
💕
💕
"Terima kasih, Pak. Saya harap Anda mengerti." Regan dan Indra, ayahnya Mahira saling berjabat tangan setelah percakapan soal pekerjaan yang putrinya dapatkan secara tiba-tiba.
"Mengerti sekali Pak Regan, tidak apa-apa. Kalau hanya soal menemani istrinya Pak Daryl sepertinya tidak akan ada masalah." Indra menanggapi.
"Saya pastikan hanya menemani, Pak. Untuk urusan lain staf kamilah yang akan menangani." Regan kembali meyakinkan.
"Baik."
"Besok sepulang kuliah saya akan bawa Mahira menemui Pak Daryl agar lebih pasti lagi. Mungkin akan saya antar pulang sore harinya." ujar Regan lagi, dan dia bangkit dari tempat duduknya.
"Baik, Pak. Silahkan."Â
"Kalau begitu saya pamit?" ucap Regan yang menyalami Vina, sang nyonya rumah dan Mahira sendiri.
"Selamat malam?" katanya, kemudian dia segera pergi.
"Papa kira kita kedatangan calon mantu, tahunya staf Nikolai Grup. Deg-degannya sama." Indra tertawa, dan mereka masih berada di teras setelah mengantar kepergian Regan.
"Tapi kalau misal selanjutnya jadi mantu juga nggak apa-apa, Pah. Kan bagus kita punya koneksi orang dalam. Pasti usaha kita akan lebih mudah." Vina menyahut.
"Benar."
"Hus!! Mama sama Papa ini jangan bicara sembarangan. Kedengaran orangnya bisa jadi masalah." Mahira menyela percakapan kedua orang tuanya.
"Memangnya kenapa? Bagus juga kan?"
"Nggak, nggak bagus!" Gadis itu melenggang ke dalam rumah diikuti kedua orang tuanya. "Ini kerjaan aku, mana bisa disangkut pautkan sama usaha Papa. Enak aja."
"Kamu serius akan menerima pekerjaan ini?"
"Papa pikir tadi jawaban aku main-main? Lagian ini kerjaannya emang serius kok biar kelihatannya mudah. Cuma lapor-lapor doang sama Pak Regan biar mereka siaga kalau ada apa-apa."
"Memangnya istri Pak Daryl orang penting sehingga harus dijaga seketat itu?" Indra bertanya.
"Ya untuk suaminya mungkin sangat penting makanya Pak Daryl begitu." Mahira menjawab.
"Hmm …."
"Udah malam, aku mau tidur." Gadis itu menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua.
"Eh, soal Regan bagaimana?" Sang ibu bertanya.
"Gimana apanya?"
"Dia akan jadi calon mantunya Papa dan Mama?"Â
"Sembarangan!" Mahira menghentikan langkah.Â
"Ya siapa tahu kan?"
__ADS_1
"Nggak mungkin! Aku nggak suka om-om, aku sukanya abang-abang." ucap Mahira yang segera berlari melanjutkan langkah ke ruang pribadinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Daddy?"
"Ya?"
"Bulan depan jadwal kb aku." Nania naik ke tempat tidur lalu segera mendekat kepada suaminya.
"Ya, lalu?"
"Boleh nggak untuk nggak lanjut dulu?"
"Kesibukan kamu bagaimana?" Daryl pun mengalihkan pandangan dari layar televisinya.
"Kayaknya normal, selain jam kuliahnya yang sedikit melenceng dari jadwal."
"Sedikit melenceng?"
Nania tertawa. Dia mengerti maksud suaminya dengan menunjukkan raut wajah seperti itu.
"Ya kalau misal kegiatan kamu tidak terlalu padat lepas saja." ucap pria itu dengan entengnya.
"Beneran, Dadd?"
"Ya, lepas saja. Sepertinya sudah cukup."
"Oke, aku janji bakalan jaga yang satu ini. Nggak akan macam-macam lagi." Nania menghambur ke pelukan Daryl lalu menenggelamkan kepalanya di dada pria itu.
"Tentu saja, kalau macam-macam kamu akan menerima akibatnya." Pria itu segera merangkul tubuh mungil Nania sehingga mereka tampak melebur jadi satu.
Dan Daryl dengan mudahnya menggeser posisi Nania sehingga kini perempuan itu ada di atas pangkuannya.
Nania hanya tersenyum. Jarak wajah mereka cukup dekat dan dia bahkan merangkul pundak pria itu.
"Kamu sudah paham, kan apa yang mungkin aku lakukan jika terjadi sesuatu?" Daryl berujar, sedangkan Nania menganggukkan kepala.
"Jadi jangan berbuat hal lain selain kuliah dengan baik dan jadilah mahasiswa yang berprestasi. Dan jaga dirimu sebaik aku, itu saja sudah cukup. Jadi jangan berbuat hal diluar itu, oke?"
Perempuan itu mengangguk lagi.
"Tapi aku mau melakukan sesuatu, Dadd."
