The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Kunjungan Nania


__ADS_3

💕


💕


Nania mengetuk pintu kemudian mendorongnya perlahan sehingga terbuka pelan-pelan. Tampak Daryl yang tengah fokus menyelesaikan pekerjaannya.


"Ya, Din?" Pria itu tak memalingkan perhatian. "Sudah sore, masa kamu mau memberiku pekerjaan lagi?" Dia membubuhkan tanda tangan pada kertas dokumen saat mendengar langkah kaki mendekat.


Nania tak menjawab, namun dia hanya tersenyum dan berhenti ketika jaraknya sudah cukup dekat dengan meja kerja suaminya.


"Cukup, Din. Aku tidak mau menerima dokumen lain lagi. Aku mau pulang." ucap pria itu lagi yang belum menyadari kehadiran Nania. Sementara perempuan itu berjalan memutar ke belakangnya.


Kedua tangannya merayap di pundak Daryl kemudian turun ke dada, membuat pria itu bereaksi karena terkejut.


"What the fu…." Dia menoleh dan mendapati Nania yang berada di belakangnya dengan senyum lebar. Yang kemudian menundukkan wajah untuk mengecup bibirnya.


"Malyshka!" katanya, dengan mata sedikit terbelalak.


"Anteng banget kalau lagi kerja? Sampai-sampai nggak nyadar siapa yang datang." Nania lantas memeluk pria itu.


"Aku pikir kamu Dinna?" Dia menarik lengannya hingga terlepas dan dan Nania pun pindah ke depan lalu duduk di pangkuan.


Perempuan itu tertawa pelan, sementara Daryl segera memeluknya sambil membenamkan wajah di ceruk lehernya. 


"Oh, God! I miss you." bisiknya, dan dia memeluk tubuh Nania dengan erat.


Namun pria itu tertegun saat indra penciumannya menangkap aroma yang berbeda dari tubuh istrinya, yang membuat dia mendongak lalu menatap wajahnya.


"Apa?" Nania balas menatap manik kelamnya yang tampak berkilauan.


"Kamu habis apa?" Daryl bertanya.


"Nggak habis apa-apa." 


"Bukankah tadi bertemu Kirana?" Dia bertanya lagi.


"Iya."


"Lalu apa yang kamu lakukan di sana?"


"Nggak ada, cuma nyobain perawatan doang. Hehehe …." Nania tertawa.


"Perawatan?" Ujung sebelah alis Daryl sedikit terangkat.


"Ya."


"Perawatan apa?" Daryl menatap wajahnya lekat-lekat, dan dia merasa jika perempuan itu memang sedikit berbeda.


"Kamu ke salon? Hahaha." Lalu dia pun tertawa juga.


"Dibilangin ke tempatnya Kak Kirana." Nania mengibaskan rambut panjangnya sehingga aroma manis menguar di udara.


"Kamu perawatan di tempatnya Kirana?"


Nania menganggukkan kepala.


"Dalam rangka apa?" Pria itu terkekeh.


"Nggak ada apa-apa, mau aja." Nania merangkul pundaknya, sementara Daryl kembali menatapnya dalam diam.


"But you look different." ucapnya setelah beberapa saat kemudian.


Dia menyingkirkan helaian rambut yang menghalangi wajah Nania lalu menyelipkannya ke belakang telinga agar dapat menatapnya lebih jelas.


Wajahnya lebih bersinar dari sebelumnya, rambut hitamnya lebih halus dan berkilauan, dan semua yang ada padanya memang tampak berbeda. Dan tentu saja dia lebih cantik dari biasanya.


"Kamu pakai make up ya?" Lalu Daryl menyentuh pipi meronanya yang selembut sutra.

__ADS_1


"Sedikit, kan biasanya juga begitu?" Nania menjawab.


"Ya, but this is still make you look different." Daryl mengucapkan kalimat yang sama.


"Apa aku jadi jelek? Aku datang ke kliniknya Kak Kirana kan niatnya mau perawatan biar tetap sehat dan cantik kayak kata Mama. Tapi kalau misalnya hasilnya nggak bagus, nanti nggak akan lagi deh."


