
💕
💕
"Ketemu di SMP ya? Kok aku nggak ingat?" Otak Nania masih berputar keras mengingat percakapan terakhirnya dengan Mahendra.
"Emangnya waktu itu ngapain aja? Cuma Ospek? atau pernah ngelakuin hal lain?" Namun langkahnya tetap terayun melewati keramaian menuju gerbang.
"Ah! Kenapa nggak ingat sama sekali? Otakku masa penuh sama kenangan pahit sih?" Nania menepuk-nepuk kepalanya sendiri.
"Eh? Kamu kenapa?" Mahira tentu saja bereaksi karena hal tersebut.
"Eee … aku … nggak. Hehe." jawabnya, dan dia segera mengalihkan pikirannya dari Mahendra.
Eh, kenapa aku malah mikirin orang itu? Batinnya saat dia melintasi sebuah kerumunan, yang isinya siapa lagi kalau bukan para senior yang sengaja menghabiskan waktu pulang pada sore hari itu untuk bersenda gurau sebelum berpisah. Dan Mahendra ada di antara mereka.
"Cie cie cie … ketemu ayang." celetuk salah satu dari mereka.
"Tapi sayang, ayangnya udah punya pawang." ucap yang lainnya dan membuat mereka semua tertawa.
Beberapa di antaranya bahkan ada yang memukul atau mendorong bahu Mahendra sambil mengejeknya.
"Diem, pea!" Pria dengan rambut gondrong itu menggerutu kesal.
Dan hal tersebut membuat Nania mempercepat langkahnya. Apalagi ketika dia melihat Rubicon milik suaminya yang baru saja tiba.
"Eh, papa aku juga udah nunggu." Lalu Mahira menunjuk ke sisi lain ketika dia juga melihat mobil yang dikenali sebagai milik ayahnya.
"Oh, oke."
"Aku duluan ya? Nggak apa-apa?" pamitnya kepada Nania.
"Nggak apa-apa, sana cepet pulang." Perempuan itu pun memberikan jawaban, lalu dia melambaikan tangannya saat Mahira menjauh.
Senyum segera mengembang begitu Daryl turun dan berjalan memutar ke arahnya. Dan perasaannya membuncah bahagia saat pria itu mendekat. Sehingga Nania tidak tahan untuk berlari kepadanya pula.
"Wow, wow, wow … easy!!" Dan pria itu segera menyambutnya dengan pelukan.
"Sepertinya kamu sangat merindukan aku, Malyshka?" Daryl segera membenamkan tubuh kecilnya dalam pelukan.
"Apa benar begitu?" tanyanya yang mengecup puncak kepala Nania.
Dan perempuan itu menjawabnya dengan anggukkan pelan.
"Baik, padahal baru satu hari aku tidak menemanimu berjualan ya? Tapi kamu susah serindu ini?"
Nania mengangguk lagi, yang membuat Daryl terkekeh senang.
"Baiklah, ada apa?" Lalu pria itu bertanya.
"Nggak kenapa-kenapa, cuma kangen aja." Nania pun mendongak dan menatap ke dalam manik kecoklatan milik suaminya.
"Realy?"
"Iya, ayo kita pulang?" ajaknya, dan lagi-lagi dia menyunggingkan senyum.
"Baiklah … aku rasa aku mulai takut. Hahaha … aneh sekali kamu hari ini." ucap pria itu yang kemudian menarik Nania ke dekat mobilnya.
Dibawah sorot mata antara kagum, aneh, dan canggung orang-orang yang berada di sana, nyatanya pria itu memang memperlakukan Nania dengan begitu manis.
Membukakan pintu mobil untuknya, lalu memastikan dia sudah masuk dan duduk dengan benar sebelum menutup pintu. Kemudian membuatnya merasa nyaman sebelum akhirnya dia membawa perempuan itu pergi. Yang tentu saja selalu menjadi hal yang paling banyak diperbincangkan di beberapa kalangan mahasiswa yang sempat melihat interaksi tersebut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Daddy, nanti rooftopnya aku beresin lagi ah. Kayaknya bagus kalau dibikin tempat nongkrong." Nania membawa dua piring berisi makanan yang dibuatnya barusan.
Setelah beristirahat sebentar, lalu membersihkan diri, mereka memutuskan untuk membawa makanan ke area lantai tiga rumah yang jarang ditempati.
"Buat nongkrong siapa? Memangnya ada yang mau kamu undang?" Daryl meraih piring-piring dari tangan Nania, kemudian meletakkannya di meja.
__ADS_1
"Bukan, ya buat kita aja lah. Kan enak kalau di sini di beresin. Jadi tempat ngabisin waktu, apalagi sore-sore kayak gini." Nania menatap langit di ufuk barat yang menyemburat orange kemerahan tanda hari akan segera berganti malam.
"Hmm … terserah kamu saja." Dan Daryl memulai kegiatan makannya.
"Chicken steaknya enak nggak? Aku nemu resep ini di You Tube." Nania pun duduk di sampingnya.
"Enak seperti biasa. Apa pun yang kamu buat selalu enak." Daryl menjawab.
"Ugh! So sweet." Lalu perempuan itu menyentuh dagu suaminya yang tampak terbelah setiap kali dia tersenyum.
"Hanya sisakan saja sudut itu untuk membuat bak mandi." Daryl menunjuk satu sudut yang masih kosong di area itu.
"Apaan? Bak mandi?" Membuat Nania menghentikan kegiatan makannya.
"Ya. Aku rasa ada kolam atau bak mandi di atap itu akan terasa bagus."
"Kamu gila!"
