
π
π
"Apa ada yang serius?" Sofia berjalan tergesa begitu Nania keluar dari ruang pemeriksaan.
Pagi-pagi sekali mereka mendapatkan kabar jika Daryl harus dilarikan ke rumah sakit karena mengalami muntah-muntah hebat di hotel, setelah semalam tidak pulang bersama Nania.
"Nggak ada." Perempuan itu menjawab.
"Terus Daryl kenapa?"
"Kata dokter asam lambungnya naik, mungkin karena beberapa hari ini makannya nggak bener. Malah kemarin nggak makan sama sekali kan?"
"Memangnya kemarin dia sakit ya? Tidak biasanya begitu."
"Nggak, karena emang lagi males aja."
"Hah, aneh sekali. Biasanya dia paling tahan banting. Kenapa hanya karena tidak makan saja membuatnya seperti ini?"
"Apa sedang ada masalah di FSH yang membuat Daryl seperti ini?" Satria menyela percakapan istri dengan menantu mereka.
"Kayaknya nggak deh, Pih. Karena kalau ada apa-apa Daryl pasti bilang."
"Benar?"
"Hmmm β¦." Nania menganggukkan kepala. "Atau biar yakin tanya aja sama Regan."
Ketiga orang itu menoleh kepada Regan yang menunggu di kursi tak jauh dari mereka sejak Nania memanggilnya pada subuh ketika Daryl tak berhenti muntah-muntah di hotel tempat mereka menginap.
"Ya? Ada masalah?" tanya pria itu.
Satria berjalan mendekat kemudian duduk di sampingnya. "Ada masalah apa di Fia's Secret sehingga putraku seperti itu?" Dia lantas bertanya.
"Fia's Secret?" Regan mengerutkan dahi. "Tidak ada apa-apa, dan semuanya lancar-lancar saja. Kemarin bahkan kami baru saja menandatangi kontrak untuk iklan brand dari Singapura."
"Apa dia terlalu sibuk sehingga membuatnya kelelahan?" Sofia juga mendekat.
"Kalau soal itu, saya tidak tahu. Saya kan baru pulang dari Surabaya menggantikan Pak Daryl."
"Jelas bukan itu." Satria bergumam.
"Mungkin memang kondisinya aja yang lagi nggak baik. Jangan khawatir, dokter bilang juga nggak apa-apa, kan?" ujar Nania.
Lalu Satria dan Sofia bergegas melihat keadaan putra mereka yang baru saja mendapat penanganan dari dokter.
"Bagaimana, Der? Sudah baikan?" Sofia bertanya.
"Hmm β¦ kenapa Mama dan Papi ada di sini? Nania menelpon?" Daryl balik bertanya.
"Tidak. Kami hanya heran kenapa seorang staf mengantarkan mobilmu pulang pagi-pagi sekali tapi kamu tidak ada di sana. Apa itu tidak akan membuat Mama bertanya?"
"Oh β¦."
"Kalau sakit tidak usah memaksakan, Der. Ambilan waktu untuk istirahat, kenapa sih kamu ini?"
"I'm okay, Mom. Hanya saja β¦ sedikit tidak enak badan akhir-akhir ini." Daryl memejamkan mata.
"Iya, istirahat saja."
"I'm already have. Tapi dari kemarin begini terus."
"Yeah, mungkin kamu butuh liburan. FSH sebulan belakangan sangat sibuk kan?"
"Itulah sebabnya semalam aku pulang ke hotel. Niatnya mau langsung ambil libur, tapi nyatanya aku malah harus dibawa ke sini."
"Ya. Kebetulan sekali ini sudah akhir pekan, jadi kamu benar-benar bisa libur. Regan juga, kan?" Satria menoleh ke belakang di mana Regan berdiri di dekat pintu.
Dan pria itu menganggukkan kepala.
"Baik, kalau tidak perlu dirawat sebaiknya kita pulang saja, lanjutkan istirahatnya di rumah." Satria melanjutkan.
"Yang benar saja, dari tadi aku memang meminta pulang, tapi Nania tetap meminta Regan membawaku ke sini." Daryl pun menggerutu.
"Itu karena kamu nggak bisa bangun, kan aku khawatir jadinya? Mana muntah terus dari subuh, emangnya aku nggak akan panik apa?" Nania menyahut dari samping.
"Sudah, Papi benar. Sebaiknya kita pulang saja. Ayo?"
Lalu mereka pun melakukan apa yang Sofia katakan.
Dan sepanjang perjalanan pun Daryl tak ubahnya seperti orang sakit. Lemas dan tampak tak bergairah, sehingga dia hanya menyandarkan tubuhnya pada kursi saja.
Tanpa banyak bicara dan bertingkah seperti biasanya, membuat perjalanan pada hampir siang itu terasa cukup sepi.
