
💕
💕
"Pergi ya?" Nania hampir turun dari mobil.
"Hey?" Daryl mengeluarkan tiga lembar uang seperti biasanya.
Nania terdiam sebentar, kemudian mengambil lembaran uang tersebut lalu dia masukkan ke dalam saku celananya.
"Wait!" Daryl pun turun mengikutinya ketika perempuan itu benar-benar keluar dari mobil.
"Apa lagi sih?" Nania berbalik.
"Aku merasa kalau kamu masih marah kepadaku." Daryl mendekat.
Nania memutar bola mata sambil menghembuskan napas pelan.
"Karena biasanya kamu memelukku sebelum pergi kuliah, tapi dua hari ini tidak." Pria itu menunggu.
Nania menatap wajah suaminya, lalu di detik berikutnya dia menghambur ke pelukan pria itu.
Daryl merasakan beban di dadanya berangsur berkurang, dan dia bisa tersenyum lega meski Nania belum sepenuhnya memaafkan. Tapi setidaknya, perempuan itu tak lagi mengacuhkannya.
"Telepon aku kalau sudah selesai ya? Nanti aku akan menjemputmu." Lalu dia melepaskannya.
"Emangnya kamu nggak sibuk apa?"
"Tidak, hari ini aku lebih santai."
"Ya udah, lihat aja nanti." Nania melirik ketika sebuah motor yang dia kenali melintas dan pengemudinya menganggukkan kepala.
"Baik." Daryl pun mengikuti si pengemudi motor dengan pandangan. "Chat aku kalau tidak terlalu ramai ya?" katanya, dan dia hampir kembali ke dalam mobilnya.
Nania menganggukkan kepala.
"Aku pergi."
"Ya."
"Sana, masuklah." katanya, dan Nania segera menurut.
Daryl memutuskan untuk tetap berada di sana hingga perempuan itu benar-benar masuk ke dalam kampusnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Nania?" Panggilan Mahendra menghentikan langkahnya.
"Ya?"
"Gimana hari ini? Siap untuk dua hari terakhir bazar?" Pria itu segera mensejajarkan langkahnya.
"Siap. Emangnya bakal ada apa?" Mereka berjalan bersama menuju ke lapangan.
"Ya siapa tahu ramai kan? Orang dua hari terakhir."
"Oh iya iya. Mudah-mudahan deh ramai biar hasilnya memuaskan."
Mahendra tampak menganggukkan kepala.
"Nanti sumbangannya disalurin ke mana Kak?" Nania bertanya.
"Aku pikir untuk membantu teman mahasiswa yang kurang mampu. Memang nggak bisa nanggung biaya kuliah mereka sih, tapi se nggaknya bisa meringankan apa yang mereka nggak mampu."
"Ohh … emangnya di sini nggak ada beasiswa ya?"
"Ada. Tapi seleksinya ketat dan nggak semua orang bisa lolos."
"Heem ya, harusnya beasiswa itu syaratnya cuma rajin sama keinginan yang kuat aja buat mereka yang nggak mampu. Nggak usah pakai embel-embel yang lain. Karena nggak semua orang berprestasi juga."
Mahendra tertawa.
"Kenapa? Ada yang lucu?"
"Kamu yang lucu." ucap pria itu.
"Aku?" Nania menunjuk wajahnya sendiri.
"Ya."
"Aku nggak lagi ngelawak, lucu sebelah mananya?"
"Kamu tahu, kalau kampus juga nggak mau rugi. Mereka akan mencari mahasiswa yang berprestasi untuk diberikan beasiswa agar bisa membanggakan kampus juga."
"Hmm … apa-apa harus selalu ada timbal baliknya ya?"
"Begitulah."
"Oh ya, Kakak kuliah berapa semester lagi?" Perempuan itu kembali bertanya.
"Setelah ini, empat semester."
"Sebentar lagi jadi mahasiswa tingkat akhir ya?"
Mahendra menganggukkan kepala.
"Aku masih lama."
"Ya … jalani aja. Nanti nggak terasa tahu-tahu kamu harus bikin skripsi aja."
"Skripsi?"
__ADS_1
"Ya."
"Kakak udah?"
"Belum …."
