The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Keinginan


__ADS_3

💞


💞


"Aku besok boleh ke rumah baca nggak?" Nania menyisir rambut panjangnya setelah selesai mengenakan pakaian tidur kekurangan bahan favorit Daryl. Kemudian dia naik ke tempat tidur di mana pria itu berada.


"Mau apa?" Daryl yang matanya fokus pada ponsel pun bertanya.


"Mau aja, kan aku udah lama nggak ke sana." Perempuan itu duduk di sampingnya.


"Daddy?" Lalu dia mengulurkan tangan untuk merebut benda pipih dalam genggaman suaminya.


"Hey, hey?" Yang membuat Daryl bereaksi karenanya.


"Aku ajak ngobrol malah ke hape terus ih!" protes Nania yang kemudian meletakkan ponsel milik Daryl di atas nakas.


"Itu belum selesai, Malyshka. Baru mau pushrank." Namun pria itu segera beranjak untuk mengambil kembali benda itu, meski Nania menghalanginya.


"Besok lagi aja pushranknya, sekarang tidur." katanya.


"Itu tanggung, Baby. Aku harus melakukannya sekarang."


"Emangnya kalau nggak sekarang nggak bisa ya?" Nania tetap menjauhkannya.


"Harus sekarang, masalahnya …."


"OOO begitu? Oke." Lalu Nania menyerahkan ponsel pintar milik Daryl yang membuat suaminya itu tersenyum.


"Tapi jangan disini." katanya kemudian.


"What?"


"Keluar aja sana. Di ruang kerja kamu kek, di bawah, atau di rumah mama aja. Berisik!" Dan Nania menutup kedua telinganya dengan tangan sebelum dia merebahkan tubuh dan menarik selimut.


"No way!"


"Akunya mau tidur, tapi game yang kamu mainin berisik banget. Bikin aku kesel aja!" Nania melayangkan protes lagi, sementara Daryl hampir kembali pada gamenya.


"Udah mau jadi bapak main game terus."


"Ini hanya sesekali, Sayang. Lagipula aku …."


"Ya udah, sana diluar aja main game nya jangan di sini. Aku nggak bisa tidur." Perempuan itu memiringkan tubuhnya ke arah lain, sementara Daryl terdiam menatap punggung terbukanya yang menggoda.


"Baby?" Lalu pria itu menyentuhnya.


"Jangan ganggu aku ah, sana main game aja sampai pagi!" Namun Nania menggendikkan bahu untuk menolaknya.


"Apa? Kenapa begitu? Ini kan hanya game." Daryl kemudian melemparkan benda pipih di tangan ke belakang bantal lalu merangsek ke dekat perempuan itu.


Dia mengulurkan tangan untuk memeluknya yang mulai merajuk karena apa yang dia lakukan.


"Kamu tahu sendiri kalau aku menjauh pasti merasa mual? Tega ya begitu padaku?" Dia setengah berbisik.


"Ah, sana main hape aja sampai puas." Nania kembali menggendikkan bahunya lagi.


"Tidak mau."


"Sana ah!"


"Tidak Malyshka. Hape tidak akan bisa membuatku puas."


"CK!" Perempuan itu berdecak. "Tapi buktinya pegang-pegang hape melulu dari pulang kerja. Padahal seharian juga pasti megang hape sama laptop."


"Itu kan bekerja, Sayang." Lalu Daryl merapatkan tubuhnya pada bagian belakang Nania seraya menekan alat tempurnya yang sudah mengeras di bawah sana, seperti biasa.


"Ya makanya. Masa di rumah mau begitu terus?"


"Tidak, hehehe. Aku sudah simpan hapenya." Daryl menarik tali yang terkait di pundak kecilnya.


"Ah, paling nanti juga main lagi. Kamu kan belum pushrank katanya?"


"Serius aku sudah simpan. Lain kali juga masih bisa pushrank. Pagi pula levelnya sudah sangat tinggi."


Nania terdengar mendengus.


"Malyshka?"


"Sana ah kalau mau main hape lagi, tapi diluar. Aku mau tidur." Nania bergeser sampai ke pinggir.


"Tidak, tidak akan. Bukankah besok kamu mau ke rumah baca? Aku yang antar." Namun Daryl menariknya asal kembali, dan hal tersebut membuat perempuan itu terdiam.


"Come on. Besok kita ke rumah baca. Melihat anak-anak, memberi mereka keperluan belajar, atau mengajak mereka makan."

__ADS_1


Nania membalikkan tubuh sehingga kini mereka berhadapan. Yang membuat Daryl tersenyum kegirangan. Sepertinya dia akan selamat malam ini.


