The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Percakapan Orang Tua


__ADS_3

💕


💕


"Sayang?"


"Ya?"


"Kamu masih mengawasi anak-anak?" Dygta menyingkap selimut kemudian naik ke tempat  tidur di mana suaminya berada.


"Masih. Kenapa?" Arfan melepaskan kacamata baca juga mematikan laptopnya.


"Apa ada yang aneh dengan kegiatan mereka akhir-akhir ini?" Perempuan itu bergeser mendekat.


"Tidak ada. Mereka sekolah, belajar dan menjalankan kegiatan ekstra kulikulernya seperti biasa."


"Kamu yakin?"


"Ya, ada apa?"


Dygta terdiam.


"Kamu membuatku khawatir, Sayang. Ada apa?" Arfan meletakkan laptopnya di atas nakas kemudian memfokuskan perhatian kepada istrinya.


"Masa pubernya Ann sudah lewat kan ya?" Perempuan itu kembali berbicara ketika pikirannya mengingat banyak hal.


"Bukankah dia hampir delapan belas tahun? Tentu saja sudah. Haid pertamanya aku ingat, waktu itu kelas satu SMP dan aku yang membelikan pembalut untuknya. Mimpi basah pertamanya  Arkhan saja aku tahu karena dia yang mengadu sendiri, kan?" Arfan tertawa.


Dia tidak akan pernah lupa bagaimana anak-anaknya sering mengadu perihal apa yang mereka alami, dan dirinya memang tidak pernah melewatkan masa-masa penting dalam perkembangan mereka termasuk soal urusan pribadi hingga ke yang paling jarang diutarakan oleh siapa pun.


"Ish, bukan soal itu!"


"Lalu apa maksudmu bicara soal masa pubernya Ann?"


"Apa dia sudah mulai suka lawan jenis? Atau mungkin punya pacar?" Dygta memperjelas maksudnya.


"Aku rasa belum."


"Kamu yakin?"


"Ya. Kegiatannya normal-normal saja dan tidak ada yang melenceng dari biasanya."


Dygta terdiam lagi.


"Atau ada yang aku lewatkan?"


"Entahlah, rasanya …."


"Kalau pun iya, memangnya kenapa? Bukankah punya rasa suka terhadap lawan jenis itu adalah hal yang normal? Yang harus kita khawatirkan adalah ketika anak-anak tidak punya rasa suka itu. Karena bisa jadi anak kita tidak normal." Arfan berujar.


"Kamu jangan bicara sembarangan, itu membuatku takut."


"Aku rasa kita sudah memberikan pendidikan yang benar terhadap anak-anak. Moral, kejiwaan, dan mereka tinggal di lingkungan yang kondusif. Meski pergaulan kadang paling mempengaruhi, tapi aku yakin mereka sudah tahu batasan."


"Benar tidak apa-apa kalau Ann punya pacar?"


"Bukan punya pacarnya yang tidak apa-apa, tapi suka lawan jenisnya. Kalau soal pacar akan aku perketat pengawasan untuknya."


"Huh, aku pikir kamu mulai melunak?" Dygta bergumam.


"Memangnya kenapa? Kamu tahu jika dia punya pacar?" Arfan kini tampak serius.


"Tidak tahu, makanya aku tanya kepadamu. Kan kamu yang selalu mengawasinya?"


"Aku pastikan tidak, tapi kalau tanda-tandanya sudah kelihatan sepertinya aku harus mulai menugaskan seseorang untuk mengawasi lebih dekat."


"Kamu serius akan melakukan itu?" Dygta tertawa.


"Ya, tentu saja."


"Yakin?"


"Memangnya kenapa?"


"Bukan malah akan membuat Ann lebih dekat dengan pengawasnya?"


"Maksudmu?"


"Bagaimana jika nantinya dia malah dekat dengan orang yang kamu tugaskan?"

__ADS_1


Arfan mengerutkan dahi.


