
π
π
"Sudah, Der. Cukup. Duduklah dulu, piringnya nanti biar Ibu yang bereskan." Mirna menghentikan Daryl yang baru saja selesai membawa piring kotor dari meja bekas makannya pengunjung.
Pria itu mengangguk kemudian mencuci tangannya, lalu setelahnya dia duduk di mana Nania tengah menikmati ayam bakarnya selama dirinya membantu mertuanya berjualan.
"Keren Daddy, yeayy!!" Perempuan itu mengacungkan kedua ibu jarinya yang dipenuhi bumbu dan sambal dari makanan yang tengah dia lahap, sementara Daryl meresponnya dengan menggendikkan bahu dan raut wajah bangga.
"Ayamnya masih banyak, Bu?" Lalu dia bertanya.
"Lumayan. Pagi tadi kan Ibu beli ayamnya sekitar 30 kilo. Lumayan banyak lah dari biasanya." Mirna merapikan meja bersama seorang tetangga yang sengaja dia panggil untuk membantunya jika keadaan kedai nasi ayamnya cukup ramai.
"Emang biasanya habis berapa kilo sehari?" Nania bertanya lagi.
"Tidak tentu, kan tidak selalu ramai." Lalu dia duduk di seberang sang putri yang masih asyik menikmati apa yang diberikannya. Meski ini untuk ketiga kalinya.
"Dua puluh kilo sehari ada?" Nania mengunyah selada yang sudah terlebih dahulu dia beri sambal sebelumnya.
"Kalau benar-benar ramai? Iya."
"Berarti kedai ini udah terkenal dong?" Nania dengan mata berbinar dan raut bahagia di wajahnya.
"Ya lumayan lah, bikin ibu jadi sibuk setiap hari." Perempuan itu tertawa.
"Bener, bener." tawa Nania pun menguar, dan suasana pada malam itu memang terasa menyenangkan.
"Terus Ibu mau tutup jam berapa? Ini kan udah jam sembilan?" Lalu Nania melihat jam tangan Daryl.
"Se sepinya saja." Mirna melihat ke jalan di depan rumah yang masih cukup ramai karena malam itu juga merupakan malam Minggu, dan orang-orang masih sibuk dengan kepentingan mereka yang beragam sehingga tampak tak akan berhenti dalam waktu dekat.
"Emang kalau malam Minggu ramainya suka sampai malam ya?"
"Kadang-kadang. Mungkin kalau satu jam lagi sudah tidak ada yang beli, kita tutup saja." Mirna yang kembali bangkit dari kursinya.
"Terus, kapan kalian mau pulang? Ini sudah malam." Dia kemudian menatap ke arah anak dan menantunya.
Dua orang itu saling pandang, dan Nania bahkan menghentikan kegiatan makannya.
"Tidak baik juga perempuan hamil keluar malam-malam." ucap Mirna yang menambah air minum di gelas putrinya.
"Kenapa? Nanti diganggu jin?" Daryl menyahut seraya meletakkan ponsel di tangannya.
"Bukan." Sang mertua menjawab.
"Lalu apa?"
"Nanti Nania kurang istirahat, lalu dia kelelahan. Dampaknya kurang baik untuk kandungannya."
"Oh, aku pikir β¦." Daryl tampak tertawa, kemudian ia kembali pada benda pipih miliknya.
"Umm β¦ kalau gitu β¦ kita nginep aja ya, Daddy?" Nania menyuapkan potongan terakhir dari ayam bakar yang dia makan, lalu meneguk teh hangat yang baru saja Mirna tambah di gelasnya.
"Apa?" Tentu saja membuat Daryl bereaksi karena mendengar hal tersebut.
"Iya. Sejak nikah aku belum nginep di rumah ini lagi, jadi kayaknya aku mau deh kalau malam ini kita tidur di sini. Kayaknya seru." Perempuan itu bangkit untuk mencuci tangannya di wastafel yang tersedia.
"Me-menginap katamu?" Daryl meyakinkan pendengarannya.
"Ya, nginep. Kan udah malam. Lagian aku kayaknya ngantuk banget deh." Lalu dia mengucak kedua matanya pelan-pelan.
"Kamu bercanda!" Daryl dengan raut terkejut sambil menatap rumah sederhana milik mertuanya.
"Nggak kok, aku serius. Ya? Kita nginep malam ini di sini ya?" bujuknya sambil merangkul pundak suaminya.
__ADS_1
Daryl ingin menolak, tetapi dia khawatir jika itu akan membuat Nania kesal, tidak senang dan akhirnya merajuk. Bisa terancam kesejahteraannya bersama Eragon dalam waktu yang lama karena di masa seperti ini, mood perempuan itu sulit dirubah jika sedang buruk.
