
💕
💕
Regan menatap motor matic yang terparkir di depan kediaman orang tuanya. Dan dia hafal siapa pemiliknya. Sudah pasti Mia yang sedang berkunjung seperti biasa.
Dia menggelengkan kepala, namun tetap masuk ke dalam rumah karena tanggung juga jika pergi lagi. Ayahnya sudah terlanjur mengetahui kedatangannya.
"Gan?" Mella manggilnya yang hampir menaiki tangga yang menuju kamarnya di lantai dua.
Regan terpaksa berhenti, kemudian memutar tubuh. Dia mendapati sang ibu yang tengah duduk bersandar pada kepala sofa.
"Ya Bu?" Dia menjawab panggilannya.
"Sesibuk itu sampai hari Minggu pun harus tetap bekerja?" tanya Mella.
"Ya. Ibu tahu sendiri. FSH sedang sangat sibuk belakangan ini." Regan menjawab.
"Bahkan setelah bekerja di luar kota pun tetap seperti itu?"
Pria itu menganggukkan kepala.
"Regan ke kamar dulu, Bu. Capek …." Dan dia hampir saja mundur ketika Mella kembali berbicara.
"Ibu baru saja pulang dari rumah sakit." katanya, dan itu menghentikan Regan.
"Oh ya? Ibu sakit lagi?" Lalu dia kembali.
"Hanya ingin memastikan jika keadaan ibu cukup baik." Mella menjawab.
"Lalu bagaimana?" Akhirnya Regan pun mendekat, namun sang ibu terdiam.
"Bagaimana?" Dia mengulangi pertanyaannya.
Kemudian Regan menoleh kepada sang ayah untuk meminta jawaban ketika perempuan itu tak kunjung buka suara.
"Yah?" katanya.
"Bisa kita bicara sebentar di luar?" Namun tiba-tiba saja Mia bangkit dari tempat duduknya.
"Ada apa? Serius?"
Mia menganggukkan kepala.
Regan menghela napas kemudian mengerucutkan mulutnya. "Baiklah." Lalu dengan terpaksa dia mengikuti perkataan Mia.
"Kamu yang mengantar Ibu ke rumah sakit? Bagaimana bisa? Orang tuaku yang menghubungimu?" Dia segera saja bertanya.
"Hanya kebetulan. Aku mengantarkan pesanan Tante Mella waktu ayahmu hampir membawanya ke rumah sakit." Perempuan itu menjawab.
"Ya, lalu?" Regan setengah tidak percaya.
"Dengarkan aku dulu, Re. Aku bersumpah tidak bermaksud mencari perhatian atau apa pun, tapi …."
"Ya, benar. Tapi kamu selalu mengunjungi orang tuaku." Regan menyela.
"Aku hanya menjaga hubungan baik, dan Tante Mella memang yang meminta. Jadi jangan kamu berpikir seolah aku yang sedang mencari perhatian."
Regan tak merespon.
"Percayalah, tidak ada niatan ku untuk mendekati jika itu yang kamu pikirkan. Aku sadar posisiku ada di mana dan bagaimana kita sekarang. Walau aku sadar bahwa aku masih berharap tapi aku tahu kesempatan itu sudah tidak ada."
"Lalu apa yang kamu lakukan di sini? Kenapa tidak pergi saja dan tidak usah bersikap baik terhadap orang tuaku. Mereka tidak membutuhkan itu."
"Ya, mereka butuh." Mia menjawab.
__ADS_1
"Tidak. Mereka hanya butuh anaknya, bukan kamu."
"Lalu kamu ada di mana saat mereka membutuhkanmu?"
"Mia, aku ini bekerja. Bukannya menghabiskan waktu sia-sia. Mereka tahu dan paham soal itu."
"Ya, tapi buktinya?"
"Sudahlah, kenapa kita malah berdebat? Aku lelah dan tidak punya waktu untuk membahas hal-hal tidak penting, jadi …."
"Tante Mella kena kanker."
Regan berhenti bicara.
"Kanker darah stadium tiga, dan kita baru mengetahuinya hari ini setelah dilakukan pemeriksaan menyeluruh. Apa kamu tidak akan peduli soal itu?"
"Di mana kamu saat Tante Mella kesakitan? Kenapa sampai tidak terdeteksi seperti ini?"
Pria itu tertegun. Dia kemudian menoleh ke dalam rumah di mana ibu dan ayahnya terdiam di tempat mereka.
"Tidak mungkin. Kenapa ibu tidak bicara padaku …." Dan dia hampir saja kembali ke dalam, namun Mia segera menahannya.
"Tidak usah bereaksi berlebihan!"
"Tapi aku harus bicara dengan ibuku, Mia!"
"Ya, aku tahu. Tapi bicaralah dengan tenang. Tante Mella tidak butuh reaksimu yang sekeras ini."
Regan menatap perempuan itu lekat-lekat.
"Bicaralah, tapi dengan tenang. Hanya itu yang dibutuhkan Tante Mella sekarang ini. Penyakitnya sudah jelas dan kita tahu bagaimana harus menanganinya. Dia hanya butuh dukunganmu."
