
π
π
Regan meneguk minuman kaleng yang dibukanya beberapa saat yang lalu. Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang dan gerbang sekolah itu belum juga terbuka. Sementara Nania baru saja mengirim pesan jika jam kuliah terakhirnya hari itu diundur selama satu jam karena dosen tidak hadir tepat waktu.
Namun setelah beberapa menit gerbang perlahan terbuka dan satu persatu siswa keluar karena memang sudah waktunya pulang.
Dan motor berwarna hijau yang dia kenali sebagai milik Arkhan pun menyeruak memecah kerumunan di depan gerbang. Tetapi pemuda itu tak membonceng kembarannya seperti biasa.
Arkhan tampak berbincang sebentar dengan beberapa teman lainnya yang juga menggunakan motor, kemudian di segera pergi.
Regan tampak memperhatikan hingga putra pertama dari Arfan Sanjaya itu menghilang di antara kendaraan lainnya di jalan raya.
Kemudian setelah beberapa menit dia mengembalikan perhatian pada gernang ketika di saat yang bersamaan Anandita juga muncul bersama beberapa temannya.
Gadis itu tampak memainkan ponsel dan sesekali melakukan panggilan telepon disaat Regan memperhatikan.
Kenapa aku harus peduli, sementara selama ini tidak peduli?
Mengapa juga aku harus terganggu dengan sikapnya yang berbeda padahal selama ini dia biasa saja? Batinnya bermonolog.
Tapi fisiknya tak sejalan dengan pikiran dan Regan memutuskan untuk turun saja dari mobilnya, lalu segera menghampiri Anandita.
Dan gadis itu mendongak ketika Regan tiba di depannya, meski dia hanya berdiri dalam diam.
"Umm β¦ Om Regan ngapain di sini? Baru aja aku nelpon Papa masa udah langsung kirim orang aja? Gercep amat?" ucap Anandita yang mematikan sambungan telepon.
"Kamu kenapa tidak pulang dengan Arkhan?" Pria itu malah balik bertanya.
"Arkhan nggak pulang, tapi dia kerja kelompok sama temennya." Anandita menjawab.
"Terus kamu?"
"Aku β¦ nunggu ojol."
"Mau ke mana?"
"Pulang lah, ke mana lagi?"
"Tidak ikut kerja kelompok dengan Arkhan?" Regan terus bertanya.
"Nggak, kan kelasnya juga beda."
"Benarkah?"
"Ya."
"Sudah dapat ojek onlinenya?" Regan bertanya lagi.
"Belum, baru mau order."
"Kamu bilang nunggu ojol?"
"Umm β¦."
"Kenapa tidak meminta sopir dari rumah yang menjemput, atau Pak Arfan?"
"Papa lagi ada pertemuan sama orang hotel, sopir lagi nganter mommy sama mbak belanja bulanan."
"Memangnya kalian hanya punya satu sopir?"
"Iya, kalau lima nggak mungkin aku mau order ojol." Anandita menjawab sembarangan.
"Sekelas Arfan Sanjaya hanya punya satu sopir? Aneh sekali." Regan kemudian bergumam, namun Anandita masih bisa mendengarnya dengan jelas.
"Sengaja biar anak istrinya nggak sering keluar rumah."
"Hmm β¦." Pria itu menggumam.
__ADS_1
"Terus Om lagi ngapain di sini? Masa baru aja nelpon papa udah kirim Om ke sini? Lagian emang bisa nyuruh-nyuruh gitu? Papa kan kerjaannya beda sama Om?" Gadis itu kemudian bertanya.
"Saya hanya kebetulan lewat, mau menjemput Nania." Regan memiliki alasan yang tepat meski sebenarnya dia sendiri tak tahu mengapa memutuskan untuk berhenti di depan sekolah itu saat menerima pesan dari Daryl soal Nania yang akan terlambat pulang.
"Ooh β¦ terus kenapa berhenti di sini? Bukannya jemput Tante Nna."
"Saya lihat Arkhan pergi dan kamu sendiri. Lagipula Nania terlambat pulang hari ini karena dosennya memundurkan jadwal." jawab pria itu lagi.
"Ooo β¦." Anandita mengangguk-anggukkan kepala.
"Kamu mau ikut pulang? Tapi saya harus menjemput Nania dulu, setelah itu mengantarmu pulang." Akhirnya kalimat itu terontar juga dari mulut Regan.
"Hum?"
"Itu juga kalau kamu mau, kalau tidak mau ya β¦."
"Emang boleh? KanΒ mau jemput Tante Nna?"
"Memangnya siapa yang melarang? Pak Daryl? Tidak mungkin lah. Lagipula ini kebetulan."
"Umm β¦." Tiba-tiba gadis itu teringat kembali kekesalannya kepada Regan. Apalagi nama Mahira menjadi penyebab utamanya. Namun dia juga merasa penasaran dengan hal itu, karena sudah membuatnya merasa kesal setengah mati dengan alasan yang tidak jelas.
"Kalau mau ikut, cepatlah. Tapi kalau tidak mau ya β¦."
