
💕
💕
Daryl mendapati Nania yang tengah sibuk menyiapkan sarapan mereka di keesokan paginya.
Masing-masing sepiring wafle untuk mereka berdua lengkap dengan taburan blue berry dan potongan strawberry nya. Tidak lupa secangkir kopi hitam panas dia siapkan untuk suaminya.
"Kamu tidak marah?" Pria itu duduk di kursinya.
"Marah kenapa?" Nania menggeser piring dan cangkir kopi ke dekat Daryl.
"Soal semalam?"
"Kenapa harus marah?"
"Ya … soal kakak seniormu itu?"
"Dih, nggak penting banget mesti marah gara-gara itu. Aku cuma kesel aja kenapa hal sekecil itu bisa bikin kamu ribet." Nania tertawa.Â
Daryl pun tertawa lega sambil menepuk-nepuk pantat Nania. "Ugh, aku lega. Ku kira kamu marah gara-gara aku bilang tidak suka mendengarmu menyebut nama seniormu itu."
"Hah … Aku lupa kalau kamu seorang Daryl Stanislav." Nania memutar bola matanya.
"Maksudnya?"
"Yang nggak akan suka sama hal yang nggak sesuai sama feeling kamu."
"Bukan begitu …."
"Iya iya aku ngerti. Udah jangan dibahas lagi nanti kita malah berantem deh. Nggak enak ah." Perempuan itu kemudian duduk di sampingnya dan memulai kegiatan sarapan mereka.
"Tapi gini ya, kan aku ini kuliah. Udah pasti dong bakalan berinteraksi sama banyak orang termasuk senior. Ya mau nggak mau lah, namanya juga di kampus. Tapi itu bukan berarti aku juga akan bergaul sama sembarangan orang. Kamu juga tahu temen aku cuma Mahira doang, karena kalau sama yang lain ya biasa aja. Jadi jangan ributin masalah gituan lah, kan aku juga punya batasan sendiri soal itu." Kali ini Nania memutuskan untuk membahas hal lainnya.
Sementara Daryl melahap sarapannya dengan santai.
"Bukan cuma Kak Mahen, tapi senior yang lainnya juga aku kenal. Tapi bukan berarti aku deket lho. Cuma kenal doang."
Lalu dia berhenti mengunyah makanannya.
"Nanti jadi aneh kalau misal sikapku nggak baik sama mereka semetara kami nggak punya masalah apa-apa. Kan nggak lucu kalau misalnya tanpa penyebab yang jelas aku menghindar?"
Daryl menatap isi di dalam piringnya yang hampir habis. "Tapi aku nggak suka kamu menyebut nama orang itu."
"Aku tahu. Aku cuma ingetin aja kalau aku kuliah di kampus itu tuh nggak sendirian. Tapi sama ratusan orang, laki-laki atau perempuan yang salah satu atau beberapa dari mereka aku kenal. Dan nggak bisa dihindari pasti aku bakalan berinteraksi sama mereka."
Daryl menggumam sambil mengerucutkan mulutnya.
"Aku nggak mau hal-hal remeh jadi masalah yang bikin kita berantem. Kan nggak enak, masa cuma perkara nyapa atau jawab pertanyaan orang doang bikin kita ribut. Kan nggak lucu." Nania melahap makanannya.
"Apa aku berlebihan soal yang satu itu?" Daryl buka suara setelah mendengarkan cukup lama.
"Nggak tahu. Aku ngerasanya iya. Di sisi lain sifat kan kamu emang begitu, tapi coba deh untuk nurunin standar itu sedikit aja. Walau gimana juga kita kan makhluk sosial, jadi nggak bisa menghindari interaksi dengan orang lain."
"Entah kenapa aku selalu merasa kalau orang yang tidak kita kenal itu berbahaya. Di dalam pikiranku mereka akan mencelakaimu, atau setidaknya mungkin memanfaatkanmu, jadi …."
"Apa kamu trauma? Mungkin sebaiknya kita ketemu psikiater lagi?" Nania tertawa.
"Apa sih kamu ini?" Daryl menggerutu.
