The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Rasa


__ADS_3

💕


💕


"Om mau masuk dulu?" Anandita memutar tubuhnya lalu berbicara ketika Regan hampir saja kembali ke mobilnya.


Dan rumah kediaman Arfan Sanjaya menjadi tujuan akhir pada tugasnya pada hampir sore itu untuk mengantarkan putri keduanya. 


"Apa?"


"Aku bilang Om mau masuk dulu? Istirahat sebentar gitu?" tawar Anandita secatlra terang-terangan.


"Tidak, saya harus kembali ke FSH. Pak Daryl pasti membutuhkan saya." Regan menjawab.


"Ooo … kirain nggak balik lagi ke sana." Gadis itu mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Kalau tidak ke sana memangnya saya bertugas di mana?" Mereka berdiri saling berhadapan. Regan di pekarangan sementara Anandita di depan teras. Dan keduanya hanya berjarak sekitar satu meter saja.


"Om udah resmi jadi asistennya Om Der ya?" Dan Anandita terus melontarkan pertanyaan sekedar untuk menambah waktu kebersamaan itu. 


"Sepertinya ya. Begitu saya ditarik dari markas, inilah pekerjaan saya."


"Sekaligus jadi sopir juga?"


"Bukankah asisten itu merangkap segala hal? Sopir, sekretaris, tangan kanan. Dan terkadang jadi baby sitter juga."


"Banyak amat kerjaannya?"


"Namanya juga asisten. Dan saya rasa Pak Arfan dulu juga begitu?"


"Masa iya Papa jadi baby sitter? Nggak mungkin lah." Anandita tertawa dengan cukup keras.


"Bukan baby sitter secara harfiah, Ann."


"Terus apa?"


Sedangkan Regan hanya menatapnya dalam jarak sedekat ini. Maksudnya, mereka memang kadang cukup dekat dan sering bersama walau sekedar pergi ke RUMAH BACA NANIA saja, tapi kali ini rasanya lebih pribadi.


Mungkin karena tidak ada hubungannya dengan urusan rumah baca atau hal selain  mengantar pulang saja.


"Menjaga anak-anak atasan agar mereka tidak melakukan tindakan buruk atau membahayakan, dan selebihnya menyelesaikan urusan keluarga."


"Masa?"


"Ya."


"Jadi kerjaannya dobel-dobel ya?"


"Benar. Dan resikonya juga dobel."


"Serius?"


"Ya. Seandainya kamu melakukan kesalahan atau misalnya kecelakaan, orang orang pertama yang akan disalahkan tentu saja kami."


"Kayak ngasuh anak TK aja." Anandita bergumam.


"Ini lebih dari anak TK. Karena pewaris adalah tanggung jawab yang sangat besar jika pengawasannya diserahkan kepada kami. Termasuk pengawalan untuk istri atasan."


"Ah, berat."


"Memang. Jadi saya harap kamu jangan berbuat macam-macam, Ann. Karena resikonya besar untuk rekan saya."


"Dih, aku kan nggak ada yang jagain. Jadi nggak mungkin ada yang bakal kena hukuman kalau aku kenapa-kenapa?"


"Kamu hanya tidak tahu."


"Iya gitu?"


"Hmm …." Regan menganggukkan kepala.


"Emangnya siapa yang jagain? Om ya? Tapi kan Om tugasnya buat Om Der?" Gadis itu mengarahkan ujung telunjuknya kepada Regan.


"Bukan. Rekan saya."

__ADS_1


"Tapi aku kok nggak tahu?"


"Tidak tahu? Berarti Pak Arfan memang bekerja sangat rapi sehingga anaknya saja tidak tahu soal itu."


"Ah, udah kayak intelijen rahasia aja?"


"Memang. Kamu tidak tahu ya kalau papamu itu dedengkotnya intelijen Nikolai Grup?" Regan tertawa.


"Masa sih?"


"Serius."


"Orang Papa sibuk banget kok? Ngurusin resort sama hotel plus antar anak-anak juga nemenin Mommy aja udah repot kayaknya? Masa ita ditambah hadi intel juga. Om ngarang nih?"


Pria itu kemudian tersenyum. "Baiklah, tidak usah dibahas. Anggap saja itu cuma hoax."


"Ya mana ada Arfan Sanjaya kayak gitu? Kerjaannya sendiri juga udah segunung kayaknya. Nggak akan sempat ngurusin hal lain."


"Yeah memang." Regan mengangguk-anggukkan kepala sambil tertawa.


Lalu sebuah mobil berwarna putih memasuki pekarangan, yang Anandita kenali sebagai mobil milik ibunya.


"Kamu baru pulang?" Perempuan itu turun begitu sopir membukakan pintu. Diikuti dua orang asisten rumah tangganya.


"Iya."


"Kenapa Regan ke sini? Papa di mana?" Dygta berjalan mendekat dan menatap Regan yang berdiri di depan putrinya.


"Saya kebetulan lewat sekolah Ann waktu menjemput Nania, Bu." Regan segera menjawab.


"Ooo …." Dan Dygta pun mengangguk. "Papa belum sampai?" Lalu dia beralih kepada putrinya yang tampak betah berada diluar meski cuaca pada hampir sore itu terasa cukup panas.


