The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Istirahat


__ADS_3

💕


💕


"Tidak ada, Tante Nna sedang istirahat!" Daryl bersedekap di tangga paling bawah ketika Anya dan Zenya hampir saja naik ke kamarnya.


"Aku mau ke atas, Om." Anya hampir saja menyelinap namun Daryl dengan sigap menghalanginya.


"Sudah Om katakan kalau Tante Nna sedang istirahat. Tidak boleh diganggu!" ucap Daryl lagi, yang melebarkan kedua kaki panjangnya.


"Om ih, aku mau ketemu Tante Nna! Sebentar aja, please!" Kedua anak itu dengan mata memelas, berharap sang paman akan mengizinkan mereka berdua untuk naik.


"Tidak!" Namun pria itu menolak.


"Om?"


"Pokoknya tidak!" Dan Daryl sekali lagi menggelengkan kepala.


"Huh, padahal aku kan kangen banget sama Tante Nna, pengen ketemu." Zenya berucap, yang semakin membuat pria itu merasa kesal.


"Mama mu kan ada, kenapa mau ke Tante Nna terus?"


"Udah dibilang kalau Zen kangen Tante Nna. Om tuli ya?" Anya menjawab seenaknya.


"Hey, anak kecil! Berani-beraninya kamu bicara begitu pada orang yang lebih tua?" Daryl sedikit membulatkan kedua matanya.


"Habis orang yang lebih tuanya nyebelin sih?" Gadis kecil itu tidak mau kalah, lalu dia memberi isyarat kepada saudara kembarnya dengan kedipan mata.


"Iya, Om Der nyebelin. Mau ketemu Tante Nna aja nggak boleh. Huh, dasar pelit!" Dan Zenya pun mengerti isyarat tersebut.


Mereka berdua tahu jika sang paman mudah terpancing emosi, dan hal tersebut mungkin akan menguntungkan mereka berdua.


"Apa katamu?"


"Om Der pelit! Maunya sama Tante Nna sendiri doang, aku nggak boleh." ucap Zenya lagi.


"Biarkan saja, Tante Nna kan istrinya Om. Terserah Om lah."


"Tapi juga tante aku sama Anya. Jadi nggak boleh gitu dong." Zenya menjawab.


"Enak saja. Om yang menikahinya masa kalian mau ikut diurus juga? Aturan dari mana itu?"


"Ya aturan aku sama Zen dong." Kedua anak itu hampir kembali menyelinap kearah tangga ketika di saat yang sama Daryl meraup tubuh kecil mereka dengan mudah.


"Oh tidak bisa! Kalian tidak akan mungkin bisa menipu Om!" Dan pria itu menggendong keduanya secara bersamaan.


"Ommm!"


"Dasar bocah-bocah licik!" ujar Daryl seraya membawa mereka berdua kembali ke rumah besar.


"Ampun Om! Turunin! Aku mau ke Tante Nna!" Keduanya berteriak sambil meronta sehingga membuat perhatian orang-orang di rumah besar beralih.


"Om Der! Turunin!"


"Tidak mungkin! Kecuali Mommy dan Papi mengikat kalian dengan kencang agar tidak berkeliaran lagi ke rumah Om sementara Tante Nna istirahat!" Dia membawanya ke ruang tengah di mana seluruh anggota keluarga berada.


"Ada apa ini?" Sofia bereaksi.


"Kak, bisa tidak jika kau menjaga anakmu? Jangan biarkan mereka ke rumahku sebentar saja. Kami baru saja pulang dan Nania kelelahan." Daryl berbicara kepada Dimitri.


"Ya tinggal larang saja, apa susahnya?" Sang kakak menjawab.


"Sudah aku larang, tapi mereka tidak mau mendengar!" Lalu dia menundukkan dua keponakannya di sofa dekat orang tua mereka.


"Anys, Zen?" Dan Dimitri segera meminta penjelasan pada dua anaknya.


"I'm sorry, Papi. Aku cuma mau ketemu Tante Nna." Anya menjawab.


"Me too. i miss her!" Zenya menimpali.


"Apa kalian tidak tahu kalau Tante Nna baru saja pulang?" tanya pria itu lagi.


