
💕
💕
Nania meniupkan napasnya di udara setelah mematikan ponsel dan memasukkannya ke dalam saku belakang celananya. Lalu memejamkan matanya sejenak sebelum akhirnya dia kembali pada aktivitas berjualannya.
"Pak Daryl?" Mahira bertanya sementara tangannya tak tinggal diam. Dia membereskan botol-botol parfum yang berserakan setelah dipilih oleh pembeli.
"Ya, biasalah."
"Hhmm …."
"Parfumnya boleh kakak, kualitas premium dengan harga terjangkau di sebelah sini." Mahendra dan Dirga juga beberapa teman panitia berteriak menjajakan dagangan beberapa stand sejak pagi.
Hari itu mereka berperan sebagai sarana promo bagi rekan-rekannya yang berjualan untuk memaksimalkan hari terakhir bazar tersebut.
"Aneka jus di sebelah samping, sate-satean di sebelah sana, dan makanan Korea di belakang kita."
"Pakaian, aksesori, dan kebutuhan lainnya juga tersedia. Silahkan." Mahendra menoleh ke stan parfum di belakang lalu melempar senyum pada pedagang yang ada di dalamnya.
Nania dan Mahira pun membalas senyumnya, lalu setelahnya pria itu mengepalkan tangannya di udara untuk memberi mereka semangat.
"Kak Mahen gitu amat ya? Sikapnya mencurigakan." Mahira berujar.
"Apanya yang mencurigakan?" Nania menanggapi.
"Kayak yang ada maksud terselubung gitu." Gadis itu memperhatikan senior mereka untuk beberapa saat.
"Kamu ngaco." Nania tertawa.
"Nggak ih, kamu mah lempeng-lempeng aja jadi orang, nggak mikir gimana-gimana gitu?"
"Gimana-gimana apanya? Mikirin masalah sendiri aja udah pusing, males banget kalau harus ditambah sama masalah lain?"
"Oke, nggak usah dipikirin. Yang ini biar aku aja yang mikirin." Mahira memicingkan matanya ke arah Mahendra.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mulai hari ini tidak boleh terlambat menjemput Nania. Bisa-bisa dia berbuat seenaknya." Daryl meletakkan ponsel di atas meja.
"Ada apa?" Regan mengalihkan perhatian dari para staff yang tengah menyelesaikan pekerjaan mereka.
"Masa dia minta ikut Mahira jika aku nanti terlambat menjemputnya? Ide dari mana itu?" Sedangkan Daryl duduk di kursi yang memang sengaja disediakan staf untuknya untuk mengawasi bagaimana mereka bekerja.
Membuat semacam panggung catwalk dan area duduk penonton untuk acara peragaan busana yang akan digelar besok malam.
Regan terdiam sebentar.
"Besok-besok kalau aku tidak bisa menjemputnya, itu tanggung jawabmu untuk melakukannya. Dan jika kau pun tak bisa, maka mintalah staf lain yang menjemputnya. Pokoknya dia tidak boleh ikut siapa pun dengan alasan apa pun." ucap Daryl dengan serius.
"Bukankah kemarin itu yang saya katakan? Tapi Bapak menolak waktu saya mengajukan diri untuk menjemput Nania." Regan mengingatkan percakapan mereka kemarin sore.
"Aku hanya mau melakukannya sendiri agar dia tahu kalau perhatianku untuknya sama besarnya dengan pekerjaanku."
"Ya tapi malah membuatnya menunggu sampai lebih dari satu jam kan?" Regan menjawab.
"Apa?"
"Mahira baru melapor jika dia memang mengajak Nania untuk pulang bersama setelah di jam empat mereka tutup."
"Jam empat?"
"Ya."
"Dan aku datang menjemput setengah enam." Daryl mengingat lagi, lalu dia terdiam. "Sehingga ada orang lain yang menemaninya dan mungkin sedang berusaha mendekatinya."
__ADS_1
"Apa?"