"Bapak perlu saya bantu?" Regan menawarkan bantuan ketika Daryl turun dari mobilnya.
"Tidak usah. Aku hanya sedikit sakit, bukan lumpuh." Daryl menolak.
Mereka kemudian masuk ke dalam rumah besar dan Daryl segera menuju ruang makan ketika mencium aroma yang begitu sedap menguar memenuhi ruangan.
__ADS_1
"Aku mau makan boleh kah?" katanya yang segera duduk di kursinya.
"Boleh, Pak. Sengaja saya masak sup ayam jahe karena tadi ibu minta waktu masih di rumah sakit." Mima muncul dari dalam area masak.
"Bagus sekali. Perutku terasa tidak enak akhir-akhir ini." Daryl meneguk air yang disodorkan oleh asisten rumah tangga mereka tersebut.
"Baik, tunggu saya siapkan?" ucap Mima yang bergegas ke dapur dan kembali tak lama setelahnya. Dengan membawa semangkuk sup ayam yang disebutnya tadi, kemudian dihidangkan nya untuk anak sang majikan.
"Silahkan, Pak. Biasanya ini akan membuat tenggorokan lega dan pencernaan membaik." Dia meletakkan sendok di dekat mangkok.
"Nice." Daryl segera meraih sendok dan meraup kuah bening sedikit kekuningan yang menguatkan aroma kuat tersebut, lalu dia menyicipinya sedikit.
Tetapi raut wajahnya seketika berubah saat lidahnya menyentuh kuah. Sesuatu di dalam perutnya seperti teraduk-aduk dan tenggorokkannya terasa tidak enak. Mual pun seperti kembali datang menyiksanya.
Daryl bangkit kemudian berlari ke kamar mandi khusus pegawai yang terletak di dekat area masak, lalu dia muntah-muntah di sana.
"Ada apa lagi ini?" Sofia pun bergegas ke ruang makan saat mendengar hal tersebut, dan dia menatap putranya yang sedang membungkuk di dekat wastafel.
"Mima bohong! Dia bilang sup ayam jahe akan membuatku lebih baik. Tapi nyatanya itu tidak enak. Membuatku mual!" Daryl kembali muntah-muntah.
"Hey!!" Sofia mengusap punggung putranya.
"Umm β¦ maaf, Bu. Apanya yang salah? Bukankah biasanya juga seperti itu?" Mima membela diri.
"Diam!" Daryl muntah lagi.
Nania mengisyaratkan kepada sang asisten rumah tangga untuk menyingkir. Dan dia menurut.
"Terus harus gimana sih, aku bingung." Perempuan itu pun mendekat.
Daryl berkumur kemudian membasuh wajahnya setelah yakin muntah-muntah nya berhenti.
"Oh, astaga!" Dia menggumam.
"Udah?" Nania menyentuh bahunya. "Keluar yuk? Mau tiduran lagi apa gimana?" katanya, sambil menarik Daryl dari tempat tersebut.
"Mau minum? Jus atau apa gitu?" tawarnya kemudian setelah mereka berada di ruang tengah.
"Apa saja asal tidak membuatku mual." Daryl duduk dengan satu tangan bertumpu pada lutut dan menopang kepala.
"Apa dong ya?"
Pria itu mendengus.
"Air hangat saja." Sofia menyahut, dan Mima segera membawakan benda tersebut.
Daryl meneguknya hingga habis tak bersisa kemudian dia merebahkan punggungnya pada sandaran sofa.
Padahal biasanya dia akan bersikap malu-malu dan tidak berani menunjukkan perhatian berlebih di depan siapa pun.
"Ayo bilang. Jangan sampai bikin kamu jadi sakit gini." katanya lagi.
"Maksudmu itu apa? Aku tidak sedang ada masalah, dan semuanya baik-baik saja. Kenapa kamu berpikir begitu?"
"Tapi masa kamu tiba-tiba begini? Kan bikin heran."
Daryl mendengus, sementara Sofia dan Satria saling pandang.
"Aku hanya tidak enak badan, bukannya ada masalah. Kalau pun ada kamu pasti sudah tahu, karena aku akan mengatakannya. Memangnya sejak kapan aku simpan masalahku sendirian?" Daryl kembali berbicara.
"Iya, tapi β¦."
"Sstt, diam! Kamu berisik sekali, telingaku sakit mendengar suaramu!" Lama-lama dia merasa kesal.
Sofia mengerutkan dahi. Tidak biasanya sang putra bersikap seperti itu kepada Nania.
"Aku kan cuma tanya. Kenapa kamu marah-marah begitu?" Nania akhirnya melepaskan tangannya dari tubuh suaminya.