"Aku kan nggak bergaul kayak dulu. Aku udah menghindari yang namanya terlalu percaya sama orang. Dan untuk hal-hal tertentu aku juga kan nolak. Aku udah ngerti maksud dari semua larangan-larangan kamu."Â
Daryl terdiam lagi.
"Jadi please, jangan terlalu gitu lindungin aku nya." Nania meremat jemari suaminya.
"Ya ya ya, baiklah. Akan ku coba." Pria itu pun mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Gitu dong, kan manis." Nania kemudian menyentuh wajah Daryl, lalu dia mendongak untuk mengecup pipinya dengan lembut.
Perasaan lega memenuhi hati ketika dia berhasil bicara mengenai masalah ini. Dan kemajuan juga dialami suaminya yang bisa diajak berdiskusi dengan tenang. Tidak seperti sebelumnya. Setidaknya, mereka satu tingkat lebih baik dari sebelumnya.
__ADS_1
"Ups … kayaknya aku salah waktu deh, hehe." Anandita berhenti di ruang tengah saat melihat interaksi di antara Daryl dan Nania, dan dia hampir saja berbalik ketika sang paman memanggil.
"Heh, mau ke mana kamu? Kenapa jam segini sudah datang?" Pria itu segera bertanya.
"Lah, kan mau ke rumah baca, Om. Masa lupa sih?" jawab sang keponakan.
"Duh, aku lupa ngasih tahu lagi ya kalau hari ini nggak ke rumah baca?" Nania menyahut.
"Lho, kenapa?"
"Ada acara di kampus. Kayaknya nanti kamu sendiri deh ke rumah bacanya."
"Sendiri?"
"Maksudnya nggak sama aku, mungkin sama Regan doang." sambung Nania, yang memunculkan senyuman kecil di bibir Anandita.
"Sendiri juga nggak apa-apa, nanti di sana kan banyak orang, Tan." Gadis itu menjawab, dan sorakan di hatinya terasa nyata.
"Hu'um, tapi …." Nania melihat keluar kemudian ke arah jam dinding di atas lemari. "Regan ke sini nggak, Dadd?" Lalu dia bertanya kepada suaminya.
"Aku rasa dia langsung mengantar parfum ke kampus."
"Oo jadi kita perginya masing-masing?"
"Ya."
"Ya udah." Nania menyelesaikan sarapannya kemudian dia bergegas membereskan meja makan. "Kamu ikut ke kampus dulu ya, habis itu pergi ke rumah baca sama Regan." katanya, kepada Anandita. Dan gadis itu mengangguk riang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Wow!" Anandita menatap takjub keramaian di depan matanya.
Bangunan kampus yang di belakangnya terdapat ruangan terbuka dan lapangan olah raga menjadi tempat diadakannya bazar tahunan yang cukup terkenal di kalangan penikmat wisata lokal.Â
Terbukti dari sudah menyemutnya pengunjung di beberapa bagian area tersebut yang sebagian stand nya berjualan makanan. Maka tampaklah tempat itu sebagai wisata kuliner dadakan.
"Tante jualan apa di sini?" Mereka berjalan ke arah stand milik Nania.
"Fia's Secret Parfum." Lorong-lorong pejalan kaki cukup padat padahal baru jam sembilan pagi.
"Ada lah."
"Wow. Anak kuliahan bekel nya gede ya Tan?" Anandita dengan segala kepolosannya.
"Kenapa kamu tanya begitu?"
"Ya, itu bisa beli parfum Fia's Secret. Kan kalau dibandingin sama uang jajan aku mah ya mahal, biar aku kalau mau beli juga tinggal bilang papa, ya tetep aja."
"Ya bikin versi murahnya." Nania menjawab.
"Yang kw maksudnya?"
"Bukan kw, mana ada bikin yang begitu?"
"Terus?"
"Bikin versi kecil yang harganya bisa miring."
"Maksudnya dengan kemasan kecil gitu?"
"Iya."
"Oohh …."