"No. It's kind a good. Bayangkan kita sesekali berendam di alam terbuka, sepertinya itu akan sangat menyenangkan." Pria itu tertawa sambil mengunyah makanannya.
"Masa di rooftop ada bak mandinya?"
"Bukan bak mandi, Malyshka. Tapi bak untuk berendam."
"Sama aja Dadd, judulnya bak yang ada airnya."
Daryl tertawa lagi.
"Aku kan ingin mencoba sesuatu yang lain. Karena sepertinya sensasinya akan terasa berbeda." Pria itu setengah berbisik.
"Ah, pasti urusannya sama yang mes*m-mes*m ini mah?" Lalu Nania kembali memotong daging ayam panggang yang dia beri bumbu spesial itu.
"Sudah tahu begitu."Â
Nania hanya memutar bola matanya.
"Oh iya, hari ini aku dapat undangan reuni dari teman SD." Daryl berbicara lagi setelah kegiatan makannya selesai.
"Apa kamu mau ikut?"
"Yang di undang kan kamu, masa ngajak aku?"
"Ya kalau kamu mau ikut aku sepertinya mau pergi."
"Emangnya temen-temen di SD masih ingat ya? Aku aja temen SMP udah lupa."
"Mungkin. Entahlah, aku juga kan pindah di kelas tiga. Kenapa juga mereka mengundangku?"
"Ah, mungkin karena kamu spesial. Jadinya kamu diingat terus." Kini Nania yang tertawa.Â
"Maksudnya?"
Perempuan itu menggelengkan kepala. "Kamu masih ingat mereka? Padahal kamu bilang pindah di kelas tiga, apa mungkin di umur segitu orang-orang akan ingat pertemanan?"
"Umm … aku hanya ingat ada Sherin yang sering mendekatiku dan Darren. Atau ada Maya yang sering minta diajari matematika. Juga ada Raihan yang sering mengajak bermain bola. Selebihnya entah …."
"Wah … masih ingat! Aku sih udah lupa sama temen-temen di SD, SMP …." Nania kembali mengingat-ingat.
"Memori aku kayaknya kepenuhan sama hal lain deh." Perempuan itu tertawa. "Kak Mahen aja bilang kalau kita sebenarnya kenal waktu di SMP, dan dia sempet jadi kakak kelas aku. Tapi akunya malah nggak ingat. Hahaha … kasihan dia nggak ada di ingatan aku."
"Apa?"
"Umm … nggak apa-apa, bukan hal besar, kan? Cuma orang-orang dari masa lalu." Nania membereskan peralatan makan yang sudah kosong.
"Kamu masih mau di sini?" Lalu dia kembali setelah beberapa saat.
"Yeah, duduklah. Kita bicara." Daryl menepuk kursi yang tadi Nania duduki.
"Bagaimana penjualan hari ini? Aku dengar agak sepi ya?" Lalu dia kembali memulai percakapan.
__ADS_1
"Iya. Mungkin karena awal minggu. Biasalah, namanya juga jualan. Kadang rame kadang sepi. Kadang laku kadang juga nggak laku. Dan mental kita diuji di saat kayak gini."
Daryl tersenyum sambil mengusap-usap tangan Nania. "Dan kamu sudah mengerti tentang hal-hal seperti itu."
"Ya, bertahun-tahun kerja di banyak tempat bikin aku ngerti, kalau nggak semua hal bisa kayak yang kita rencanain."
"Hmm …."
"Eh, kita udah lama nggak lihat Sunny ya? Mungkin rumputnya udah tinggi?" Nania tiba-tiba saja teringat anak mereka.
Dia lantas menatap hutan buatan di area belakang yang tampak menghitam seiring hari yang beranjak kian gelap.
"Setiap minggu Pak Maman bersihkan."
"Iya, kok aku lupa?"
"Sunny pasti mengerti kalau Mommy dan Daddy nya sibuk."
"Hmm …."
"Apalagi, dia pasti tahu kalau mommy dan daddy sedang berusaha memberinya adik."
Nania tertawa.
"Apa? Benar kan? Kita sedang sangat sibuk. Kamu sibuk belajar, aku sibuk bekerja. Lalu saat pulang kita sibuk membuat adiknya Sunny."
Nania menepuk bahu suaminya, kemudian melingkarkan kedua tangannya di sana.
"Kalau ada, dia pasti udah jalan ya?" katanya, mengira-ngira apa yang mungkin terjadi jika semua berjalan sesuai rencana.
"Ya, mungkin sudah lebih cepat dari Lev." Daryl pun merangkul pinggangnya sehingga mereka begitu dekat.
"Wajah sama rambutnya mungkin kayak kamu. Alis sama matanya juga."
"Terus yang mirip kamu apanya?"
Nania mendongak. "Nggak tahu."
"Mungkin rengekannya?"
Mereka berdua tertawa.
"Daddy?"
"Hum?"
"Ayo kita bikin adiknya Sunny?" ajak perempuan itu.
"Apa?"
"Kita bikin adiknya Sunny." ulang Nania yang tertawa pelan.
"Oh, ayooo …." Dengan semangatnya Daryl merangkul tubuh perempuan itu, lalu dia mengangkatnya semudah biasanya.
"Mau bikin berapa? Dua, tiga, empat, lima?" Dia melenggang ke arah dalam.
"Berapa aja, yang banyak." Nania terus tertawa.
"Baik, sebanyak yang kita bisa?"
"Oke."
Pria itu mendorong pintu dengan ujung kakinya, membawa Nania masuk kemudian menutup benda itu dengan cepat. Dan dengan tergesa segera menuju kamar mereka di lantai dua.
💕
💕
💕
__ADS_1
Bersambung ...