleks menurunkan kaca dan menoleh ketika mobil yang dikemudikan oleh Daryl sudah melewati perempuan itu. Dan benar saja Mirna memang ada di sana.
"Kenapa?" Pria itu melihat lewat spion.
"Umm …." Nania tersadar, lalu dia menaikkan kaca dan kembali pada posisinya.
"Ada siapa?" Daryl masih menatap spion sambil memerankan laju mobilnya.
"Kayaknya aku lihat ibu deh, tapi …."
"Ibu?"
"Mungkin salah lihat. Hehe." Dia menatap wajah suaminya.
"Di mana?" tanya Daryl yang semakin memerankan kendaraan roda empatnya itu.
"Di belakang, tapi …."
Lalu pria itu menepi ke pinggir kemudian berhenti.
"Mana?" Daryl kemudian menoleh dan mencari keberadaan Mirna seperti yang dikatakan oleh Nania.
Perempuan itu tertegun.
"Tidak ada." ucap Daryl yang memang melihat trotoar di belakang mobilnya lengang.
"Umm … mungkin aku salah lihat, Dadd."
"Hmm … sedang ingat ibu ya?" Pria itu kembali melajukan mobilnya.
Nania tak menjawab, namun dia malah menatap wajah suaminya.
"It's been a year. Bagaimana keadaannya ya?" Daryl tiba-tiba saja berujar.
"Aku … nggak tahu. Kan belum pernah ketemu lagi setelah …." Nania menggantung kata-katanya saat melihat raut wajah pria itu yang berubah.
"Daddy, aku mau milktea." Lalu dia mengalihkan topik pembicaraan ketika melihat gerai penjual minuman di pelataran parkir sebuah swalayan.
"Hum?"
"Ayo kita nongkrong dulu di indoapril? Kayaknya udah lama nggak jajan." Katanya dengan raut ceria.
Dan Daryl menuruti kemauannya tanpa banyak kata, dia membelokkan Rubicon hitamnya ke arah swalayan tersebut, dan hal itu membuat Nania gembira.
💕
💕
💕
Bersambung ...
__ADS_1