The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Kota Tua


__ADS_3

πŸ’•


πŸ’•


"Wahhh ada es krim rasa mangga?" Kedua bola mata Anandita membulat dengan sempurna saat menatap gambar di buku menu.


"Mau ini ya satu? Om mau nggak?" katanya, dan dia beralih kepada Regan.


"Perut saya sudah penuh. Satu porsi nasi ayam saja sudah cukup." Pria itu menggeser piring yang isinya baru saja dia habiskan.


"Dih, kenapa sih cowok-cowok nggak doyan makan? Takut gendut ya? Nggak mungkin banget deh, kalian kan aktif kerja?"


Regan tampak memutar bola matanya.


Anandita kembali melambaikan tangannya untuk memanggil pelayan Amara's Love yang pada menjelang sore itu sedikit lebih santai.


"Ya? Ada lagi?"


"Mau es krim mangganya dong. Enak nggak?" Gadis itu bertanya.


"Untuk sekarang, es krim mangga adalah menu andalan kami, Kak." jawab si pelayan.


"Oke banget. Mau deh satu." katanya lagi.


"Baik, ada yang lainnya Kak?"


"Om mau es krimnya nggak?" tawar Anandita lagi kepada Regan yang sudah menyelesaikan kegiatan makannya.


"Sepertinya tidak. Nanti kita malah lebih lama di sini." Dan pria itu pun menjawab.


"Oo ya udah." Lalu Anandita kembali kepada si pelayan. "Eskrimnya pakai cone aja ya? Mau langsung pulang." Lalu dia mengeluarkan dompet dari tas selempangnya. "Sekalian mau bayar." katanya lagi.


"Eh … tidak. Biar saya saya." Namun, Regan menarik trey bill yang memang sudah siap di meja mereka dan melihat total jumlah yang harus dibayarnya.


"Nggak usah Om. Aku aja yang bayar, kan aku yang ngajak makan." ujar gadis itu yang berniat menolak.Β 


Namun terlambat, karena Regan sudah terlebih dahulu meletakkan beberapa lembar uang berwarna biru di trey bill.


"Menurut saya, pantang bagi laki-laki ketika makan di luar dibayar oleh perempuan, kecuali kalau kamu atasan saya." ujar Regan yang memberi isyarat kepada pelayan kedai untuk menyelesaikan pekerjaannya.


"Udah tahun milenium, Om. Nggak ada istilah kayak gitu lagi. Siapa aja yang mampu bisa bayar apa pun yang mereka beli." Anadita menjawab.


"Tahun boleh milenium, tapi kebiasaan baik tidak boleh dihilangkan. Setidaknya kami, para laki-laki tidak akan kehilangan fungsinya di hadapan perempuan." Regan mematahkan pendapat gadis di depannya yang langsung terdiam begitu dia selesai berbicara.


So sweet. Batin Anandita, dengan senyuman yang perlahan terbit di sudut bibirnya.


"Silahkan es krim mangganya, dan ini kembaliannya." Pelayan kedai cepat kembali dengan pesanan terakhir Anandita, kemudian dua orang itu segera pergi.


***


"Negatif Ann! Saya tidak bisa mengantarmu ke sana." Regan kembali menolak ketika gadis itu memintanya mengantar ke tempat lain.


"Kenapa? Emang Om masih ada kerjaan?"


"Pak Daryl belum memberi perintah." Pria itu melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul empat sore.


"Ya udah, kenapa nggak pergi aja nganterin aku sih?"


"Masalahnya itu diluar prosedur, dan lagi tidak ada izin dari Pak Arfan. Nanti saya yang kena masalah."


"Ck! Kenapa nggak bilang dari tadi kalau harus ada izin Papa?" Anandita lantas mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.


"Kalau Papa ngizinin, Om mau antar aku ke tempat lain?"


"Ya." Regan menjawab asal.


Coba saja, dan bisa dipastikan jika Arfan Sanjaya tidak akan memberikan izin. Dia bergumam lalu tertawa dalam hati.


"Hallo, Papa?" Panggilan segera berlangsung.


"Ya Ann?" Lalu terdengar jawaban dari seberang.


"Aku boleh ke Kota Tua nggak?" Anandita langsung bertanya.


"Kota Tua? Mau apa?"


"Jalan aja, sambil foto-foto gitu."


