
💕
💕
"Jangan diam saja, Ar. Kamu dengar tidak apa yang Papa bilang?" Arfan menyudahi ceramahnya perihal arena trail di dekat lembah yang tanpa izin dan sepengetahuannya dibangun oleh sang putra.
"Kalau aku jawab nanti disebutnya ngelawan?" Dan akhirnya Arkhan buka suara.
"Ar, jawab yang benar." Dygta menyentuh pundak putranya.
Arkhan tampak mendengus, lalu perlahan mendongak untuk menatap wajah ayahnya.
"Maaf." katanya, mengalah. "Aku pikir nggak apa-apa untuk bikin arena itu di lembah karena jauh ke mana-mana."
"Bukan soal boleh atau tidak, tapi biasakan diskusi dulu sebelum kamu bertindak. Apalagi ini di tempat usaha. Kamu tidak boleh seenaknya saja membangun sesuatu lalu menggunakannya untuk kepentinganmu. Usaha Papa di sini, hidup kita dari tempat ini. Kalau ternyata apa yang kamu lakukan membuat pengunjung resort tidak nyaman bagaimana?"
Arkhan kembali terdiam.
"Kalau kamu beritahu Papa, setidaknya kita bisa membuat perencanaan. Bagaimana membangun arena yang benar, tempat mana yang tepat, juga memperhatikan faktor keselamatan. Kamu tahu di bawah itu ada sungai dan jurang, jadi akan sedikit berbahaya jika tanpa perhitungan, Ar." Arfan duduk di dekat putranya.
"Jika soal pengunjung bisa kita kesampingkan, maka pertimbangkanlah faktor keselamatan. Setidaknya kita bisa meminimalisir cedera yang mungkin akan kamu alami. Lagipula, kenapa tidak memilih balapan normal saja di track biasa seperti Tante Rania? Bukannya yang seperti ini?"
Pemuda yang usianya hampir 18 tahun itu mendongak. "Balapan kayak gitu kelihatannya nggak seru." Lalu dia menjawab.
Arfan terkekeh. "Segitu saja rasanya sudah bahaya, tapi kamu bilang tidak seru? Dari mana sifatmu itu berasal?" Dia menepuk bahu sang putra.
"Nggak tahu, mungkin Papa begitu?" Arkhan menjawab.
"Tidak!" Namun Arfan segera menyanggah.
"Nggak tahu, mungkin …."
"Terlalu sering bergaul dengan Galang membuatmu jadi begini." Pria itu merebahkan punggungnya pada sandaran sofa.
"Sayang …." Dygta bermaksud menyela ketika suaminya itu kembali berbicara.
"Tapi dia tidak meninggalkan sekolah. Meneruskan kuliah sampai lulus kemudian fokus bekerja. Tidak sepertimu." katanya, yang membuat Dygta mengurungkan niatnya untuk bicara.
"Papa mohon, selesaikan sekolah dengan benar, lalu kuliah. Setelahnya, terserah kamu mau bagaimana." ucap Arfan lagi, sedikit mengiba.
"Aku tetap sekolah kan? Aku juga nggak pernah bolos, biar nggak selalu juara kayak Ann juga. Tapi aku nggak pernah absen dengan alasan nggak jelas. Nggak pernah cabut juga, jadi Papa nggak usah khawatir. Cuma kalau soal kuliah aku nggak janji, aku udah bilang kan kalau aku mau minta izin buat fokus dulu sama ini?"
Arfan menghela dan menghembuskan napas pelan-pelan.
"Kamu benar-benar serius ya soal ini?" Lalu dia bangkit dan mencondongkan tubuhnya ke arah sang putra.
"Ya, makanya aku bikin tempat untuk latihan. Tiga bulan lagi ada turnamen di sekitar sini dan aku mau ikut."
"Tiga bulan lagi?"
Arkhan menganggukkan kepala.
"Tapi sebentar lagi pun kamu ujian. Apa itu tidak akan mengganggu?"
"Nggak Pah. Aku pastikan kegiatan ini nggak akan ganggu sekolah aku."
Arfan berpikir.
"Aku janji. Nggak akan bikin Papa kecewa soal sekolah."
Pria itu menatap ke arah istrinya.
"Aku bakal beresin sekolah kok, dan janji nggak akan gagal. Tapi please izinin aku lanjutin bikin tempat latihanya di sini."
"Hmm …." Arfan mengguman sambil mengerucutkan mulutnya, lalu dia kembali menghempaskan punggungnya pada sandaran sofa.Â
"Pah?"
Arfan melirik.
"Aku janji …."
"Kalau nilai ujianmu nanti rendah karena latihan dan kompetisi, maka Papa akan mencabut izinmu, dan kamu harus berhenti dengan motor-motor itu."
Arkhan membuka mulutnya untuk menjawab.
