The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Acara Keluarga


__ADS_3

💕


💕


"Wahhh, mereka udah bisa jalan?" Nania menyambut kedatangan Amara, Galang bersama dua anak mereka yang sengaja diturunkan dari pangkuan.


Angkasa dan Azura yang dibiarkan berjalan sendiri ke arah Nania meski masih tersaruk-saruk.


"Sini, sama Nenda!" Sementara Nanian berjongkok di dekat tangga sambil mengulurkan kedua tangannya.


Dua balita itu berjalan selangkah demi selangkah sambil tak hentinya tersenyum dan tertawa. Mereka merasa senang mendapat sambutan seperti itu.


"Aaaa … hebat! Kalian udah bisa jalan aja! Kenapa Nenda baru tahu ya? Jarang main ke sini sih." Lalu Nania memeluk keduanya ketika mereka sudah sampai. Dan ciuman karena gemas juga dia daratkan di pipi gembil Angkasa dan Azura.


"Iya, ke Bandung terus ketemu Nini sama Aki kalau liburan." Dygta menyela.


"Oohh, iya ya?" Dan Nania membawa dua balita itu ke dalam di mana mereka sudah berkumpul.


"Padahal kita deketan, tapi jarang ketemu!" Dia masih belum puas menciumi keduanya.


"Daddy, lihat?" Dan Nania membawa mereka ke hadapan Daryl yang sedang berbincang dengan Arfan. Dan tanpa basa-basi dia menyerahkan Angkasa dan Azura kepada pria itu.


"Hey?" Dan Daryl segera memeluk mereka berdua dengan erat.


"Iihh, jangan teriak-teriak deket bayi. Nanti mereka kaget." 


Dan benar saja, dua balita itu segera menangis karena terkejut.


"Tuh kan? Kenapa ih!" Dan Nania menepuk lengan suaminya sebelum akhirnya dia merebut kembali Angkasa dan Azura dari pelukannya.


"Hah, sifatnya nggak hilang-hilang?" Protes Amara yang meminta anaknya kembali, yang salah satunya Nania serahkan. Sementara yang satunya lagi perempuan itu coba untuk menghentikan tangisnya sendiri.


"Dasar bapak-bapak nggak ramah anak!" ucap Amara lagi yang memberikan botol susu kepada Azura, dan hal sama juga dia lakukan kepada Angkasa yang ada dalam dekapan Nania.


Lalu perhatian mereka beralih ketika Darren dan Kirana bersama bayi mereka juga tiba. Dan lengkaplan semuanya karena kehadiran seluruh anggota keluarga pada hari itu.


"Aduuuhh … makin lucu aja ini bayi?" Dan Nania seperti biasa, selalu tertarik dengan hal-hal yang berhubungan dengan bayi dan anak-anak.


Dia juga menciumi bayi enam bulan itu dengan perasaan gemas.


"Lev udah bisa apa sekarang?" Amara bertanya sambil mengusap-usap pipi bayi iparnya itu.


"Baru bisa miring, tapi sebentar. Setelah itu terlentang lagi." Darren menjawab sambil tertawa.


"Dia keberatan badan, lihat pipinya yang tembem dan pantatnya yang besar itu?" Daryl menyahut.


"Eh, dia lucu tahu?" Nania menyela.


"Tapi sepertinya dia kebesaran untuk ukuran bayi enam bulan. Hahaha."


"Nggak ih, itu normal. Bayi emang kayak gitu. Iya kan Kak?" Nania kepada Kirana.


"Ya, begitulah. Padahal menyusunya normal saja, tapi entahlah kenapa bisa sebesar ini?" Kirana pun menjawab sambil tertawa.


"Itu mungkin dari asinya yang sangat bagus. Asalkan Lev sehat, mau besar mau kecil tidak apa-apa." Sofia menyahut percakapan anak dan menantunya.


"Tuh, mau kecil mau besar asal sehat, Daddy!" Nania menoleh kepada suaminya.


"Iya lah, iya. Ahahaha." Dan Daryl tertawa lagi.


"Duh, sayangnya Anya sama Zen nggak ada, kalau ada pasti seru?" Nania mengingat dua keponakan kesayanganya itu.


"Tenang, masih ada tiga bayi ini jadi kamu akan tetap repot mengasuh mereka. Bawa saja ke rumah, jadi kan seru." Daryl berujar, yang membuat mereka semua tertawa.


Acara kumpul keluarga itu memang tak benar-benar lengkap karena absennya keluarga Dimitri. Mereka yang kini berada di Spanyol untuk menemani Rania menjalani balapan terakhirnya sebelum benar-benar pensiun.