"Memangnya kamu sudah tidak di Rumah Baca?" Kini Arfan yang bertanya.


"Udah beres dari tadi, kan aku udah bilang sama Papa. Ini baru aja selesai makan di kedainya Kak Ara."


"Lalu kenapa mau ke Kota Tua?"


"Mau aja? Emangnya nggak boleh? Arkhan aja setiap week end keluyuran sampai Bandung boleh, masa aku cuma ke Kota Tua aja nggak boleh. Papa tega!" Gadis itu mulai merajuk.


"Kenapa kamu bilang begitu?"


"Ya habisnya kalau Arkhan mau apa-apa selalu dibolehin, giliran aku Papa nggak kasih izin." Suaranya berubah ke mode manja.


"Astaga!"


"Tadinya aku nggak akan bilang karena Papa pasti nggak akan kasih izin, tapi karena aku menghargai Papa lho, makanya bilang dulu. Tapi kalau misalnya …."


"Kamu pergi dengan siapa?" Sang ayah kembali bertanya.


"Sama Om Regan. Ini aku disuruh minta izin dulu, baru mau ngantar. Tapi kayaknya kalau Papa nggak kasih izin juga nggak akan jadi deh. Ya udahlah …." Suaranya dibuat terdengar kecewa.


Dan gadis itu berjalan sambil menendang-nendang udara di depan kakinya.


"Ya sudah." Lalu jawaban yang tak diduga pun terdengar.


"Apa Pah?" Dan dia merubah panggilannya ke dalam loud speaker agar pria yang juga berjalan di sampingnya bisa mendengar.


"Pergilah, tapi jangan pulang malam." lanjut Arfan.


"Papa serius?" Wajah Anandita berubah sumringah mendengar hal tersebut.


"Ya, tapi benar-benar ke Kota Tua kan?"


"Iya ih, Papa nggak percaya banget sih?"

__ADS_1


"Bukan begitu, Ann …."


"Kan aku perginya sama Om Regan. Pasti nggak akan diizinin macem-macem lah." ujar gadis itu yang melirik kepada Regan.


"Memangnya kamu punya rencana akan berbuat macam-macam?" Intonasi suara Arfan terdengar naik satu oktaf.


"Nggak Pah, bercanda. hehehe." Anandita tertawa lagi.


"Kalau mau macam-macam sebaiknya jangan! Papa tidak mau anak gadis keluyuran diluar rumah tidak tentu. Enak saja. Capek-capek mendidikmu hanya untuk membuatmu terlihat rendah di hadapan orang lain? Lebih baik Papa dicap kejam sekalian karena melarangmu melakukan banyak hal dari pada kamu begitu." Arfan berbicara panjang lebar.


"Nggak Papa ih, aku cuma bercanda. Serius amat deh?"


"Ada hal yang bisa dibuat sebagai candaan, dan ada hal yang tidak bisa, Ann. Dan Papa tidak punya toleransi untuk yang satu itu." Pria itu menjelaskan.


"Iya Papa, aku ngerti."


"Jadinya mau bagaimana?"


"Ya tetap ke Kota Tua."


"Baik, hanya ke sana saja, dan sebelum petang kamu harus sudah pulang."


"Nggak boleh sampai malam?"


"Tidak boleh, atau kamu tidak pergi sama sekali."


"Iya Pah, iya. Aku ngerti." Anandita dengan ekspresi gembira, dan dia menatap wajah Regan yang tampak tidak senang.


"Berikan hapemu kepada Regan!" ucap Arfan lagi, dan gadis itu melakukan apa yang sang ayah perintahkan.


"Ya Pak?" Dan Regan segera menjawab.


"Kau tahu apa yang harus dilakukan, bukan?"


"Ya, Pak. Saya mengerti."


"Baik, aku percayakan Ann kepadamu. Dan ingat, jangan biarkan dia berbuat macam-macam."Β 


Regan menelan ludahnya dengan susah payah saat mendengar peringatan seorang Arfan Sanjaya.Β 


"Baik Pak." katanya kemudian, dan pria itu memutuskan percakapan.


"Bener kan?" Anandita mengarahkan ujung telunjuknya pada wajah Regan yang tampak menghela napas dalam.


***


Pria itu mengikuti kemana Anandita melangkah. Menyusuri setiap sudut Kota Tua yang membuat mereka merasa seperti masuk ke zaman lain yang tak pernah dilewati sebelumnya.


