
π
π
Nania memperhatikan Daryl yang baru saja membersihkan dirinya. Waktu sudah sangat larut dan pria itu baru saja pulang ke rumah setelah menyelesaikan pekerjaannya.
"Hhhh!" Daryl merebahkan tubuhnya di samping Nania.
Tubuhnya terasa begitu lelah dan dia benar-benar ingin segera istirahat. Mengawasi persiapan pagelaran pameran busana di FSH untuk minggu depan rasanya cukup menguras energi.
Bisa saja dirinya menyerahkan segala urusan pada staf dan terima beres, namun dia memutuskan untuk ikut turun langsung agar segala hal sesuai dengan keinginannya. Walau itu harus ditukar dengan waktu yang tersita sangat banyak dan tenaga juga pikirannya benar-benar terbagi-bagi.
"Kamu beneran nggak mau makan dulu?" Nania memberanikan diri untuk bertanya.
Walaupun dia tahu keadaan suaminya yang kelelahan, namun kebiasaan mereka untuk mengobrol sebelum tidur menjadi hal yang tak dapat ditukar dengan apa pun.
"Ya, sebelum pulang aku makan dengan staf dulu. Menghargai mereka yang sudah bekerja keras sepanjang minggu ini." Daryl memiringkan tubuhnya ke arah Nania.
"Kamu sudah makan?" Lalu dia bertanya pada perempuan itu.
"Udah, tadi di rumah Mama. Awalnya mau nunggu kamu, tapi kata Papi nggak usah karena takut kamunya pulang malem. Tahunya bener, kan?"
"Hmm β¦." Daryl menganggukkan kepala. "Minggu-minggu ini memang sebaiknya tidak usah menungguku, karena pekerjaanku sedang banyak-banyaknya. Jadi pasti aku akan pulang malam setiap harinya."Β
"Iya ih, biasanya makan sama-sama." Nania menurunkan tubuhnya sehingga dia pun berbaring di samping pria itu.
"Sabar, Malyshka. Beginilah pekerjaanku. Tapi ini masih lebih ringan dari pada aku di pusat Nikolai Grup."
"Iya."
"Kamu mengerti, kan?"
"Iya, Dadd."
"That's good." Pria itu menyingkirkan helaian rambut Nania yang mengenai wajahnya.
"Sekarang ceritakan, bagaimana kegiatanmu di kampus?" Lalu dia beralih pada hal yang sudah disangkanya akan Nania bicarakan.
"Biasa aja."
"Dosennya masih suka mengundur jam kuliah?" Dia bertanya.
"Ya, gitu deh."
"Selain mengajar di kampusmu, mereka juga mengajar di tempat lain ya?"
"Kayaknya gitu."
"Hmm β¦."
"Oh iya, minggu depan ada event hari jadi kampus." Nania pun mulai membicarakan hal lainnya.
"Benarkah? Semacam acara ulang tahun, begitu?"
"Iya."
"Terus?"
"Mereka ngadain bazar, pensi sama acara gitulah."
Daryl mendengarkannya berbicara, dan dia langsung paham arahnya bermuara ke mana.
"Lalu?"
"Temen-temen aku udah ada yang daftar mau ikut berpartisipasi lho." Perlahan Nania menjelaskan maksudnya.
"Apa yang akan mereka lakukan?"
"Ada yang mau jualan makanan, baju, aksesori, pokoknya banyak deh."
"Dan kamu juga mau ikut?" Daryl segera memahami maksudnya.
"Umm β¦ heheh." Namun Nania tertawa dulu sebelum menjawab.
"Malah tertawa?"
"Aku β¦ sebenarnya takut mau bilang ini. Kali aja nggak akan dapat izin, soalnya itu kan kegiatan diluar kuliah."
Daryl mengangkat sebelah alisnya ke atas.
"Tapi kalau nggak ikut rasanya sayang juga. Kan kita bisa bantuin orang tapi dengan cara yang bagus, karena nanti hasilnya full dikasih ke yayasan atau digunakan untuk mereka yang lebih membutuhkan." Hati-hati sekali dia berbicara agar suaminya tidak gagal paham.