"Beneran?" ucap Nania yang menatap wajah suaminya.


"Yeah."


"Besok aku mau masak yang banyak."


"Tidak usah. Kita beli saja. Kamu pilih makanannya, nanti aku yang traktir."


"Tapi mau banyak."


"Terserah padamu."


"Mau pesan dari ibu tapi kasihan kalau harus bikin dadakan. Dari Amara's Love aja ya?"


"Baik."


"Macem-macem lho aku pesennya."


"Tidak apa-apa, pesan saja."


"Banyak boleh?"


"Boleh."


Kemudian Nania tersenyum lebar. "Oke." katanya yang kemudian lebih mendekat.


Daryl tertawa lega dan dia segera memanfaatkan itu untuk memeluk tubuh istrinya yang mulai terlihat semakin berisi di usia kandungannya yang baru dua bulan. Sepertinya keberadaan tiga janin di dalam cukup berpengaruh padanya.


"Kira-kira mereka mau bertemu Daddy nya tidak ya?" Pria itu mengusap-usap perut Nania.


"Apaan?"


"Hehehe … aku rindu mereka."


Nania mencebik. "Kayaknya setiap hari kamu bilang gitu, sampai aku hafal."


"Hahaha … tapi itu kenyataan, Malyshka." Daryl menarik tali yang satunya lagi hingga tautannya terlepas.


"Hmm … tapi kan baru dua bulan. Kata dokter …."


"Aku pelan-pelan. Contohnya, selama ini tidak apa-apa kan?"


Daryl tertawa lagi. "Ya kalau tidak begitu bagaimana bisa tuntas?"


Nania memutar bola matanya, sementara Daryl tersenyum. Kemudian dia mencumbu perempuan itu dan tidak mendapat perlawanan selain membiarkannya untuk melakukan apa yang dia inginkan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Anandita beberapa kali melihat ke arah gerbang besar itu, namun tak ada yang dia temukan selain penjaga keamanan yang mondar-mandir di depan sana.


"Kamu yakin masih mau ke rumah baca? Sedangkan ujian akan berlangsung beberapa bulan lagi. Pikiranmu tidak akan terbagi dua?" Arfan bertanya kepada sang putri.


"Nggak, Pah. Tanggung. Masa berhenti? Ke rumah baca kan di hari Sabtu, jadi masih bisa diatur lah."


"Bagusnya untuk istirahat, Ann. Senin sampai Jumat kan jadwalmu padat. Les dan pelajaran tambahan di sekolah setiap hari sampai sore, apa tidak capek?" Dan Dygta menyela percakapan yang baru saja dimulai.


"Masih normal lah. Masih bisa juga kok, Mom." Gadis itu menjawab.


"Yakin?" Arfan memastikan.


"Yakin, Pah."


"Baiklah kalau begitu." Arfan menyesap kopinya yang sudah mulai dingin. "Apa Regan menjemputmu hari ini atau kita pergi ke rumah Opa dulu?" Pria itu kemudian bertanya.


"Hah? Umm …." Anandita sedikit terperangah, tetapi tak ada raut yang berbeda dari sang ayah. Dan pria itu hanya fokus pada iPad nya.


Kemudian terdengar suara mesin mobil masuk ke pekarangan yang membuat keluarga tersebut memalingkan pandangan.


"Panjang umur bener." Arkhan berujar setelah mendengar percakapan di meja makan tersebut.


"Om Regan selalu datang kebetulan kalau lagi diomongin yah? Kayak Om Jin." Asha menyahut yang membuat hampir seluruh anggota keluarganya tertawa, kecuali Anandita yang mendelik tak senang.


"Asha jangan ngomong sembarangan, nanti orangnya denger ngambek lho." Lalu Arkahan menjawab ucapan sang adik.


"Nggak akan, suruh Kak Ann sembuhin aja kalau ngambek. Hahaha." Gadis itu tertawa lagi, tetapi dia berhenti ketika Arfan menepuk keningnya.


"Papa!" Dan dia segera merengek sambil mengusap bagian itu dengan dramatisnya.


"Jangan bicara sembarangan." Sang ayah berujar dengan raut tidak suka, sementara dua anak lainnya menahan tawa.


"Selamat pagi, Bu?" Regan segera menyapa begitu Dygta keluar dari dalam rumah tak lama setelah dirinya pun turun dari mobil.

__ADS_1


"Pagi, Regan. Mau ke rumah baca lagi?" Dygta bersikap ramah, seperti biasa.


