The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Malam Minggu


__ADS_3

💕


💕


"Baru sampai, Gan?" Sapaan sang ibu membuyarkan lamunannya saat dia masuk ke dalam rumah.


Regan mendongak dan mendapati perempuan itu yang berada di ruang tengah mereka dengan televisi menyala.


"Tumben tidak pulang malam? Sedang santai?" Lalu sang ayah yang juga muncul dari dapur membawa dua cangkir minuman yang masih mengepulkan uap panas.


"I-iya." Regan pun menghampiri mereka berdua.


"Syukurlah tidak terlalu sibuk. Jadi kamu bisa istirahat ya?" ucap Sang ibu yang menepuk sisi kosong di sampingnya.


"Besok libur?" tanya perempuan itu lagi yang menyesap teh miliknya.


"Sayangnya tidak." Regan sambil tertawa, lalu dia duduk di samping ibunya.


"Lho, kok bisa? Besok kan hari Minggu?" Perempuan itu bereaksi.


"Iya, ada acara di kampus istrinya Pak Daryl, jadi aku harus ikut." jawab Regan lagi sambil melepaskan sepatunya.


"Hahh … sama saja bohong. Memangnya kamu tidak bisa menolak?" Sang ibu berujar saat dia menerima cangkir minuman hangatnya yang menguarkan aroma melati yang cukup kuat.


"Tidak bisa, Bu. Karena memang ini pekerjaanku." jawab Regan yang menempelkan punggungnya pada sandaran sofa.


"Padahal besok Mia mau datang." 


"Apa?"


"Ya, dia mau berkunjung." lanjut sang ibu seraya menyesap teh miliknya.


"Terus, hubungannya denganku apa?"


"Ya … siapa tahu kamu mau ketemu?"


"Tidak. Untuk apa?" tolak Regan dengan tegas.


"Sekedar silaturahmi."


"Duh?"


"Tidak apa sudah putus, tapi hubungan baik harus tetap dijaga kan? Jangan bermusuhan juga. Kalian berpisah kan tanpa ada masalah serius."


"Aku tidak bermusuhan. Aku juga tidak ada masalah dengannya, tapi kalau untuk bertemu rasanya tidak mungkin, Bu."


"Kenapa?"


"Ya malas saja. Nanti aku harus berbasa-basi, bertanya kabar dan hal-hal lainnya yang tidak penting. Padahal aku tahu kalau dia baik-baik saja."


"Ya tidak apa-apa."

__ADS_1


"Ibu juga kenapa menerima waktu Mia bilang ingin berkunjung?"


"Ya masa mau Ibu tolak? Yang putus hubungan kan kamu, bukan Ibu."


"Ya sudah, kalau begitu dia hanya perlu bertemu Ibu, bukan aku." Regan bangkit kemudian melenggang ke kamarnya.


"Tapi Regan?"


"Aku capek, Bu. Besok juga harus pergi pagi-pagi sekali, Pak Daryl membutuhkan aku." Dia menutup pintu kamarnya rapat-rapat.


"Hah, kamu mulai mirip dengan nenekmu!" gerutu sang ibu.


Regan kembali melamun di sisi ranjangnya. Bukan memikirkan percakapan dengan ibunya barusan, melainkan karena mengingat obrolan dengan Anandita pada sore sebelumnya.


Dia kemudian mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya dan melihat story whatsapp gadis itu. Anak remaja biasanya mengupload apa pun yang ada dalam pikiran mereka di media sosial untuk sekedar mengekspresikan perasaan, namun dia khawatir itu akan menjadi bumerang baginya.


Tapi tidak ada apa-apa, hanya emoticon gembira memenuhi layar dan tanpa caption apa pun. Tampaknya, Anandita cukup tertutup mengenai urusan pribadi, tak seperti remaja pada umumnya.


Atau mungkin juga dia sengaja karena tak ingin diketahui oleh sang ayah Arfan Sanjaya, dan pasti sudah memahami bagaimana watak pria itu.


"Hah, ceroboh sekali anak itu?" Regan bergumam. "Masa bisa suka kepadaku? Pikirannya sedang ngaco ya?" Dia menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur.


"Terus kalau sudah begini bagaimana? Apa yang harus aku lakukan?" Lalu dia mengingat ucapan Anandita.


"Aku cuma mau bilang aja, biar Om nggak seenaknya. Karena aku ini sangat pencemburu."


"Haih, maksud dia seenaknya itu apa?" Regan menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


"Bukankah di hanya sekedar mengungkapkan perasaannya? Lalu dia juga bilang terserah. Lagipula itu tidak berarti ada hubungan apa-apa di antara kalian, kan? Jadi kenapa harus bingung?" Regan terdiam, kemudian terkekeh.


"Ya, kenapa harus bingung? Dia hanya anak remaja yang sedang mengungkapkan perasaan, jadi apa masalahnya?" Pria itu bangkit.


