The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
After Show


__ADS_3

💕


💕


"Ini bukan jalan pulang." Nania menatap jalanan yang mereka lewati, dan semuanya tampak asing.


"Kita memang tidak akan pulang." Daryl menyahut dan dia pun menatap hal yang sama.


Kehidupan malam di kota metropolitan terus bergeliat seolah tidak akan berhenti hanya karena hari berganti. Buktinya, beberapa tempat malah semakin ramai dan menarik orang-orang untuk berdatangan.


"Terus kita mau ke mana?" Nania bertanya.


"What? Kamu tidak percaya padaku?" Daryl merangkul pundak perempuan itu kemudian menariknya ke pelukan.


"Nggak, cuma …." Pandangan Nania terkunci pada bangunan megah di depan mereka.


Gedung Nikolai Tower yang puncaknya menyala, menunjukkan bahwa tempat itu merupakan ikon di tengah area bisnis terkenal Jakarta.


"Kita pulangnya ke Nikolai Tower?" tanya Nania lagi sambil terkekeh.


"Ya."


"Kenapa nggak ke rumah?"


"Aku maunya ke sana." Daryl menempelkan keningnya pada pelipis perempuan itu.


"Hmm …."


Rentenir. Batin Nania saat dia mengerti apa yang mungkin ingin suaminya lakukan malam itu.


***


"Terima kasih, Regan. Kau bisa pulang sekarang." Daryl turun ketika Regan membukakan pintu mobil untuk mereka.


"Baik, Pak. Jika tidak ada lagi yang Bapak butuhkan." Regan menutup pintu mobil setelah Nania juga turun.


"Apa kau sudah memastikan semuanya tersedia di atas?" Daryl kembali pada asistennya.


"Semua yang Bapak pesan sudah saya sediakan." Regan menjawab.


"Kau yakin?"


"Yakin, Pak."


"Baik, kalau begitu pergilah." ucap Daryl lagi yang kemudian menggiring Nania memasuki gedung, sementara Regan menghubungi seseorang lewat ponselnya.


"Close youre eyes." Daryl menghentikan langkah mereka di depan pintu apartemen di bagian paling atas Nikolai Tower.


"Kenapa?" Nania kembali bertanya.


"Pokoknya tutup matamu." Daryl sudah menempelkan ibu jarinya pada sensor sidik jari di dekat pegangan pintu.


"Ada apa sih kamu bikin aku takut deh?" Nania tertawa, namun kemudian dia menutup kedua matannya.


"Jangan buka mata sebelum aku suruh ya?" Pria itu mendorongnya masuk ke dalam.


"Tapi aku mau lihat …." Nania hampir saja membuka mata ketika Daryl menempelkan tangan di wajahnya.


"No!" katanya, dan dia terus mendorong perempuan itu lebih ke dalam lagi. "Are you ready?" ucapnya lagi yang bersiap melepaskan tangannya.


"Siap untuk apa? Kamu bikin aku gugup deh. Hahaha." Nania tertawa lagi, dan dadanya memang berdebar-debar.


Daryl terdiam sebentar kemudian perlahan menarik tangannya yang semula menutupi wajah istrinya.


"Udah boleh?" tanya Nania yang belum membuka matanya.


"Baik, bukalah matamu." ucap Daryl dari belakang.


Pelan-pelan Nania membuka mata, dan apa yang dia dapati membuatnya menahan napas untuk sejenak.


Ruangan apartemen yang temaram dan hanya dihiasi cahaya lilin yang sengaja diletakan di beberapa tempat.


Di meja, bufet dan bingkai jendela yang menjadikan suasana terasa cukup romantis.


Lalu pandangannya tertuju pada meja kaca di tengah ruangan yang terdapat berbagai jenis makanan yang salah satunya adalah sebuah kue dengan lilin kecil berwarna-warni.


"Happy birthday." Lalu Daryl berbisik di telinganya.

__ADS_1


Nania memutar kepala sehingga dia bisa menatap wajah suaminya yang hampir merapat kepadanya.


"Selamat hari pernikahan juga, karena itu terjadi di hari yang sama, bukan? Hehe." Pria itu tertawa pelan.


Nania tak segera bereaksi, namun dia hanya menatap wajah Daryl lekat-lekat.