"Iya, Bu. Kebetulan saya lewat setelah mengambil pesanan." Pria itu menjawab.


"Pesanan apa?"


"Makanan untuk anak-anak, Bu. Dari Amara's Love."


"Oh … memangnya mereka pesan?"


"Iya, Bu. Nania dan Pak Daryl yang pesan. Jadi ya sekalian saja saya mampir untuk …." Regan menggantung kata-katanya ketika melihat kemunculan Arfan.


"Selamat pagi, Pak? Ehm …." Dia pun menyapanya kemudian berdeham.


"Hmm …." Dan sang tuan rumah menjawabnya dengan anggukan. Pandangan matanya semakin tajam apalagi ketika Anandita keluar kemudian berpamitan.


"Pergi dulu ya? Nanti langsung ke rumah Opa kan?" Gadis itu mencium tangan kedua orang tuanya.


"Iya. Tapi Mommy dan Papa harus pergi ke Bogor."


"Yaelah, pacaran melulu sampai ninggalin anak?" Anandita berujar, kemudian tertawa.


"Kamu ini …." Arfan hampir saja menjawab ketika di saat yang bersamaan sang putri mundur menjauh.


"Pergi dulu Mom, Pah." Katanya yang tertawa sambil melambaikan tangan kepada orang tuanya. Lalu dia memberi isyarat kepada Regan untuk segera pergi.


"Saya pamit, Pak, Bu." Dan pria itu pun melakukan hal yang sama, dan dijawab dengan lambaian oleh sang tuan rumah.


Kemudian mobil hitam yang dia kemudian segera pergi meninggalkan kediaman Arfan Sanjaya pada pagi itu.


"Apa?" Lalu Dygta mengalihkan perhatian ketika dia merasa Arfan memperhatikannya.


"Pandanganmu itu membuatku merasa jengkel." Pria itu memicingkan mata.


"Jengkel kenapa?"


"Apa kamu tidak bisa untuk tidak beramah-ramah kepada Regan, atau siapa pun selain keluarga kita? Aku kesal melihatnya."


Perempuan itu tertawa. "Sepertinya kamu lupa siapa Regan itu." Lalu dia beranjak masuk kembali ke dalam rumah.


"Apa maksudmu?" Dan Arfan mengikutinya di belakang.


"Dia adalah cucu yang mengurus keluargaku sampai adik-adikku besar. Kamu juga tahu bagaimana …."


"Ya lalu? Lagipula Pak Satria membayarnya dengan layak. Apa itu tidak cukup?"


"Maksudmu mereka yang bekerja dengan kita tidak pantas diperlakukan dengan baik selain mendapatkan gaji yang layak atas tenaga dan waktu yang mereka habiskan demi mengurus keperluan kita di rumah? Rasanya itu terlalu kejam."


"Bukan begitu, maksudku …."


"Bukan perkara uang saja. Tapi sikap kita kepada pegawai akan jauh lebih berguna untuk membuat mereka melakukan pekerjaannya dengan sangat baik."


"Ya, aku mengerti soal itu. Tapi untuk …."


"Jangan libatkan kasih sayangmu kepada Ann dengan hubungannya bersama siapa pun. Kita tidak tahu orang yang bagaimana yang akan membawanya pada kebahagiaan."


"Apa? Kebahagiaan apanya? Kamu sedang berharap jika anak kita menemukan jodohnya sekarang ini? Tidak mungkin! Dia masih sekolah, dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi sekarang, di saat seharusnya Ann menggapai cita-cita untuk masa depannya."


"Hahaha." Namun Dygta hanya tertawa.


"Sayang!"


"Hah … sepertinya sebentar lagi aku akan melihat seorang ayah yang patah hati lagi karena ditinggalkan anak gadisnya. Tidak tahu lah …." Perempuan itu menggelengkan kepala.


"Tidak mungkin!"


"Ya, terserah padamu, Papa." Dygta tertawa lagi seraya melenggang ke ruang tengah mereka.


"Sayang?"


"Silahkan persipkan hatimu untuk mengalaminya lagi, Pak." Dan ucapan itu malah semakin membuat suaminya merasa kesal. Terlihat dari raut wajahnya yang tampak tak enak dilihat. Tetapi Dygta senang melakukannya dan dia merasa puas akan hal tersebut.


💞


💞


💞


Bersambung ....


Ban Junno aku bawa pindah ke kompleknya Papa Agam ya. mohon dukungannya di sana.


alopyu sekebon 😘😘

__ADS_1


__ADS_2