Dan sudah puluhan kali Anandita mengambil gambar lewat kamera ponselnya sejak mereka tiba di tempat tersebut.


"Senyum kenapa sih Om? Cemberut melulu dari tadi?" Gadis itu mengambil gambar mereka dari samping dengan ekspresi yang cukup ceria.


Tentu saja, dia berhasil membuat Regan, sang asisten dari pamannya untuk mengikuti kemauannya hari itu. Sekaligus menikmati kebenasannya yang jarang dia dapatkan jika tanpa pengawasan ayahnya.


Regan tersenyum sebentar saat gadis itu kembali mengarahkan kamera ponselnya, lalu dia kembali ke mode awal.


"Dih, cuma segitu doang?" Lalu Anandita melihat beberapa gambar hasil jepretannya yang dia pilih paling bagus.


"Hapus, itu memalukan!" Pria itu berujar.


"Nggak ah, ini lucu. Ahahaha." jawab Anandita yang membiarkannya tetap berada di galeri ponselnya.


"Hapus, Ann. Nanti ketahuan Pak Arfan kita bisa kena masalah!" pinta Regan yang hampir merebut benda pipih itu dari tangan Anandita.


"Nggak ih, apa urusannya?"


"Serius. Mana ada asisten dan keponakam atasannya berfoto bersama? Itu akan sangat aneh dan membuat orang salah paham!" ujar Regan lagi.


"Aneh sebelah mana sih, cuma foto! Lagian aku fotonya bukan cuma sama Om doang. Tapi sama yang lain juga."


"Masa?"


"Asli. Sama sopirnya Opa, satpam rumah besar, Pak Maman juga."


"Pak Maman siapa?"


"Kang kebunnya Opa. Jadi, jangan pikir kalau Om ini satu-satunya orang yang ada di foto aku deh!"


"Kamu bohong!" Dan pria itu berhasil merebut ponselnya Anandita.


"Om ih!!"


Regan menghidar agar dirinya bisa melihat ke dalam benda pipih tersebut.


"Nggak sopan ih, itu kan privasi Om!!" Anandita pun tidak mau kalah. Dia terus berusaha merebut kembali ponselnya.


Dan benar saja, Regan menemukan banyak sekali foto gadis itu ketika berada di rumah besar dan dia dengan beberapa pegawai keluarga.


Sopir, satpam, tukang kebun, bahkan sekuriti komplek yang sesekali datang melintas saat berpatroli juga ada di dal am koleksi galerinya. Selain dengan para asisten rumah tangga juga tentunya.


"Nggak percayaan amat jadi orang?" Lalu gadis itu benar-benar mengambil kembali ponselnya dari tangan Regan.


"Eee … kenapa kamu melakukan itu?" Dia pun bertanya.


"Buat kenang-kenangan."


"Kenang-kenangan?"


"Ya. Kita nggak akan bisa memutar waktu untuk kembali ke masa lalu kan? Jadi aku memilih untuk menyimpan apa yang pernah aku lakukan di dalam foto aja. Kan lucu kalau suatu hari nanti aku lihat lagi."


Regan terdiam.


"Om tahu nggak, kalau setiap foto itu menyimpan cerita tersendiri yang mungkin nanti akan kita kangenin."


"Memangnya cerita apa yang kamu simpan dibalik foto dengan tukang kebun Pak Satria?"


"Banyak."


"Apa saja?"


"Dia yang ngajarin aku naik seperda waktu kecil kalau Papa lagi nggak ada, atau Opa lagi nggak sempat."

__ADS_1


"Terus satpam?"


"Dia yang nemenin aku main karet kalau nggak ada yang mau ikutan."


"Sekuriti komplek?"


"Dia yang suka beliin aku jajanan di warung kalau bosen sama makanan di rumah Opa."


"Duh, penyelundupan itu namanya, Ann."


"Emang. Hahaha." Gadis itu tertawa. "Indah kan masa kecil aku? Tapi sebentar lagi berakhir kalau aku udah mulai kuliah. Tapi aku nggak mau kehilanga momen itu, tahu."


"Hmm … melankolis sekali kamu ini ya? Tidak sangka, anaknya Arfan Sanjaya bisa se cengeng ini?"


"Dih, bilang anaknya Arfan Sanjaya cengeng? Belum tahu aja kalau aku lagi marah."


