The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Ayam Bakar Dan Cinta Kasih Di Dalamnya


__ADS_3

💞


💞


"Kayaknya ayam bakarnya emang lebih enak deh." Nania meletakkan es jeruk yang tinggal setengah setelah dia sesap. Sementara Daryl berada di sisi lainnya dengan Regan.


"Benarkah?"


Perempuan itu menganggukkan kepala.


"Itu resepnya Nenek." Mirna menoleh, tetapi tangannya tidak tinggal diam. Dia masih menerima pesanan dari pembeli yang baru saja tiba meski hari sudah sore.


"Masa? Kok aku nggak tahu kalau Nenek punya resep ayam bakar se enak ini?"


"Ya karena Ibu tidak pernah membuatkannya."


"Iya juga. Aku mau …." Nania tampak mengingat-ingat ada berapa orang di rumah. "Bungkus dua puluh boleh?" katanya setelah dia menghitung.


"Apa?" Mirna kembali menoleh.


"Ayam bakarnya. Mama sama papi pasti suka."


Namun Mirna hanya tertawa.


"Seriusan, Bu."


"Jangan ah, malu. Masa kamu bawa makanan dari sini? Nanti apa kata mereka?" ucap sang ibu yang tetap melayani pembelinya.


"Serius."


"Sebaiknya jangan. Ibu yakin mertuamu tidak akan mau memakan makanan yang berasal dari sembarang tempat, apalagi dari sini."


"Ibu nggak tahu aja." Nania mendekat. "Mama sama papi bisa makan makanan dari mana aja asal enak dan aman. Dan aku yakin makanan dari sini aman. Buktinya anak mereka juga mau makan." Dia melirik kepada Daryl yang juga ikut makan seperti dirinya.


Pria itu bahkan sampai meminta kembali ayam bakarnya sebanyak dua kali dan dia tampak menikmati hal itu seperti halnya ketika memakan nasi kuning di pasar.


"Aneh juga suamimu bisa makan sepertimu. Memangnya mereka tidak banyak aturan ya? Setahu Ibu orang-orang dari kalangan mereka tidak akan sembarangan melakukan sesuatu. Menikah denganmu saja rasanya seperti mustahil."


Nania terdiam.


"Ibu tidak bermaksud jelek, hanya saja ini seperti dongeng kan?" Mirna merangkul pundak putrinya.


"Ibu nggak tahu keadaan di rumah besar kayak gimana makanya aku nyaman tinggal di sana. Bukan cuma karena besar dan mereka punya banyak hal, tapi karena suasananya emang terasa enak."


Mirna menatap wajah Nania. "Definisi rumah kan?"


Lalu sang putri mengangguk.


"Mereka sangat baik kepadamu ya?" Perempuan itu bertanya.


"Iya."


"Memperlakukanmu tanpa melihat siapa dirimu, dan sama seperti yang lainnya? Daryl punya saudara kan?" Kemudian Mirna kembali pada pekerjaannya. Membungkus seporsi nasi dengan daun pisang yang sudah dilayukan di atas api sebelumnya sehingga menguatkan aroma khas yang menambah nikmat pada rasa makanan itu sendiri.


"Iya." Nania menjawab lagi.


"Syukurlah, ada yang menggantikan Ibu melakukannya. Semoga selamanya terus seperti itu." Dia menyerahkan nasi beserta ayam bakarnya kepada pembeli yang kemudian pergi setelah melakukan pembayaran.

__ADS_1


Sementara Nania hanya tersenyum.


"Kalau mau besok suruh sopirnya Daryl mengambil ayam bakarnya ke sini. Ibu akan membuatkan yang spesial untuk kalian." Ucap Mirna yang membereskan sisa pekerjaannya.


"Kenapa nggak sekarang aja, Bu? Ayam bakar hari ini juga enak kok, aku suka. Dan pasti semuanya juga suka."


"Ya karena ayamnya sudah habis." Mirna menunjukkan kotak plastik di bawah etalase tempat ia meletakkan ayam berbumbu untuk dijual.


"Di dalam juga hanya ada sisa lima potong lagi, itupun untuk ayam goreng. Ibu tidak menyetok banyak untuk ayamnya agar semuanya segar dan lebih enak untuk dimakan. Kecuali jika ada pesanan."


"Ah …."


"Jadi, besok saja ya suruh sopirmu ke sini?" Dia melirik kepada Regan.


"Itu bukan sopir, Bu."


"Tapi dia sering mengantarmu ke mana-mana?"


"Iya, tapi dia asistennya Daryl. Cuma dia yang suami aku percaya untuk nganter aku ke mana-mana."


"Ohh …." Mirna tertawa. "Sebegitu cintanya Daryl kepadamu sehingga untuk urusan seperti ini pun dia tidak sembarangan menyuruh orang."


"Gitu deh."


"Itu bagus. Hidup dengan pria yang cintanya lebih darimu lebih baik dari pada hanya kamu yang mencintainya. Karena hidupmu akan sangat baik bersamanya."


