
🍂
🍂
"Tiga? Dokter yakin?" Daryl terbelalak setelah mendengar keterangan dari dokter.
"Ya. Anda lihat titik ini?" Perempuan berkerudung itu menunjuk tiga titik di dalam rahim Nania yang berdekatan.
"Ini adalah gambaran janin yang ada di dalam rahim istri Anda. Dan di usia lima minggu seperti ini memang sudah terlihat."
Daryl melongo, apalagi Nania yang masih berbaring di ranjang pemeriksaan.
"Dokter yakin?" Pria itu kembali bertanya.
"Yakin, Pak."
Dia tertegun untuk beberapa saat kemudian beralih menatap istrinya. "Did you hear that?" katanya, dan Nania menjawab dengan anggukkan.
"There's three baby …." Dia menggantung kata-katanya saat merasa tenggorokkannya seperti tercekat.
Kedua matanya mulai memanas dan Daryl merasa jika dirinya hampir saja menangis.
"Oh … ada tiga bayi, Malyshka!" Dia kemudian menyentuh perut perempuan itu dan mengusap-usapnya dengan lembut. "Ada tiga!" katanya lagi dengan tangis dan tawa yang muncul bersamaan.
"Apa tubuh Nania mampu membawa tiga bayi, Dokter? Bagaimana dengan keadaannya? Apa dia akan baik-baik saja?" Dia bertanya lagi setelah beberapa saat dan keadaannya sudah tenang.
"Tentu saja, Pak. Tubuh perempuam memang dirancang untuk membawa beban seberat itu dan menerima segala bentuk rasa sakit yang nantinya akan dirasakan selama kehamilan dan proses melahirkan. Tidak usah khawatir, selama keadaannya sehat, semua akan baik-baik saja." Dokter menjawab.
"Dokter tidak bohong? Apa saya bisa mempercayai Dokter?" Pria itu meyakinkan dirinya sendiri.
"Tentu. Asalkan ibu mengikuti semua yang saya instruksikan, maka segalanya akan berjalan dengan baik. Minum obat dan vitamin juga melakukan semua anjuran saya."
Daryl mengangguk-anggukkan kepala. "Dengar itu?" Lalu dia beralih kepada Nania. Genggaman tangannya tak ia lepaskan dan malah lebih mengeratkan nya.
"Harus melakukan apa yang dokter katakan dan mengikuti semua anjuran nya. Tidak boleh membantah sama sekali agar kamu baik-baik saja." Dia mengulang ucapan dokter.
Nania pun mengangguk, dan tanpa banyak bicara dia hanya diam di tempatnya semula.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bagaimana?" Semua anggota keluarga masih berkumpul pada hampir siang, menunggu kabar Daryl yang baru saja tiba dari rumah sakit.
"Baru lima minggu." Pria itu duduk di sofa seraya menarik Nania perlahan agar duduk pula di sampingnya.
"Duh? Berarti selama ini kamu tidak menyadari kalau sedang hamil?" tanya Sofia kepada membantunya.
Nania menganggukkan kepala.
"Ceroboh sekali! Bagaimana jika terjadi sesuatu kepadamu?" Sofia mendekat kemudian merangkul sang menantu. "Hati-hati, Nna! Harus menjadikan pengalaman yang dulu sebagai pelajaran ya?"
Nania mengangguk lagi.
__ADS_1
"Dan … kalian tidak akan percaya dengan apa yang kami dapatkan hari ini." Daryl dan Nania saling melirik.
"Apa?" Satria ikut berbicara.
Pasangan itu terdiam untuk beberapa saat hingga akhirnya Daryl memberikan isyarat kepada Nania, dan perempuan itu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, yang kemudian dia sodorkan kepada Sofia.
"Sudah di USG juga?" Yang segera diterima oleh sang mertua dengan rasa penasaran yang besar.
Satria dan Sofia terdiam menatap gambar di tangan mereka yang tidak terlihat apa-apa selain area abu-abu kehitaman dengan tiga titik di tengahnya.
"Baru sebulan, Der. Tentu saja hanya begini." Sofia terkekeh.
"Yeah, Mama tidak baca keterangan di atasnya?" Daryl menjawab.
Perempuan itu kembali menatap gambar dan dia melakukan apa yang putranya katakan.
"Kembar tiga?" ucap Satria dengan kening berkerut setelah membaca dengan teliti.
Dia mendongak dan melihat kedua sudut bibir putranya tertarik membentuk sebuah senyuman.
"Apa?" Dan beberapa orang di sekitar mereka segera mendekat.
Dimitri dan Darren, juga Sofia saling berebut foto tersebut.
"No way!" Dimitri bereaksi, lalu dia menatap sang adik.
"Kau serius?" Ekspresi Darren juga sama.