Pria itu menatap asistennya untuk beberapa saat. "Mungkin kau perlu menyelidiki pria gondrong itu, Regan." katanya kemudian.
"Pria gonrong?"
"Ya, seniornya Nania yang sering bawa motor itu."
"Mahendra?"
"Ish! Aku tidak suka mendengar namanya disebutkan." Daryl mendelik.
"Memangnya kenapa? Hanya Mahendra, Pak." Regan malah mengulangi ucapannya.
"Ish! Sudah aku katakan aku tidak suka mendengar namanya! Membuatku kesal saja. Nama apa itu? Mahendra, MahendrA." ucap pria itu lagi seraya menghempaskan punggungnya pada sandaran kursi.
"Aku curiga dia sedang mengincar Nania." katanya lagi yang menyesap minuman dingin di dalam kaleng.
Regan tetap menyimak ucapan atasannya meski itu kedengarannya cukup mustahil.
"Kau ingat tidak jika anak itu kakak kelasnya di SMP?" Daryl kembali berbicara.
"Ya, tentu saja ingat."
"Kau pikir itu akan berpengaruh pada hubungan mereka?"
"Hubungan apa yang Bapak maksud? Mereka hanya senior dan juniornya yang kebetulan bertemu lagi di kampus. Lagi pula Nania sudah menikah, mana mungkin dia berbuat buruk?"
"Entahlah!" Daryl memijat pangkal hidungnya yang tiba-tiba terasa nyeri.Â
Pikirannya tentu saja dipenuhi hal buruk jika mengingat itu semua, apalagi saat ini keadaannya cukup mendukung. Mereka setiap hari bertemu dan sering berinteraksi. Apalagi rumah tangganya yang sedang tidak terlalu baik.
"Aarrgghh? Sialan!" geramnya sambil memejamkan mata.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Nania dan Mahira yang berjalan bersama ke arah pintu gerbang setelah menyelesaikan kegiatan terakhir hari itu menoleh bersamaan.
Meski bazar masih belum usai namun Nania sudah memutuskan untuk menyudahi saja kegiatannya. Selain karena sudah merasa lelah, tetapi juga memang barang dagangannya sudah habis. Jadinya dia memilih untuk menutup standnya saja.
"Kalian nggak ikut kumpul dulu dengan yang lain?" Pria itu mempercepat langkahnya.
"Kumpul dulu mau apa?" Mahira menyahut, dan mendahului Nania untuk berbicara.
"Ya kumpul dulu antar sesama pedagang. Ini kan hari terakhir berjualan."
"Emang harus ya?" tanya Mahira lagi.
"Ya nggak juga sih, tapi kan …."
"Yang lain belum selesai jualannya sementara kita udah. Masa harus nunggu?"
Mahendra terdiam.
"Apa sama sekalian nyerahin hasil jualan untuk donasi?" Gadis itu bertanya lagi.
"Nggak, kalau itu kayaknya besok siang aja." Mahendra menjawab, dan dia mensejajari langkah mereka hingga ke depan gerbang.
"Oh, kirain mau sekalian."
"Besok jam berapa harus kesini lagi?" Nania akhirnya berhasil menyela.
"Lewat tengah hari aja biar santai. Siapa tahu kamu mau istirahat dulu di rumah kan? Kayaknya hari terakhir ini cukup melelahkan." Pria itu tertawa, diikuti Nania yang juga tertawa.
"Ah iya juga. Okedeh." katanya kemudian.
__ADS_1
Lalu mereka berhenti tepat di dekat pintu gerbang yang terbuka lebar, dan Mahira menyenggol lengan Nania ketika dia melihat Rubicon hitam yang dikenalnya sebagai milik Daryl sudah menunggu di depan sana. Dengan pria itu yang berdiri menyandarkan tubuh tingginya pada bagian depan mobil tersebut.
Kedua tangannya dia lipat di dada dengan pandangan yang tertuju kepada mereka. Terutama kepada Nania yang tengah berbincang dengan Mahendra.
