The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Jalan Braga


__ADS_3

πŸ’ž


πŸ’ž


"Hey, kalian ini sedang marahan ya? Kenapa diam saja?" Daryl tak tahan untuk menggoda keponakan dan asistennya yang diam saja sejak mereka meninggalkan rumah Lita untuk berjalan-jalan menikmati suasana kota Bandung pada hampir siang. Sementara dua orang yang dimaksud hanya saling melirik tanpa melontarkan jawaban.


"Oh, come on! Kalian ini seperti orang asing saja. Bukankah kalian pacaran?" Dia kemudian tertawa, begitu juga Nania.


"Hey, Ann? Bukankah kamu sengaja ingin ikut agar bisa bersama Regan tanpa pengawasan papamu? Idemu sangat brilian!" Lalu Daryl mencondongkan tubuh ke arah keponakannya yang belum buka suara.


"Ann? Chill! Ada apa denganmu? Kenapa tiba-tiba jadi pendiam begini? Padahal semalam kan …." Namun Nania menutup mulutnya untuk menghentikan dia berbicara, kemudian menariknya ke posisi semula.


"Malyshka, what?" protes Daryl yang merasa kesenangannya terganggu.


"Kamu jangan rese! Kamu bikin mereka malu, tau!" Perempuan itu berujar.


"Malu apanya? Semalam malah aku yang merasa malu karena … aduh, sakit!" Daryl berteriak sambil menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi ketika Nanian mencubit perutnya dengan keras. "Baby, kenapa kamu melakukan itu? Rasanya sakit tau!" Dia kembali protes pada istrinya atas apa yang perempuan itu lakukan.


"Udah dibilangin jangan rese! Jangan keterlaluan juga. Nanti mereka makin malu!" Lalu perdebatan di kursi belakang itu pun berlangsung sengit meski akhirnya Daryl tertawa juga.


"Baiklah, baik. Ampun! Aku akan berhenti tapi lepaskan dulu cubitan dari perutku. Ini sakit, Sayang!" Pria itu memohon.


"Awas kalau bahas itu lagi, nanti bukan perutnya aja aku cubit. Tapi ujungnya Eragon!" ancam Nania sambil mengarahkan ujung telunjuknya pada wajah sang suami, yang membuat pria itu menutup mulutnya dengan satu tangan. Kemudian tangan yang lainnya dia letakkan di pangkal paha untuk melindungi aset berharga nya.


"Jangan tega begitu, Baby! Kamu mau membunuhku apa?"


"Habisnya kamu rese!"


"Iya iya, ampun. Sekarang tidak akan." Dan akhirnya Daryl pun menyerah walau masih tertawa.


***


Jalan Braga menjadi pilihan bagi mereka untuk menikmati suasana kota Bandung yang khas. Apalagi cuacanya yang cukup mendung pada siang itu membuat suasana semakin menyenangkan saja. Dan gerimis tipis-tipis yang mulai turun sebagai tanda permulaan musim hujan di bulan-bulan penghujung tahun itu pun membuat perasaan siapa pun yang ada di sana merasa semakin romantis saja.


Mereka memilih berjalan menyusuri trotoar di mana toko-toko dan kafe dengan gaya bangunan estetik berada. Di mana di pinggirnya terdapat kursi-kursi taman yang memang disediakan khusus bagi para pengunjung untuk menikmati suasana kota yang terkenal menyenangkan.


"Daddy, aku mau minum." Nania memutuskan untuk menghentikan langkah di dekat sebuah kursi taman berwarna senada dengan kayu, tepat di depan sebuah toko.


"Minum?"


Nania menganggukkan kepala.


"Mau apa?"


"Nggak tau. Tapi maunya yang hangat-hangat karena sekarang rasanya mulai dingin." Perempuan itu mengusap-usapkan kedua telapak tangannya agar merasa lebih hangat.


"Aku bilang juga apa kan? Seharusnya kamu tadi pakai jaket, kan begini jadinya." Daryl segera memeluknya untuk melindungi sang istri dari rasa dingin seperti ucapannya.


"Orang tadi cuacanya panas." Nania yang hanya setinggi dadanya itu mendongak sambil tertawa.


"Di Bandung cuaca tidak menentu, Baby!"


Nania tertawa lagi.