Nania terdiam lagi, sementara Mirna merapikan etalase nya.


"Kabar Om Hendrik gimana, Bu? Masih di penjara?" Lalu Nania beralih pada topik lain, yang seketika menghentikan kegiatan Mirna.


"Apa Ibu sering berkunjung ke tahanan?" tanya Nania lagi, kemudian sang ibu menoleh.


"Apa?"


"Setiap Minggu ada saja luka dan lebam baru entah itu di wajah atau tubuh mereka."


"Duh …."


"Sepertinya mereka tidak kapok berulah sehingga membuat geram penghuni lain." Mirna menghela dan menghembuskan napasnya pelan-pelan.


"Ibu berpikir keras, kira-kira hal apa yang akan membuat mereka sadar dan berubah jika penjara saja tidak mampu membuatnya lebih baik. Karena Ibu khawatir jiga mungkin tahun depan atau entah berapa tahun lagi mereka keluar tetap bersikap seperti itu. Bisa mati di tangan orang lain kalau tidak ada perubahan." Dia menggelengkan kepala.


"Ibu masih mau bertahan sama Om Hendrik? Kalau Bang Sandi sih aku nggak masalah karena dia kan anak Ibu. Tapi kalau Om Hendrik?"


Mirna terdiam sejenak kemudian menoleh kepada putrinya.


"Surat cerainya baru turun bulan ini, dan sekarang Ibu sudah resmi jadi janda, Nna." katanya yang membuat kedua mata Nania membelalak.


"Ibu ceraikan Om Hendrik?"


Mirna mengangguk.


"Serius? Dan bisa?"


"Bisa lah. Dengan bantuan orang-orang dari suamimu pasti bisa." Perempuan 45 tahun itu melirik ke arah menantunya.


"Masa?"

__ADS_1


"Ibu bicara dengan sopir … eh asisten Daryl waktu dia datang untuk mengantarkan uang bulanan dan dia memang menyarankan untuk melakukannya." Lalu Mirna menjelaskan.


"Regan?"


"Ya, namanya Regan?" Dia melirik pada pria di samping Daryl.


"Iya, Regan."


"Ya, dia yang meyakinkan Ibu untuk melakukannya dan sepertinya itu pilihan terbaik. Hendrik sempat marah, tapi dia tidak bisa apa-apa."


"Terus gimana kalau misalnya Om Hendrik udah bebas? Dia nggak akan nyari Ibu ke sini?"


"Soal itu tidak tahu, tapi Regan yang akan mengurusnya."


"Wahh … mereka ternyata bersekongkol di belakang aku ya?" Nania menatap dua pria yang asyik membicarakan banyak hal di belakang sana, sementara Mirna tertawa mendengar ucapan putrinya.


"Malyshka, ini sudah petang. Apa kamu tidak mau pulang?" Setelah beberapa saat Daryl pun beralih kepadanya.


"Masa?" Dan Nania memalingkan perhatian.


"Ya, jam enam lebih." Pria itu menunjukkan layar ponsel sambil berjalan mendekat ke arahnya.


"Hmm … nggak boleh nginep ya? Semalam aja. Hahaha." Dengan sikap manja perempuan itu memeluk pinggang suaminya yang berada di dekatnya.


"Tentu saja tidak, memangnya kita tidak punya rumah apa?" Daryl menjawab dengan tegas seperti biasa.


"Bercanda, Dadd. Hahaha." Nania tertawa.


"Ya sudah, bisakah kita pulang sekarang?" tanya pria itu lagi yang menyelipkan helaian rambut Nania ke belakang telinganya.


"Bisa-bisa. Ibu juga udah mau tutup kan ya?" Dia menoleh kepada ibunya.


"Ya sebentar lagi." Mirna menjawab.


"Ya udah, kalau gitu aku pamit ya? Tapi nggak akan bantuin Ibu dulu." ucap Nania lagi yang bangkit dari kursinya.


"Ya, pulanglah. Jangan pikirkan itu."


"Oke, nanti kapan-kapan aku ke sini lagi." Nania segera memeluk sang ibu.


"Baik, datang lah kapan saja kamu mau. Dan jangan lupa besok ambil ayam bakarnya." Mirna menepuk punggung anak perempuannya itu pelan-pelan.


"Oke, tenang aja kan ada Regan." Dan Nania melepaskannya setelah beberapa saat.


"Baiklah." Mirna pun mengangguk. Kemudian setelahnya mereka berpamitan, dan Nania berjalan mendahului Daryl keluar dari pekarangan yang tidak terlalu besar tersebut.


Mirna hanya terdiam ketika menantunya berhenti tepat di dekat pagar kemudian menoleh ke arahnya. "Terima kasih." katanya dengan suara pelan, tetapi masih bisa ia dengar.


Pria itu kemudian segera keluar setelah mendengar Nania memanggil. Meninggalkan Mirna yang masih terdiam dengan hatinya yang terasa menghangat.


💞


💞


💞


Bersambung ....

__ADS_1


huftthhh ... kayak ada manis-manisnya gitu yah 😆


__ADS_2