
💞
💞
"Kamu mau lagi nggak?" Nania kembali menawari suaminya ayam bakar yang tersisa di piring, setelah makan siang di halaman belakang rumah mereka dengan seluruh anggota keluarga selesai.
"Tidak, sepertinya aku sudah kenyang." Daryl menolak.
"Ya udah." Kemudian dia memerintahkan kepada asisten rumah tangga untuk membereskan semuanya.
"Setelah ini aku minta jus ya? Yang segar, karena sepertinya tenggorokanku sedang tak enak." ucap Daryl kemudian yang dijawab anggukkan oleh Mima.
"Kamu mau jus apa? Aku juga kayaknya mau deh." Nania yang tengah melahap buah potong yang dimintanya pun menyahut.
"Entah. Di rumah ada buah apa saja?" Daryl bertanya lagi kepada Mima.
"Umm … ada stroberi, kiwi, anggur, nanas, pepaya juga." Perempuan yang hampir seukuran dengannya itu menjawab.
"Ah … tidak membuatku selera." Daryl meneguk air minumnya hingga tandas.
"Bapak maunya apa? Nanti saya suruh Pak Nunu atau yang lain untuk mencarikan." Mima bertanya.
"Entahlah, aku mau sesuatu yang segar. Ada rasa asam tapi manis juga. Sepertinya enak di tenggorokan." Pria itu menyentuh lehernya sendiri dan membayangkan minuman tersebut sudah dia minum. Air liurnya bahkan rasanya hampir menetes karena hal tersebut.
"Dih, kalau bapak-bapak yang ngidam kok kelihatannya lebay ya? Apa aku yang kuno ini? Hahaha." Rania menyela setelah ia juga menghabiskan makan siangnya, yang membuat hampir semua orang tertawa, sementara si objek pembicaraa hanya mendelik.
"Eh, jangan salah. Papi dulu juga begitu kan, dua kali Mama hamil pasti mengalami gejalanya." Sofia menyahut ucapan menantunya.
"Ah iya, aku lupa. Emangnya yang dialami Papi kayak Daryl? Banyak maunya gitu?" Dan Rania pun mengalihkan topik pembicaraan.
"Tidak juga, hanya mengharuskan semua karyawan di Nikolai Grup menggunakan parfum yang sama dengan Mama." Sofia tertawa mengingat hal tersebut.
"Ah, itu masih mending kan? Apalagi ngasih parfum mahal buat karyawan. Ngidamnya Papi bikin orang seneng." Rania pun ikut tertawa.
"Ya, kecuali Arfan yang selalu menjadi musuh bebuyutan tapi dia tidak bisa menjauh."
"Masa?"
"Serius." Beberapa di antara mereka tertawa lagi.
"Ckckck! Kasihan Om Arfan jadi korbannya Papi." Darren menggelengkan kepala. "Dan setelah itu jadi korbannya Kak Dygta dan anak-anak mereka." Dia pun tertawa.
"Jadi Bapak mau jus apa? Akan saya buatkan sekarang juga." Mima kembali berbicara.
"Entah. Menurutmu jus apa yang enak diminum siang-siang begini?"
"Stroberi enak, Pak. Mungkin nanas juga." Sang asisten rumah tangga menawarkan.
"Tidak. Kalau itu aku bosan." Namun Daryl menolak.
"Terus Bapak maunya apa?"
Daryl terdiam.
"Jus mangga sepertinya enak." Lalu dia berucap.
"Jus mangga?"
__ADS_1
"Ya." Kedua bola mata Daryl tampak berbinar, dan dia lagi-lagi merasakan jika air liurnya hampir menetes ketika membayangkan buah tersebut.
"Tapi kita tidak punya …." Mima menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Siapa bilang? Tuuuuhhhh." Pria itu memajukan mulutnya dan pandangannya tertuju pada sebuah pohon di depan mereka. Adalah pohon mangga yang tengah berbuah meski tak terlalu lebat.
"Wahhhh …."
"Mau alasan apa lagi kamu? Buahnya tinggal memetik di depan sana." Daryl menyeringai.
"Cepat sana, suruh Pak Nunu!" katanya kepada Mima, dan perempuan itu segera beranjak.
"Tapi mungkin itu masih mentah, Pak. Sebagian malah terlihat masih muda." Mima menatap ke arah yang sama.
"Ah, lakukan saja lah!" ujar pria itu lagi, dan tak ada pilihan lain bagi Mima selain melakukan apa yang dia perintahkan.
***
"Bisa tidak?" Daryl menghampiri asisten rumah tangganya yang berada di bawah pohon mangga, juga satpam yang mencoba menaiki dahan.
"Jauh, Pak. Harus pakai tiang." Jawab si penjaga keamanan yang tengah berusaha meraih ranting yang berbuah.
"Ah, payah sekali Pak Nunu ini! Naik dong, Pak!" katanya.
"Saya … tidak bisa naik pohon, Pak. Takut jatuh, heheh." Pria berseragam hitam itu terkekeh.
"CK! Masa penjaga keamanan tidak bisa naik pohon? Kalau ada maling yang manjat-manjat bagaimana? Bisa lepas dong?"
"Eee … masalahnya, saya memang tidak bisa manjat pohon, Pak."
"Beli aja lah, Mbak. Di pasar juga banyak, ngapain nurutin maunya dia terus." Nania datang menghampiri setelah melihat suaminya misuh-misuh.
"Kalau beli kelamaan, Malyshka. Kenapa tidak ambil yang ada saja?" tukas Daryl yang menatap buah mangga yang bergelantung di rantingnya. Rasanya dia senang sekali dan ingin segera mengambilnya.
