The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Liburan Keluarga


__ADS_3

💕


💕


"Malyshkaaaaaa! Kenapa mereka ada di sini?" Teriakan Daryl terdengar cukup nyaring dan keadaannya memang membuat panik.


Bagaimana tidak? Dua keponakannya masuk begitu saja ketika dirinya berjalan ke dalam kamar dalam keadaan telanjang bulat. 


Jika saja tak ada bantal di atas tempat tidur yang dia gunakan untuk menutupi ar*a pr*badinya maka sudah bisa dipastikan dua bocah itu akan melihatnya dalam keadaan polos seperti itu.


"Tante bilang juga jangan!" Nania pun segera menerobos ke dalam kamar mereka dan berdiri di antara suami dan keponakannya. Menghalangi pria itu yang berdiri di dekat tempat tidur tanpa sehelai kain yang menutupi tubuh telanjangnya kecuali bantal dalam genggaman.


"Ih, jam segini baru bangun?" Anya berujar. "Orang-orang udah mau pergi Om Der masih belum mandi?" cibirnya kepada sang paman.


"What are you doing? Get out right now!" Daryl kembali berteriak.


"Ya mau bangunin Om." jawab Anya.


"Tidak usah, Om sudah bangun." ucap pria itu dengan nada kesal.


"Iya, tapi belum mandi."


"Bukan urusanmu! Lagi pula mau apa pagi-pagi begini sudah membuat kerusuhan di rumah orang? Ke mana Mommy dan Papimu?" Dia belum merendahkan suaranya.


"Ada di bawah. Opa nyuruh aku bangunin Om sama Tante." jawab Anya lagi tanpa merasa takut mendengar teriakan pamannya.


"Memangnya mau apa?"


"Mau ngajak pergi ke Bogor. Kata Opa kita mau liburan."


"Pergi saja sana! Kenapa ajak-ajak Om segala?"


"Orang aku ngajaknya Tante Nna kok."


"Tidak boleh. Kalian pergi saja sendiri!"


"Yeee … Opa bilang suruh ngajak Tante Nna."


"Tidak boleh! Kalian saja …."


"Udah, cepetan mandi sana malah berdebat sama anak-anak?" Nania menyela perdebatan sengit tersebut.


"Anya sama Zen nunggunya di bawah ya? Tante mau mandi dulu." Lalu dia beralih pada dua anak tersebut.


"Yah, lama dong kalau nunggu Tante mandi juga?"


"Tidak perlu menunggu, pergi saja." Daryl kembali berbicara. Namun dia berhenti ketika Nania menepuk dadanya.


"Anya sama Zen keluar dulu ya? Bilang sama Opa tunggu sebentar."


"Awas kalau lama! Nanti ditinggalin!" Anak itu memperingatkan.


"Nggak. Cuma lima menit."


"Lima menit apaan?" Zenya melirik kepada pamannya. "Om Der aja mandinya lama."


"Ya makanya, pergi saja sana!" sahut Daryl lagi yang kembali membuat Nania menepuk dadanya.


"Kalau kalian masih di sini gimana Om sama Tante mau siap-siap?" ucap Nania.


"Oh iya. Oke deh aku kasih tahu Opa biar nunggu." Lalu dua anak itu segera berlari keluar diikuti Nania yang menutup pintu kamar dan menguncinya rapat-rapat.


"What? Kamu mau ikut?" Daryl bereaksi.


"Emangnya kamu nggak mau ya? Hehe …." Perempuan itu kembali ke hadapannya.


"Serius? Masa mau liburan dadakan begitu?"


"Emang kapan keluarga kamu kalau liburan direncanain? Seingat aku, kamu juga begitu kalau mau pergi?"


"But Baby …."


"Udah, cepetan mandi. Nanti ditinggal." Kemudian Nania mendorong Daryl ke arah kamar mandi setelah merebut bantal yang menutupi bagian bawah perut suaminya.


"Tadi anak-anak nggak lihat kan?" katanya sambil tertawa.


"Lihat apa?"


"Lihat Eragon."


"Oh … tentu saja tidak."


"Syukurlah. Bisa gawat kalau lihat." Mereka masuk ke dalam kamar mandi.


"Memangnya kenapa?"


"Kok tanya kenapa? Bisa bahaya, otak anak-anak akan tercemar."