"Biarkan saja dia begitu. Toh itu haknya untuk punya perasaan kepadamu." Regan terus berbicara kepada dirinya sendiri.


"Ya, biarkan saja. Paling satu atau dua minggu lagi perasaannya sudah hilang." Dia tertawa.


"Tapi yang harus kau jaga adalah agar Arfan Sanjaya tidak salah paham jika dia menerima informasi dari anak buahnya." Pria itu termangu.


***


Lenguhan pelan keluar dari mulut Nania saat dia menekan pinggulnya perlahan dan alat tempur milik Daryl menerobos inti tubuhnya.


Dia menyugar rambut panjangnya, kemudian bergerak pelan-pelan dan beraturan di atas pria itu.


Sementara Daryl menatapnya dengan mulut sedikit terbuka merasakan kegilaan yang mulai menguasai tubuh dan pikirannya.


Kedua tangan pria itu memegangi pinggulnya yang lama-lama bergerak liar memanjakan Eragon yang semakin mengeras di dalam sana.


"Oh, Baby!" Daryl mulai meracau disela des*han Nania.


Dia sedikit mengangkat kepalanya sehingga bisa kembali meraih bibir Nania yang sudah membengkak karena ciuman ganasnya beberapa saat yang lalu.

__ADS_1


Tangannya kemudian merayapi tubuh perempuan itu sehingga tak ada sesenti pun yang terlewat. Semuanya terus dia jelajahi.


"Aaahhh!" Nania mengerang kemudian sedikit menciptakan jarak di antara mereka.


Kedua tangannya bertumpu di belakang, berpegangan pada kaki Daryl sehingga posisinya benar-benar tampak menggoda.


Dadanya membusung indah dengan puncaknya yang mencuat, dan wajahnya terdongak. Ujung rambutnya menjuntai ke belakang dan bergerak menyapu paha Daryl sehingga menciptakan sengatan hebat yang merambat hingga ke seluruh tubuh.


Mereka bergerak seirama mengikuti hasrat yang semakin membuncah memenuhi dada. Diiringi suara-suara erotis yang menggema memenuhi ruangan.


Kedua tangan Daryl kembali merayap menyentuh segala yang dilaluinya, lalu dia berhenti di pusat tubuh Nania.


"Hmm …." Kedua mata perempuan itu tertutup dan terbuka secara perlahan dan dia tampak sangat menikmati aktifitas tersebut. Apalagi ketika Daryl membiarkannya bergerak seperti yang dia inginkan.


Pria itu bangkit tanpa melepaskan pertautan tubuh mereka, lalu dia merubah posisi sehingga Nania kini berada di bawahnya.


"Daddy!!"


Dia meneruskan sentuhan tangannya dan meremat lembut ketika menemukan bulatan indah Nania yang bergerak-gerak seiring hentakan yang dia lakukan.


Daryl kembali menunduk dan menciumi wajah juga lehernya yang membuat perempuan di bawah terus menggeliat. Dadanya pun tak luput dari sapuan bibirnya yang hangat dan basah yang kemudian menyesapnya dengan penuh perasaan.


"Uuhh, Daddy!!" Nania terus mengerang ketika hentakannya semakin cepat, dan dia merasakan hasratnya sudah hampir tiba di ujung. 


Namun Nania sempat terbelalak ketika Daryl menarik lepas miliknya, lalu di detik berikutnya pria itu membalikkan tubuhnya dengan cepat. Dan dalam posisi tertelungkup Daryl segera membenamkan alat tempurnya lagi.


"Aahh!" Nania memekik dan tubuhnya mengejang di saat Daryl kembali menghentak dan kini lebih keras.


Napas mereka menderu-deru dan gairah terus meletup-letup, dan segalanya menjadi tidak terkendali. Keduanya bahkan sudah sama-sama kehilangan kesadaran.


"Mmm … Daddy!" Kedua tangan Nania meremat kuat kain yang menjadi alasnya berbaring, dan sesuatu di bawah sana terus berdenyut semakin kencang. 


Pria itu berpacu kian cepat ketika dia merasakan denyutan pada milik Nania semaki kencang. Lalu setelah beberapa saat tubuh perempuan itu mengejang seiring lenguhan panjang kala pelepasan menghantamnya dengan begitu hebat. Dan hal yang sama juga Daryl rasakan saat dia juga mencapai klim*ksnya.


"Aarrgghh … Malyshka!!" geramnya, lalu dia menyesap tengkuk perempuan itu seraya merapatkan tubuh berpeluhnya pada Nania.


💕


💕


💕


Bersambung ....


Duh, aku kemalaman gaess 😂😂😂


biasalah, dunia nyata lagi riweuh.


Like komen sama hadiahnya kirim ya,


Alopyu sekebon 😘😘

__ADS_1


__ADS_2