"Ya udah, kalau gitu kamu yang manjat gih? Bisa kali. Manjatin aku setiap hari bisa masa manjat pohon nggak bisa?" Nania berucap asal, yang membuat Daryl segera menutup mulutnya.
"What are you talking about? Hahaha! Sembarangan saja!" Dia kemudian merangkul erat-erat pundak perempuan itu.
"Ya udah, makanya manjat sendiri sana!" Lalu Nania mendorongnya ke dekat pohon mangga.
"Tidak mau! Nanti ada ulat dan semut. Aku jijik. Hiiii!" Daryl bergidik kemudian mundur ke belakang.
"Alah, bilang aja takut." Lalu Rania pun mendekat dan menatap ke atas pohon.
"Itu mangganya kayak belum mateng tahu?" katanya, dengan wajah mendongak.
"Ada yang udah agak tuanya, Bu yang itu." Mima menunjuk salah satunya.
"Tapi belum mateng."
"Tapi sudah bisa dipanen. Kalau dibiarkan matang di pohonnya kadang suka dimakan kelelawar, Bu. Ka sayang." Mima menjawab.
"Kalau sayang, peluk. Terus nikahin biar bisa diajak bobok." Rania lebih mendekat kemudian menempelkan kedua telapak tangannya pada batang pohon tersebut.
"Hey, Rania? Kamu mau apa?" Daryl segera bertanya.
"Mau metik mangga." Dan perempuan itu menjawab.
__ADS_1
"Apa?"
"Kalau Pak Nunu yang manjat, nanti pohonnya tumbang karena keberatan. Selain itu bahaya juga kalau Pak Nunu kecelakaan." Dia berpegangan pada dahan paling bawah kemudian menempelkan kakinya juga.
"Are you kidding?" Sementara Daryl tertawa.
"Aku ngelakuinnya bukan untuk kamu ya? Tapi untuk keponakan aku. Kan kasihan kalau nanti setelah lahir dia ileran. Nggak lucu." Rania menoleh sebentar, kemudian segera memanjat pohon mangga yang tengah berbuah tersebut.
Dan dengan mudah perempuan itu naik dari dahan satu ke dahan yang lainnya, dan dengan tubuhnya yang ramping dia bisa mencapai ranting dengan beberapa buah mangga yang siap petik.
"Astaga, Zai? Apa yang kamu lakukan?" Dan Dimitri segera berkomentar dari kejauhan ketika dia melihat istrinya melakukan hal tersebut.
"Ini demi keponakan kita, Papi!" Rania pun berteriak dari dahan yang dia pijak.
"Aaaa … Mommy! Wait for me! Aku juga mau naik!" Lalu Anaya dan Zenya pun berlari ke arah mereka yang sudah lebih dulu ada di sana.
"Eh, kalian tetap di bawah. Tunggu Mommy turun ya? Hanya sebentar."
"But, Mommy? I want to go up three too!" ucap Anya, diamini oleh Zenya yang menganggukkan kepala ketika saudara kembarnya tersebut menoleh.
"Nggak, ih! Kalian di bawah aja. Mommy cuma mau metik ini." Perempuan itu mendapatkan beberapa buah mangga yang kemudian dia jatuhkan ke afron yang dikenakan Mima sebagai alas untuk menangkapnya.
"Segitu cukup nggak?" Lalu dia bertanya.
"Udah banyak, Kak." Nania menjawab seraya mengambil mangga-mangga itu dari Mima.
"Tapi ini mentah, Daddy. Kalau di juss pasti asem banget." Belum apa-apa Nania sudah merasa giginya ngilu.
"Tambah gula yang banyak." Daryl menjawab sekenanya.
"Iya, kasih lima kilo gula ya, Mbak Mima. Biar manis kayak aku." Rania kemudian melewati mereka sambil menepuk-nepukkan kedua tangannya.
"Tar jangan ileran ya, Utun? Udah Mommy ambilin mangga mudanya." Lalu dia mengusap perut Nania sambil tertawa.
"Utun siapa? Sembarangan saja kamu memberi nama anak orang? Tidak boleh! Hanya aku yang akan memberi mereka nama nanti kalau sudah lahir." Daryl sempat tidak terima dengan panggilan sang kakak ipar pada janin di dalam perut Nania.
"CK! Mentang-mentang sekolahnya di luar negri nggak tau bahasa sendiri?" Rania bergumam.
"Tidak ada hubungannya. Pokoknya aku tidak akan mengizinkan orang lain yang memberi nama anak-anakku." Dan Daryl segera meraup pinggang Nania dengan posesif.
"Hadeh …." Rania memutar bola matanya. "Dengar ya, Bapak Daryl Stanislav. Siapa juga yang mau kasih anak kamu nama? Aku cuma nyebut mereka sesuai dengan umurnya sekarang kok." Lalu dia menjawab.
"Sebutan macam apa itu? Jelek sekali." Daryl kembali mendelik.
"Utun itu artinya janin, tahu. Yang belum diketahui wujud sama jenis kel*minnya, tapi dia udah ada. Orang Sunda nyebutnya begitu, nggak tahu kalau orang Rusia?" Rania pun menjelaskan. "Jadi, nggak usah marah kalau ada yang nyebut begitu, kenapa sih? Kebiasaan deh." katanya lagi yang kemudian mengambil dua buah mangga dari dekapan Mima.
"Hayu barudak, urang ngarujak!" Lalu dia beranjak dari hadapan Daryl dan Nania, menarik anak-anaknya ke arah rumah besar.
💞
💞
💞
Bersambung ....
maaf gaes kalau akhir-akhir ini Emak telat up. Emak lagi berjuang balikin mood yang hancur karena banyak hal. salah satunya menghadapi kebijakan pf yang nggak rasional. mudah2 an bisa melewati fase ini dengan baik ya?
__ADS_1