"Balapannya sudah mulai!" Darren yang menyalakan televisi besar itu di ruang keluarga, yang membuat semua orang segera berkumpul termasuk anak-anak yang ada bersama mereka.


Layar besar itu menampilkan para pembalap di sirkuit yang bersiap untuk memacu kendaraan mereka demi mendapatkan gelar juara pada tahun tersebut. Tidak terkecuali Rania dengan motor dan race suitnya yang berwarna merah mencolok seperti biasa.


"Dia start di nomor 5?" Darren berujar.


"Ah, tidak heran." Galang menyahut dari sisi kiri. "Curiga dia akan melakukan sesuatu." gumam pria itu yang mendekap Angkasa dalam pelukan.


"Sepertinya ini akan mudah?" Ucap Daryl yang menggenggam minuman kalengnya.


Lalu balapan itu segera dimulai setelah bendera diangkat di garis start. Dan motor-motor dengan kecepatan paling tinggi di dunia itu segera melesat di lintasan memburu posisi paling depan.


Mereka berpacu saling menyalip dan mendahului, lalu saling merebut posisi. Yang diantaranya memang bertarung untuk mendapatkan gelar juara di sesi balapan penutup di tahun itu.


Rania melesat tanpa hambatan di posisi ke empat dan dengan mudah menyalip pembalap di depannya sehingga dia menempati posisi ketiga, sementara 27 pembalap lain dia tinggalkan jauh di belakang.

__ADS_1


Tikungan-demi tikungan, beberapa tanjakan dan dan turunan dilewatinya dengan begitu mudah seolah dia memang sudah mengenal lintasan tersebut.


Dan pada kenyataannya, perempuan 31 tahun itu memang mengenalnya. Hampir 10 tahun bergelut di dunia balap motor membuatnya mengenal semua track yang setiap tahun dilewati untuk kemudian membawanya mendapatkan gelar juara dunia sedikitnya 6-7 kali setiap musimnya. Dan itu membuatnya menjadi salah satu pembalap no 1 di dunia.


"Yaaaah, dia semakin jauh!" Daryl berteriak sepanjang balapan karena melihat iparnya itu terus melesat tanpa ada yang bisa menghentikan.


Bahkan setelah dua puluh lap dia bisa melewati dua pembalap di depannya, dan kini Rania sudah berada di urutan pertama.


"Lima lap lagi. Ran!" Galang juga bergumam. Dan pria-pria yang ada di ruangan itu semuanya bersorak setiap kali Rania melakukan manuver berbahaya di tikungan.


Perempuan itu seperti menempelkan tubuhnya di aspal kala memacu Ducati merahnya dalam kecepatan tinggi. Lalu dia kembali melesat seperti peluru yang dimuntahkan dari senapan berteknologi tinggi.


Para penonton pun sampai berteriak histeris setiap kali dia melewati mereka. Sedangkan yang berada di rumah hanya bisa menjerit penuh kengerian menyimak hal tersebut. 


Di mana Rania benar-benar tidak dapat dikejar lagi apalagi di dua lap terakhir. Dia seperti mengerahkan kecepatan tertingginya yang pernah dilakukan seumur hidupnya mengikuti balapan kelas dunia. 


Komentator bahkan berteriak-teriak dalam bahasa Inggris, dan mengatakan jika pembalap asal Indonesia itu sudah memecahkan rekor baru dan mencatatkan dirinya dalam sejarah dunia balapan sebagai pembalap perempuan dengan kecepatan tertinggi di dunia. 


Dan bersamaan dengan itu, Rania pun benar-benar mencapai garis finish jauh dari pembalap di belakangnya.


"Nah kan, benar?" Dan Galang pun bergumam lagi seiring sorakan pria-pria Nikolai di sekitarnya.


***


"Aku kira kamu ada di mana?" Daryl memasuki rumahnya dan menemukan Nania sedang mengayun-ayun Lev dalam dekapannya.


"Emangnya ke mana? Aku pindah ke sini karena di rumah besar berisik. Kan bayi-bayi jadi ketakutan." Perempuan itu mengusap pipi kemerahan Lev dengan ibu jarinya.


Daryl tertawa.


"Emang balapannya udahan?" Lalu Nania bertanya.


"Sudah. Dan Rania jadi juara lagi." Pria itu mendekat.


"Wow?"