Daryl menyentuh bibir nudenya yang tampak menggoda dengan ibu jarinya. Dia merasakan lembut dan hangatnya, yang segera membuatnya ingin merasainya.


Dia segera menarik leher Nania sehingga bibir mereka segera bertemu. Keduanya saling memagut dengan menggebu-gebu dan segera melupakan tengah berada di mana.


Nania merapatkan dadanya, sementara tangan Daryl sudah menyelinap di belakang.


Dia menyentuh punggungnya yang memanas dan mulai berkeringat, yang segera membuat tubuh Nania menegang.


"Baby, kenapa kamu malah datang di saat seperti ini? Kamu tahu aku tidak akan bisa tahan …." Daryl menghentikan kata-kata ketika Nania kembali mersih ciumannya.


Perempuan itu memagut dengan penuh gairah dan dia dapat merasakan jika cumbuan Nania seperti sedikit menuntut.


"Baby, whats wrong?" Pria itu segera mendorongnya agar berhenti.


Napas Nania menderu-deru dan dadanya naik turun dengan cepat. Terlihat sekali jika dia menginginkan sesuatu.


"Kamu menginginkan sesuatu? Hehe …." Daryl tergelak, dia merasa geli dengan pikirannya sendiri.


Perempuan itu tidak menjawab. Dia hanya ingin menatap wajah suaminya dalam keadaan seperti ini. Ada rasa yang luar biasa semakin bertambah besar di dalam hati semenjak mereka bersama, dan Nania yakin jika itu adalah cinta.


Banyak hal yang telah Daryl lakukan untuknya. Apalagi mengingat masa-masa sulit yang dia hadapi sebelum pertemuan dengannya di tempatnya bekerja. Dan itu tak bisa dibandingkan dengan apa pun.


Pria itu menyelematkannya dari beberapa peristiwa, memberinya cinta kasih yang begitu besar dan melakukan segala hal untuk membahagiakannya. 


Meski mungkin pernah beberapa kali mereka berselisih paham yang membuat hubungan sempat merenggang, namun perasaan di dalam hati selalu bisa kembali menyatukan. 


Dan apa yang dikatakan oleh Kirana beberapa saat yang lalu telah membuka pikirannya menjadi lebih luas lagi. Bahwa begitu banyak cara orang-orang menunjukkan kasih sayang dan rasa cintanya, seperti juga yang dilakukan Daryl untuknya.


Dia banyak bicara, banyak bertindak, dan melakukan banyak hal untuk merefleksikan perasaannya. Termasuk membuat beberapa peraturan yang terkadang membuatnya merasa bosan. 


Memangnya apa lagi? Hanya itulah pilihan paling tepat untuknya. Hidup dengan Daryl Stanislav adalah hal terbaik yang terjadi padanya, dan dia memang harus menerimanya walau apa pun yang terjadi.. Karena pada kenyataannya, pria itu memang bertanggung jawab penuh untuk segala segi kehidupannya.


"What?" Daryl terkekeh lagi, dan dia merasakan dadanya berdebar begitu kencang.


"Nggak apa-apa." Nania mendekatkan mulut ke telinga pria itu. "Aku cuma mau suamiku." bisiknya, kemudian dia mengecup daun telinga Daryl.


"Umm …."


"Dan semua ini …." Lalu dia menarik diri dan kembali menatap wajahnya. "Selain untukku sendiri, juga untuk kamu." katanya lagi, kemudian dia kembali mendaratkan ciuman di bibir Daryl yang segera terbuka begitu mereka saling bersentuhan.


Kedua tangannya kembali merayap di punggung, dan lagi-lagi dia menyelinap di balik kaos. Menghadirkan rasa yang menyenangkan bagi keduanya.


Daryl tentu saja sangat menikmati hal ini, karena dia memang menginginkannya. Dan cara Nania memulai aktivitas itu sangat diluar dugaan.


"But, Baby!" Namun lagi-lagi dia melepaskan cumbuan ketika ingat tentang masa period Nania yang sudah berlangsung selama beberapa hari. Dan itu menjadikannya menahan diri karena sudah bisa dipastikan jika mereka tidak akan bisa melakukanya dengan total.