Mereka berhenti tepat di depan stand Nania yang sudah siap karena Mahira ternyata sudah tiba.
"Duh, udah sembuh? Malah dateng?" Nania menyapa teman sekelasnya tersebut.
"Udah, cuma masuk angin doang." Mahira menjawab.
Sekilas dia melirik kepada Mahendra yang datang bersama Nania.
"Serius? Padahal nggak usah maksain, nanti sakit lagi?"
"Hu'um. Nggak lah, udah sembuh kok. Lagian aku ingat terus gimana kalau bazarnya ramai? Mana ini dua hari terakhir lagi?"
"Nggak apa-apa, aku bisa." Nania masuk ke dalam stand dan melepaskan tas selempangnya.
"Kalau gitu, aku tinggal ya? Kirain kamu sendirian lagi hari ini." Mahendra menyela percakapan tersebut.
"Ya Kak, makasih." Nania menjawab.
"Oke." Pria itu tersenyum lalu segera beranjak menuju tempatnya yang biasa.
"Sejak kapan kamu akrab sama Kak Mahen?" Mahira menatap punggung Mahendra yang berjalan menjauh.
"Nggak akrab, cuma kebetulan aja ketemu pas lagi jalan ke sini." Nania menata puluhan botol parfum di meja seperti yang dilakukan Mahira.
"Awas loh, Pak Daryl lihat bisa bahaya." Gadis itu mengingatkan.
"Nggak kayaknya." Dan Nania tertawa karena pikirannya sendiri yang membayangkan jika itu memang terjadi. Tapi rasanya tidak apa, toh tak ada yang terjadi lebih dari sekedar berbicara.
"Ya hati-hati aja, kita kan nggak tahu kalau …." Mahira menggantung kata-katanya.
"Apa?"
"Umm … nggak, hehe."Â
Duh, aku lapor jangan ya sama Pak Regan? Bikin bingung. Kalau lapor takut jadi masalah. Tapi kalau nggak, kan tugas aku emang laporin semua kegiatan Nania. Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
***
"I miss you, saranghae." Status whats app Anandita menjadi hal yang menarik perhatian Regan begitu dia menyalakan ponsel. Dan pria itu sedikit menjengit setelah membacanya.
Lalu di status berikutnya terdapat gambar finger heart seperti yang sering dia tunjukkan kepadanya, dan segera saja bayangan wajah dan ekspresi gadis itu ketika dia melakukannya melintas di benak Regan.
"Ck!" Pria itu berdecak kesal.
Bagaimana segala hal kini selalu mengingatkannya pada putri dari kakak atasannya itu yang mulai membuatnya merasa frustasi?
"Argh! Gadis itu mulai membuatku gila!" geramnya, seraya memasuki gedung Fia's Secret House ketika dia melihat kesibukan yang mulai terjadi.
"Bagaimana persiapannya? Sudah sampai mana?" Lalu Regan menghampiri para pekerja yang tengah menyiapkan panggung untuk pagelaran fashion show yang akan dilangsungkan pada akhir minggu nanti.
"Sudah 70 persen, Pak. Dan kami akan berusaha menyelesaikannya pada hari Jum'at nanti." Salah satu dari mereka menjawab.
"Baik, itu bagus. Pastikan semuanya sesuai dengan yang sudah direncanakan," katanya, seraya memeriksa beberapa hal.
"Baik, Pak."
"Lanjutkanlah, nanti aku periksa lagi." Pria itu kemudian berlalu dari hadapan mereka.
***
"Kau pikir kesalahanku ini sangat besar ya sehingga Nania bisa semarah itu?" Daryl merebahkan kepalanya pada sandaran kursi.
Hal yang sama masih menjadi pembahasannya setiap kali dia memiliki waktu luang untuk berdiam diri.
Namun Regan tak merespon, dan dia malah tampak melamun.
"Regan?"
"Ya, Pak?"
"Kau sedang ada masalah ya?" Daryl kemudian menegakkan tubuhnya.
"Ti-tidak, Pak." Sang asisten menjawab.
"Tapi kau seperti sedang punya masalah. Akhir-akhir ini kau sering melamun?" Pria itu dengan tatapan penuh selidik.
"Iyakah?"