"Hahaha, kamu pikir ini sampah?" Daryl menggenggam alat tempurnya yang sedikit menegang saat menatap Nania melepaskan pakaiannya.


"Bukan gitu, otakku aja bisa tercemar gara-gara kamu apalagi anak-anak." Perempuan itu mendekat kemudian menyalakan shower sehingga airnya mengaliri tubuh mereka berdua.


"Tapi kamu menyukainya." Daryl tertawa sambil menempelkan alat tempurnya ke perut istrinya.


"Ya apa boleh buat? Udah terlanjur." Nania malah menanggapinya dengan menggenggam benda itu setelah dia mengusapkan sabun pada tubuhnya.


"Baby?"


"Kamu apalagi? Suka baper kalau aku begini." Dan perempuan itu mendorong Daryl hingga punggungnya membentur dinding marmer di belakang kemudian merapatkan tubuh mereka berdua, sambil menggerakkan tangannya yang menggenggam alat tempur suaminya.


"Aaahhh … Malyshka?"


Perempuan itu menyeringai dan dia melanjutkan aktivitas tersebut tanpa perlawanan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Resort tampak cukup ramai saat mereka tiba di salah satu kawasan liburan kota Bogor itu, dan suasananya cukup terasa menyenangkan.


Anak-anak bakan dengan riangnya berlarian begitu turun dari mobil mereka seolah tidak merasa lelah setelah perjalanan jauh dari pusat kota Jakarta.


"Opa, Opa. Ayo kita cari serangga lagi, pasti sekarang ada banyak." Anya da Zenya menarik tangan Satria.


"Anya, Zen. Jangan begitu, istirahat dulu lah." Namun Dimitri menginterupsi.


"Nggak, Papi. Nanti keburu sore dan serangganya pada pulang." Anya menjawab.


"Masih ada besok kan?"


"Aku maunya sekarang."

__ADS_1


"Sekarang kita istirahat dulu, Anya." ucap Dimitri lagi.


"Noo! Aku maunya sekarang!" Namun Anya menolak.


"Anya, Zen? Ayo? Yang lain udah ke villa, masa kita disini terus?" Dan Rania muncul lalu segera menarik kedua anaknya dari mertua dan suaminya.


"Hah, semakin lama anak-anakmu semakin tidak bisa dibantah, Dim." Dua pria itu menatap Rania dan anak-anak yang berjalan mengikuti yang lainnya.


"Ya gara-gara Papi." Dimitri menjawab.


"Papi?"


"Ya, karena Papi selalu memanjakan dan menuruti kemauan mereka. Jadi begitu."


"Tidak juga." Satria tertawa.


"Hah, tidak ingat ya?" Mereka pun bergegas masuk namun sebelumnya menoleh ke belakang ketika Rubicon milik Daryl yang dikendarai oleh Regan tiba paling akhir.


"Aku kira mereka tidak ikut?" Dimitri pun bergumam saat melihat adiknya keluar kdiikuti Nania.


"Hmm … tapi ikut juga kan?"


"Ya. Resort ini akan sangat berisik kalau ada dia." Mereka tertawa kemudian meneruskan langkah ke dalam area resort tersebut.


***


"Makannya sudah dihabiskan?" Satria sudah duduk di kursinya dengan nyaman sementara hampir semua cucunya menunggu di depannya, duduk pula di bantal besar yang resort sediakan.


Tenda-tenda sudah didirikan dan lampu sudah dinyalakan karena cuaca memang temaram pada sore itu.


Pegunungan tersebut memang selalu mendung dan berkabut karena berada di kawasan paling dingin di seluruh Bogor. Tetapi menjadi salah satu destinasi wisata paling ramai dari banyaknya tujuan berlibur di kota hujan tersebut.


"Udah. Aku udah cuci tangan sama sikat gigi, jadi kalau ketiduran lagi nggak akan kelupaan." Anya menunjukkan kedua tangannya, membuat semua orang tertawa.


"Pakai selimutnya, Papi. Cuacanya sangat dingin." Sofia menyampirkan sehelai selimut di tubuh suaminya.


Udara memang sangat dingin tapi mereka tak ingin melewatkan saat-saat itu.


"Kalian juga ya, anak-anak?" ucap Sofia kepada cucu-cucunya, kemudian dia duduk di samping Kirana yang tengah menyusui Lev.