"Mama dan Papi juga dulu menugaskanmu untuk mengawasiku, dan lihat hasilnya? Empat anak lahir setelahnya." Perempuan itu tertawa lagi.


"Itu lain lagi ceritanya." Arfan memutar bola matanya.


"Tapi bagaimana jika iya? Aku hanya berandai-andai …."


"Diamlah!" Arfan menutup mulut Dygta dengan tangannya.


"Ini khayalanku saja." Perempuan itu menyingkirkan tangan suaminya. "Bagaimana jika Ann atau Arkhan berjodoh dengan salah satu pegawainya Papi, atau Dimitri. Apa itu akan mengulang cerita kita?"


"Jangan bicara soal itu sekarang. Mereka bahkan belum lulus SMA."


Dygta kembali tertawa.


"Apa yang lucu soal itu sehingga kamu tertawa begitu kerasnya? Baru memikirkannya saja aku sudah merasa kesal."


"Kamu bahkan lupa kapan kita saling menyadari perasaan. Dan aku menunggu datangnya hari itu kepada anak-anak kita. Karena bisa saja lebih cepat atau lebih lambat."


"Aaaa stop! Jangan bicarakan soal itu sekarang!" Arfa menutup telinga dengan kedua tangannya.


"Aku sedang mencoba untuk tidak memikirkannya karena ingin anak-anakku hidup normal tanpa aku mengekang mereka. Karena itu jadi hal yang cukup menakutkan sekarang."


"Aku tidak ingin anak-anakku memberontak karena semua aturan keras dan apa yang pernah aku terapkan kepada Ara, karena mungkin hasilnya tidak akan sama." Arfan berpikir.


"Zamannya sudah berubah kan? Dan karakter anak kita berbeda. Mereka tidak se penurut Ara. Aku bahkan melihat jika Arkhan sepertinya lebih keras kepala dari yang lainnya. Tapi entah dengan Asha dan Aksa."


"Lalu apa yang akan kita lakukan jika hal itu memang terjadi?" Dygta kembali berbicara.


"Apa?"


"Ann atau Arkhan punya pacar?"


"Entahlah, aku tidak siap dengan hal ini!" Arfan meremat rambutnya seraya menjatuhkan kepala di atas bantal. Baru membayangkanya saja dia sudah merasa frustasi.


"Aku lihat media sosialnya Arkhan, dan banyak gadis-gadis memberikan pesan cinta kepadanya."


"Kamu mengawasi Arkhan?"


"Aku bisa masuk semua media sosialnya."


"Benarkah?"


"Lalu bagaimana tanggapannya?"


"Tidak ada yang dia respon."


"Masa?"


"Sejauh ini begitu."


"Lalu Ann?"


"Sama."


"Kamu menyadap media sosial anak-anak?" Arfa sedikit menjengit.


"Tentu saja." Dygta menjawab dengan sedikit tawa.


"Dari mana kamu dapat ide semacam itu?"


"Dari mana lagi kalau bukan darimu?" Perempuan itu memutar bola matanya. "Itu juga kan yang kamu lakukan kepadaku dulu?"


"Umm …."


"Setidaknya untuk sekarang ini anak-anak masih aman."


"Yang aku tahu juga begitu."


"Tapi entah kalau misalnya ada cara berkomunikasi selain apa yang kita tahu sekarang ini."


"Memangnya ada?"


"Sejauh ini belum."


Dua orang itu sama-sama terdiam.


"Sayang, apa kita akan berhasil mengurus anak-anak?" Kemudian Dygta berbicara lagi.

__ADS_1


"Berhasil atau tidak kita tidak akan tahu. Tapi yang penting kita sudah berusaha melakukan yang terbaik." Arfan dengan pikirannya yang menerawang jauh.


"Apa kita sudah melakukan yang terbaik untuk anak-anak?" Dygta menurunkan tubuhnya sehingga dia sejajar dengan suaminya.


"Aku rasa iya, kita melakukan apa yang kita mampu kan? Dan hasilnya bisa dilihat nanti."