"Sejarah mencatat dia sebagai pembalap perempuan tercepat di dunia karena balapan hari ini. Dan memberikan momen terakhir yang sangat berkesan untuk semua penonton. Apalagi penggemarnya di seluruh dunia."


"Kereeeenn. Terus, pensiunnya jadi?"


"Jadi. Konferensi persnya langsung diadakan setelah dia naik podium."


"Padahal masih bagus ya?"


"Iya juga sih."


Daryl menatap perempuan itu yang duduk tapi masih mendekap keponakannya yang masih bayi.


"Dia sudah tidur, kenapa tidak ditidurkan saja di kasur? Atau berikan kepada ibunya?" Dia kemudian berkomentar melihat istrinya yang meringis karena sudah terlalu lama mendekap bayi itu.


"Baru sebentar. Lagian kasihan Kak Kirana dari tadi megang dia terus."


"Ah, bagaimana bisa tanganmu yang kecil ini memegang bayi sebesar Lev? Sini, gantian." Lalu Daryl meminta Nania memberikan Lev kepadanya.


"Jangan ah, nanti nangis." Namun Nania menolaknya.


"Tidak akan, dia kan sudah tidur?"


"Tetep aja, kamu kan nggak biasa megang bayi?"


"Kamu juga sama." Daryl duduk di sampingnya.


"Beda lah. Tangan kamu keras."


Daryl mencebikkan mulutnya.


Kemudian Darren datang dan meminta putranya. "Kirana menyuruhku membawa Lev." katanya sambil mengulurkan tangan.


"Baru aja tidur?"


"Tidak apa-apa, dia juga harus menyusu. Kasihan Kirana kebanjiran." jawab Darren sambil meraih tubuh Lev dari dekapan Nania.


"Apanya yang kebanjiran?" Daryl bertanya.


"Asinya." Darren menjawab lagi.


"Apanya?"


"Asi."


Daryl mengerukan dahi.

__ADS_1


"Tidak usah dipikirkan, kau tidak akan mengerti." ucap Darren yang segera membawa putranya kembali ke rumah besar.


"Memangnya asi bisa banjir ya?" Daryl kemudian bergumam.


"Bisa."


"Kenapa?"


"Kalau bayinya lama nggak menyusu."


"Memangnya di dalam sana banyak air sus*nya?" Pria itu menatap dada Nania lekat-lekat.


"Ada kalau udah waktunya menyusui."


"Kok punyamu tidak ada?"


"Ya nggak lah, kan belum bisa menyusui bayi."


"Sunny?"


"Dia kan keluar sebelum waktunya, jadi ya nggak ada."


"Hmm …." Daryl berpikir.


"Daddy?"


"Ya?"


"Nanti setelah tiga bulan aku jangan pakai kb lagi ya?" Mereka menatap pintu yang terbuka.


"Memangnya mau hamil? Kamu kan kuliah."


"Kamu bilang boleh."


"Iya, tapi apa tidak akan mengganggu kuliahmu?"


"Kayaknya aku bisa. Kalau hamil aku nggak akan ambil banyak kegiatan ah."


"Yakin?"


"Hu'um. Aku mau punya yang kayak Lev. Kan lucu." Nania menyandarkan kepalanya pada pundak Daryl.


"Lucu kepalamu? Dia gemuk."


"Iya, gendut-gendut lucu. Sama kayak Angkasa dan Azura."


"Ya kalau tidak mengganggu kuliahmu, lepas saja."


"Beneran ya?" Perempuan itu mendongak sambil tersenyum.


"Ya."


"Asiikk!!" Lalu dia memeluk pinggang suaminya.


"Bagaimana kalau kita mulai sekarang?" tawar Daryl sambil menyeringai.


"Mulai apa?"


"Program anak."


"Kan akunya masih di kb?"


"Tapi mulai prosesnya dari sekarang juga bisa." Pria itu tertawa.


"Dih, tiap hari itu mah."


"Ya kan, memang begitu."


"Nggak ah, di rumah besar kan lagi banyak orang." Nania bangkit dan hampir saja pergi meninggalkan Daryl. "Kan nggak enak kalau …." Namun pria itu menarik tangannya.


"Mereka kan di rumah besar, sementara kita di sini?" Lalu dia pun bangkit dan tanpa aba-aba mengangkat Nania di pundak.


"Daddy!!" Yang membuatnya tak bisa melakukan apa-apa selain diam saja ketika Daryl berlari membawanya ke kamar mereka di lantai dua.


💕


💕


💕


Bersambung ....

__ADS_1


Anu ...🤭


__ADS_2