
💕
💕
"Dia itu kenapa?" Regan menggumam ketika Anandita merebut kotak makanan dengan kasar, saat mereka menatanya di meja.
Gadis itu tak banyak bicara sejak mereka tiba di Rumah Baca Nania, dan dia malah cemberut sejak pagi.
Anandita bahkan tak terlalu bersemangat mengajar bahasa padahal biasanya dia yang paling riang gembira di antara relawan lainnya.
"Anandita kenapa? Cemberut terus dari tadi?" Daryl memperhatikan keponakannya.
"Nggak tahu. Padahal pagi-pagi nggak apa-apa?" Nania juga ikut memperhatikan.
"Mungkin dia sedang PMS?"
"Kayaknya sih gitu."
"Aneh sekali perempuan itu kalau sedang PMS. Yang awalnya seperti ibu peri pun mendadak jadi kucing garong." Daryl tertawa.
"Masa? Aku nggak ah, biasa aja kalau PMS."
"Iya, kamu kan beda." Pria itu mencubit pipi Nania dengan gemas.
"Dih?"
Lalu Daryl tertawa lagi.
"Kamu nggak ikut makan, Ann?" Nania kemudian mendekati keponakannya.
"Nggak ah." Gadis itu fokus pada ponsel di tangannya.
"Kenapa? Itu makanannya banyak. Kayaknya Lisa emang sengaja bawa banyak biar semua yang ada di sini ikut makan juga?"
"Nggak ah, aku males. Kenapa Tante nggak makan juga? Sama Om Der, dan Om Regan juga?" Dia melirik pada pria yang mengenakan jaket bomber berwarna hitam itu sekilas, lalu mendelik ketika ingat tentang perempuan bernama Mahira. Yang entah mengapa membuat dadanya bergemuruh.
Nania mengerutkan dahi. "Kamu lagi ada masalah ya? Kok tumben rada emosi?" Dia menahan tawa agar tak menyembur.
"Nggak, biasa aja." Anandita menjawab.
"Tapi dari pagi cemberut terus? Kalau ditanya jawabnya misuh-misuh?"
"Perasaan Tante aja kali." Gadis itu melengos.
"Lah, dia ngambek?" Nania tertawa lagi.
"Sudah, Malyshka. Jangan ganggu Ann. Kamu tidak tahu bagaimana keturunan Arfan Sanjaya kalau sudah mengamuk?" Daryl mengulurkan tangannya, meminta perempuan itu untuk mendekat.
"Pasti serem." Nania berbisik.
"Bukan lagi. Rumah baca ini akan hancur jika itu terjadi." Daryl berkelakar.
"Ih, jangan sampai."
"Makanya, biarkan saja dia sendirian." ucap Daryl lagi, lalu mereka tertawa bersama.
***
Regan terdiam di belakang Anandita yang duduk melamun di tangga teras. Hari ini gadis itu memang tak seceria biasanya, dan hal tersebut membuatnya merasa heran.
Apalagi Anandita bersikap sedikit aneh. Dia tak mau menjawab ketika ditanya, juga menghindar setiap kali berhadapan.
"Kamu sedang ada masalah ya?" Pria itu memutuskan untuk duduk di sampingnya.
Anandita tak merespon.
__ADS_1
"Hey? Tidak biasanya kamu begini? Ada apa?" Regan memiringkan kepalanya.
"Nggak ada apa-apa." Kemudian dia menjawab.
"Tidak ada apa-apa tapi kamu cemberut terus?"
Anandita terdiam.
Iya ya? Kenapa perasaan aku nggak enak gini? Kok aku kesel?
Dia melirik Regan dengan ekor matanya, dan hatinya kembali bergemuruh.
Ish! Muka orang ini mulai ngeselin!Â
Lalu Anandita segera bangkit. "Kita masih lama nggak sih? Aku mau pulang." Perkataannya dia tujukan kepada Nania yang tengah berbincang dengan Lisa dan beberapa temannya.
Perempuan itu menoleh seraya memberi isyarat dengan tangannya. Kemudian setelah beberapa saat Nania tampak berpamitan.
"Oke, sampai minggu depan ya? Semoga nggak terlalu sibuk." Dia melambaikan tangan sambil berjalan menuju ke mobilnya.
"Kita mau ke mana dulu?" Daryl memulai percakapan saat mobil yang mereka tumpangi sudah melaju.
Sudah lewat tengah hari dan lalu lintas jalanan ibu kota selalu ramai, seperti biasanya.
"Nggak tahu, mungkin jalan ke mall?" Nania tersenyum lebar.
"Ke mall?"
"Ya. Jalan, atau nonton gitu? Rasanya udah lama deh."
"Baik, mau nonton apa?" Daryl bertanya lagi.
"Nggak tahu. Kira-kira, film apa yang seru?"
"Entahlah. Ann, sekarang film apa yang sedang seru?" Pria itu bertanya pada keponakannya yang asyik menatap jalanan kota yang ramai di depa sana.