"Terima kasih, Oma." Pria itu tersenyum lalu mengembalikan perhatiannya pada anak-anak yang sudah menunggu.


Seperti biasa, Satria akan mulai mendongeng. Dia menceritakan kisah-kisah imajinasi yang membuat cucu-cucunya antusias dan menikmati kebersamaan mereka dengan gembira.


Dan hal tersebut diikuti juga oleh yang lainnya. Anak-anaknya yang sudah dewasa pun masih senang mendengarkan, dan itulah yang membuat keluarga ini tak pernah merenggang meski masing-masing memiliki kesibukannya sendiri.


Seperti halnya Daryl yang meski tak berhenti mengganggu Nania dia pun tetap mendengarkan.


"Kenapa kamu tidak ikut mendengarkan?" Regan muncul entah dari mana, kemudian menghampiri Anandita yang duduk melamun di kursinya, berjarak beberapa meter dari keluarganya yang tengah mendengarkan dongeng sang kakek.


"Ini juga ikut dengerin." Gadis itu mendongak dan mendapati Regan yang berdiri di samping dengan kedua tangan ia masukkan ke dalam saku jaket tebalnya.


"Kenapa tidak ikut di sana?" tanya Regan lagi yang menatap ke arah depan di mana keluarga atasannya sedang berkumpul.


"Di sini juga masih kedengeran. Lagian cerita kayak gitu udah nggak terlalu menarik buat aku." jawabnya yang mengembalikan pandangannya ke arah depan.


"Masa? Tapi saat-saat seperti ini yang nanti akan kamu rindukan jika sudah tak lagi bersama keluarga, apalagi kalau kamu tinggal jauh dari mereka."


"Hum?" Anandita kembali mendongak bersamaan dengan Regan yang menunduk kepadanya.


"Kamu sedang ada masalah?" Pria itu lantas bertanya.


"Seminggu ini storymu sepi, apa kamu sedang ada masalah?" Regan memperjelas pertanyaannya.


"Nggak."


Pria itu terdiam menatapnya. "Tapi kamu tidak membuat story selama berhari-hari. Saya pikir kamu sedang ada masalah, jadi …."


Kedua sudut bibir gadis itu tertarik membentuk sebuah senyuman. "Om kangen aku yaaaaa?" katanya, kemudian tertawa.


"Kangen apanya? Hanya merasa aneh saja karena biasanya saya melihat storymu."


"Aaa … Om suka jaim deh? Bilang aja kangen. Hahaha." Anandita tertawa.


Regan mendengus pelan, kemudian mengembalikan perhatian ke arah keluarga atasannya.


"Jaga sikapmu, Ann. Seluruh anggota keluargamu ada di sini." Regan bergumam.


"Memangnya kenapa?"


Pria itu terdiam.


"Aku kan lagi ujian. Masa main hape terus? Bisa jeblok nilainya nanti." Gadis itu mengalihkan topik pembicaraan. Dia mulai merasa muak dengan bahasan soal keluarga dan kedudukan mereka.


"Itu bagus." Regan menanggapi, dan dia bergeser dua langkah ke samping untuk menciptakan jarak aman ketika melihat Arfan menoleh ke arah mereka.


"Belajar sangat bagus untuk masa depanmu, dan itu adalah hal yang membanggakan." lanjutnya, dan dia merapatkan jaketnya ketika merasakan udara menjadi semakin dingin.


"Iya, memang."


"Apa sudah ujian kelulusan?" Dan percakapan itu pun berlanjut seiring malam yang merangkak naik.


Api unggun tampak dinyalakan oleh pegawai yang membuat suasana menjadi semakin tampak menyenangkan di depan sana. Dan anak-anak terlihat menyukainya.


"Belum, masih beberapa bulan lagi." Anandita memeluk kedua kakinya saat dia juga merasakan hawa dingin yang sama.


"Setelah lulus nanti akan kuliah?" Pria itu bertanya.


"Iya dong."


"Kulianya di mana?"


"Belum tahu."


"Kok belum tahu?"


"Ya emang belum mikirin."


"Seharusnya sudah dipikirkan dari sekarang."


"Om kedengaran kayak papa." Gadis itu terkekeh pelan.


"Apanya?"


