The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Rujak Dan Kisah Cinta Dua Insan


__ADS_3

💞


💞


"Daddy, udah ah jangan minum ini. Rasanya asem tahu?" Nania merebut gelas tinggi berisi jus mangga yang masih mengkal, yang menurutnya terasa asam.


"No! Ini segar, Malyshka. Dan rasanya enak." Namun Daryl segera merebutnya.


"Seger apanya? Asem iya. Kamu bisa sakit perut nanti. Kalau udah gitu siapa yang repot? Aku juga kan?" Tetapi Nania merebut kembali minuman tersebut dan menjauhkannya dari pria itu.


"Kalian serius ini gejala kehamilannya kebalik?" Lalu Rania muncul dengan membawa satu wadah berisi bumbu rujak yang dibuatkan asisten rumah tangga Nikolai, sementara Anya dan Zenya masing-masing membawa wadah lain berisi buah-buahan selain mangga. Kemudian mereka duduk di lantai teras belakang rumah besar tersebut.


"Dan kamu nggak ngerasain apa-apa selain mual di pagi hari doang?" tanya nya lagi kepada Nania.


"Iya." Dan sang adik ipar menjawab.


"Dih, enak banget. Kalau hamilnya kayak kamu aku mau nambah lagi anak. Tapi berhubung aku pas ngidam nggak digantiin sama papinya anak-anak, jadinya ya males juga. Hahaha." Rania mengambil satu potong mangga muda, lalu dicelupkanya ke dalam bumbu rujak yang terlihat menggiurkan tersebut.


Dia kemudian menyuapkan dan mengunyahnya dengan ekspresi yang cukup membuat Nania tertawa karena melihatnya.


"Ini asem tahu. Aneh aja Daryl bisa minum jusnya tanpa ngerasa apa-apa. Hah!" Dia kemudian mengganti buahnya dengan yang lain.


Di wadah tersebut ada potongan pepaya mengkal, bengkoang dan sedikit nanas. Yang membuat Nania juga tergoda untuk menikmatinya.


"Beneran. Tapi seger ya kalau dirujak kayak gini?" katanya, dan dia kembali mengambil potongan-potongan buah tersebut untuk dinikmati.


"Hmm … cocok buat kamu yang ngidam mah. Eh, tapi kan bukan kamu yang ngidamnya kan? Hahaha." Dua perempuan berbeda usia itu tertawa.


"Mommy, bumbunya too sweet, but it's hot too. I don't think i can eat them." Anya menyerahkan potongan buah kepada ibunya setelah menggigitnya sedikit.


"Udah Mommy bilang kan kalau ini pedes. Kamu sih nggak mau denger." Dan Rania pun menyambar buah di tangan putrinya dengan sekali hap.


"Bit i wanna taste them too." Anya menjawab.


"Tapi nggak kuat sama pedesnya."


"Kakak terlalu banyak ngasih cabenya. Kalau buat anak-anak ya nggak cocok." Nania menyela percakapan ibu dan anak tersebut.


"Yeee, namanya juga rujak ya harus pedes. Kalau manis ya manisan." Rania masih memakan potongan buah tersebut yang kini dia masukan sebagiannya ke dalam bumbu dan mencampurnya sekaligus.


"Ini ya, kalau dicampur di cobeknya langsung pasti lebih enak deh. Sayang Mbak Mima lupa malah diwadahin kayak gini. Kan jadi nggak berasa rujak rumahannya." Dengan ekspesi kepedasan perempuan itu tetap memakan rujaknya.


Dan Daryl menatapnya dengan sedikit aneh. "Berhenti, Ran kalau pedas. Kamu tidak takut tersedak apa?" katanya yang menggeser gelas berisi air minum ke dekat sang kakak ipar.


"Kalau berhenti … malah makin … kerasa pedesnya. Jadi … huh … harus cepet-cepet." Dan Rania tampak terbata-bata.


"Cobain deh, enak tahu?" lanjutnya kepada adik iparnya tersebut.


"Tidak mau. Itu terlalu pedas." Namun Daryl menolak.