"What? Kamu tidak ingat bahkan hari ulang tahunmu ya? Aneh sekali ada perempuan tidak ingat hal semacam itu. Biasanya …."


Ada buliran bening yang meluncur begitu saja dari sudut mata Nania tanpa dia minta. Dan itu membuat Daryl menggantung kalimatnya.


"Hey, don't cry! Aku nggak bermaksud membuatmu bersedih, kenapa kamu begitu?" Pria itu menariknya sehingga kini mereka berhadapan.


Dia mengusap wajahnya dan berusaha membuat Nania menghentikan tangisnya.


"Kenapa kamu berbuat kayak gini? Aku kan jadi sedih. Aku bahkan nggak ingat hari ulang tahunku sendiri." Nania buka suara.


"I never mean to, i just …." Daryl tertawa.


"Aaaa … kamu bikin aku sedih!" Kemudian Nania menghambur ke pelukannya dan menenggelamkan wajahnya di dada pria itu.


Ini rasanya membahagiakan, tapi mengharukan juga karena tak ada yang berbuat seperti itu kepadanya.


"Sudah sudah, ini kan hari ulang tahunmu juga hari pernikahan kita tepat satu tahun yang lalu. Jadi seharusnya kita berbahagia, bukan bersedih seperti ini." Daryl menepuk-nepuk punggungnya sambil tertawa, kemudian dia memeluknya dengan erat.


"Sekarang berdoalah." Lalu setelah beberapa saat Daryl melepaskannya dan mendekati meja di mana kue berhiaskan lilin itu berada.


Nania menyeka kedua matanya yang basah, lalu dia melafalkan doa di dalam hati kemudian meniup lilin yang menyala itu hingga semuanya padam.


"Semoga semua yang kamu inginkan menjadi kenyataan dan Tuhan mengabulkan apa yang kamu doakan." Daryl kembali mengecup pelipisnya seraya memeluk Nania erat-erat.


***


Gelas kristal berisi minuman bening sedikit keemasan itu Daryl isi kembali untuk dirinya, sementara Nania menyesap softdrink yang dia ambil dari lemari pendingin di pantry. Dan makanan yang ada mereka lahap untuk mengisi perut karena tadi sebelum meninggalkan jamuan di Fia's Secret tidak sempat mencicipi hidangan yang tersedia. 


Keduanya duduk di balkon sambil menikmati suasana malam pusat kota Jakarta yang tampak meriah di bawah sana.


"Daddy?"


"Hum?"


"Itu kejutan kan? Kalau aku bilang bukan kejutan namanya." 


Mereka tertawa.


"Aku pikir apa yang kamu buat seharusnya diwujudkan dalam sebuah karya. Lagipula itu bukan satu atau dua gambar, tapi puluhan. Rasanya sudah pantas jika dipamerkan."


Nania tersenyum.


"Tapi rasanya itu terlalu mudah ya?"


"Hey, itu namanya kemampuan. Bukan terlalu mudah." Daryl bangkit setelah menenggak habis minuman di gelasnya.


"Tapi makasih! Kamu yang terbaik!" Nania kembali menghambur memeluk suaminya, lalu ditambah satu kecupan manis di bibirnya.


Daryl segera meraup pinggangnya sehingga Nania tak bisa menjauh ketika dia melepaskan bibirnya.


"Lanjutkanlah, Malyshka!" pinta Daryl dengan mata yang mulai berkabut.


Efek alkohol dari minuman yang dia tenggak rupanya mulai mempengaruhi, sehingga hasratnya dengan mudah tersulut begitu Nania mendekat.


"Umm … tapi kamunya mabuk." Nania tertawa.


"Hanya sedikit." Pria itu menjawab.


Nania terdiam sebentar. Dia menatap wajah Daryl yang matanya tampak sayu. Napasnya mulai menderu dan dadanya naik turun dengan cepat.


"Kan beneran kamu mabuk?" Dia menyentuh dadanya dan merasakan benda yang berdegup di dalamnya.


"Hanya … sedikit." jawab Daryl yang menundukkan wajahnya.


Bibir mereka bertemu dan segera saling memagut. Pria itu kembali menarik Nania sehingga dada mereka benar-benar saling merapat.


"Baby, i miss you." bisiknya disela cumbuan yang menggebu-gebu.


Nania menarik diri sehingga dia terlepas dari pelukan dan hal tersebut sempat membuat Daryl kecewa. Namun kemudian dia segera menarik pria itu bangkit.