"Ya. Ada apa? Ada masalah dengan keluargamu?" tanya Daryl lagi.
"Tidak." Regan menjawab.
"Lalu ada apa? Tidak mungkin ada masalah dengan kekasihmu kan?"
"Hum?"
"Kau kan jomblo?" Daryl tertawa, sementara asistennya tersebut malah mendengus kesal.
"Tapi sebenarnya kau lebih beruntung." Daryl kembali duduk dengan santai. "Tidak akan menghadapi masalah seperti aku." katanya, namun sambil tertawa pelan.
"Kau tidak harus menghadapi istrimu yang merajuk karena kesalahan kecil, dan memutar otak untuk menemukan bagaimana cara meluluhkannya, karena inilah bagian tersulitnya."
Mulai lagi. Regan menggerutu.
"Aku heran kenapa perempuan sangat sulit melupakan hal-hal seperti itu? Padahal kan aku tidak sengaja melakukannya. Tapi itu seperti kesalahan paling besar yang aku buat."
__ADS_1
"Begitulah perempuan, Pak." Regan menanggapi.
"Yeah, dan rasanya aku mulai pusing menghadapi Nania. Bagaimana ya caranya agar dia kembali normal?"
"Normal? Memangnya selama ini Nania tidak normal?"
"Maksudku agar dia kembali seperti dulu. Masalahnya dia sedang menghukumku."
Regan menahan tawa yang hampir menyembur begitu mendengar keluhan atasannya soal hukuman.
Daryl tampak menghela napas pelan. "Mana dia meminta kebebasan sebagai bentuk hukumannya kepadaku lagi?"
"Kebebasan apa?"
"Agar aku membiarkannya melakukan apa pun yang dia mau."
"Terus Bapak mengabulkannya?" Kini Regan tertarik untuk merespon.
"Ya apa boleh buat? Dari pada dia mengabaikanku terus."
"Lalu bagaimana? Bapak akan benar-benar membiarkan Nania bebas?"
"Kau gila ya? Tentu saja tidak."
"Lantas?"
"Kau tetap yang bertanggung jawab untuk menjaganya."
"Saya?"
"Ya."
"Lalu apa yang harus saya lakukan?"
"Antar saja jika dia mau pergi."
"Biasanya juga begitu kan?"
"Ya, tapi kali ini turuti saja semua kemauannya."
"Semua?"
"Ya."
"Bagaimana jika Nania ingin pergi ke tempat yang jauh?"
"Turuti saja."
"Bapak yakin?"
"Ya."
"Bapak mulai melonggarkan aturan untuk Nania?"
"Sementara begitu sampai marahnya reda."
"Berapa lama?"
"Tidak tahu."
"Perasaan saya tidak enak soal ini, Pak." Regan hampir saja tertawa.
"Dan kau pikir aku tidak?"
"Entahlah, rasanya …."
"Hanya jaga saja dia jika tak sedang denganku."
"Baik jika perintah Bapak seperti itu."
"Hahhh … masalah ini masih membuatku pusing!" Daryl kembali pada laptopnya.
"Jangan dulu pusing, Pak. Sore ini kita ada pertemuan dengan sponsor FS Fashion Week."
"Oh ya? Bukannya sudah?"
"Sekali lagi pertemuan untuk briefing terakhir, Pak."
"Harus ya?"
"Ya."
"Jam berapa?"
"Sekitar jam empat."
"Nania pulang jam berapa? Masalahnya tadi pagi aku sudah berjanji akan menjemputnya."
"Mahira belum memberi kabar, mungkin hari ini bazar ramai? Jadi mereka sibuk."
"Oh … semoga pertemuannya selesai sebelum Nania pulang."
"Saya sepertinya bisa menjemput Nania kalau Bapak mau?" tawar Regan dan seketika sebuah ide muncul di otaknya.
"Tidak, aku sudah berjanji akan menjemputnya nanti sore. Jadi usahakan saja pertemuan dengan sponsor tepat waktu dan tidak usah terlalu lama."
"Begitu? Baiklah." Pria itu mengangguk-anggukkan kepala. Meski rasa kecewa sedikit mengganggunya karena idenya hari itu tak akan terealisasikan.
💕
💕
__ADS_1
💕
Bersambung ...