"Dan kamu harus kuliah sampai benar-benar dapat gelar." Namun sang ayah tetap melanjutkan.
Arkhan terdiam.
"Apa kamu sanggup?" tanya Arfan, dan dia berusaha untuk bernegosiasi.
__ADS_1
Sang putra berpikir untuk beberapa saat. "Sanggup." katanya kemudian dengan begitu meyakinkan.
"Kamu yakin? Kalau gagal di ujian SMA, Papa akan sita semua motormu dan kamu tidak akan Papa izinkan membawa kendaraan sendiri. Kuliah adalah pilihanmu lalu bekerja mengurus resort, titik."
Pemuda itu kemudian melirik kepada ibunya.
"Yakin. Gini-gini juga aku nggak bego. Aku pasti bisa. Papa lihat aja nanti." Arkhan dengan percaya diri.
"Baik. Dan hanya fokus pada ini. Tidak boleh ada hal lain yang mengganggumu selain menyelesaikan sekolah dan latihan. Lalu jadilah juara turnamen jika mampu."
Kedua sudut bibir Arkhan tertarik membentuk senyuman. Dia tahu sang ayah menyetujui pilihannya, tetapi pria itu ingin melihat keseriusannya.
"Itu pasti. Jadi, Papa izinin aku tetap bikin track di bawah?"
"Ya, asal tidak mengganggu kenyamanan pengunjung."
"Nggak akan, orang itu cuma latihan." Arkhan merasa lega.
"Baik, dan jangan berbuat aneh-aneh!" Sang ayah memperingatkan.
"Mana berani, Pah? Ahaha, makasih-makasih." Dia tertawa kegirangan.
Dan setelah diskusi alot tersebut akhirnya kesepakatan pun didapat. Arfan menyetujui keinginan putranya dengan segala hobinya.
"Sayang, jam berapa ini? Apa Ann sudah kembali?" Lalu Arfan teringat akan putrinya yang tadi pergi bersamanya.
"Jam sebelas. Sepertinya belum, tapi tidak tahu." Dygta melirik jam tangan milik suaminya yang tergeletak di meja.
"Kenapa mereka lama sekali? Apa berkeliling resort?" Pria itu pun bangkit kemudian keluar dari villanya.
Namun dia tertegun ketika mendapati putrinya yang dalam keadaan sedikit berantakan berjalan dari arah samping villa.
"Ann?" Arfan segera menghampirinya. "Kamu baru kembali?" Dia lantas bertanya.
"Iya." Anandita berhenti saat jaraknya dengan sang ayah sudah cukup dekat.
"Kenapa kamu basah begini?" Arfan menatap putrinya dari atas ke bawah.
"Tadi habis dari air terjun." Gadis itu menjawab.
"Air terjun?"
"Iya."
Biasanya itu kegiatan yang mereka lakukan jika sedang berkunjung ke sana, dan kini sang putri melakukannya sendirian.
"Ya."
"Sendiri?"
"Nggak."
"Dengan siapa?" Dia memicingkan mata.
"Banyakan. Ada Om Dim sama Anya dan Zenya. Om Der juga Om Darren ikut."
"Oh … Papa pikir …."
"Serem amat kalau ke air terjun sendirian. Tar diculik jin." Gadis itu melenggang ke dalam villa.
"Hmm … baru mau Papa cari, Ann …." Dan Arfan mengikutinya dari belakang.
"Nggak usah, aku udah gede." jawab Anandita yang melewati ruang tengah di mana ibu dan saudaranya berada, dia melenggang ke kamarnya meninggalkan Arfan yang tertegun setelah mendengar ucapannya.
Sementara Regan mengendap ke sisi lain hutan, menjauhi villa tempat keluarga Arfan berada setelah memastikan gadis itu tiba dengan selamat.
***
"Ayo sini Lev, jalan ke Mommy!" Nania merentangkan tangannya ke arah balita tampan di depannya, setelah berhasil merebutnya dari Kirana.
Dan Lev pun melangkahkan kakinya pelan-pelan sambil tertawa kegirangan.
"Ayo Nak, kamu kan udah bisa!" ucap Nania menyemangati.
Kemudian balita berusia satu tahun lebih itu pun menggerakkan kaki kecilnya, dan seolah sudah pandai dia memilih berlari ke arah Nania.
"Kan, udah bisa kan? Tapi jangan lari, jalan aja mau ke mana sih? Mau marathon ya nyusul Papa?" Lalu Nania memeluk dan menciumnya dengan perasaan gemas.
"Heh, heh, heh! Apa-apaan itu? Kenapa kamu menciumi Lev seperti itu?" Namun Daryl segera mendekat begitu dia melihat adegan tersebut.
Pria itu sudah berganti pakaian sesaat setelah tiba dari acara jalan pagi mereka. Begitupun dengan saudara-saudaranya.