Regan seperti kehilangan kata-kata.
"Bisa? Jika ya, maka aku akan membiarkanmu masuk. Tapi jika tidak, aku tidak akan mengizinkanmu."
"Masih bisa diusahakan, Re. Kemungkinannya kecil, tapi jika diusahakan mungkin saja berhasil."
Pria itu merebahkan kepalanya pada sandaran kursi dengan mata terpejam. Saat ini tak ada hal yang bisa dia pikirkan kecuali ibunya. Apa lagi? Hanya orang tuanya lah yang dia punya, dan segala yang diusahakannya sudah termasuk untuk mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Nania mengerjap ketika merasakan seseorang mengguncangkan tubuhnya. Dia melenguh sambil menarik tangannya yang dipegang erat oleh siapa lagi jika bukan Daryl orangnya?
"Baby?" Pria itu menarik tubuhnya agar bangkit. "Baby, bangun!"
"Aaaaa! Jam berapa ini? Kenapa kamu banhunin aku?" Namun Nania segera menyurukkan kepala di bawah bantal.
"Baby, bangun. Aku lapar!" ucap Daryl yang menyingkirkan bantal dari atas kepalanya.
"Nggak mau, ini masih malam!" Dan Nania kembali menolak.
"Tapi, Baby. Perutku lapar!"
"Mmmm ….!"
"Ayolah, bangun dulu. Setelah membuatkanku makan kamu boleh tidur lagi!" pintanya, dan dia menarik selimut yang menutupi tubuh Nania.
"Oh, astaga!" Dan dengan terpaksa Nania menuruti ucapan suaminya.
"Awas aja kalau minta yang ribet-ribet, aku pukul kamu!" Dia bangkit dan dengan langkahnya yang tersaruk-saruk keluar dari kamar. Diikuti Daryl yang tertawa sambil memegangi kedua pundaknya.
"Baru jam empat subuh, Daddy! Apa yang mau kamu makan?" Nania sudah membasuh wajahnya dengan air dingin.
"Entahlah. Yang penting agar aku tidak kelaparan." Daryl menunggu di kursi.
__ADS_1
"Hmm … salah sendiri semalam nggak ikut makan. Jadinya begini kan?"
"Akunya malas."
"Nggak usah dituruti, nanti anak kita manja."
Daryl tertawa.
"Sebentar. Nasi goreng mau? Yang gampang aja kan, biar cepet juga." tawar Nania, namun pria itu menggelengkan kepala.
"Terus maunya apa? Roti bakar?"
Daryl kembali menggeleng.
"Terus apa dong? Katanya apa aja yang gampang asal kamu kenyang?" Nania mulai kesal.
"Entahlah. Kira-kira apa yang enak dimakan jam segini?" Pria itu malah balik bertanya.
"Haih!! Udah aku bilang jangan minta yang susah-susah juga."
"Tidak susah, Malyshka. Hanya saja … aku sepertinya mau sesuatu ya … hangat, seperti …."
"Air termos aja dicampur bubuk kaldu kalau gitu." ucap Nania sambil mendelik.
"Yah, aku tahu!" Lalu Daryl menjentikkan jari.
"Apaan? Jangan minta sate maranggi sama lontongnya sekalian. Aku nggak mau bikinnya, ribet."
"Tidak, Baby. Hahaha." Daryl terawa lagi, kemudian dia bangkit dari kursinya.
"Terus?"
"Aku mau nasi kuning."
"Apa?"
"Ayo kita beli nasi kuning? Atau nasi uduk? Atau …." Salah satu sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk seringaian kecil. "Kue yang waktu itu kamu beli!" katanya.
"Apa?"
"Nasi kuning … di pasar."
"Pasar?"
"Ya … sekarang aku tahu mau makan apa. Nasi kuning di pasar yang waktu itu aku mengantarmu belanja." katanya setelah dia mendapatkan ide.
"Serius?" Wajah Nania sedikit memucat.
"Yeah, come on!" Pria itu naik ke kamarnya di lantai dua, kemudian cepat kembali dengan sudah mengenakan celana panjang dan jaketnya. Dia bawakan juga pakaian panjang untuk Nania.
"Ayo, Baby! Pedagangnya sudah buka jam segini kan?" Daryl membantu Nania mengenakan pakaiannya, lalu dia mengambil kunci mobil.
"Tapi, Dadd. Masa subuh-subuh begini …." Dan perempuan itu kembali melangkah tersaruk-saruk mengikuti Daryl yang menariknya keluar dari rumah.
"Daddy, berhenti!" Lalu dia menghentikan langkah mereka. "Kita minta Mbak Mima bikin aja." katanya.
"Tidak mau! Aku ingin beli di pasar itu, dan makan di sana. Sepertinya enak." Namun Daryl tak mau mendengarkan.
Dan tak ada yang bisa Nania lakukan selain mengikuti pria itu.
💕
💕
💕
__ADS_1
Bersambung ...
OmDer gitu amat ngidamnya. lebay! 🤣🤣🤣