
🍂
🍂
"Maaf, Pak?" Regan mendekati Arfan yang asyik bercengkrama dengan putrinya.
"Ya?"
"Ibu menelpon." Pria itu menyidorkan ponsel miliknya.
"Dygta?"
"Iya, Pak."
"Ada apa?"
"Kurang tahu, Pak. Ibu hanya meminta saya memberikan hapenya kepada Bapak." jawab Regan, dan Arfan kemudian menerima benda tersebut.
"Ya?"
"Sayang?" Suara Dygta terdengar dari seberang. "Kamu tidak membawa hape, jadi aku sulit menghubungimu."
"Ya, aku sengaja meninggalkannya tadi. Ada apa?"
"Kamu masih lama?" Perempuan itu bertanya.
"Tergantung. Ada apa? Kenapa kamu menelepon Regan?" Dia menatap Regan sekilas.
"Bisa pulang sekarang juga? Ada masalah." pinta Dygta.
"Masalah apa? Mau aku percepat pulang juga tetap setelah dua jam baru sampai. Ini bukan dari taman glamping ke villa kita."
"Aku tahu tapi cepatlah pulang."
"Iya ada apa?"
"Asha mengamuk lagi, aku kesulitan mendiamkannya." Akhirnya Dygta mengadu.
"Mengamuk? Kenapa lagi?"
"Dia bertengkar dengan Arkhan."
"Astaga!"
"Cepatlah pulang, dia tidak bisa aku diamkan."
"Baiklah, tunggu sebentar." Lalu panggilan terputus dan Arfan mengembalikan ponsel kepada pemiliknya.
"Apa lagi?" Anandita bertanya.
"Arkhan membuat Asha mengamuk." Arfan bangkit dari kursinya. "Ayo kita kembali ke villa?"
"Katanya mau seharian di sini? Tapi kok malah pulang?" Namun Anandita masih di kursinya.
"Ya, tapi mommy mu tidak bisa mendiamkan Asha."
"Hah, ada-ada aja. Lagian kenapa sih udah gede gitu juga masih seneng nangis?" Dia menggerutu.
"Arkhan pasti mengganggunya, karena jika tidak pasti tidak akan apa-apa. Kamu tahun sendiri sejahil apa saudaramu itu?"
Anandita memutar bola matanya.
"Ayo, Ann? Bersiaplah." Arfan mengisyaratkan kepada para pemandu untuk melakukan apa yang mereka lakukan.
Memasangkan tali seperti saat mereka naik tadi, dan memastikan semua alat keselamatan juga tetap berada di sana.
"Tapi aku capek. Kaki ku masih pegel dan sakit, mana bisa aku jalan cepet-cepet?" Anandita menjawab.
"Paksakan lah." Arfan bersiap untuk turun.
"Lagian buru-buru juga nggak akan sampai dalam waktu lima menit, kan? Kita tuh ada di puncak bukit dan butuh menyeberang lembah untuk sampai di jalan ke villa."
"Ya makanya harus cepat."
"Kaki aku sakit, Papa."
"Nanti bisa istirahat di villa, Ann."
"Tapi tetep aja …."
"Papa duluan. Kasihan Mommy mu kalau dibiarkan menangani Asha sendirian." Pria itu mulai menuruni tebing.
"Apa?"
"Regan, telpon petugas di atas. Minta mereka menungguku di jalan dengan motor, mobil atau apa saja." Perintahnya kepada Regan.
"Baik, Pak."
"Dan … kau temani Ann pulang, aku jalan lebih dulu," lanjutnya yang kemudian meluncur dengan cepat hingga dia tiba di bawah.
"Ada gunanya juga aku membangun pemancar di bukit." Arfan terdengar menggumam.
Dua orang di atas tebing tertegun untuk beberapa saat sampai petugas yang memandu mereka menghampiri.
"Kalian juga mau turun sekarang?" Pria itu bertanya.
"Umm …."
"Sebaiknya turun saja. Saya lihat di sana sudah mendung, mungkin sebentar lagi hujan. Bahaya kalau menuruni tebing di saat hujan, jadi …."
"Ayo Om, cepetan kita juga pulang!" Anandita menarik tangan Regan.
"Eee …. baiklah." Kemudian mereka pun memasangkan tali pengikat dan alat keamanan, lalu segera menuruni tebing tersebut.
***
"Om denger nggak sih aku ngomong apa?" Mereka berjalan melewati hutan pinus yang cukup rapat.
__ADS_1
Para pemandu ada di depan sana dan mereka puluhan meter tertinggal di belakang.
"Ya, apa?"
"Kaki aku sakit. Bisa istirahat sebentar nggak sih?"
"Kita sudah jalan pelan, Ann. Tertinggal jauh juga."
"Tapi kaki aku sakit." rengek Anandita.