"Ann?" panggil Daryl lagi.
"Hum?" Anandita menyahut setelah beberapa kali dipanggil, kemudian dia menoleh.
"Kira-kira, film apa yang sedang ramai sekarang ini?" Daryl mengulangi pertanyaan yang dia tujukan kepada sang keponakan.
Anandita terdiam dengan alis sedikit menjengit. "Nggak tahu." Kemudian dia menjawab.
"Bagaimana kalau kita mencari tahu?" Daryl dan Nania yang duduk di kursi belakang saling pandang.
"Terserah. Tapi anterin aku dulu, aku mau pulang aja." Gadis itu menjawab, yang membuat orang di belakang mengerutkan dahi.
Regan bahkan menatap lewat kaca di atas kemudi, atau sesekali melirik ke arah samping, di mana Anandita berada.
"Ya udah, nggak usah aja kalau gitu." Nania kemudian memutuskan.
Dan akhirnya Regan pun membawa semua penumpangnya segera bertolak ke kediaman Satria. Meski dia belum benar-benar mengerti dengan apa yang terjadi. Terutama dengan Anandita.
***
"Hai Ann? Sudah pul …." Arfan menggantung kata-katanya ketika sang putri menjatuhkan tubuhnya di sofa. Kemudian dia menarik kedua kakinya dan berbaring memeluk bantal.
Kediaman Satria cukup ramai karena memang sudah waktunya seluruh keluarga berkumpul di akhir pekan. Meski belum semuanya berdatangan. Hanya keluarga Dygta saja yang selalu menjadi yang lebih dulu hadir.
"Ada apa? Ada masalah?" Pertanyaan yang sama sang ayah tujukan kepada putrinya yang pulang dalam keadaan murung.
"Nggak." Anandita menjawab.
"Terus kenapa lesu begini?" Arfan menyibak rambut yang menutupi sebagian Anandita.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, aku cuma capek aja." jawab gadis itu lagi.
"Capek?" Arfan tertawa. "Tumben sekali kamu bilang capek? Biasanya dari pagi sangat bersemangat, sampai sore masih gembira." ujar pria itu yang mengusap-usap puncak kepala sang putri sambil tertawa.
"Diem, Papa ih. Aku mau tidur." protes Anandita yang kemudian membalikkan tubuh, sehingga wajahnya terbenam di sudut sofa.
"Ann?" Arfan menyentuh bahu putrinya.
"Mau bobok, Pah." ujar gadis itu yang memaksa memejamkan matanya.
Arfan kemudian memalingkan perhatian kepada Daryl.
"Jangan tanya aku. Jawabannya pun sama waktu aku menanyainya tadi." Pria itu segera menjawab.
Lalu Daryl menarik Nania meninggalkan kediaman orang tuanya.
"Apa ada ucapan aku yang salah ya?" Dan keduanya memilih beristirahat di ruang tengah rumah mereka dengan televisi menyala.
"Entahlah." Daryl terkekeh. "Namanya juga remaja, moodnya seperti bayi. Sebentar-sebentar senyum-senyum. Sebentar-sebentar marah-marah."
"Kalau yang marah-marah terus disebutnya apa? Aki-aki?" Nania menyelia.
"Hubungannya apa?"
"Ya kamu sering marah-marah, moodnya kayak aki-aki."
"Memangnya aki-aki suka marah-marah ya?"
"Kadang." Nania tertawa.
"Sembarangan kamu menyebutku aki-aki? Mana ada aki-aki seperti aku?"
"Ini?" Perempuan itu menunjuk wajah suaminya.
"Apa katamu?"
"Kan emang udah aki-aki. Udah punya cucu dari Ara sama Pak Galang." Nania tertawa lagi.
"Ya tidak aki-aki juga konteksnya."
"Sama aja, Kek. Hahahaha."
"Ish!"
"Tapi kalau kakeknya kayak kamu, dijamin semua cucu bakal kesengsem." Lalu Nania menyentuh dagu suaminya.
Daryl mencebikkan mulut, namun kedua pipinya tampak merona. Ujung hidungnya bahkan tampak bergerak-gerak dan dia berusaha sekuat tenaga menahan senyum.
"Kakeknya ganteng sih …." Nania meneruskan gombalannya.
Dia selalu menyukai ekspresi suaminya yang seperti itu setiap kali dirinya merayu.
"Udah ah, mau mandi dulu. Akunya gerah." Nania kemudian bangkit dari sofa dan melenggang ke arah tangga.
"Kamu nggak mau ikut?" Dia melepaskan pakaiannya satu persatu tanpa menghentikan langkah.
Yang tentu saja membuat Daryl terpancing. Sehingga pria itu bangkit dan segera menerjangnya.Â
Dia memeluk Nania lalu mengangkat tubuh kecil itu dan membawanya berlari ke kamar mereka di lantai dua.
💕
💕
💕
__ADS_1
Bersambung ....
Hadeh ...🙄🙄