"Itu sih kalau boleh, ya. Kalau nggak boleh juga nggak apa-apa." lanjut Nania saatΒ tak mendengar tanggapan Daryl atas apa yang dia ungkapkan.
"Aku tanya, kamu mau ikut?" ulang Daryl pada perempuan itu.
__ADS_1
"Boleh nggak?" Namun Nania malah balik bertanya.
"Sekali lagi aku tanya, kamu mau ikut berpartisipasi di bazar itu?" Daryl berbicara dengan suara yang dia buat selembut mungkin agar istrinya tidak merasa sedang diintimidasi.
"I-iya β¦ kalau boleh."
"Jawab yang benar kenapa sih, Nna?"
"Iya, Dadd. Mau ikut." ucap Nania kemudian.
"Begitu kan jelas." Lalu pria itu bangkit sebentar untuk menarik selimutnya yang kemudian dia tutupkan pada tubuhnya yang hanya mengenakan celana pendek tanpa atasan seperti biasanya.
"Emang boleh?" Nania dengan binar penuh harap.
"Boleh." jawab Daryl, pendek. Dan dia memutuskan untuk memberinya izin saja dari pada harus berbelit-belit mengemukakan alasan mengapa harus melarangnya.
"Serius?" Perempuan itu antusias.
"Ya." Dia menganggukkan kepala.
Nania terdiam dengan garis bibirnya yang melengkung membentuk senyuman.
"Tapi kamu mau jualan apa? Masa makanan?" Daryl sedikit menjengit, lalu dia menoleh kepada istrinya.
"Bagusnya apa?"
"Parfum tidak mungkin karena itu terlalu mahal untuk ukuran mahasiswa. Kasihan juga mereka harus membayar harga tinggi, apalagi nanti menghabiskan biaya kuliahnya." ucap Daryl yang menarik Nania ke dekatnya, namun perempuan itu malah terdiam ketika dia merasa lampu pintar di kepalanya seolah menyala dengan terang.
"Kayaknya itu ide yang bagus, Dadd. Bisa jadi ajang promosi juga buat parfum Fia's Secret kan?" katanya.
"Apa?"
"Ide aku bagus, kan?"
"Negatif."
"Kok negatif?"
"Tidak rasional. Selain harganya mahal untuk ukuran pelajar, juga akan membuat kita mengalami kerugian jika harus menurunkan harga. Dan akan merusak pasar produk Fia's Secret."
"Hmm β¦." Nania berpikir sebentar. Lalu lagi-lagi lampu pintar di kepalanya kembali menyala.
"Kita bikin edisi spesial aja, Dadd."
"Parfum Fia's Secret yang ukuran botolnya kecil dan harganya sesuai sama kantong pelajar. Yakin deh bakal banyak yang minat."
"Bisa begitu?"
"Ya bisa lah. Jadi, harganya bisa dijangkau sama semua orang kan?"
"Ini versi menengahnya begitu?" Daryl terkekeh.
"Ya nggak versi menengah juga sih. Banyak anak-anak orang kaya yang kuliah juga di kampus aku kok."
"Masa?"
"Iya. Aku sering lihat di parkiran yang bawa mobil sama motor mewah sendiri. Gayanya juga stylish abis sama pakaian juga tas branded."
"Ah, zaman sekarang bukan anak orang kaya juga bisa punya itu semua."
"Masa? Kok bisa?"
"Bisa lah. Anak muda sekarang kan kadang sudah punya penghasilan sendiri. Jadi mereka tidak selalu mengandalkan pemberian orang tua."
"Kayak kamu ya?" Nania sedikit tertawa mengingat suaminya yang di awal kuliah juga sudah bisa mengelola keuangannya sendiri.
"Ya β¦ salah satunya. Tapi aku tidak termasuk karena tetap awalnya ada sokongan Papi."
"Iya juga sih."