Regan mendengus kasar. "Mendung, Ann." Lalu dia menatap langit yang menggelap.
"Baiklah, tapi sebentar." katanya kemudian saat melihat wajah gadis itu yang meringis.
Dua pemandu sudah naik ke atas sementara mereka mengambil waktu untuk duduk sebentar. Anandita meneguk air minum yang diberikan Regan kepadanya sementara pria itu membantu melepaskan sepatunya.
"Kayaknya kaki aku lecet deh?" keluhnya. Dan benar saja, ketika kaus kakinya Regan lepaskan terlihat lecet-lecet di beberapa bagian.
"Bukankah kamu terbiasa di tempat ini? Bagaimana bisa kamu mengalami lecet dan kelelahan seperti ini? Seharusnya tidak mengganggumu sama sekali." Regan berujar.
Kemudian dia mengambil sesuatu dari dalam tas kecilnya. Semacam kotak P3K mini yang mang selalu dibawa.
Regan mengeluarkan salep, lalu mengoleskan nya pada lecet di kaki Anandita.
"Capeknya nggak seberapa, tapi lecetnya …." Gadis itu menggerak-gerakkan jari kakinya yang terasa dingin akibat gel yang dioleskan Regan. Lalu dia tertawa.
"Modus." Gumam pria itu.
"Bukan. Tapi kayaknya aku salah pakai sepatu deh? Ini kekecilan."
"Masa?"
"Kayaknya ini punya Asha. Gede gitu badannya tapi dia kakinya kecil. Coba itu nomer berapa?"
Regan melihat bagian dalam sepatu. " 38."
"Nah kan? Punyaku 40. Tapi karena warna dan modelnya sama jadi sering ketuker."
"Aduh. Pantas saja kakimu lecet." Pria itu kemudian duduk di depannya.
Dia meraih kaki Anandita kemudian diletakkan di atas pahanya, lalu memijatnya pelan-pelan setelah menempelkan plester pada lecetnya.
"Serius, nggak usah kayak gitu, hahah. Aku nggak apa-apa." Gadis itu tertawa.
"Agar sedikit baikan, jadi kita bisa cepat naik kan? Orang-orang sudah sampai?" Regan menatap jalan setapak berbatu yang di depannya terdapat tangga kayu untuk menaiki tebing berikutnya.
"Hmm … papa udah sampai belum ya?" Anandita juga melakukan hal sama.
"Sepertinya sudah. Di atas ada orang yang menjemput dengan motor, jadi pasti sekarang sudah sampai villa."
"Bagus sekali. Asha selalu jadi pengganggu kalau aku lagi sama Papa. Ada aja ulahnya yang aneh dan bikin geleng-geleng kepala."
Regan terkekeh.
"Itu nggak lucu tahu. Umurnya cuma lebih muda setahun dari aku tapi kelakuannya kayak balita. Kolokan banget!"
"Nggak. Cuma suka kesel aja kalau dia begitu."
"Itu karena ayahnya Arfan Sanjaya. Coba kalau ayahnya pegawai resort, ya tidak mungkin Asha seperti itu."
"Justru itu yang bikin kesel."
Regan tertawa lagi.
"Nggak lucu, Om!" Anandita mengerucutkan mulutnya.
"Tapi kamu lucu." Regan menatapnya sambil tertawa, membuat gadis itu terdiam dan pipinya mulai merona.
"Jangan begitu dengan saudara, apalagi adik perempuan. Karena kelak merekalah yang akan jadi tempat pulangmu jika ada masalah." Pria itu berujar.
"Om nggak punya saudara ya makanya ngomong gitu?"
"Ya, bagaimana kamu tahu?"
"Karena yang nggak punya saudara yang biasanya ngomong begitu. Om nggak tahu sih gimana rasanya punya saudara kayak Asha."
"Tapi mungkin nanti itu yang akan kamu rindukan suatu hari nanti."
"Nggak mungkin. Dia kan nyebelin."
"Tapi bagian menyebalkannya yang mungkin akan kamu rindukan."
"Nggak akan."
"Ayo kita taruhan, kalau suatu hari nanti kamu pergi siapa yang akan paling kamu rindukan."
"Om ngaco, aku nggak akan pergi ke mana-mana."
"Benarkah?"
"Iyalah. Mau ke mana emangnya?"
"Kuliah, mungkin?"
"Ya, tapi nggak akan jauh-jauh. Di Jakarta aja banyak."
"Memangnya sudah menentukan akan kuliah di mana?"
"Belum ah, masih liburan. Tar aja kalau udah masuk sekolah."
Regan tertawa lagi.
"Udah, Om. Cukup." Kemudian Anandita menarik kakinya dari Regan.
"Sudah merasa lebih baik?"
Gadis itu menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Sudah bisa jalan lagi?"
