The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Ngidamnya Daryl Dan Kecurigaan Arfan


__ADS_3

πŸ’•


πŸ’•


Sofia memperhatikan anak dan menantunya dari balik jendela ruang makan. Yang setiap pagi selalu tampak baru saja datang entah dari mana. Ditambah, menurut keterangan penjaga keamanan di rumah mereka, dua orang itu selalu pergi dari jam 4.30 pagi dan pulang di jam 6.30 pagi.


"Apa yang sedang kamu lihat?" Satria menatap ke arah yang sama. Dan dia pun melihat Daryl juga Mania yang turun dari mobil dengan membawa kresek hitam seperti biasanya.


"Mereka dari mana lagi pagi-pagi begini ya? Kok tumben pergi. Kata Pak Nunu perginya subuh." Sofia mengerutkan dahi.


"Benarkah?"


"Iya. Dan sudah seminggu ini tidak ada yang makan di sini." ucap perempuan itu lagi.


"Bukankah memang begitu? Selain akhir pekan memang tidak ada yang makan di sini." Satria menyahut.


"Ah, iya aku lupa." Sofia pun tertawa. "Kadang-kadang aku rindu mereka makan di sini lagi, bukannya masak dan makan di rumahnya sendiri. Apalagi Nania yang suka minum milk tea itu. Tambah dia suka dengan semua makanan yang kita sediakan."


Satria menyentuh bahunya. Sekarang ini rasanya memang cukup berbeda. Keadaan tak seperti dulu ketika anak-anaknya masih tinggal di rumah yang sama. Apalagi setelah Nania memutuskan untuk melakukan kegiatan rumah tangga seperti biasa di rumahnya.


"Tidak apa. Orang berumah tangga memang harusnya seperti itu. Mereka ingin juga melakukan banyak hal tanpa campur tangan kita."


"Aku tidak pernah campuri urusan mereka lho." sergah Sofia.


"Alu tahu. Maksudku, mereka juga ingin menjalani rumah tangganya sendiri tanpa harus apa-apa berhubungan dengan kita. Jadi, biarkan saja lah. Yang penting keadaan mereka baik."


"Iya, sih. Tapi aku hanya kesepian saja." Perempuan itu terkekeh.


Lalu perhatian mereka beralih ketika Nania dan Daryl masuk ke ruang makan. Dengan sebuah kresek berukuran sedang yang kemudian Daryl letakkan di meja makan.


"Kalian dari mana?" Sofia segera bertanya.


"Habis dari pasar." Nania yang menjawab.


"Dari pasar?!" Pasangan suami istri itu sama-sama menjengit.


"Iya."


"Habis apa? Belanja?"


Nania menganggukkan kepala.


"Kenapa belanja? Mau ada acara? Mau merayakan kehamilan kamu? Kenapa tidak minta Mima atau yang lain? Malah pergi sendiri." Sofia tentu saja bereaksi.


"Mom?" Namun Daryl segera menghentikannya.


"Ini kalian mau mengadakan acara, tapi tidak memberi tahu. Bagaimana konsepnya?"


"Bukan, Mom!" ucap Daryl lagi yang membuka bungkusan yang dibawanya di hadapan kedua orang tuanya.


"Apa itu?" Sofia bertanya lagi.


"Jajanan pasar." Dan Daryl segera melahap sebuah klepon yang kemasannya sudah dia buka sejak dari pasar tadi.


Pria itu mengunyah kue basah tersebut sambil memejamkam kedua matanya, dan dia benar-benar menghayati kegiatan makannya.


"Klepon?" Lalu Sofia memeriksa isi lainnya.


Di dalamnya ada beberapa jenis makanan tradisional lain dalam kemasan berbeda. Yang dibungkus dengan mika bening, ataupun terbungkus daun pisang yang terlihat enak.

__ADS_1


"Kalian sengaja pergi subuh-subuh ke pasar hanya untuk beli ini?" tanya perempuan itu.


Nania menganggukkan kepala.


"Bukan hanya itu." Lalu Daryl menyahut.


"Apa lagi?"


"Aku sarapan di pasar. Hahaha." Sang putra tertawa, lalu dia kembali menyuapkan kue basah favoritnya dan mengunyahnya dengan riang gembira.


"Apa?"


"Iya nih, setiap subuh dia ngajak jajan nasi kuning melulu, Ma." Nania menjelaskan.


"Nasi kuning?" Satria dan Sofia bersamaan.


"Nasi uduk juga." Daryl tertawa lagi.


Pasangan itu saling pandang.


"Ngidamnya dia aneh. Masa setiap subuh harus pergi ke pasar buat jajan nasi kuning sama beli beginian." jelas Nania lagi sambil merebahkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Ngidam?" Sofia membeo. "Jadi masih berlanjut?"


Nania mengangguk lagi, dan hal tersebut membuat kedua mertuanya tertawa.