Ketiganya tertegun, namun Nania cepat-cepat bereaksi dengan melemparkan senyum pada awalnya.
"Eh aku udah dijemput. Duluan ya?" katanya yang melambaikan tangan sebelum akhirnya buru-buru berlari menghampiri suaminya.
"Kamu kok cepet? Katanya ada meeting dulu?" Dia lebih dulu bertanya.
"Ya, sengaja agar kamu tidak harus menunggu." Daryl segera membuka pintu dan menyentakkan kepalanya, mengisyaratkan kepada Nania untuk masuk.
Perempuan itu segera menurut, apalagi melihat raut wajah suaminya yang tak enak dilihat.
"Jangan coba-coba deh, Kak." Tiba-tiba saja Mahira bersuara.
Mahendra yang tengah asyik menatap kepergian Nania dengan suaminya kemudian menoleh.
"Kamu mengatakan sesuatu?" tanya pria muda itu dengan kening menjengit.
"Aku nggak tahu ya niat Kakak yang sebenernya sama Nania itu apa, tapi aku peringatkan selagi belum terlanjur kejadian. Bahwa apa yang akan Kakak lakukan itu nggak mungkin terealisasi."
"Apa?"
"Kakak salah kalau misalnya berpikir Kakak bisa mendekat, apalagi punya niat nggak baik sama Nania karena akan aku pastikan itu nggak akan berhasil."
"Kamu ini ngomong apa sih?" Kening Mahendra berkerut semakin dalam.
Mahira maju dua langkah lebih dekat kepada seniornya itu. Sehingga Mahendra sedikit memundurkan tubuhnya.
"Kalau tetep nggak denger peringatan aku, sama aja Kakak mau bunuh diri." katanya dengan nada mengancam.
"Memangnya kamu ini siapa? Berani-beraninya mengancam aku. Ya bebas dong, ini kan negara merdeka. Mau deketin Nania kek, deketin dosen kek, atau mentri sekalipun kalau kamu mampu ya silakan aja." Baru kali ini ada seorang gadis berani melanyangkan ancaman kepadanya. Apalagi dia merupakan adik kelasnya.
"Ya, silahkan mau deketin siapa juga. Asal jangan anggota keluarga Nikolai, apalagi istrinya Pak Daryl. Bisa pulang tinggal nama Kakak nanti!" ancam Mahira lagi yang membuat Mahendra terkesiap.
"Bicaramu itu, kayak bodyguardnya Nania aja?" Namun dia memberanikan dirinya untuk melawan intimidasi gadis itu.
"Aku mungkin bukan siapa-siapa, tapi orang di belakang aku cukup berbahaya kalau Kakak masih nekat."
Mahendra terdiam.
"Ngerti nggak? Selain urusan kuliah aku harap Kakak nggak ada basa-basi apa pun sama Nania, atau kalau masih nggak nurut juga, aku pastikan mereka nanti ngikutin Kakak."
"Me-mereka?" Mahendra tergagap.
Mahira mengarahkan ujung telunjuknya ke arah kiri, dan pandangan Mahendra mengikuti gerakannya.
Di dekat trotoar yang berjarak lima meter saja dari mereka, di mana sebelumnya Rubicon milik Daryl terparkir ada sebuah mobik hitam berisi empat orang pria yang ke semuanya menatap ke arahnya.
"Mereka tahu apa aja yang kita kerjakan, dan pasti akan tahu juga kalau Kakak berbuat macam-macam."
"Kamu mengancam?"
"Nggak." Mahira mundur dua langkah. "Tapi mereka akan bertindak kalau sedikit aja Kakak berbuat nekat, jadi … mundur." ucap gadis itu lagi yang kemudian pergi ketika mobil milik ayahnya muncul.
💕
💕
💕
Bersambung ....
Hadeh ... Ada apa lagi sih setelah ini? 😆😆😆
__ADS_1