"Atau, dulu waktu aku masih kecil di Bandung, kalau Nemu pohon mangga tetangga nggak aku rujak kalau nggak bisa. Tapi digaremin." Rania berbicara lagi.


"Digaremin?"


Perempuan itu mengangguk. Kemudian dia menyuruh Anya meminta garam kepada asisten rumah tangga di dalam rumah.


"Kamu nggak ngalamin ya? Hahaha. Sayang banget, masa kecilnya nggak seru." Lalu dia tertawa.


"Gini nih." Rania meletakkan sejumput garam yang dibawa Anya di pinggiran piring kemudian mencocolnya dengan sepotong mangga muda yang masih tersisa.


"Biasanya, kalau pakai garam pedes nya jadi berkurang." katanya, yang kemudian ia suapkan kembali ke dalam mulutnya yang sudah kosong.


"Masa? Ngaruhnya apa? Mau pedes atau asem ya rasanya sama aja kali." Nania pun tertawa.


"Nggak tahu, mungkin cuma sugesti aja. Tapi coba deh." Rania memberikan sepotong mangga muda yang sudah diberi sedikit garam kepada Nania.


"Petualangan aku waktu kecil seru tahu? Sampai-sampai Papa sering didatengin tetangga karena pohon mangga atau jambunya habis nggak bersisa." Dan Rania tengah mengenang masa kecilnya bersama dua anak dan adik iparnya.

__ADS_1


"Itu namanya nakal." Daryl mendekat sambil memperhatikan Nania yang tengah mengunyah mangga mudanya.


"Enak, Baby?" Lalu dia bertanya kepada istrinya.


"Hmm …." Nania mengangguk. "Masih asem, tapi nggak kayak tadi." Dia dengan matanya yang mengerjap pelan karena menahan rasa asam di lidah.


"Kalau asam ya jangan dipaksakan." Kemudian pria itu ikut mencobanya juga.


"MMM …." Dan dia melakukan hal yang sama. "Lalu, selain kenakalan seperti itu, apa lagi yang kamu lakukan? Sepertinya kamu ini sering berbuat onar."


Rania tertawa dengan keras.


"Curiga bukan hal yang baik." Daryl bergumam.


"Hey! Satu-satunya hal nggak baik yang aku lakukan adalah ikut balapan liar setiap malam. Bukannya ikut clubbing atau gonta-ganti pasangan. Kalau nggak percaya, tanya aja kakak kamu itu. Dia pas nikahin aku masih perawan atau nggak?" Rania menjawab sekenanya.


"Duh?" Dan Nania bereaksi karenanya.


"Ya masih perawan lah, mana nggak tahu apa-apa lagi soal …."


"Zai? Stop." Namun tiba-tiba Dimitri keluar dari dalam rumah dan menghentikan apa yang akan perempuan itu katakan selanjutnya.


"Eh, aku cuma lagi cerita lho, Pih. Buka berantem." Membuat tiga orang dewasa itu menoleh bersamaan ke arah belakang.


"Bukan masalah berceritanya, tapi kamu lupa kalau ada anak-anak." Pria itu melirik pada Anya dan Zenya yang fokus menyimak cerita ibu mereka.


"Eh, ada mereka ya? Hahaha. Maaf, maaf." Rania pun tertawa sambil menutup mulutnya dengan tangan.


"Kids? Wanna play?" Dimitri segera mengalihkan perhatian kedua anaknya.


"What?" Zenya lebih dulu menjawab.


"I don't know. What do you wanna play?" Pria itu balik bertanya.


"What about football?" Dua anak itu bangkit bersamaan.


"Okay. Come get the ball, while i'm waiting you guys at the backyard." Pria itu pun berjalan ke arah taman sementara Anya dan Zenya berlari ke dalam rumah untuk mengambil bola mereka.


"Tidak mau ah, aku lelah." Yang mendapat jawaban tersebut sehingga membuatnya memutar bola mata.


"Kau pemalas." Dimitri berujar.


"Whatever." Dan Daryl menggumam sambil kembali menikmati potongan buahnya seperti Rania dan Nania.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Udah aku bilangin kan jangan jemput, tapi Om nggak denger." Anandita menuruni dua undakan tangga rumah baca ketika mendapati Regan yang tiba begitu dirinya dan relawan yang lain keluar.