"Jadi, kamu sudah menentukan ide untuk jualan?" Daryl bertanya lagi.
"Kamu setuju nggak sama ide yang tadi?" Nania kembali balik bertanya.
"Ide parfum edisi spesial?"
"Iya."
Daryl berpikir.
"Ya masa mau jual produk makanan juga? Nanti temen-temen aku ada saingan dong."
"Saingan apa?"
"Saingan stand makanan. Nanti kalau produk aku yang lebih laku gimana?" Nania berkelakar.
__ADS_1
"Percaya diri sekali kamu ini?" Daryl tertawa mendengar ucapan istrinya.
"Ya, kan emang harus pede." Dan perempuan itu juga melakukan hal yang sama.
"Hmm β¦." Daryl mencebikkan mulutnya.
"Gimana Dadd? Boleh nggak kalau jualan parfum aja? Kayaknya nggak akan ada saingan deh?"
"Tetap saja mungkin nanti akan laku."
"Ya bagus, tapi kan bukan produk makanan?"
"Sama saja, Malyshka."
Nania tertawa lagi.
"Tapi mungkin isinya akan sedikit karena kita menggunakan botol yang kecil?"
"Nggak apa-apa, yang penting produk sama kualitasnya sama."
"Kamu yakin dengan ide itu?" Daryl bertanya lagi.
"Yakin Dadd."
"Baiklah kalau begitu yang kamu mau."
"Beneran?"
"Ya. Memangnya apa lagi yang harus aku katakan? Melarangmu seperti biasa?"
"Aku kirain gitu tadi, makanya agak takut pas mau bilang." Nania tertawa sambil menutup mulut dengan tangannya.
"Takut kenapa?" Daryl mengerutkan dahi.
"Takut kamu marah karena aku minta izin untuk kegiatan selain kuliah."
"Kamu pikir aku ini orang gila apa?" Pria itu sedikit mendelik, namin Nania buru-buru merangkul pundaknya.
"Iya, kan biasanya juga begitu. Ahahaha." Dan dia segera menyurukkan kepalanya pada dada telanjang pria itu untuk menghindari delikannya yang menakutkan.
Daryl terdiam lagi.
"Kamu kan biasanya nggak ngasih izin kalau bukan kegiatan kuliah?"
"Apa yang ini membuatmu senang?" Pria itu merangkul pundak Nania yang sudah merapat kepadanya.
"Iya. Bisa punya kegiatan kayak orang lain itu rasanya keren juga, Dadd."
"Tapi kegiatannya hanya di kampus kan, tidak pergi keluar?"
"Nggak lah, ya kali ada bazar kegiatannya keliling kota?"
Daryl tertawa karena pikirannya sendiri.
"Beneran ya? Udah fix kan kamu izinin aku?" Nania meyakinkan jika usahanya telah berhasil.
"Ya, seperti yang sudah kamu dengar kan?"
"Ya udah, kalau gitu besok aku mau daftar, abis itu bikin desain botolnya. Biar lusa dibikin, terus Senin depan udah mulai jualan kan?"
"Semangat sekali ya kamu ini?" Daryl mengusap-usap belakang kepala Nania.
"Oo pastinya."
"Kalau urusan begitu bisa membuatmu semangat, lalu untuk yang lainnya bagaimana?" Pria itu berujar.
"Maksud kamu?"
"Urusan lain."
"Apaan?"
Sebelah tangan Daryl menyusup dibalik kaos tidur Nania dan segera menemukan gundukkan kenyal miliknya. Lalu dia meremat benda tersebut dan mempermainkan puncaknya dengan gemas. Membuat Nania segera mengerti isyarat itu.
Hmm β¦ nggak gratis ternyata? Batinnya sambil menatap wajah Daryl yang menyeringai. Lalu dia bersiap untuk menerima terjangannya yang sudah bisa dipastikan tidak akan usai dalam waktu hanya sebentar saja.
π
π
π
Bersambung ...
Ehm ... Mereka mau Ngapain ya? π€π€
__ADS_1