"Tahu."


"Apa kalian juga tahu jika Tante Nna kelelahan?"


Anya dan Zenya terdiam.


"Tante Nna itu seharian bekerja, jadi pasti sangat kelelahan. Makanya, jangan ganggu Tante Nna dulu ya?" ucap Dimitri dengan penuh kelembutan


"But i miss Tante Nna." Zenya kembali menjawab.


"Papi tahu, tapi biarkan dulu Tante Nna istirahat ya?" Dia menatap dua pasang mata bulat milik anak-anaknya. "Kalau tidak, nanti Tante Nna bisa sakit. Mau seperti itu?"


"Of course no!" Dan Zenya pun menjawab.

__ADS_1


"Makanya. Jangan langsung mengganggu Tante Nna." ucap Dimitri lagi yang seketika membuat kedua anaknya terdiam.


"Understand?" Dia sedikit merunduk.


"Understand." Anya dan Zenya pun mengangguk hampir bersamaan.


"Nah, sekarang main lah di sini saja. Rumah Oma kan luas, jadi kalian bisa main di mana saja. Tapi jangan terlalu ribut ya?" 


Mereka mengangguk lagi.


"Are we clear?"


"Clear."


"Go ahead. But don't go outside or to the back yard, okay?"


"Okay, Papi." Lalu kedua anak itu pun turun dari sofa, kemudian berlari ke ruangan lainnya di rumah tersebut.


"See?" Dimitri kembali menyadarkan punggungnya pada kepala sofa.


"Semudah itu. Tanpa ribut-ribut, marah-marah atau mungkin bertengkar." katanya kepada sang adik.


"Mudah bagimu karena kau ayahnya, Kak." Daryl menjawab.


"Kau pamannya, jadi sudah sepantasnya berbuat begitu juga. Apalagi nanti kau akan jadi ayah juga. Apa jadinya kalau sikapmu begitu pada anak-anakmu? Apa mereka akan baik-baik saja?" Dimitri berceramah.


"Masalahnya anak-anakmu terlalu aktif."


"Ya kan mereka anak-anak. Dunianya hanya bermain, jadi apa pun akan dianggap sebagai permainan. Hanya kitanya saja yang harus berbesar hati untuk mengerti." jawab Dimitri lagi.


"Ah!" Namun sang adik memutar tubuh kemudian pergi dari hadapan mereka.


"Heran sekali Nania bisa tahan dengan orang seperti dia?" Dimitri menggelengkan kepala. "Aku saja kesal dengan sikapnya yang seperti itu."


"Tenang, tenang. Adik siapa itu coba?" Rania menepuk pundak suaminya.


"Iya, adikku. Tapi kenapa dia begitu?"


"Entah. Mungkin di setiap keluarga memang harus ada orang yang seperti Daryl."


"Hmm …."


"Ah, sudah. Lain kali sebaiknya kita berinisiatif jauhkan dulu anak-anak kalau mereka baru pulang. Dari pada malah jadi pertengkaran kan?"


"Kamu seperti yang tidak mengerti saja adikmu?" Sofia menjawab.


"Justru itu, semakin lama aku menjadi semakin tidak mengerti Daryl. Mana ada pria dewasa yang memilih bertengkar dengan anak kecil dari pada mengalah? Bagaimana dia nanti kalau punya anak? Akan berebut Nania? Iya kalau anaknya satu, bagaimana kalau sekaligus tiga?"


"Huss! Jangan bicara sembarangan!" Sofia mengingatkannya. 


"Serius. Bagaimana kalau nanti anaknya banyak? Tidak terbayangkan jadinya." Kemudian dia tertawa, begitu pun dengan yang lainnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kamu pasti capek ya?" Daryl bergeser ketika Nania keluar dari kamar mandi.


Setelah drama keributan dengan anak-anak hingga berhasil mengembalikan mereka ke rumah besar, akhirnya dia pun kembali ke kediamannya sendiri.


"Lumayan. Padahal aku dulu biasa melayani orang banyak waktu kerja di kedainya Ara. Terus kerjaannya banyak lagi. Tapi sekarang kok rasanya lebih capek ya?"