Dia menelan ludahnya dengan susah payah sambil memikirkan jawaban tepat untuk menolaknya. Karena sangat tidak mungkin bagi mereka untuk menginap di rumah tersebut. Tetapi rasanya lebih tidak mungkin juga jika memberikan jawaban yang tidak disenangi oleh perempuan itu.
"Daddy?" Nania menepuk pundaknya cukup keras.
"Eee β¦ mobilku di jalan bagaimana?" Lalu dia menemukan sebuah ide.
"Alah, orang ada yang jaga juga. Nggak usah khawatir." Nania menjawab.
"Hum?" Daryl tampak menjengit.
"Kan bisa nyuruh mereka bawa pulang dulu kek, atau parkir di tempat yang lebih aman gitu. Yang penting kita bisa nginep sini, Daddy! Pokoknya malam ini aku nggak mau pulang!" Nania mulai merengek.
Nah kan? Batinnya bergumam.
"Daddy?"
"Eee β¦."
"Pulang saja, Nna. Kenapa juga harus menginap? Rumah Ibu sempit. Ditambah Ibu tidak punya kasur cadangan. Masa kalian mau tidur di lantai?" Mirna sepertinya mengerti dengan raut wajah Daryl yang pastinya tidak akan merasa nyaman jika akhirnya nanti mereka benar-benar menginap.
Dia tahu, putra Nikolai pasti tidak akan mau berada di rumah sederhananya walau hanya semalam saja.
Nania terdiam setelah mendengar ucapan ibunya, dan dilihat dari raut wajahnya, dia tampak kecewa.
Dan tentunya ini membuat Daryl lebih merasa khawatir dari apa pun, karena kebahagiaan perempuan itu sangat berarti baginya.
"Ya udah, ayo kita pulang sekarang, Dadd." Suaranya terdengar sendu, dan dia meraih ponsel di atas meja.
"Kamu bayar dulu gih bekas makan kita, jangan lupa kasih tip buat bibi yang bantuin Ibu. Dia kerjanya bagus." katanya lagi yang hampir berpamitan kepada Mirna.
Daryl menatapnya dalam diam. Kalau sudah begini, hatinya merasa tidak tega. Apalagi jika mengingat nanti begitu sampai di rumah, perempuan itu akan terus cemberut dan pasti menghindarinya.
Oh, sudah pasti akan terjadi bencana. Batinnya lagi, lalu dia meraih pergelangan tangannya yang hampir saja melangkah.
"Apa?" Nania sedikit terperangah setelah mendengar ucapannya.
"Baik, malam ini kita menginap." Dan Daryl memperjelas ucapannya.
"Serius?" Muncul senyuman dengan mata berbinar di wajah Nania.
"Tidak mungkin!" Namun Mirna seperti tak mempercayai pendengarannya.
"Ya, ayolah kita menginap malam ini. Tidak setiap hari juga kan?" Pria itu menarik Nania sehingga dia kembali ke sisinya.
"Bagaimana mungkin? Ibu tidak punya kamar lagi selain kamar Sandi yang belum dibersihkan selama beberapa bulan. Pasti sangat kotor. Sementara bekas kamarmu sangat sempit dan ada beberapa barang di sana. Kalau di kamar Ibu? Tidak mungkin juga, hehe." Mirna sedikit merasa canggung mendengar rencana menginap anak dan menantunya.
"Hmm β¦." Daryl menggumam sambil mengerucutkan mulutnya.
"Kita telpon Regan saja." Katanya, yang kemudian menyalakan ponsel lalu melakukan panggilan.
***
Mirna tentu saja tertegun ketika menerima kedatangan beberapa orang pria berperawakan tinggi tegap di rumahnya, yang membawa barang-barang yang Daryl butuhkan.
Tentu bukan merupakan hal aneh baginya, karena sang menantu memang berasal dari keluarga berpengaruh. Tetapi dia tak menyangka jika pria itu akan melakukan hal tersebut, apalagi menyangkut rencana Nania yang ingin menginap di rumah sederhananya.
"Sudah selesai, Pak. Ada lagi yang Bapak butuhkan?" Regan datang menghampiri setelah yakin semua yang atasannya butuhkan ada di dalam rumah milik Mirna.
"Kau yakin semua yang aku minta sudah ada di dalam sana?" Pria itu bertanya.
"Ya, Pak."
"Ya sudah. Kecuali jika kau ingin ikut menginap di sini untuk memastikan aku nyaman dan mendapatkan semua yang aku mau." ucap Daryl kepada bawahannya.