"Nah, udah dibuka ternyata?" Nania bergegas menghampiri stand miliknya yang sudah siap. Dua orang pembeli bahkan baru saja selesai melakukan transaksi dengan Mahira.
"Wahhh … udah ada yang beli?" Nania masuk ke dalam stand.
"Iya."Â Mahira menjawab.
"Kamu datang jam berapa?"
__ADS_1
"Jam delapan, tadi janjian sama Pak Regan."
"Duh, pagi amat?"
"Iya, kebetulan Pak Regan ambil parfum dari gudang terus lewat dekat rumah. Ya udah, sekalian aja ikut." Gadis itu menjelaskan.
"Pantes."
"Sekarang Regan di mana?" Daryl menginterupsi percakapan tersebut.
"Tadi lagi beli minum, Pak." Mahira menatap ke sekeliling bersamaan dengan pria yang dimaksud tiba dengan dua cup minuman dingin.
"Pak?" sapanya kepada Daryl.
"Sudah selesai?"
"Sudah Pak."
"Rajin sekali kau ini." Daryl tampak menahan tawa sementara asistennya itu sedikit menjengit.
"Ya Pak, agar bisa segera ke rumah baca." Dia menyerahkan satu cup kepada Mahira yang segera diterima oleh gadis itu.
"Oh … benar juga. Bagus, bagus."
"Maaf, Pak? Bapak mau minuman ini?" tawar Regan sambil mengangkat tangannya yang tengah memegang satu cup minuman lainnya. Namun sepertinya dia belum menyadari kehadiran Anandita di dekatnya.
"Ah, tidak. Punyaku masih ada." Daryl menunjukkan tumbler yang dibawanya dari rumah.
"Baiklah kalau begitu. Cuaca hari ini akan sangat panas, Pak. Jadi … memang harus banyak minum." Regan menyesap minumannya.
"Ya, memang benar." Daryl menanggapi, lalu dia masuk ke dalam tenda yang lebih teduh.Â
Dan di saat itu pula lah keberadaan Anandita yang semula ada di belakangnya terlihat, sehingga Regan pun menyadarinya.
Dia sempat terkesiap mendapati gadis itu yang terdiam dengan pandangan dingin.
"Ann? Saya kira kamu tidak ikut ke sini? Baru mau saya jemput ke rumah besar?" Pria itu berbasa-basi.
"Nggak usah repot-repot." Anandita melirik ke arah Mahira yang tengah asyik berbincang dengan Nania sambil menyesap minuman dingin yang baru saja dibelikan Regan.
"Oh, tidak sama sekali. Itu kan sudah tugas saya."
Lalu pandangan gadis itu kembali pada Regan. "Masih banyak kerjaan nggak? Kalau masih aku pergi sendiri nih?" ucapnya dengan nada sarkas.
"Umm … sepertinya sudah." Sementara Regan menoleh ke belakang di mana stand parfum itu berada.
"Ya udah, mau pergi ke rumah baca atau mau tetap di sini?" tanya Anandita lagi sambil sesekali melirik ke dalam tenda.Â
Keadaan hatinya tiba-tiba saja memburuk setelah melihat beberapa adegan dan percakapan yang menurutnya menyebalkan.
"Umm … iya, sebentar." Regan mengambil jaketnya yang Mahira sodorkan. Dan hal tersebut lagi-lagi membuat Anandita menatap tidak suka.
"Saya, pergi Pak." Lalu pria itu berpamitan.
"Ya, pergilah. Mana Ann?" Daryl menatap ke belakang asistennya saat dia tak menemukan sang keponakan.
"Eee …." Regan pun menoleh, dan ternyata gadis itu sudah berjalan mendahuluinya tanpa berpamitan kepada siapa pun.
"Lho?"
"Saya pamit, Pak." ucap Regan lagi yang setengah berlari mengejar Anandita.
"Kenapa dia?" Nania dan Daryl menatap kepergian keponakan juga asistennya itu.
"Entah, mungkin Ann buru-buru?" Dan dua orang itu saling pandang.
💕
💕
💕
__ADS_1
Bersambung ....
Duh ...ðŸ¤ðŸ¤