"Belum kayaknya. Dari tadi nggak ada yang keluar dari rumah, padahal biasanya kam suka ada satpam kalau aku belum pulang." Anandita menjawab asal.


"Sembarangan kamu!"


Lalu gadis itu tertawa sambil menutup mulutnya.


"Mommy kira sudah sampai, soalnya tadi juga bilang sudah selesai dan mau langsung pulang." ucap Dygta yang selanjutnya meminta sopir dan asisten rumah tangga untuk menurunkan barang belanjaan dari mobilnya.


"Umm … kalau begitu saya pamit, Bu? Harus kembali ke FSH. Pak Daryl sudah menunggu." Regan kemudian menyela percakapan ibu dan anak tersebut.


Beruntung dia punya alasan pekerjaan sehingga tidak harus berlama-lama ada di sana dan mungkin bertemu dengan Arfan Sanjaya. Bisa mati kutu jika itu terjadi.


"Oo, baiklah. Terima kasih sudah mengantar Ann ya, Regan?" Dygta pun menanggapi ucapan asisten dari adiknya itu.


"Ya Bu. Tidak apa-apa. Hanya kebetulan lewat." katanya, meski apa yang diucapkannya sedikit ada kebohongan. "Pamit Bu?" ucap Regan lagi yang kemudian segera melenggang ke arah mobilnya setelah mendapat jawaban dari Dygta dan Anandia.


"Bantu bawa belanjaannya, Ann. Jangan melamun!" terdengar suara perempuan itu yang berbicara kepada putrinya.


"Ish! Ada Pak Ahmad sama Mbak Leni ini lah." Dan terdengar gadis itu menjawab.


"Ya sedikit membantu apa salahnya? Toh kamu mau masuk ke dalam rumah juga kan?" Dygta menjawab.


"Ogah, aku capek!" Namun Anandita malah menghindar.


"Capek apa? Hanya sekolah dan belajar masa capek?"


"Capek nahan perasaan, Mom." ujar gadis itu yang segera berlari ke dalam rumah dan langsung melesat ke kamarnya di lantai dua.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Daddy?"


"Yes, Baby?"


"Hari ini dosennya dua kali datang telat deh. Jadi aku pulangnya juga telat." Nania sudah berbaring di atas tempat tidur sementara Daryl baru keluar dari kamar mandi.


"Benarkah?" Pria itu bahkan masih mengusak rambutnya yang basah.


"Iya. Sebel deh nungguinnya kan lama." Lalu Nania bangkit bersamaan dengan suaminya yang duduk di sisi ranjang.


"Terus apa yang kamu kerjakan selama menunggu?" Pria itu menyerahkan handuk meminta Nania untuk mengeringkan rambutnya.

__ADS_1


"Nggak ada. Cuma ngobrol aja sama Mahira di taman."


"Ah, kurang kerjaan."


"Emang."


"Lain kali kalau dosennya lama begitu datang saja ke FSH. Kan lumayan ada kerjaan." Daryl mendongakkan kepala ketika Nania menyisir rambutnya yang sudah memanjang.


"Kerjaan apa?"


"Menemani aku."


"Dih, bukan nemenin. Nanti malah kamu kerjain?"


"Itu maksudnya. Hahaha." Dan Daryl pun tertawa.


"Kerjaannya nggak kelar-kelar dong? Pulangnya makin malam."


"Memang sih."


"Makanya."


Kemudian Daryl mundur dan naik ke tempat tidur.


"Rambut kamu udah panjang, Dadd." Dan Nania masih menyentuh rambut kecoklatan milik suaminya.


"Benar."


"Nggak mau dicukur gitu? Kan gondrong."


"Bagus, biar bisa diikat."


"Dikuncir maksudnya?" Nania tertawa seraya bergeser mundur ketika pria itu terus maju dan mengungungkung tubuhnya di bawah.


"Boleh, asal jangan pakai pita saja."


Nania tertawa lagi. "Tapi kayaknya pakai pita juga bagus. Apalagi yang warnanya pink. Satu di sini, satu di sini, dan satu lagi di sini." Dia menunjuk beberapa titik pada kepala suaminya.


"Begitu?"


"Iya."


"Memang pitanya ada?" Daryl berhenti saat dia sudah menindih Nania.


"Nggak. Besok aku beli dulu." Dan perempuan itu diam saja ketika Daryl mulai menyentuh tubuhnya.


Malam ini pasti akan berlangsung panas lagi seperti malam-malam sebelumnya.


"Baik, kalau begitu dikuncirnya besok saja."


Nania menganggukkan kepala.


"Serius nggak akan potong rambut?"


"Sepertinya tidak."


"Nanti gondrong, Dadd."


"Tidak apa-apa, agar kamu bisa berpegangan." Pria itu mendekatkan wajahnya pada Nania.


"Pegangan mau ngapain?" 


"Coba ingat, biasanya kamu berpegangan kalau kita sedang apa?" Mereka saling memindai wajah masing-masing.


"Lagi apa ya?" Dan sebuah senyum terbit di sudut bibir Nania. Sebelum akhirnya Daryl membungkamnya dengan cumbuan. Yang segera berlanjut menjadi pergumulan panas yang mengaburkan akal sehat mereka berdua.


💕


💕


💕


Bersambung ....

__ADS_1


Votenya masih ada nggak ya?🤭🤭


__ADS_2