__ADS_1
"Eee β¦ maaf, Pak. Sepertinya saya tidak bisa, soalnya β¦."
"Ah, sudah-sudah. Sana kalau mau pergi. Amankan juga mobilku ya? Besok akan aku telpon kalau mau pulang." Daryl mengibas-ngibaskan tangannya.
"Baik, Pak. Saya permisi." Regan pun segera pamit diikuti beberapa orang bawahannya yang menunggu di luar pekarangan dibawah tatapan orang-orang sekitar dan pengunjung kedai Mirna yang hampir saja pulang.
"Malyshka, apa kamu masih mau membantu Ibu?" Daryl lantas beralih kepada Nania yang menunggu sambil tersenyum di dekat ibunya.
"Umm β¦ Ibu masih jualan sampai malam?" Perempuan itu kemudian bertanya.
"Ah, tidak. Ini sebentar lagi juga mau tutup. Sana cepat masuk ke dalam rumah! Bersih-bersih, setelah itu cepatlah tidur!" Dan Mirna segera mendorong Nania agar mendekat ke arah Daryl.
"Aku nggak perlu bantu?" Lalu Nania bertanya lagi.
"Tidak usah. Hanya membereskan ini saja. Sana, cepat!" Mirna pun menjawab.
"Oh ya udah." Dan Nania pun segera meraih tangan Daryl ketika pria itu bangkit dari tempat duduknya.
"Mungkin kamar mandinya nggak segede punya kita, tapi masih layak digunakan kok. Serius." Mereka kemudian berjalan masuk ke dalam rumah.
"Hanya bisa mandi sendiri ya?" Daryl terdengar menjawab.
"Ya masa di rumah ibu mau mandi berduaan? Kan nggak enak." Dengan konyolnya Nania malah menjawab.
"Hah!" Daryl melepaskan napas di udara, yang membuat Nania tertawa karenanya.
"Menantunya Bu Mirna mau pindah ke sini?" Salah seorang pengunjung kedai yang merupakan tetangganya menatap mereka hingga menghilang dibalik pintu.
"Tidak, hanya menginap saja." Mirna kembali pada pekerjaannya merapikan etalase yang beberapa wadah di dalamnya sudah kosong.
"Tapi seperti mau pindahan? Banyak sekali barang yang dibawa."
Mirna tertawa. "Kebiasaannya memang begitu, membawa sendiri apa yang dibutuhkan tanpa harus merepotkan orang rumah."
"Enak nggak sih Bu kalau punya menantu kaya? Pasti enak, mau apa-apa tinggal minta. Apalagi Nania kan anaknya baik."
Mirna terdiam.
"Eh tapi β¦ keluarga suaminya Nania itu pada baik nggak? Takutnya kayak di sinetron gitu. Jahat sama menantu nggak punya kayak kita?"
Dia tak menjawab.
Bukan pertanyaannya yang membuat dia tak punya jawaban, atau malah jawaban itu sendiri yang tak ia miliki. Tetapi kenyataan bahwa apa yang dilakukannya dulu justru lebih kejam dari pertanyaan orang-orang ini.
Dia tidak akan lupa bagaimana dulu perlakuannya kepada Nania, dan apa yang telah anak perempuannya itu alami selama bersamanya.
Dan peristiwa yang terjadi terakhir kali lah yang menyadarkannya dari apa yang dijalani selama ini. Yang akhirnya membuat dia mengambil keputusan paling besar dalam hidupnya.
Yakni memilih berpisah dari Hendrik dan segala pengaruhnya, sehingga kini dia bebas dari segala beban dan kesusahan. Meski itu tak benar-benar menghilangkan rasa bersalahnya kepada Nania, setelah sang putri kehilangan bayi dalam kandungannya.
"Sudah selesai, Bu. Kalau begitu saya pulang." Suara tetangga yang membantunya seharian ini membuyarkan lamunannya.
"Oh, iya Mbak. Terima kasih. Itu ayamnya jangan lupa dibawa untuk anak-anak." Mirna menjawab.
"Iya, ini sudah Bu. Terima kasih." Perempuan itu menaikan satu kursi setelah pengunjung terakhir pergi dan dia selesai merapikan peralatan ke tempatnya.
"Iya, Mbak. Saya juga." Mirna pun mengantarnya hingga dia menutup pintu pagar, lalu berbalik menatap ke arah rumah yang terang benderang di mana anak dan menantunya berada.
π
π
π
Bersambung ....
__ADS_1
hai gaess, apa kabar? semoga kalian selalu sehat ya?
alopyu sekebonππ