"Wanna use mine?" tawar Daryl yang mengenakan kemeja hitam sebagai pelapis kaos yang dikenakannya saat itu. Tetapi dia belum melepaskan Nania dari pelukan hingga sempat menjadi perhatian beberapa orang yang melintas dan membuat dua sejoli di belakang sedikit merasa malu.


"Nggak usah, nanti kamu kedinginan." Perempuan itu menolak.


"Aku tahan dingin. Ingat, di Moscow bahkan ada di titik beku. Jadi kalau hanya angin dan gerimis saja tidak akan membuatku tersiksa. Kecuali tanpa kamu."


Nania tergelak mendengar ucapan suaminya.


"Pakai kemejaku saja ya? Karena kalau pakai jaketnya Regan nanti dia bisa kedinginan. Lagipula ada Ann yang lebih membutuhkan." Daryl pun tertawa kemudian dia melepaskan rangkulannya agar bisa juga melepaskan kemejanya untuk Nania.


"Boleh kalau begitu." Nania mengangguk.

__ADS_1


"Tentu saja boleh. Untuk Mommy dari anak-anakku apa saja boleh." Dan ucapan pria itu lagi-lagi membuat Nania tertawa.


"Duh, aku agak mual nih, Om. Bisa kita memisahkan diri dari mereka nggak sih?" Akhirnya, setelah sekian lama Anandita buka suara karena saking tidak tahannya mendengar ocehan Daryl sejak tadi. Sementara sang pamah hanya membeliakkan matanya.


"Baiklah, apa kamu mau makan?" Daryl bertanya lagi pada Nania.


"Nggak, aku cuma mau minum doang."


"Kamu yakin? Bagaimana dengan mereka?" Daryl menyentuh perut perempuan itu yang sudah tampak membuncit di usia kandungan yang hampir lima bulan itu.


"Mereka aman. Aku belum merasa mual, jadi pasti mereka juga belum laper." Nania balas menyentuh tangan suaminya yang masih berada di perutnya.


"Begitu? Baiklah." Lalu pria itu menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari tempat yang mungkin menjual minuman yang cocok dengan keadaan Nania. Lalu pandangannya berhenti ketika dia menemukan kafe di seberang jalan.


"Mau ke kafe itu? Sepertinya mereka menjual minuman yang pas untukmu?" Dia menunjuk ke arah tersebut.


"Nggak mau ah, aku di sini aja nunggu."


"Yakin tidak mau ke kafenya? Mungkin kita bisa duduk dan makan di sana." Daryl meyakinkan, tetapi Nania menggelengkan kepala.


"Nggak ah. Aku di sini aja." Nania kemudian memilih untuk duduk di kursi terdekat.


"Baiklah kalau begitu. Tunggu aku, oke?"


Nania menganggukkan kepala.


"Regan, come." Daryl pun mengisyaratkan pada asistennya untuk pergi bersamanya. Dan pria itu segera mengekor di belakang.


"Tunggu dulu ya, Ann?" katanya pada Anandita dan gadis itu pun menganggukkan kepala.


Dan dua perempuan itu terdiam untuk beberapa saat hingga akhirnya Nania memutuskan untuk membuka percakapan.


"Jadi beneran ya?" Dia menatap Anandita.


"Apaan?" Gadis itu sedikit terperangah dengan pertanyaan tantenya tersebut.


"Aduh!" Anandita menepuk kepalanya sendiri dan wajahnya seketika memerah karena menahan malu saat teringat peristiwa semalam. Sedangkan Manja tertawa.


"Udah berapa lama? Kenapa aku nggak tau?"


"Jangan bilang-bilang. Nanti kalau papa tau bisa marah." Gadis itu tampak memelas.


"Dih? Aku tanya berapa lama malah gitu jawabannya."


"Iya, jangan bilang-bilang. Nanti kalau papa tau bisa kacau urusannya."


Nania tertawa lagi.


"Tante, please!" Anandita mengatupkan kedua tangannya di depan wajah untuk memohon pada perempuan di depannya.


"Kan aku cuma tanya, udah berapa lama? Bukannya mau ngadu sama papa kamu."


"Aku serius nih, jangan sampai papa tau dulu sebelum Om Regan yang bilang sendiri."


"Duh? Kalian serius?"


"Ya masa bercanda? Tante ada-ada aja deh."