"Kayaknya iya. Tapi pelan-pelan aja ya?"
"Dari tadi juga kita pelan-pelan." Pria itu mendekat kemudian memasangkan kaos kaki dan sepatu di kaki Anandita.
"Lain kali kalau ikut tracking pakai sepatumu sendiri, jangan sepatu Asha."
Kini gadis itu yang tertawa.
"Siap?" Regan mendongak untuk menatap wajahnya yang kemerahan.
"Ya, ayo?"
Pria itu membantunya bangkit, dan dengan masih berpegangan tangan dia memriksanya kembali.
"Sakit lagi tidak?" Dia bertanya.
"Nggak terlalu, tapi nggak tahu kalau nanti."
"Semoga tidak ya?"
Anandita menganggukkan kepala.
"Baiklah …." Regan menatap ke belakang gadis itu, dan pemandu yang sebelumnya juga berhenti di depan sana sudah tidak ada. Mungkin mereka sudah lebih dulu naik?
Lalu dia kembali wajah Anandita, dan tanpa aba-aba menunduk untuk meraih bibirnya.
Anandita terkesiap. Namun tubuhnya seperti membeku meski kakinya terasa gemetaran. Merasakan pagutan bibir pria itu yang begitu lembut dan menyenangkan.
"Umm …." Regan sempat memberi jeda, namun sesaat kemudian dia kembali memagut dan kini lebih menggebu-gebu.
Sementara Anandita hanya terdiam menikmati hal tersebut dan membiarkan Regan melakukan apa yang ingin dilakukan sambil berusaha mencuri napas agar dirinya tetap tersadar.
Pria itu kemudian berhenti, tetapi belum menarik diri. Dia malah menempelkan kening mereka berdua.
"Kira-kira apa yang akan Pak Arfan lakukan jika tahu bahwa anak gadisnya berciuman denganku?" Dia sedikit berbisik.
"Ng … nggak tahu. Mungkin menghajar Om dulu habis itu tanya mau serius apa nggak?" Mereka berdua tertawa.
"Seram juga ya Papamu?"
"Nggak ih, sebenarnya …." Namun Anandita tidak sempat meneruskan kalimatnya ketika Regan kembali mencumbu nya, kali ini lebih dalam.
Anandita bahkan mulai membalas seperti yang pria itu lakukan kepadanya. Agak kaku karena ini pertama baginya, namun dia bisa melakukannya.
Regan berhenti lagi. Dia tersenyum kemudian mengecup keningnya dengan lembut, dan terakhir mendaratkan ciuman di bibirnya yang basah.
"Maka kita harus tetap sembunyi-sembunyi kan?" ucapnya sambil mengusap bibir lembut gadis itu dengan ibu jarinya.
"Emangnya kalau terang-terangan nggak bisa ya?"
"Kita akan dapat masalah."
"Om takut?"
"Bukan takut."
"Terus kenapa?"
"Karena memang tidak seharusnya ini terjadi."
"Terus kenapa Om begini?"
"Karena perasaan ini tidak bisa ditolak."
"Tapi seharusnya …."
"Belum lagi kamu masih sekolah, jadi banyak hal yang harus dipikirkan. Dan ini tidak akan mudah. Mengertilah."
Anandita terdiam.
"Apa kamu bisa?" Pria itu melepaskan tangannya dari wajah Anandita, kemudian dia kembali menciptakan jarak di antara mereka.
"Tapi kita jadian?" Gadis itu bertanya terlebih dahulu.
"Ya, kalau kamu ingin menyebutnya begitu."
Anandita tersenyum lebar.
"Menurutlah padaku, dan jadilah gadis yang baik. Agar hubungan ini bisa berlanjut sampai nanti." Regan meraih tangannya dan mereka berpegangan dengan erat.
"Apa kamu mengerti?" katanya lagi seraya menautkan jari-jari mereka berdua.
Anandita menganggukkan kepala seperti anak kecil yang mengikuti perintah orang dewasa.
"Baik, kalau begitu kita kembali ke villa?"
"Oke, tapi jalannya pelan-pelan." Gadis itu setuju.
"Kan dari tadi memang pelan-pelan. Paling kita sampai villa sore nanti."
"Ya bagus, kan jadinya kita lebih lama sama-samanya. Hahaha." Anandita tertawa, kemudian mereka mulai berjalan.
"Dasar!" Regan bergumam.
"bagus kan, jadinya ada alasan."
Pria itu menggelengkan kepala. Dan mereka tetap bergandengan tangan sepanjang jalan hutan pinus tersebut. Menjadikan hal itu sebagai momen untuk menikmati waktu bersama.
🍂
🍂
🍂
Bersambung ....
__ADS_1
acieeeeee ... yang bisa curi kesempatan 😁😁😁