The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Perdebatan Kecil


__ADS_3

πŸ’•


πŸ’•


Daryl merayapi sisi kosong di sampingnya, namun dia tak menemukan tubuh hangat Nania yang semalaman ada dalam dekapannya. Lalu dia membuka mata, dan perempuan itu memang tak di sana.


Seketika dia bangkit lalu menatap sekeliling kamar yang tampak lengang.


"Malyshka?" panggilnya, saat pandangannya juga tak menemukan istrinya.


Kemudian dia segera turun dari tempat tidur dan mencari keberadaannya di setiap sudut kamar.


Pria itu berlari keluar, lalu turun ke lantai bawah, dan ya ternyata Nania memang sudah sibuk dengan kegiatan paginya di dapur.


"Aku kira kamu pergi …." Segera saja Daryl menghampirinya.


Nania menoleh dengan dahinya yang berkerut. "Pergi ke mana?" tanya nya tanpa menghentikan pekerjaannya menyiapkan makanan.


Daryl melirik jam dinding yang baru menunjukkan pukul setengah enam pagi, namun perempuan itu sudah membuat makanan yang mungkin akan dia jadikan bekal. Terlihat dari beberapa kotak makanan yang sudah siap di meja.


"Kamu membuat bekal?" Daryl mendekat.


"Ya."


"Kenapa banyak sekali? Tidak usah repot-repot membuatkan bekal untukku, di FSH juga ada. Jadi …."


"Siapa juga yang bikin bekal untuk kamu?" Nania memotong ucapannya.


"Terus?"


"Ya untuk aku sama Mahira lah." Dia menutup dua kotak makan yang sudah diisi dengan nasi kepal berlapis lembaran rumput laut, irisan telur dadar, potongan ayam goreng tepung dan bungkusan saus yang dibuatnya secara khusus.


"Lalu ini?" Daryl menunjuk empat kotak lainnya yang sedang Nania isi.


"Oh, … ini untuk panitia bazar yang hari ini bertugas."


"Kenapa kamu membawakan mereka makanan juga?"


"Nggak kenapa-kenapa, cuma mau aja. Sesekali ngasih orang makan nggak akan rugi. Senang juga kalau misalnya mereka suka sama buatan kita."


"Empat orang itu … siapa saja?" Daryl menyelidik.


"Panitia. Senior yang emang sering ada di bazar." Nania mengisi kotak-kotak itu dengan makanan yang sama seperti untuknya dan Mahira.


"Siapa?"


Perempuan itu menghentikan pekerjaannya sejenak. "Ya nggak tahu, kan setiap hari orangnya beda-beda. Kadang ada Kak Yura sama temennya, kadang ada Kak Dirga … sama Kak Mahen. Atau kadang yang lainnya juga."


"Kakak kelasmu yang gondrong itu?" Daryl tentu saja bereaksi mendengar nama Mahendra disebutkan.


"Iya." Nania melanjutkan kegiatannya mengisi kotak maka sampai selesai.

__ADS_1


"Memangnya dia setiap hari ada di bazar?" Daryl mulai panik.


"Ya, kan Kak Mahen sama Kak Dirga emang panitianya. Jadi pasti ada di bazar setiap hari."


"Lalu kenapa kamu membuatkan makananan untuk mereka juga? Kenapa tidak hanya untuk Mahira saja?" Dia sempat menghentikannya yang baru akan memasukkan kotak-kotak itu pada tas khususnya.


"Nggak kenapa-kenapa, ya mau aja." Nania menjawab.


"Yang lain bagaimana? Memberi mereka makanan juga?"


"Seingat aku … jarang." Perempuan itu mengingat-ingat.


"Terus kenapa kamu repot-repot?"


"Kemarin sore aku lihat yang jualan sate ngasih ke panitia, ya aku mau niru aja. Masa aku ngasihnya parfum terus? Nggak bisa dimakan."


"Ya tidak apa-apa, beri saja satu orang satu."


"Udah kebagian semuanya. Dan hari ini aku mau ngasih yang spesial." jawab Nania.


"Spesial apanya?" Daryl terdengar tidak senang.


"Ya spesial aja, makanan yang aku bikin sendiri."


"Malyshka, lalu aku bagaimana?" Daryl menarik salah satu kotak makan yang hampir Nania masukkan ke dalam tas.


"Gimana apanya? Setiap hari kamu makan masakan aku lah, kali udah bosen?"


"Tidak!" Pria itu hampir berteriak.


"Sebelum bikin untuk orang lain aku udah bikin untuk suamiku sendiri. Itu juga kalau kamu mau." katanya, yang menuangkan kopi untuk Daryl. "Atau mau sarapan di rumah Mama? Terserah kamu." katanya, lalu dia melenggang ke arah tangga.


"Malyshka?"


"Mandi, atauΒ  se nggaknya cuci muka dulu sebelum makan. Nggak baik bangun tidur langsung makan." Nania yang berjalan menuju kamarnya di lantai dua.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Daryl memperhatikannya yang tengah bersolek di depan cermin. Seperti biasa, Nania mengenakan skinny jeans dan kaos polos, namun kali ini agak ketat.Β 


Dia juga menata rambutnya sehingga tampak berbeda dari biasanya, tak sekedar mengikatnya saja. Jangan lupakan dengan make up dan lipstik berwarna pink nude yang membuat wajahnya terlihat segar dan enak dipandang. Katakanlah, hari ini Nania memang berdandan cukup cantik untuk ukuran kegiatan bazar kampus, dan itu membuat Daryl merasa tidak senang.


"Heh, heh … apa-apaan itu?" Daryl tentu saja berusaha menghentikannya, walau memang Nania sudah selesai berdandan.


"Apa?"