"Aaaa … jadi beneran kalian udah pacaran? Pasti lama. Sejak kapan? Kenapa aku nggak nyadar sama sekali?"


Sang keponakan menutup wajahnya yang memerah dengan tangan untuk menyembunyikan rasa malu yang timbul.


"Mana usah cium-ciuman segala lagi, Ann, Ann!"


"Jangan bahas soal itu, aku malu!"

__ADS_1


"Ahahaha."


"Pokoknya Tante harus janji nggak boleh cerita soal ini sama siapa pun. Nanti papa bisa ngamuk."


"Masa sih papa kamu sampai begitu? Yang namanya orang pacaran ya normal. Kenapa harus ngamuk?"


"Masalahnya aku masih sekolah, dan ini bisa jadi masalah buat papa. Tante sih nggak tau."


"Ya makanya aku nanya biar tau."


"Hmmm …." Anandita menggumam sambil mengerucutkan mulutnya.


"Jadi, udah berapa lama?" Perempuan itu mengulang pertanyaan yang membuat Anandita menggigit bibirnya dengan keras.


"Ann?"


"Ada kali dua atau tiga bulan gitu kalau nggak salah. Haaa … nggak mau! Aku malu banget!" Anandita kembali menutup wajahnya dengan tangan dan dia menunduk sambil menggeleng-gelengkan kepala.


"Iya iya, ngerti. Udah. Hahaha. Segitu juga cukup." Sang Tante pun menepuk punggungnya untuk membuat perasaannya tenang.


"Baby?" Lalu kedatangan Daryl dan Regan yang membawa minuman pesanan Nania pun menginterupsi percakapan tersebut. "S*su murni hangat saja tidak apa-apa ya? Masa aku membelikanmu jus di cuaca seperti ini?" Lalu dia menyodorkan satu cup s*su yang tampaknya hangat.


"Ah, iya. Nggak apa-apa. Dari tadi ini yang aku pikirkan. Kami pengertian deh kayak yang bisa baca pikiran aku." Nania menerima cup tersebut yang kemudian digenggamnya dengan kedua tangan. "Ah, iya enak banget. Ini masih hangat." katanya setelah menyesap sedikit minuman tersebut.


"Hehe, aku …." Sementara Daryl menggendikkan bahunya dengan perasaan bangga.


"Ada juga yang jual ginian di sini?"


"Ya ada lah. Kalau tidak ada ya aku paksa biar ada. Memangnya apa yang aku tidak bisa?"


"Hmm … iya iya. Semuanya bisa buat kamu."


Daryl tertawa.


"Terus kamu beli apa? Masa pergi ke sana cuma beliin ini doang buat aku?"


"Memang."


"Uuhhh, maksnyaaaaa." Nania kemudian menyentuh pipi suaminya sehingga pria itu tertawa dengan rona merah yang mendominasi wajahnya.


"Astaga, Tuhan! Aku makin mual kalau main lama bareng kalian." Dan ucapan Anandita kembali menginterupsi percakapan tersebut. "Om kok bisa tahan sih setiap hari lihat beginian? Kalau aku udah muntah kali." Lalu dia beralih pada Regan yang terdiam di dekatnya.


"Susah biasa." Pria itu menjawab sambil menyodorkan satu cup berisi minuman hangat juga.


"Ini apa? Kan aku nggak minta?" Gadis itu menatap wajah Regan yang juga sedikit merona.


"Hanya coklat panas. Aku pikir kamu tidak akan mau kalau dibelikan s*su?" Regan masih dengan posisi tangan yang sama.


"Lah emang. Aku kan bukan bayi ngapain minum s*su?" Anandita pun menerima cup tersebut.


"Iya, nanti ada bayinya kalau kalian serius pacaran." Lalu Daryl menyahut setelah mendengar percakapan tersebut.


"Apaan?" Anandita beralih dengan raut wajah yang terlihat kesal.


"Ada … ahahaha." Sang paman malah tertawa tetapi Nania segera menepuk tangannya sehingga dia berhenti.


"Ish, Om rese!" Gadis itu membeliak kemudian dia meraih tangan Regan untuk berjalan mendahului mereka.


πŸ’ž


πŸ’ž


πŸ’ž


Bersambung ....

__ADS_1


cie cieeee yang ikut pacaran🀭🀭 awas ada mata-mata. bahayaπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


__ADS_2