"Kau dapat tiga!" Dimitri bahkan sedikit berteriak untuk meyakinkan dirinya.
Daryl tertawa lagi kemudian dia menganggukkan kepala. "Bagaimana? Aku hebat kan? Ahahaha."
"Oh, Ya Tuhan! Kalian ini …." Sofia pun kembali memeluk Nania, dan tangisan tak dapat dielakkan lagi. Dia bahkan sampai mengguncangkan tubuh menantunya saking bahagia.
"Benarkah di sini ada tiga? Oh, kamu hebat sekali! Kalian ini … ohh!" Sofia kehilangan kata-kata, dan dia hanya bisa menangis sambil memeluk Nania dengan erat. Lalu sesekali mengusap-usap perutnya yang masih rata.
Begitu juga dengan yang lainnya, mereka berurutan memeluk Nania dan Daryl secara bergantian. Diiringi isak tangis bahagia.
Satria bahkan hingga berkali-kali menyeka matanya yang basah, dan dengan perasaan bahagia luar biasa dia menjadi yang terakhir memeluk menantu kesayangannya yang satu itu.
"Untuk kali ini, jagalah mereka baik-baik, Nak! Jangan abai dan jangan ceroboh lagi." katanya, tanpa panjang lebar. Namun Nania malah menangis dengan keras, dan butuh usaha lebih agar dia berhenti setelah beberapa saat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Ann, angkatlah!" Pesan dari Regan masuk ke ponsel Anandita. Namun dia masih mengabaikannya.
Gadis itu malah kembali ke buku yang tengah dibacanya sejak dua jam yang lalu. Dan halaman belakang rumah kakek neneknya menjadi pilihan untuk menjauhkan diri setelah cukup berkumpul untuk merayakan kabar kehamilan Nania.
"Ann?" Suara Arfan menginterupsi sehingga dia buru-buru menyembunyikan ponsel keduanya dibalik buku.
"Ya?"
__ADS_1
"Papa dan Mama harus ke Bogor mengantar Arkhan untuk terapi. Kamu mau ikut?" Pria itu mendekat.
"Nginep atau pulang?" Gadis itu bertanya.
"Kemungkinan menginap karena pergi di jam seperti ini pasti akan terjebak macet." Arfan menatap jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul satu siang.
"Asha sama Aksa?"
"Mereka ikut."
"Aku nggak ah, mau di sini aja." Lalu Anandita menjawab.
"Yakin?"
"Iya." Gadis itu menganggukkan kepala.
"Baiklah, jangan menyesal ya?" Sangat ayah terkekeh.
"Nggak akan, kenapa nyesel?"
"Siapa tahu kamu merasa kesepian di malam hari, dan tidak bisa tidur karena kami tidak ada?"
"Dih, emangnya aku balita?"
Arfan terkekeh lagi.
"Sana, kalau mau pergi. Keburu sore. Nggak baik juga kalau malam-malam baru sampai Bogor." Gadis itu berujar, dan dia hampir kembali pada buku bacaannya.
"Ya, baiklah kalau kamu tidak ingin ikut." Namun Arfan malah lebih mendekat dan dia menatap anak gadisnya yang satu itu.
"Apaan?" Dan Anandita mendongak untuk menatap wajah ayahnya.
"Jangan pernah merasa kalau Papa bertindak tidak adil. Papa memperlakukan kalian sama, dan sesuai dengan apa yang harus Papa lakukan. Tidak ada unsur ketimpangan atau pilih kasih, hanya saja Papa menyesuaikan dengan kebutuhan kalian." Pria itu berujar.
Anandita mengerutkan dahi. " Papa ngomong apa sih, nggak jelas?" katanya.
"Hanya takut jika kamu akan berpikir begitu." Dia menatap wajahnya yang lebih cenderung mirip Dygta, dan itulah yang membuatnya merasa lebih menyayanginya daripada yang lain. Meski dia mencoba untuk berlaku adil pada ke empat anaknya dari perempuan itu, tetap saja selalu ada yang menjadi favoritnya dalam hal tertentu.
"Ngaco ah." Anandita kini benar-benar kembali pada buku bacaannya.
Arfan tersenyum, lalu dia mengusap punggungnya dengan lembut. Dia terdiam sebentar untuk mengingat apa yang pernah didengarnya tempo hari ketika dia, bersama Arkan tengah berdebat di belakang rumah mereka.
Dan apa yang menjadi perdebatan itu terasa menghantam egonya sebagai ayah. Ketika Anandita mengeluhkan tentang perbedaan soal kebebasan, dan segala yang mereka Terima selama ini. Dan hal tersebut cukup membuatnya berpikir ulang.
"Papa pergi ya?" katanya lagi yang kemudian mengusak puncak kepala anak gadisnya tersebut.
🍂
🍂
🍂
__ADS_1
Bersambung ....