"Masa? Memangnya kamu bisa marah?"


"Bisa lah."


"Apa yang bisa membuatmu marah?"


"Banyak."


"Iya, apa?"


"Salah satunya?"


Regan menganggukkan kepala.


"Kalau cowok yang aku taksir jalan sama cewek lain." Anandita beranjak dari tempatnya berdiri.


Dia kembali menyalakan ponselnya untuk mengambil gambar dan video.Β 


"Apa? Memangnya kamu sudah punya pacar ya? Wahhhh bahaya!!" Dan Regan kembali mengikuti langkahnya.


"Bahaya apaa?"


"Kalau Pak Arfan tahu bisa ngamuk. Kamu pasti akan dikurung."


"Lebay."


"Serius."


"Lagian siapa yang bilang aku udah punya pacar?" Anandita menghindari kontak mata dengan pria itu.


"Itu tadi kamu bilang soal pria yang kamu taksir?"


"Naksir bukan berarti pacaran, Om."


"Terus?"


"Jalan biasa kayak gini juga bisa naksir."


Regan tertegun sebentar.


CEKREK!!Β 


Suara jepretan foto pada ponsel Anandita kembali terdengar, dan kini objeknya adalah wajah Regan dengan sikap sempurna.


"Bagus Om. Tapi kalau ditambah senyum pasti lebih bagus lagi." Gadis itu tertawa.


"Makasih." katanya lagi yang tersenyum begitu manis, membuat pria yang berdiri di depannya semakin tertegun dengan perasaan yang berdesir.


"Aku punya kenangan lain yang manis hari ini." Dia terkekeh pelan, lalu kembali mengambil gambar wajah Regan.


"Stop Ann, itu terlalu banyak."


Gadis itu hanya tersenyum. "Nggak apa-apa, nanti aku hapus kok kalau udah pindah ke lukisan." jawabnya lagi, seraya melanjutkan langkah menyurusi sudut lainnya.


"Kamu bisa melukis?" Regan kembali mengikuti langkahnya.


"Bisa."


"Apa saja yang kamu lukis?"


"Apa aja bisa aku lukis. Apalagi wajahnya orang-orang ganteng."


Suasana semakin temaram dan lampu-lampu hias di jalanan sudah mulai dinyalakan. Menghadirkan keepikan tersendiri pada hampir petang itu.


Dan Anandita masih belum berhenti mengambil gambar dengan ponsel miliknya. Dia merasa harus memiliki gambar-gambar tersebut untuk dimasukkam ke daftar koleksinya.


"Duh, besok-besok aku mau bawa kamera aja ah biar fotonya lebih bagus." Gadis itu berbicara pada dirinya sendiri, sementara Regan tetap mengikutinya.


Dia memastikan gadis itu tidak salah mengambil langkah dan malah mencelakakan dirinya sendiri.


"Hati-hati, Ann." Regan bahkan sempat menarik tas selempangnya saat Anandita hampir saja menerobos jalanan Kota Tua yang sedikit padat.


"Ehehehe, selesai." Lalu dia mematikan ponsel yang daya baterainya tinggal setengah. "Jangan sampai hapenya mati, atau Papa akan kirim pasukan kalau misalnya aku susah ditelepon." katanya, sambil tertawa.


"Kita mau ke mana lagi?" Kemudiam Regan bertanya.


"Nggak ah, kita pulang aja. Kan janjinya nggak sampai malam." Anandita menatap langit Kota Tua yang kelabu.


Gerimis kecil bahkan mulai turun membuat tempat itu terasa sejuk dan suasananya semakin syahdu.


Regan melepaskan jaket yang dikenakannya, kemudian dia gunakan untuk menutupi kepala gadis itu.


"Kalau begitu kita pulang sekarang?" katanya, dan Anandita mengangguk tanda setuju.


Pria itu memegangi jaket yang menutup kepala Anandita, memastikannya tidak terlepas dan membuat gadis itu terkena gerimis sementara mereka berlari ke arah mobil di sisi lain kota.


πŸ’•


πŸ’•


πŸ’•


Bersambung ...


Jangan lupa like komen sama hadiah juga vote nya gaessπŸ˜‚πŸ˜‚

__ADS_1


Alopyu se Kota Tua pokonya 🀭🀭


__ADS_2