"Dan aku harap memang iya. Aku takut kita gagal meski sejauh ini kita sudah bekerja keras untuk mereka." Dygta menyurukkan kepala di dada suaminya.


"Aku harap juga begitu." Sedangkan Arfan memeluk tubuhnya seperti biasa.


"Sayang?"


"Hum?"


"Nanti kita akan jadi nenek dan kakek ya?" Dygta terkekeh pelan mengingat hal tersebut.


"Kita kan sudah jadi nenek dan kakek dari anaknya Ara?"


"Iya, nanti akan bertambah dari Ann, Arkhan, Asha dan juga Aksa."


"Ya memang harusnya seperti itu kan?"


"Kita semakin tua." Dygta melingkarkan tangannya pada tubuh hangat suaminya.


"Tidak, aku yang tua. Sedangkan kamu masih muda." Arfan menjawab ucapannya.


"Benarkah?" Lalu perempuan itu mendongak dan dia menatap wajahnya.


"Ya, tidak lihat aku yang …."


Dygta menutup mulut Arfan untuk menghentikan apa yang dia katakan. "Sudah aku bilang kita sama dalam hal ini. Kamu 35 dan aku juga 35." Dia memindai wajah suaminya.


"Khayalanmu terlalu mustahil, Sayang." Dan Arfan menyingkirkan tangan perempuan itu dari mulutnya.


"Tidak, karena aku memang merasa seperti itu."


Pria itu terkekeh seraya menyingkirkan helaian rambut dari wajah istrinya.


"Kita akan selalu bersama kan? Melihat anak-anak tumbuh dewasa hingga mereka berhasil mencapai impiannya masing-masing."


"Aku harap begitu."


"Jangan berharap, tapi harus." Perempuan itu bergeser hingga jarak wajah mereka hanya beberapa senti saja. Lalu bibir keduanya bertemu lalu saling memagut mesra.


"Sayang, apa kamu mau melakukan sesuatu?" Dygta sedikit berbisik, kemudian tertawa pelan.


"Hanya jika kamu juga mau." Arfan merangkul pinggangnya lalu menarik tubuh perempuan itu hingga mereka saling menindih.


"Baiklah, sepertinya aku juga mau. Bukankah beberapa hari ini kamu sangat sibuk sampai-sampai mengabaikan aku?" Dygta melepaskan pakaiannya satu persatu sehingga tampaklah semua yang ada dibaliknya. Yang membuat Arfan merasakan debaran seperti ini pertama kalinya dia melihat hal tersebut.


Usia mereka memang tak semuda dulu, namun perasaan yang ada masih tetap sama atau bahkan lebih dari sebelumnya.


"Aku tidak mengabaikanmu, hanya saja pekerjaanku cukup banyak akhir-akhir ini." Arfan pun bangkit dan dia melakukan hal yag sama.


"Dari dulu alasanmu juga begitu."


"Kalau tidak begitu bagaimana aku akan mengurusmu dan anak-anak kita?"


Dygta kembali duduk di pahanya dengan kedua tangan yang melingkar di pundak Arfan yang masih cukup kokoh itu.


"Hmm … sudah cukup, Papa. Jangan bekerja terlalu keras." Dia kembali berbisik di telinga suaminya.


"Tidak, Mereka belum lulus kuliah."


"Tapi setidaknya, jangan sekeras dulu. Kalau begitu aku …." Dygta menahan napas ketika sesuatu menerobos inti tubuhnya.


"Kalau tidak keras aku juga tidak bisa …." Lalu Arfan menekan pinggulnya saat milik mereka sudah benar-benar bertautan.


"Harus tetap bergerak, Sayang!" Pria itu berbisik dan kedua tangannya meremat bokong Dygta, sehingga mereka bergerak bersamaan untuk mendaki ke puncak percintaan.


💕


💕


💕


Bersambung ...


Hadeh, Papa dan Mommy back in action 🙈🙈

__ADS_1


__ADS_2