"Mungkin karena kamu sudah lama tidak bekerja?" Daryl kemudian memijat kedua pundaknya dari belakang.


"Bisa jadi. Aku kan nggak ada kerjaan ya selain pergi kuliah." Nania tertawa.


"Ya, benar."


"Aduh … iya, Dadd. Disitu. Iya bener, enak banget!" Perempuan itu memejamkan mata, dan tangannya menunjuk titik yang tengah Daryl pijat.


"Di sana pegal banget kayak yang habis manggul apa gitu." Dia membiarkan Daryl melakukannya.


"Lebih keras, Dadd. Bisa? Kayaknya … ya ya … begitu." Nania mengangguk-anggukkaan kepala ketika Daryl mengeraskan pijatannya. Namun itu membuatnya merasa nyaman.


"Eh, tadi aku kayak denger suara anak-anak ya? Mereka ke sini?" Tiba-tiba saja Nania ingat sesaat sebelum dirinya masuk ke dalam kamar mandi.


"Apa? Tidak." Daryl memiringkan kepalanya sebentar. "Tidak ada anak-anak. Mungkin kamu salah dengar." katanya lagi.


"Masa?"


"Iya."


"Tapi kok kayak jelas banget?"


"Mungkin karena mereka bermain di luar."


"Oh ya? Tapi nggak ke sini?"

__ADS_1


"Tidak."


"Hmm … asli deh itu tadi kayak anak-anak yang teriak."


"Hmm …." Daryl hanya menggumam.


"Udah, Dadd. Udah."


"Apanya?" Daryl memiringkan keplanya lagi.


"Pijatnya udah, cukup. Lama-lama kok sakit ya? Makin sini makin keras aja?"


"Masa? Mungkin hanya perasaanmu saja, hahaha."


"Asli ih, keras banget kayak mijitin apa?"


"Ada yang lebih keras di sini." ucap Daryl yang menghentikan kegiatan tangannya.


"Apaan?"


"Di sini."


"Apa ih, kamu suka nggak jelas?" Nania pun menoleh.


"Umm …." Daryl mengarahkan pandangannya ke bawah, dan Nania mengikutinya.


"Gara-gara memijit pundakmu Eragon jadinya bangun." ucap pria itu lalu dia menyeringai.


"Ah, Eragon mah nggak pegang-pegang juga tetap bagun terus." Nania menatap bagian bawah tubuh suaminya yang tampak sedikit menggembung.


"Memang, hahaha."


"Ya udah …." Perempuan itu bagkit dari tempat tidur.


"Kamu mau ke mana?" Namun Daryl segera menahannya.


"Mau bikin makanan lah, laper."


"Tunggu dulu."


"Mau apa?"


"Sekarang gilitan aku." Pria itu menariknya kembali.


"Giliran apa?"


"Pijat-pijatan?" Dia sedikit tertawa.


"Dih, kirain tadi inisiatif mijitin aku buka karena ada maunya?"


"Oh, tentu tidak, Malyshka!" Pria itu menyeringai.


"Duh, kalau mukanya udah begitu aku curiga kamu mau dipijit yang lain-lain?"


"Nah … itu kamu tahu? Ahaha …." Daryl tertawa lagi.


"Tapi Dadd, akunya kan …."


"Hanya sebentar."


"Nanti deh, sekalian kalau udah makan?"


"Tidak bisa."


"Asli, aku masak sebentar trus kita makan. Habis itu … pijit-pijitan. Hehe."


"No! I want you now!" tolak pria itu.


"Seriusan ini nggak bisa nawar?"


Pria itu menggelengkan kepala.


"Emangnya nggak capek apa seharian di bazar? Harusnya kan istirahat aja?" Dan dengan terpaksa Nania kembali ke tempat tidur.


"Tidak. Dan istirahat bisa nanti setelah ini kan?" Daryl segera menyambut Nania yang naik ke pangkuannya. Lalu mereka mulai bercumbu.


💕


💕


💕


Bersambung ..


Duh, istirahat macam apa itu?😆😆😆

__ADS_1


__ADS_2