The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Idenya Ann


__ADS_3

💕


💕


"Oke adik-adik, kalau udah selesai nulisnya bisa dibersihkan sekarang ya? Ingat, minggu depan dikumpulin lagi kayak biasa." Anandita mengakhiri sesi mengajarnya siang itu.


Dan anak-anak tersebut melakukan apa yang dia perintahkan.


"Lho, itu siapa? Mau pada ngapain ke sini?" Perhatian mereka teralihkan saat beberapa remaja tiba di depan teras, lalu seorang relawan yang berada diluar bergegas masuk.


"Ada yang mau les, tapi ini anak-anak SMP." katanya, menginformasikan.


"Apa?"


"Katanya mereka dari SMP sebelah dan butuh tempat untuk belajar karena sebentar lagi akan ada ujian."


"Ohh … apa kita bisa?" Nania bertanya kepada Lisa.


"Hari ini sudah selesai, mungkin bisa dilanjut siang. Itupun kalau ada yang mau ngajar." Lisa pun menjawab.


"Kita nggak bisa kalau mengajar lebih dari jam 12 ya?" Nania bertanya lagi.


"Sebenarnya kalau sudah ada jadwalnya bisa-bisa saja, tapi berhubung kita belum punya jadwal, dan karena selama ini yang kita tangani kebanyakannya anak SD, jadi ya belum ada."


"Hmm … jadi nggak ada yang bisa?"


"Kita masing-masing sudah punya janji di luar rumah baca dan tidak bisa dibatalkan." jawab Lisa lagi.


"Dadd, kita bisa tetap di sini nggak? Kasihan mereka sudah datang jauh-jauh?" Nania bertanya pada suaminya yang duduk di sofa sudut tuangan seperti biasa.


"Sebenarnya aku juga sudah punya rencana, Sayang."


"Umm … nggak bisa dibatalin ya?"


Daryl menggelengkan kepala. "Bukankah kamu ada janji dengan orang dari pabrik untuk melihat desain botol parfumnya?" Pria itu mengingatkan.


"Oh iya, jadi kita nggak bisa ya?"


"Sepertinya tidak. Kan kamu sendiri yang bilang kalau ingin melihatnya secara langsung?"


"Iya juga." Lalu dia melihat ke arah Anandita.


"Aku free kalau Tante mau aku yang ngerjain. Aku nggak akan pergi ke mana-mana." Gadis itu berujar.


"Emang kamu bisa menangani anak SMP?" Sang paman bertanya.


"Belum tahu, kan belum pernah ngajar. Tapi kayaknya nggak jauh beda sama tadi. Cuma materinya aja kan?"


"Serius mau diterima? Kenapa tidak mulai minggu depan saja agar semuanya bisa kita siapkan dengan benar juga?" ucap Daryl lagi, lalu Nania dan Anandita menoleh.


"Mereka kayaknya sudah dateng jauh-jauh deh Om? Kasihan. Nggak apa-apa, biar aku aja." jawab Anandita lagi.


"Om dan Tantemu akan pergi lho."


"Iya, kalau mau pergi ya pergi aja."


"Nanti kamu sendirian di sini?"


"Ada pengurus rumah baca."


"Pulangnya?"


"Ada  Om Regan." 


Pria yang dimaksud menoleh saat mendengar namanya disebut.


"Regan antar Om." Daryl pun menjawab.


"Ada ojek online, Om. Bisa order. Atau telpon sopirnya Opa juga bisa."

__ADS_1


"Memangnya kamu mau pulang ke rumah besar?"


"Iyalah, ke mana lagi? Mama sama Papa kan pergi ke Bogor. Kali pulangnya besok."


"Serius tidak apa Om tinggal?"


"Iya, nggak apa-apa. Lagian pulang sekarang juga mau ngapain di rumah? Paling ngobrol sama Oma dan Opa."


"Ya sudah, ini pilihanmu lho ya?"


Anandita menganggukkan kepala. Kemudian dia mempersilahkan anak-anak itu untuk masuk. Sementara orang lain sudah pergi berurutan.


***


"Bapak pikir, Ann bisa menangani anak-anak itu sendirian?" Regan menatap ke dalam rumah baca lewat kaca jendela, di mana Anandita yang sudah mulai beramah tamah kepada anak-anak yang baru saja tiba itu berada.


"Dia bilang kan begitu."


"Apa tidak sebaiknya kita menunggunya dulu?" Regan memberanikan diri untuk mengemukakan pendapat.


"Tapi kami sudah ada janji dengan orang pabrik."


"Tidak bisa diundur, Pak?"


"Waktunya sudah mepet, Regan." Daryl menatap jam di pergelangan tangannya.


"Oh, baiklah." Lalu pria itu melenggang ke arah pintu pagar yang terbuka lebar.


"Kayaknya Regan mending nunggu di sini deh, kasihan kan masa Ann sendirian?" Nania akhirnya bersuara.


"Kamu pikir begitu?"


"Iya. Masa Ann ditinggal sendirian? Kalau ada apa-apa gimana?"


"Ada apa-apa bagaimana? Memangnya dia itu kamu yang selalu menarik huru-hara?" Daryl tertawa sambil membuka pintu mobilnya untuk Nania.


"Aku bercanda, Sayang."