"Pertanyaanmu terlalu banyak. Mana dulu yang harus aku jawab?" Daryl sedikit meninggikan suaranya.
Nania terdiam sambil mengerucutkan mulutnya, lalu dia menjauh untuk menciptakan jarak di antara mereka.
"Nania, kapan terakhir kali kamu datang bulan?" Tiba-tiba saja Sofia bertanya.
"Apa?" Menantunya tersebut mendongak.
"Terakhir kali kamu datang bulan kapan? Sepertinya kalian sedang PMS?" Sang mertua sedikit terkekeh.
Sesuatu seperti bergerak-gerak di dalam perutnya, dan dadanya berdebar kencang. Tapi dia merasa begitu bahagia dengan pikirannya sendiri.
"Nggak tahu aku lupa. Kayaknya waktu sebelum ke resort Kak Dygta deh. Eh, apa iya?" Nania mengingat.
"Iya kayaknya itu. Sampai sekarang belum lagi. Kenapa?"
"Ah, pikiran Mama sedang baik sekarang." Sofia kemudian tertawa. "Kalau saja iya, duh bahagianya β¦." Perempuan itu meneruskan kedua tangan dengan matanya yang terpejam. Tawa renyah keluar begitu saja, membuat semua orang terdiam keheranan.
"Maksudmu apa?" Satria bertanya.
"Di mana Regan ya?" Dia kemudian bangkit dan mencari keberadaan asisten dari putranya tersebut.
__ADS_1
"Regan?" panggilnya, dan pria itu bergegas masuk ke dalam rumah.
"Ya Bu?"
Sofia mendekat kemudian berbisik kepadanya. Regan sempat menghindar dan merasa canggung, tetapi Sofia dengan cepat menariknya.
"Cepat, sana lakukan!" ucap perempuan itu.
"Saya harus beli β¦."
"Ssstt! Cepat sana! Yang bagus sekalian." ucap Sofia lagi, dan Regan segera melakukan perintahnya.
"Kamu suruh apa Regan?" Satria bertanya lagi.
"Tunggu saja, dan duduk manis." Sofia tersenyum.
"Ada apa?"
"Sudah, tenang saja." katanya lagi, dan dia menatap anak juga menantunya dengan pikiran yang menerka-nerka.
***
Regan kembali setelah setengah jam dengan membawa apa yang Sofia minta, lalu diserahkannya pada perempuan itu.
"Nania?" Lalu dia memanggil menantunya.
"Ya, Ma?"
"Ayo ikut." Katanya yang berjalan mendahului Nania.
"Ke mana?" Perempuan itu bertanya.
"Ke atas."
"Mau apa?"
Sofia berbalik. "Pokoknya ikut." Dan dia menarik sang menantu ke lantai atas.
"Mama mau apa sih? Yang sakit itu Daryl, tapi yang dibawa ke kamar kenapa aku?" Nania belum mengerti maksud ibu mertuanya.
"Dengar, apa kamu tidak merasakan perbedaan pada tubuhmu?" Sofia kini yang bertanya.
"Nggak, biasa aja. Kenapa?"
"Setelah terakhir datang bulan kamu tidak curiga?"
"Curiga soal apa?"
"Haih! Kamu ini pernah hamil, apa kamu tidak mengira jika mungkin saja sekarang ini kamu sedang hamil lagi?" Sofia menjelaskan maksudnya.
"Hamil?" Nania mengerutkan dahi. "Aku?" Dia menunjuk wajahnya sendiri.
"Ya."
"Masa sih?" Lalu Nania memegangi perutnya sendiri. "Gimana Mama bisa tahu kalau aku lagi hamil?"
"Bukan tahu, hanya memperkirakan saja." Sofia menjawab.
"Terus!"
"Ah, sepolos itukah kamu? Atau memang tidak menyadari?" Sofia mengeluarkan benda yang dimintanya dari Regan.
"Sekarang pakai ini!?" Lalu dia menunjukkannya kepada sang menantu.
"Apaan? Alat tes kehamilan?" Dan Nania menatapnya.
"Ya, cepat!"
"Sekarang?"
"Kapan lagi?"
"Bukannya pakai beginian harus pagi-pagi biar akurat?"
"Ah, sama saja. Sekarang semuanya canggih. Jadi pasti bisa dipakai kapan saja."
"Tapi, Ma?"
"Cepat, Nna. Agar kita segera tahu apa yang menyebabkan Daryl seperti itu." Sofia ngomong Nania ke arah kamar mandi.
"Apa hubungannya sama Daryl? Dia kan lagi sakit sama kecapean doang. Lagian β¦."
"Cepat!" Sofia menutup pintu kamar mandi setelah memberi menantunya sebuah alat tes kehamilan.
π
π
π
__ADS_1
Bersambung ...
jiah, gantungπ₯΄