The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Cemburunya Perempuan


__ADS_3

💕


💕


"Saranghae, saranghamnida, sarangheo … aku cinta padamu …." Wajah Regan memucat setelah membaca google translate di ponselnya, dan pikirannya segera melayang entah ke mana.


"Hey, Regan!" Namun panggilan Daryl membuyarkan lamunannya.


Regan mendongak dan dia menemukan atasannya sedang mengutak-atik air conditioner portabel yang baru saja dia turunkan dari mobil.


"Bagaimana menyalakannya?" tanya Daryl dengan kesal karena dia tidak menemukan tombol untuk menyalakan benda tersebut.


Regan segera menghampirinya, lalu dia mengusap sesuatu yang berwarna biru di bagian atasnya, dan berdengunglah benda  itu. Lalu berhembuslah udara dingin menerpa tubuh mereka.


"Ah, di sana rupanya. Aku kira di bawah?" Daryl tertawa.


 


Pria itu kemudian duduk di kursi dengan udara dingin yang berhembus di belakangnya.


"Tuhkan, panas? Makanya jangan ikut." Nania pun melakukan hal yang sama.


"Besok-besok nggak usah ikut lah, dari pada kamu repot begini. Mana bolak-balik harus nurutin yang minta foto lagi?"


Daryl tertawa. "Tidak apa-apa, kan bagus untuk promosi yang lebih pribadi?" Lalu dia menjawab.


"Apa kamu bilang? Promosi yang lebih pribadi?" Nania bereaksi.


"Ya, coba di mana ada produk yang penjualannya Mendatangkan modelnya langsung? Tidak ada. Dan kita berhasil dalam hal ini. Berapa kali Regan membawa stok parfum hari ini?" Pria itu berujar.


"Ya tapi nggak gitu juga, mereka beli karena mau foto-foto sama kamu, bukan mau parfumnya."


"Apa pun motifnya terserah, yang penting produk kita laris." Daryl merangkul pundaknya.


"Nggak tahu lah, kesel aku ngeliatnya." Nania bersedekap sambil mendelikkan mata kepada suaminya.


"Lho, kesal kenapa? Karena produk kita laris?" Daryl sedikit mencondongkan tubuhnya pada perempuan itu.


"Bukan."


"Terus?"


"Karena wajah suami aku nanti ada di dalam hape nya ibu-ibu sama mbak-mbak."


Daryl tertawa dengan keras mendengar hal tersebut.


"Ya kan? Nanti bukan cuma aku yang punya foto kamu, tapi mereka juga."


"Duh, kamu cemburu?" Daryl menariknya sehingga jarak di antara mereka hampir menghilang.


"Ya … Emang nggak boleh gitu istri cemburu sama suaminya?" Nania balik bertanya.


Daryl tersenyum lebar, dia merasa senang dengan apa yang didengarnya barusan.


"Tidak boleh begitu, kita akan sedang berjualan. Yang penting produknya habis."


"Biar banyak yang minta foto juga?"


"Ya."


"Ah, setelah ini kamu akan jadi terkenal. Nanti kalau ke mana-mana bakal ada yang panggil." Nania mendelik lagi, namun Daryl malah tertawa.


"Aku kan memang sudah terkenal, jadi tidak heran kalau ada yang panggil." katanya, yang semakin membuat Nania merasa kesal.


"Udah, besok jangan ikut jualan lagi."

__ADS_1


"Pastinya. Besok kan aku kerja."


"Oh iya."


"Jadi, sekarang aku akan menikmati ketenaran singkat ini." Daryl bangkit dari kursinya ketika dia melihat ada beberapa pembeli perempuan mendekat.


"Eh, mau ke mana?" Namun Nania menariknya agar dia tidak maju.


"Ada yang beli, siapa tahu mereka mau berfoto kan?"


"Nggak usah!" ucap Nania.


"Lho, kenapa?"


"Yang tadi udah cukup. Kamu duduk aja."


"Tapi kan …."


"Duduk!" Nania sedikit meninggikan suaranya.


"Iya, baiklah baik. Tidak perlu marah-marah kan? Seram sekali kamu ini." Dan pria itu akhirnya menurut.


Sementara Regan memutar bola matanya setelah menyimak percakapan tersebut.


***


"Tante Nna?" Seseorang memanggilnya di antara kerumunan.


"Ya?" Dan Nania menjawab panggilan tersebut, yang ternyata adalah Anandita.