Nania tampak mengerucutkan mulutnya.


"Jangan begitu, nanti aku gemas dan ingin menciummu!" Pria itu kembali tertawa seraya menepuk bokongnya.


"Baiklah kalau begitu, mungkin sebaiknya kita memang membiarkan Regan di sini."


"Iya kan?"


"Hmm …." Daryl menggumam, lalu dia beralih ke kursi depan. "Sebaiknya kau di sini saja temani Ann. Biar aku yang mengemudi sendiri ke pabrik." ucap Daryl kepada bawahannya.


"Maaf Pak?" Dan Regan yang sedang menghidupkan mesin mobil pun menoleh.


"Kau di sini saja, aku pergi berdua dengan Nania." ulang Daryl yang membuka pintu bagian pengemudi, sementara Nania memutar ke arah kiri.


Dan tak ada yang Regan lakukan selain menuruti perintah atasannya.


"Jaga keponakanku ya? Jangan sampai dia dalam kesulitan." Mereka masuk ke dalam mobil, kemudian segera pergi.


"Memangnya selama ini apa yang aku lakukan?" Regan menggumam, lalu dia kembali ke dalam area rumah baca.


***


Anandita selalu bersemangat seperti biasa. Dia begitu luwes menjelaskan materi pelajaran. Dan dengan diselingi canda tawa membuat suasana belajar hari itu menjadi cukup menyenangkan.


Memang seperti biasa juga begitu, dan hal tersebutlah yang membuat anak-anak merasa nyaman dan mereka terus kembali belajar ke Rumah Baca Nania, dan sekarang anggotanya terus bertambah di hari Sabtu saat bagian gadis itu yang mengajar.


Dan Anandita seperti yang tidak pernah kehabisan energi untuk berbicara sehingga apapun yang keluar dari mulutnya terdengar penuh semangat.


"Oke temen-temen, kayaknya pelajaran sampai disini dulu. Materinya yang aku punya kurang lengkap untuk hari ini karena kegiatan kitanya kan dadakan ya? Nanti bisa dilanjut lagi minggu depan kalau mau." Lalu dia mengakhiri aktivitasnya setelah kurang lebih satu jam berlalu.


"Aku janji Sabtu depan materinya nambah biar kalian lebih ngerti." katanya lagi saat anak-anak itu membereskan alat tulis mereka.

__ADS_1


"Terus kalau misalnya ada yang butuh apa-apa bilang aja ya, biar nanti kita sediain."


"Ya Kak." jawab salah seorang di antara mereka sebelum akhirnya semua orang berurutan pergi.


"Sudah selesai?" Regan pun masuk setelah menunggu di teras.


"Lah, aku pikir Om pergi?" Gadis itu tentu saja merasa terkejut dengan kaberadaannya.


"Pak Daryl meminta saya untuk tetap tinggal." Dan Regan pun berjalan mendekat.


"Padahal nggak usah, aku kan bisa sendiri." Namun hal tersebut membuat Anandita salah tingkah.


"Saya bilang juga begitu tadi, tapi Pak Daryl memaksa." bohongnya, seraya mulai membereskan kursi dan beberapa barang lainnya.


Entah mengapa dia merasa harus melontarkan kata-kata tersebut kepada gadis itu, padahal tak ada faedahnya juga. Meski sebelumnya dia sempat merasa khawatir juga jika meninggalkannya sendirian di tempat itu.


"Lah, bukannya tadi kita naik mobilnya Om Der ya?" Kini mereka sudah berada di luar dan hampir masuk ke dalam mobil Regan. "Om kapan ambil mobil?"


"Ada yang mengantar."


"Oohh …."


"Jadi, cepat masuk! Saya harus mengantarmu pulang." Pria itu membukakan pintu belakang untuk Anandita.


Gadis itu tertegun sebentar saat sebuah ide muncul di kepalanya.


"Aku mau duduk di depan, Om."


"Di belakang saja, lebih aman." ucap Regan yang masih memegangi pintu.


"Emangnya kalau di depan ada bahaya apa?" Namun gadis itu malah membuka pintu depan sendiri dan segera masuk, membuat Regan sedikit mendengus.


"Ayo Om, kita pergi. Tapi nggak pulang dulu ya?" katanya saat pria itu sudah duduk dibalik kemudi.


"Apa?"


"Aku mau makan dulu, laper." Anandita memegangi perutnya sendiri.


"Kamu bisa makan kalau sudah berada di rumah besar, Ann."


"Lama Om, keburu pingsan."


"Berlebihan. Tidak mungkin kamu pingsan lah."


"Asli Om, kalau laper aku nggak bisa nunggu."


Regan tampak memutar bola matanya.


"Ya Om ya? Cari makan dulu. Burger atau jagonya ayam juga boleh, aku bebas kok." Gadis itu tersenyum lebar.


"Tapi sebentar ya? Setelah itu langsung pulang?"


Anandita mengangguk cepat.


"Baik." Lalu Regan pun melajukan kendaraan roda empatnya menuju tempat yang Anandita maksud, sementara gadis itu sedang memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa lebih lama berada diluar rumah bersama bawahan pamannya tersebut.


💕


💕


💕


Bersambung ....


Kira-kira apa ya?😂😂



__ADS_1


__ADS_2