"Apa?" Manik kelam milik Daryl berkilat. Namun segera berubah ketika Nania melepaskan pakaian tidurnya.
"Mmm … kamu nakal!" Daryl sedikit terkekeh meski sebenarnya dia merasa senang akan hal itu.
Kedua tangannya segera merayap ke belakang dan meremat bokong Nania yang masih berbalut segitiga mini nya yang berwarna putih, seraya menariknya agar lebih dekat.
"Tapi aku senang dengan kenakalanmu yang satu ini," ucap pria itu lagi yang segera meraih bibir Nania untuk dia cumbu.
Nania terkekeh dalam cumbuannya, dengan kedua tangan yang semakin erat merangkul pundak suaminya. Sementara Daryl mulai menjelajahi tubuhnya yang sudah tak berpenghalang.
__ADS_1
Suasana memanas dengan cepat seiring sentuhan-sentuhan yang dilakukan Daryl kepadanya, dan mereka segera terbawa suasana.
Daryl pun bahkan telah melepaskan kaus miliknya, dan dia meneruskan cumbuan.
Suara decapan dan hembusan napas saling beradu, terus mengudara mengisi keheningan ruangan pada malam itu.
Jemari Nania menyusup disela rambut gondrong kecoklatannya, sementara Daryl terus menyusuri kulit tubuhnya yang memanas.
Bibirnya mengecup kulit leher Nania dan sesekali dia menggigit kecil. Membuat tubuh perempuan itu mengejang menerima sensasi gila yang muncul setelahnya.
Dada mereka saling bersentuhan menghadirkan perasaan yang tak bisa dijabarkan dengan kalimat paling erotis sekalipun.Â
Nania terdiam sebentar ketika Daryl menjeda cumbuan sejenak, dan wajahnya tertunduk saat dia merasakan benda yang mengganjal di bawah selangkangannya mengeras. Lalu dia tersenyum miring sebelum akhirnya pria itu membalikkan posisi.
Dengan cepat Daryl pun melepaskan celananya yang tersisa, dan setelahnya dia merangsek di antara kedua paha Nania yang terbuka. Sebelah tangannya dia jadikan tumpuan tubuhnya, sementara tangan yang lainnya menelusup dibalik cel*na dal*m milik perempuan itu.
Nania terkesiap, dan secara refleks kedua kakinya tertekuk ketika merasakan sensasi hebat merambat di bawah perutnya.
"Mmhh …." Dia melenguh begitu Daryl mengobrak-abrik miliknya, diikuti tubuhnya yang kembali mengejang kemudian melengkung.
Dia merasakan sesuatu menerobos dan bermain-main di bawah sana sehingga membuatnya semakin frustasi. Kedua kakinya semakin menekuk hingga ujung-ujung jarinya menukik menyentuh kain di bawahnya.
"Mmm … Daddy!" Erangan segera keluar dan Nania menarik pundak pria itu.
Daryl menyeringai, dan dia mengerti apa yang istrinya inginkan. Maka tanpa menyiksanya lebih lama dia segera menarik tangannya lalu melepaskan kain terakhir yang masih melekat. Untuk selanjutnya dia segera membenamkan miliknya pada pusat tubuh Nania.
"Ugh!!" Perempuan itu tersentak karena Daryl menyerangnya sekaligus, namun mereka segera tenggelam dalam panasnya gairah ketika Daryl mulai berpacu.
Awalnya dia menghentak dengan perlahan, namun lama kelamaan temponya meningkat. Apalagi saat merasakan rem*san pada alat tempurnya yang membuat dirinya hampir kehilangan kendali.
"Oohh … Daddy!" Nania meremat kedua tangannya dengan keras saat dia juga merasa semakin frustasi.
Namun Daryl benar-benar menguasai kendali dalam percintaan, dan dia tak melakukan segala yang diinginkannya pada perempuan itu.
Kedua tangan Nania dia tahan di kedua sisi tubuhnya, sementara bibirnya tak tinggal diam. Dia terus mengecupi dan menyesap apa yang ditemuinya. Leher, dada hingga dua gundukkan favoritnya menjadi yang paking lama dia permainkan sehingga membuat Nania menggeliat dan menggelinjang tak karuan.
Kedutan dibawah semakin terasa kentara dan mereka benar-benar telah kehilangan kendali. Daryl bahkan menambah kecepatan hentakannya sementara Nania berusaha menahan diri meski merasa pelepasan sudah di ujung.
Hingga setelah beberapa saat mereka mendaki dan keduanya sama-sama hampir mencapai klim*ks. Lalu Daryl memutuskan untuk menyerah dan melepaskan pertahanan dirinya saja, bersamaan dengan Nania yang juga memang tak kuasa bertahan lagi.
Hingga akhirnya mereka berdua saling menekan saat sama-sama mencapai puncak percintaan, diiringi lenguhan panjang dari keduanya.
💕
💕
💕
Bersambung ...
anu ... Itu ... Mm ...
like komen dan hadiahnya jangan lupa. Rankingnya turun nih, gaess😂
__ADS_1