"Ikut." Kemudian Anandita segera mendahuluinya berjalan ke arah mobil.
Perjalanan mereka menuju ke kampus Nania berlangsung hening. Tanpa percakapan, tanpa obrolan seperti yang biasanya terjadi. Dan hal tersebut kembali mengundang pertanyaan di benak Regan karena bukan seperti ini yang biasanya terjadi.
Dia teebiasa mendengar celotehan Anandita sejak pertama kali mengantarnya ke rumah baca. Meski sempat merasa sedikit jengan, namun itu lebih baik dari pada didiamkan seperti kemarin.
"Kamu sudah memberi tahu Pak Arfan kalau sekarang ikut pulang dengan saya?" Regan memulai percakapan.
"Udah di chat." Dan Anandita menjawab tanpa memalingkan perhatian dari ponselnya.
"Papamu menjawab?"
"Iya."
"Nggak. Cuma bilang hati-hati aja."
Tumben. Batin Regan kemudian dia terdiam lagi.
"Om jemput Tante Nna setiap hari?" Kini Anandita yang bertanya.
"Tidak juga. Saya pergi kalau Pak Daryl tidak bisa keluar atau melewatkan pekerjaannya."
"Ohh β¦ jadi agak jarang juga ke kampusnya Tante Nna?"
"Ya."
"Jarang juga ketemu temen-temennya Tante Nna ya?" Gadis itu mulai mencari tahu.
"Teman yang mana? Tantemu tidak punya banyak teman." Regan mencoba berkonsentrasi pada lalu lintas, meski pada kenyataannya saat ini pikirannya mulai terbagi.
"Ya nggak tahu, kan yang sering ketemu sama mereka itu Om." Anandita sedikit menyindir.
"Hmm .. Jarang juga lah. Kenapa juga harus ketemu? Tidak penting."
"Nggak penting?" Gadis itu menoleh kepada Regan yang sedang mengemudikan mobilnya.
"Ya."
"Terus waktu itu nganterin temennya Tante Nna pulang?" Segera saja Anandita mencari tahu sasarannya.
"Yang mana?"
"Yang kata Tante Nna, yang waktu ngerjain tugas ospek?"
"Ooh β¦ Mahira?" Pria itu menoleh sekilas.
__ADS_1
"Ish, kenapa namanya disebut sih?" Gadis itu mendelik kesal.
"Memangnya kenapa?"
"Om sering nganterin dia?"
"Tidak sering, hanya dua kali selama dia mengerjakan tugas di rumah Pak Daryl. Lagipula saya hanya menjalankan perintah Om kamu."
"Umm β¦."
"Kenapa juga kamu tanya soal itu? Saya malah sudah lupa." Regan bergumam.
Kedua sudut bibir Anandita tertarik membentuk sebuah senyuman, dan tiba-tiba saja dia merasa lega. Dan gadis itu menatap Regan lebih lama. Mendengar hal itu saja dia merasa bahagia, dan kekesalannya menguap entah ke mana.
Regan melirik ketika dia merasa sedang diperhatikan, dan kedua alisnya bertaut membentuk kerutan kentara di dahi.
"Kenapa?" Lalu dia bertanya.
"Nggak ada. Hehehe." Anandita terkekeh.
Kerutan di kening Regan menjadi semakin dalam dan dia menatap gadis itu dengan rasa heran.
Oh, kenapa aku gaje banget sih? Denger gitu aja bisa bikin seneng. Batin Anandita berbisik dan senyuman semakin mengembang di wajahnya.
Setidaknya dia tahu, jika asisten pamannya itu tak punya hubungan apa-apa dengan gadis asing yang sempat membuatnya merasa cemburu beberapa hari ini.
Cemburu? Dih, nggak banget deh! Batinnya lagi.
***
"Kok kamu ikut Regan?" Nania bertanya ketika dia memasuki mobil.
Jam kuliah sudah berakhir ketika mereka tiba di kampus dan hanya menunggu sebentar saja.
"Tadi kebetulan ketemu pas Om Regan lewat." Anandita menjawab.
"Hmm β¦." Nania melirik ke arah asisten suaminya yang mulai menghidupkan mesin mobil.
"Arkhan ke mana?" Dia bertanya lagi.
"Kerja kelompok."
"Kamu nggak ada yang jemput emang?"
"Nggak ada."
"Papamu?"
"Lagi ada kerjaan."
"Ooo β¦." Nania mengangguk-anggukkan kepala.
"Ann, kamu mau pindah ke belakang?" Regan menyela percakapan sebelum dia melajukan mobilnya.
"Nggak ah, tanggung." Gadis itu menjawab.
"Benar?"
"Ya. Dari tadi juga kan di sini."
"Hmm β¦ baiklah." Lalu pria itu benar-benar melajukan mobilnya, sementara Nania terdiam memperhatikan dua orang di depan.
π
π
π
Bersambung ...
__ADS_1
Selamat Hari Raya Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin. Maaf baru up. Maklum emak sibukππ