"Aneh sekali, masa bisa sampai seperti itu?" Satria bahkan sampai menyeka sudut matanya yang basah karena dia tertawa terlalu keras.


"I don't know. Ini aneh. Masa Nania yang hamil tapi aku yang merasakan gejalanya?" Daryl menjawab.


"Ya mungkin biar kamu tahu rasa." ucap sang ibu yang mengambil salah satu bungkusan dari dalam kresek.


"Rasanya manis?" Satria bertanya terlebih dahulu.


"Sepertinya ya."


"Apa masih boleh? Bukankah kamu melarangku untuk memakan makanan yang terlalu manis?"


Sofia berpikir sebentar. "Sepertinya kalau sekali ini tidak apa-apa." Dia menyodorkan makanan tersebut ke depan suaminya.


"Benarkah?"


"Ya, makanlah."


"Cih, Mama tidak konsisten." Daryl mencibir, lalu dia tertawa ketika melihat sang ibu mendelik.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Sayang, apa pikiranmu sama denganku?" Dygta dan Arfan menatap kepergian Anandita yang dijemput oleh Regan.


Pria itu tiba di jam delapan pagi dengan alasan menjemput putri mereka karena sudah waktunya pergi ke Rumah Baca Nania pada akhir pekan seperti biasa.


"Ya. Sepertinya begitu." Arfan pun menyahut.


"Biasanya dia membawa Ann dari rumah besar ya? Tapi kenapa hari ini dengan sengaja memutar arah ke sini, padahal kan lebih jauh."


Arfan melirik ke arah istrinya.


"Kenapa pikiranku mengatakan kalau mereka ada hubungan ya? Ahahaha." Dygta tertawa, sementata pria itu mendengus.

__ADS_1


"Awas saja kalau iya, aku beri pelajaran anak itu." Dia menggeram, kemudian melenggang ke dalam sambil melakukan panggilan telpon.


"Eh, tapi kan tadi Regan bilang dia harus mengantarkan buku juga dari percetakan di sekitar sini. Jadi mungkin itu yang membuatnya berpikir untuk sekalian menjemput Ann?" Dan Dygta segera mengikutinya masuk ke dalam.


"Hmm … tidak tahu juga."


"Ya, mungkin saja kan?"


Arfan hanya melirik. "Hallo?" Lalu dia berbicara ketika panggilan tersambung.


"Kau belum memberiku laporan minggu ini. Bagaimana?" Dia berjalan ke arah belakang rumah dengan ponsel menempel di telinga.


"Aman, Pak." Piere memberikan jawaban.


"Aman apanya? Masa kau tidak menemukan kejanggalan?" Dia berhenti di dekat pagar.


"Mereka sepertinya normal-normal saja, Pak. Seperti yang selalu saya terima dari lapangan."


"Tapi kejadian hari ini membuatku curiga."


"Saya segera tugaskan yang lain, Pak?'


"Aku serahkan tugas ini kepadamu saja agar bisa memastikan keadaannya. Tapi kenapa malah aman-aman saja? Bagaimana kau ini?"


"Itu kan yang saya terima dari orang lapangan, Pak." Piere menjawab lagi.


"Begini saja, mulai besok kau yang mengawasi Ann. Tidak usah menyuruh anak buahmu. Mereka tidak becus bekerja." ucap Arfan tanpa menunggu penjelasan.


"Tapi Pak?"


"Prioritasmu adalah mengawasi Ann mulai besok. Tidak ada penawaran lagi. Masa harus aku sendiri yang turun tangan? Lalu apa gunanya kau sebagai kepercayaanku?" Arfan sedikit memberikan tekanan pada Piere. Sehingga bawahannya yang satu itu terdiam.


"Piere?" panggilnya ketika ia tak mendengar jawaban dari seberang.


"Ya Pak?"


"Kau dengar tidak?" tanya nya, masih dengan nada suara yang sama.


"Ya, Pak. Saya mengerti." Lalu Piere pun menjawab.


"Baik. Lalu jalankanlah tugasmu dengan baik. Aku ingin setiap sore atau malam kau memberiku laporan soal perkembangannya. Terutama Regan. Aku tidak percaya jika mereka hanya sampai segitu saja. Dipikir aku ini bodoh apa? Hanya saja, aku tidak punya bukti."


Piere terdiam lagi.


"Sekali lagi aku peringatkan. Kau yang harus mengawasi mereka, terutama Regan."


"Baik, Pak." Dan tak ada jawaban lain yang terdengar kecuali itu.


Dan Arfan pun segera mematikan sambungan setelah dia merasa jika percakapan itu cukup.


β€‚πŸ’•


πŸ’•


πŸ’•


Bersambung ...


nah luuuuu bikin curiga Kang JaheπŸ˜‚πŸ˜‚

__ADS_1


__ADS_2