__ADS_1
"Dasar lebay!" Darren pun muncul dan dia duduk di samping Kirana yang terbahak-bahak melihat kelakuan kakak iparnya.
"Kenapa saudara kembarku seperti itu ya? Sangat memalukan." ucapnya, yang merangkul pundak perempuan di sampingnya.
"Tidak apa, itu caranya menunjukkan jika dia sangat mencintai istrinya. Love language." Dan Kirana pun menjauh.
"Love language apanya? Terkadang itu sangat menyebalkan untuk dilihat dan didengar, dan aku risih." tukas Darren, namun dia masih menatap Daryl yang tengah bercanda dengan Nania dan Lev, putranya.
Saudaranya itu tampak mengajaknya berbicara dan dia juga tertawa.
"Ya jangan dilihat. Karena bagi yang tidak paham itu akan sangat mengganggu. Tapi bagiku itu kelihatannya manis. Saudaramu cukup romantis." Kirana menopang dagunya dengan tangan yang bertumpu pada lutut.
"Romantis katamu?"
"Ya. Dan itu bagus."
Darren terdiam menatap wajah perempuan itu yang asyik memperhatikan interaksi di depan mereka, dan dia segera tersadar akan sesuatu.
"Kirana, lihat aku!" katanya kemudian.
"Hum? Apa?" Dan perempuan itu mengikuti perkataannya.
"Apa menurutmu aku tidak romantis?" lalu Darren bertanya.
"Apa maksudmu?" Kirana terkekeh sambil mengerutkan dahi.
"Menurutmu, sebagai suami aku tidak romantis?" Dia mengulang pertanyaannya.
"Menurutku romantis."
"Tapi mengapa kamu berkata begitu?" Darren menatap ke dalam matanya. Mencari sesuatu hal yang mungkin selama ini tak dia perhatikan.
"Berkata apa? Kenapa kamu bertanya begitu?" Lalu Kirana meremat wajahnya.
"Kamu tahu, soal love language itu yang sedikit tidak aku mengerti. Apakah ada yang salah dengan perlakuanku kepadamu?"
"Darren, kenapa kamu bicara begitu?" Kirana tertawa lagi seraya merangkul pundak suaminya.
"Ucapanmu soal love language … lalu kamu seolah terkesan ketika melihat saudaraku …."
"Hey, jangan ngawur!" Perempuan itu memeluknya erat-erat, tapi masih sambil tertawa.
Entah mengapa ini terasa lucu? Dan menyenangkan juga mengetahui tingkat kepekaan suaminya yang seperti itu.
"Kamu membuatku merasa cemburu, Kirana!" Darren dengan raut wajah yang tampak tidak menyenangkan, dan Kirana baru melihatnya hari ini.
"Astaga, ahahaha! Kenapa harus cemburu? Aku hanya mengatakan apa yang ku tahu, bukannya terkesan kepada saudaramu. Aneh sekali kamu ini!" Kirana segera menyanggah ucapan suaminya.
"Tidak, tapi …."
"Sssttt! Jangan memulai perdebatan yang tidak berfaedah. Aku hanya mengatakan jika cara orang mengungkapkan perasaannya itu berbeda-beda. Dan jika sikapmu tak seperti Daryl, maka itulah dirimu. Dan aku mengerti." Perempuan itu berbisik.
"Aku dan dia memang berbeda."
"Aku tahu, dan itulah mengapa aku mencintaimu." Dan ucapannya membuat Darren bungkam.
Kirana menatap wajahnya yang tampak merona meski dia tak lagi mengatakan apa-apa.
"Hey, kalian ini malah pacaran. Tidak ingat punya anak ya?" Namun Daryl yang mendekat membuyarkan percakapan itu.
Dia menyerahkan Lev kepada Kirana kemudian berbicara. "Lain kali jangan lupakan anak kalian. Untung ada Nania, kalau tidak Lev sudah jadi anak hutan." katanya, yang kemudian pergi meninggalkan mereka.
"Lihat kan, dia itu sangat menyebalkan?" ujar Darren setelah saudaranya itu menjauh.
"Ya, benar." Kirana mengamini.
"Jadi aku lebih baik darinya, kan?"
Perempuan itu tertawa. "Ya, kamu memang lebih baik." katanya, untuk membuatnya senang. Meski kenyataannya memang begitu.
"Jadi jangan melihat orang lain karena aku akan berusaha melakukan yang terbaik untukmu." Darren kemudian kembali memeluknya, kali ini lebih erat.
"Iya, aku percaya."
"Dan maafkan aku jika selama ini apa yang aku lakukan tidak sesuai dengan keinginanmu." katanya lagi, kemudian dia memeluk mereka berdua. Sementara Kirana hanya tertawa.
💕
💕
💕
__ADS_1
Bersambung ....