"Memangnya di bazar ada acara fashion show sehingga kamu berdandan seperti ini?" Dia mengarahkan ujung telunjuknya pada Nania.


"Emangnya kenapa? Cuma dandan begini doang?"


"Cuma dandan katamu? Biasanya juga tidak begini?"

__ADS_1


Nania meletakan alat pelurus rambut di meja.


"Terus aku harus polos-polos aja gitu? Nggak boleh dandan rapi?"


"Ya tapi tidak seperti ini juga. Kamu kan hanya akan berjualan di bazar?" Daryl menjawab.


"Kalau mau jualan nggak boleh dandan? Pernah lihat SPG nggak? Tahu dandanan mereka kayak gimana?"


"Tapi kan kamu bukan SPG, Sayang!" Daryl mulai merasa gemas.


"Ya emang, dan aku nggak dandan kayak mereka. Baju aku biasa aja, tapi boleh dong aku juga sedikit dandan? Sedikit lho. Kalau dibandingin sama model masih kalah jauh, makan siang sama pimpinan perusahaan aja kayak mau pergi ke pesta lajang. Pakai baju kayaknya males bener."


Daryl bungkam. Dia mengerti dengan sindiran itu.


Astaga, masih berlanjut. Batinnya bergumam.


"Aku juga mau dandan cantik. Pakai baju bagus yang aku punya. Bukan untuk mengesankan orang lain, tapi untuk diri aku sendiri. Masa gitu aja nggak boleh?"


"Boleh, Nna. Apa saja boleh. Bukankah aku memberimu segalanya?"


"Ya terus kenapa kamu larang-larang aku? Nggak masuk akal deh kalau denger alasan kamu! Terus apa gunanya aku punya ini semua? Baju yang bagus, make up mahal sama semua yang kamu beliin kalau ujung-ujungnya tetep nggak boleh? Mending nggak punya sekalian deh!" Nania mulai merajuk.


"Bukan begitu, Sayang. Aku kan sudah mengatakannya, kamu boleh berdandan jika pergi denganku. Kalau untuk ke kampus saja, mengapa harus dandan secantik ini?"


"Ya karena aku mau. Masa sih gitu aja nggak ngerti? Coba kalau kamu, bebas-bebas aja mau ngapain juga. Dan soal boleh dandan kalau pergi sama kamu, sekarang aku tanya kapan kita pergi sama-sama? Kamu nemenin aku kalau kerja santai setengah hari, itu juga cuma di kampus. Atau kalau kita janjian nggak sengaja. Bukan karena benar-benar luangin waktu pergi berdua seharian. Selebihnya aku di rumah aja. Terus kapan dandannya?" Nania membalikkan perkataan suaminya, entah dia dapat dari mana semua keberanian itu. Yang membuat Daryl terdiam tanpa bisa berkata-kata lagi.


"Lama-lama kita berantem, tahu kalau gini terus. Kenapa sih nggak biarin aja aku melakukan apa yang aku mau? Toh aku masih punya batasan untuk hal-hal tertentu. Aku tahu diri kalau aku ini udah punya suami, dan nggak akan berbuat hal diluar batas. Kehilangan Sunny udah cukup bikin aku punya batasku sendiri, aku nggak akan lupa."


"Malyshka, stop!" Daryl maju dua langkah ke dekat Nania.


"Kadang aku juga mau kelihatan kayak orang lain. Pergi kuliah rapi-rapi, kelihatan cantik gitu tanpa dicuriga atas hal yang bahkan nggak terpikir di otak aku."


Kenapa masalahnya jadi melebar ke mana-mana? Batin Daryl lagi.


"Terserah kamu lah, aku capek ngeributin urusan sepele kayak gini." Nania melenggang ke arah luar, namun Daryl sempat meraih pergelangan tangannya.


"Untukku itu bukan hal sepele, Malyshka. Mengetahui ada puluhan pasang mata memperhatikanmu membuatku merasa terganggu." katanya yang membuat Nania tertegun.


"Dan kamu pikir ingat suamiku dikelilingi perempuan seksi yang dengan beraninya mendekat nggak bikin aku merasa terganggu? Coba pikir lagi. Kenapa aku harus selalu menjaga perasaanmu dengan nggak melakukan apa pun yang nggak kamu suka, tapi kamu bebas-bebas aja berbuat apa yang kamu mau meski itu menggangguku?" Sekali lagi Nania membalikkan ucapan Daryl.


"Hal sepele yang aku lakukan bisa bikin kamu merasa terganggu sehingga aku dilarang melakukannya, tapi kamu? Aku ini apa? Budak kamu?" Dan kalimat-kalimat itu memang benar menusuk hingga ke relung hati yang paling dalam, sehingga membuat Daryl semakin kehilangan kata-kata.


"Yang aku tahu, suami istri itu sama-sama berusaha untuk saling menguatkan. Saling membahagiakan dan saling mengerti keinginan masing-masing. Bukannya satu mengendalikan dan satunya lagi dikendalikan. Koreksi kalau misalnya aku salah. Dan aku nggak mau mengalami kayak apa yang orang tuaku alami, sehingga rumah tangga mereka gagal dan akhirnya menyakiti semua orang. Yang membuat semuanya hancur bahkan sampai sekarang. Karena apa? Salah satu memegang kendali dengan cara yang salah, sementara yang satunya malah diam saja waktu dikendalikan. Gimana mau punya hidup yang bener kalau gitu terus?"


"Ah, aku jadi ngawur kan? Dosa nih, dosaaaaa!!" Dan Nania benar-benar keluar dari kamar mereka.


πŸ’•


πŸ’•


πŸ’•

__ADS_1


Bersambung ....


Masih lanjut ini teh? hadeh .... πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†


__ADS_2