"Omongannya. Apa-apa harus dipikirin dari sekarang."


"Tentu saja, karena masa depan itu butuh perencanaan. Jika kamu melakukannya dengan benar saat ini, maka masa depanmu sudah pasti akan sangat baik."


"Masa?"

__ADS_1


"Percayalah."


Mereka saling pandang untuk beberapa saat, dan dari situlah Regan merasa ada sesuatu yang terjadi dengan hatinya.


"Menurut Om sebaiknya aku kuliah di mana?" Anandita meminta pendapat.


"Di mana saja juga bagus tergantung kitanya. Atau jurusan apa yang kamu ambil?"


"Aku mau ambil jurusan seni, tapi bingung mau pilih kampus mana."


"Seni?"


"Iya."


"Kenapa tidak bisnis atau ekonomi? Bukankah keluargamu pengusaha semua?"


"Aku maunya seni."


"Bagaimana dengan Pak Arfan? Apa papamu mendukung?"


"Iya."


"Berarti itu aman." Regan terkekeh.


"Maksud Om?"


"Jika orang tuamu mendukung, maka ke manapun kamu pergi pasti akan baik-baik saja."


"Begitu?"


"Percayalah."


Anandita tersenyum.


"Kalau gitu aku mau kuliah di Jakarta aja." katanya dengan semangat.


"Kenapa tidak di luar kota atau di luar negeri?" Regan menanggapi.


"Emangnya harus ya?"


"Hampir semua anggota keluargamu kuliah di luar negri."


"Kayaknya aku nggak mau."


"Kenapa?"


"Nanti susah."


"Susah kenapa?"


"Susah kalau kangen sama Om nggak bisa ketemu."


Regan mengatupkan mulutnya rapat-rapat. "Gadis ini menjadi semakin jauh saja kelakuannya." Dia membatin.


"Nanti kalau aku kangen gimana? Komunikasi nggak bisa karena semuanya disadap Mama dan Papa."


"Hum?"


"Hehe … aku tahu kok mereka begitu. Makanya aku cuma pasang sw aja biar aman." Dia tertawa.


"Kamu tahu?"


Anandita menganggukkan kepala. "Papa sama Mommy kan emang begitu."


"Itulah sebabnya kamu jangan ceroboh."


"Iya iya aku tahu."


"Jangan bertindak sembarangan juga."


"Hmm …."


"Tapi aku kangen sama Om."


"Iya, saya juga."


"Apa?" Gadis itu sedikit memekik sehingga membuat pria di sampingnya tersadar dengan ucapannya.


"Eh, tidak! maksud saya …."


"Aaaa … Om juga kangen aku." Anandita menutup wajahnya dengan tangan dan dia tertawa karena apa yang didengarnya barusan.


"Tidak, bukan begitu. Tapi …."


"Jadi bukan aku aja yang punya perasaan. Asiik!" Dia menghentak-hentakkan kedua kakinya dengan gembira.


"Tidak Ann, tidak begitu. Maksud saya …."


"Regan?" Panggilan Arfan menginterupsi keduanya.


"Ya Pak?" Dan Regan langsung bersiaga saat pria itu datang menghampiri.


"Tolong cari Arkhan di area bawah. Dia pasti tidak akan pulang kalau sudah disana." ucap Arfan sambil melihat jam tangannya.


"Ke bawah?"


"Ya. Ajak salah satu pegawai untuk menunjukkan jalan, dan suruh dia untuk cepat pulang."


"Ba-baik, Pak." Dan Regan pun segera pergi untuk melaksanakan perintahnya.


"Kamu kenapa?" Arfan beralih kepada putrinya yang bertingkah aneh.


"Nggak kenapa-kenapa." Dan Anandita masih menutupi sebagian wajahnya yang memerah karena kejadian tadi.


"Cepat bergabung dengan yang lain. Malah memisahkan diri di sini." Pria itu menghentakkan kepalanya.


"Nggak ah, enakan di sini." tolak gadis itu.


"Lalu untuk apa kamu ikut liburan keluarga jika tetap memisahkan diri?" Sang ayah sedikit mengeraskan suaranya membuat nyali Anandita sedikit menciut.


"Cepat sana bergabung!" ucapnya lagi dan gadis itu segera menurut.


💕


💕


💕


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2