"Kenapa? Kamu belum selesai?" Nania mengerutkan dahi, dan kali ini dia mulai merasa tak senang.


"Bukan begitu …."


"Terus?"


"Kasihanilah aku! Kamu jangan memberiku harapan palsu, Sayang." Dia memelas.


"Harapan palsu?" Sedangkan Nania membeo.


"Yeah … jangan goda aku terus. Kamu tahu, tanpa digoda pun … umm …."


"Apa?" Perempuan itu sedikit memicingkan mata.


"Ini …." Daryl mengarahkan pandangannya ke bagian bawah tubuhnya yang sudah terasa sesak. Benda di balik celananya rupanya sudah mengeras, dan itu rasanya cukup menyiksa.

__ADS_1


"Eragon bangun." Lalu dia membenahi letaknya sehingga terasa sedikit nyaman. Dan hal itu membuat Nania tertawa pelan. 


"Sementara kamu belum selesai kan?" Dia lantas memberikan isyarat padanya yang kemudian tersenyum.


"Lagi pula aku masih punya pekerjaan, Malyshka. Jadi sebaiknya …." Daryl mendorongnya perlahan sehingga Nania turun dari pangkuan.


"Tunggulah sebentar, aku selesaikan dulu pekerjaanku. Baru setelahnya kita pulang ya?" katanya lagi yang hampir kembali pada pekerjaannya.


"Kamu nolak aku?" Nania yang kini berdiri di sampingnya pun bereaksi.


"Bukan menolak, tapi … aku ada pekerjaan. Dan lagi kamu sedang … itu kan?"


"Hmmm …." Perempuan itu melipat kedua tangannya di dada. "Okelah, kalau gitu aku pulang aja." ucap Nania selanjutnya.


"Tidak, jangan pulang. Tunggu aku sebentar." sergah Daryl yang mendongak kepadanya.


"Ngapain di sini juga? Cuma lihatin orang kerja. Kalau di rumah kan aku bisa rebahan."


"Di sini juga bisa, Malyshka."


"Nggak enak."


"Enak-enak saja. Sofanya besar, jadi kamu bisa tiduran dengan nyaman. Atau kalau mau lebih nyaman kamu bisa tidur di kamar."


"Heem … nggak mau ah." tolak Nania.


"Kenapa?"


"Nggak bisa buka-bukaan." Perempuan itu mundur menjauh.


"What?"


"Buka-bukaan di sini, nanti ada yang ngintip."


Daryl mengalihkan perhatian.


"Lagian sayang baget hasil perawatan di tempatnya Kak Kirana dianggurin gini? Mana mahal lagi, huh! Bela-belain buru-buru pulang dari kampus karena senang juga tamu bulanannya udah selesai."


"Apa?"


"Aku pulang duluan aja ya? Kayaknya kerjaan kamu masih banyak deh, lagian …." Nania menggantung kata-katanya ketika di saat yang bersamaan Daryl bangkit dan melesat ke hadapannya.


"Apa katamu?"


Perempuan itu tertawa. "Aku mau pulang."


"Bukan itu!"


"Kerjaan kamu masih banyak kan? Jadi …."


"Aargghh! Bad girl! Ini bahkan di kantor, tapi kamu menggodaku, hum?" Daryl kembali meraup tubuhnya, sementara Nania hanya tertawa.


"Aku mau pulang, Daddy!" Dia berpegangan keras ketika Daryl mengangkatnya.


"Pulang kepalamu! Kamu harus bertanggung jawab karena sudah membangunkan Eragon!"


"Nggak mau! Aku mau pulang!" Perempuan itu tertawa lagi. Namun hal tersebut tak menghentikan Daryl untuk membawanya masuk ke ruangan khusus di sisi lainnya, dan dia menutup pintunya rapat-rapat.


💕


💕


💕


Bersambung ....


Mt/Nt, tolong kembalikan semangat nulisku! 😥

__ADS_1


__ADS_2