Gadis itu berdiri di depan stand dengan senyum yang mengembang. 


"Cuaca lagi panas banget ya? Jadi aku bawain minuman dingin deh." Dia meletakkan empat cup minuman dingin di meja.


Tiga orang itu tampak tertegun.


"Eh, Kak Mahira belum ya? Duh, kok aku lupa. Perasaan di sini cuma bertiga?" ucap gadis itu.


"Umm …."


"Mau aku beliin? Atau kakak beli sendiri? Aku nggak tahu Kakak sukanya apa?" katanya lagi.


"Eee … Nggak usah. Nanti aku beli sendiri aja." Mahira menjawab.


"Ehm …." Regan terdengar berdeham, dan dia hampir saja memberikan cup miliknya kepada gadis itu, tapi pandangan Anandita segera beralih.


Dia tahu apa yang akan pria itu lakukan, maka tatapan tajam segera menyerang wajahnya.


Regan sempat akan meneruskan maksudnya, tapi pandangan gadis itu memang begitu menusuk ke dalam kalbu.


Dan Regan seperti seorang lelaki yang sedang dicemburui oleh kekasihnya. Maka, dia pun mengurungkan niatnya.


"Punyaku aja lah, aku bisa berdua sama Om Der." Lalu nania menyela.


"Oh, itu bagus. Jadi Kak Mahira nggak usah repot-repot." Anandita menyesap minuman miliknya dengan riang karena dia berhasil menghentikan apa yang akan Regan lakukan.


"Mommy sama Papa ke mana?" Daryl bertanya.


"Tuh …." Anandita menunjuk ke arah samping di mana kedua orang tua dan adik-adiknya berada. "Asha nemuin jajanan aneh, jadi dia mau beli."


"Jajanan aneh apa?"


"Nggak tahu, kayak sate-satean gitu."


"Hmm …."

__ADS_1


"Bazarnya setiap hari emang serame ini ya? Penuh banget sampai ke tempat parkir?" Dia masuk ke dalam stand dan berdiri di dekat Regan.


"Lumayan. Apalagi ini kan hari minggu. Jadi ya … pasti rame lah." jawab Nania.


"Terus jualannya gimana? Laris?"


"Lumayan, apalagi bisa minta foto modelnya, makin laris."


"Masa?" Gadis itu tertawa. "Foto siapa?"


"Om Der lah, siapa lagi?"


"Ada jualan parfum tapi bisa foto-foto sama modelnya?"


"Ya, ini Om kamu buktinya. Mau-mau aja dimintai foto sama pembeli."


Anandita tertawa lagi.


"Sudah ketemu, kan? Jadi, ayo kita pulang?" Arfan pun mendekat diikuti anak dan istrinya.


"Baru juga sampai, sebentar lagi kenapa?" protes Anandita kepada sang ayah.


"Kan niatnya hanya melihat Tante Nna jualan?" ucap pria itu.


"Iya, tapi tunggu sebentar lah, ngapain dulu kek. Jalan, jajan atau lihat-lihat apa gitu." Sang putri tak mau kalah.


"Sudah terlihat ramai begini, Ann."


"Ya namanya juga bazar, pasti rame lah.Kalau sepi ya di kuburan." Anandita menjawab sekenanya.


"Ann?"


"Eh …." Gadis itu tertawa sambil menutup  mulutnya dengan tangan. "Canda, Papa." katanya, lalu dia kembali menyesap minuman miliknya.


 


"Ayo Papa, aku mau lihat-lihat ke sana." Dan Asha menarik-narik tangan sang ayah.


"Mau apa lagi, Asha?" Arfan menahan putri bungsunya tersebut.


"Lihat ke sana!"


"Tapi Asha …."


"Ayo, ayo. Di sana banyak yang jual makanan enak-enak lho. Kamu pasti suka." ujar Anandita.


"Tuh … ayo, Papa!" ucap Asha lagi.


"Lain kali saja, ini sudah terlalu siang." tolak Arfan.


"Aaa … mau sekarang!" rengek Asha yang  akhirnya berhasil menarik sang ayah untuk menuruti keinginannya.


"Mommy tunggu di sini saja lah, capek." Sementara Dygta memilih untuk tetap di sana.


Seperti halnya Anandita yang memang menggunakan kesempatan itu untuk berdekatan dengan Regan.


💕


💕


💕


Bersambung ...


Hai gaess maaf baru update. Dua hari ini emak sakit. Doain cepet sembuh ya.

__ADS_1


__ADS_2