"Karena sempat, ya apa lagi?" Pria itu menjawab.


"Kemoterapi ibunya gimana? Emang udah beres?" Lalu Anandita bertanya.


"Sudah, makanya aku bisa ke sini." Regan menganggukkan kepala pada beberapa orang yang melewati mereka.


"Oh …."


"Kamu mau pergi ke mana setelah ini?" Regan kemudian bertanya.


"Nggak tahu, mungkin pulang ke rumah Opa." Mereka berjalan keluar pekarangan, di mana mobil milik Regan terparkir seperti biasa.


"Tidak ke rumahmu?"


"Nggak."


"Oh, aku lupa kalau ini akhir pekan dan waktunya seluruh anggota keluarga Nikolai untuk berkumpul di rumah besar ya?"


Gadis itu menggelengkan kepala. "Bukan."

__ADS_1


"Terus?"


"Ya karena Mommy sama Papa pergi ke Bogor kayak biasa." katanya, yang hampir masuk ketika Regan membuka kan pintu.


"Apa?"


"Mommy sama Papa ke Bogor sampai besok. Mungkin pulangnya sore." Anandita memperjelas ucapannya.


Regan sempat terdiam, namun masuknya gadis itu ke dalam mobil membuat ia tersadar dari lamunannya. Dan akhirnya membuat dia segera masuk dan duduk di balik kemudi.


"Umm … kalau kita pergi sebentar apa kamu mau?" Pria itu memulai percakapan setelah mobil yang dia kendarai melaju di jalanan kota. Juga setelah dirinya berpikir dan menimbang beberapa hal, tentunya.


"Pergi ke mana?" Dan Anandita memalingkan perhatian dari ponselnya yang menyala.


"Entahlah, makan mungkin. Atau ke mana ya?"


Gadis itu terkekeh.


"Aku serius, Ann." Regan meyakinkan.


"Emangnya aman?" Anandita menoleh ke belakang untuk memeriksa keadaan.


"Maksudmu?"


"Om bilang aku selalu diawasi. Terus gimana bisa ngajak pergi kalau misalnya selalu ada orang yang mengikuti kita?"


"Oh … soal itu, biar aku yang urus." ucap pria itu, dan dia tampak serius.


"Maksud Om kita bisa pergi tanpa menimbulkan masalah nantinya? Papaku Arfan Sanjaya lho, dan sebagian besar staf Nikolai Grup tahu gimana reputasinya."


"Sudah aku katakan kalau soal itu biar aku yang urus kan? Jadi kamu hanya tinggal menjawab saja mau atau tidaknya."


Anandita tak segera menjawab, tetapi dia hanya tersenyum sambil memandang kekasihnya yang tampak keren dibalik kemudi.


"Ann?"


"Hum?"


"Mau tidak kalau kita pergi sebentar?" tanya Regan lagi.


"Umm … gimana ya?"


"Ah, kamu ini."


"Jadi ceritanya Om ngajak aku kencan gitu?" Lalu Anandita tertawa karena pikirannya sendiri.


"Ya … kalau kamu maunya begitu, iya. Ayo kita kencan?" Regan pun menjawab sesuai dengan apa yang mungkin ingin gadis itu dengar darinya.


Dan benar saja, Anandita tertawa senang karenanya.


"Bagaimana? Mau pergi kencan denganku, Ann?" ucap Regan lagi yang kini lebih jelas.


"Om yakin kalau kita pergi berdua akan aman dari pantauan Papa?" Sebelumnya gadis itu ingin memastikan.


"Yakin. Percayalah."


Dan Anandita tetap menatapnya dengan kedua sudut bibir yang tertarik membentuk senyuman.


"Ann?" Regan bermaksud kembali bertanya.


"Ya kalau aman sih oke-oke aja. Tapi gimana kalau misalnya nanti …."


"Baiklah, aku tahu tempat yang bagus untuk berkencan." Dan Regan segera melajukan mobilnya ke tempat yang sudah ia pikirkan untuk dikunjungi bersama sang kekasih hatinya.


💞


💞

__ADS_1


💞


Bersambung ....


__ADS_2