Dia menuntunnya kembali ke dalam dan Daryl tampak dengan pasrah mengikutinya, hingga akhirnya mereka tiba di dalam kamar.

__ADS_1


"Baby, aku …."


Nania sedikit mendorongnya sehingga Daryl jatuh ke tempat tidur, dan pria itu sempat dibuat terkejut karenanya.


"Kamu tahu, aku juga punya kejutan." perempuan itu berjalan mendekat.


"Apa? Kamu mau bermain-main denganku?" Daryl tertawa geli. Pikirannya sudah diliputi hal kotor saat ini.


"Hmm … kayaknya, lebih dari main-main." Lalu Nania melepaskan blazernya sendiri.


Daryl menyeringai, apalagi ketika Nania mendekat dan naik ke tempat tidur lalu merangkak di atasnya.


"Kamu … mulai nakal?" Pria itu berujar.


"Apa boleh? Kayaknya jangan cuma pelakor aja yang nakal sama suami orang, istri juga boleh?" Nania menjawab, lalu dia berhenti di perut pria itu.


Daryl baru saja membuka mulutnya untuk menjawab, namun perempuan itu sudah terlebih dahulu membungkamnya dengan cumbuan.


Pergumulan dimulai dengan begitu menggebu-gebu, dan mereka sama bergairahnya. Apalagi Daryl yang telah berusaha sabar menunggu selama berhari-hari hingga kemarahan Nania benar-benar mereda.


"Aahhh … Baby!" des*h Daryl ketika Nania mengecup lehernya. Dia membiarkan perempuan itu menguasai keadaan di awal. Rasanya menyenangkan juga dengan hal tersebut dan dia menikmatinya.


Daryl melepaskan pakaian bagian atasnya sehingga Nania lebih leluasa menyentuhnya, dan dia bisa merasakan semangat mereka yang semakin menggebu-gebu.


Tangan dan bibir lembut Nania menyusuri tubuh pria itu, lalu tibalah dia di bagian bawahnya yang masih berpenghalang. Dia sempat mendongak sebentar untuk memeriksa, dan wajah Daryl dengan sorot matanya tampak berharap ada sesuatu yang lebih terjadi.


Tanpa berpikir lebih lama lagi Nania membuka tautan pada celana pria itu. Dia bangkit kemudian menarik lepasnya dengan cepat sehingga nampaklah apa yang ada dibalik boxernya yang sudah terbangun meski masih dalam keadaan tertutup.


Nania kembali naik ke tempat tidur seraya menyentuh benda itu yang dia rasakan sudah mengeras. Sementara Daryl menatapnya dengan mulut terbuka.


Nania mengusap-usapnya, kemudian dia kembali mencumbu suaminya yang pasrah saja dibawah kendalinya.


"Oh ... Baby!" Daryl pun berusaha menjamahnya, namun Nania seolah belum mengizinkannya. Dia lagi-lagi malah turun dan dengan segera menurunkan boxer yang masih menutupi ar*a prib*di pria itu.


Nania sempat menahan napas ketika benda yang sudah sangat menegang itu terpampang nyata di depan wajahnya, namun dia segera menggenggamnya saat ingat niat untuk menyenangkan suaminya.


Kemudian Nania semakin mendekat, dan  dia membuka mulut kecilnya. Lalu di detik berikutnya perempuan itu menyesap milik Daryl hingga benda itu masuk setengahnya.


"Ahhh!" Pria itu menghempaskan kepalanya pada alas tidur di bawah.


Dia merasakan jiwanya bagai terlepas dari raga dan apa yang Nania lakukan  hampir membuatnya gila. Namun dia membiarkan hal tersebut karena menyukainya.


"Oh … yes Baby!" Daryl menatap langit-langit kamar dengan kedua tangannya yang memegangi kepala Nania dan sesekali menyingkirkan rambutnya yang terburai menghalangi. Atau terkadang mengikat dengan tangannya sendiri agar perempuan itu lebih leluasa menyenangkannya.


"Ohh … Malyshka!" Daryl menggeram setiap kali Nania menghisap miliknya, dan dia merasakan apa yang dilakukan perempuan itu sungguh luar biasa. 


"Ohh, you are so good!" racaunya, seraya menekan kepala Nania sehingga sesapannya terasa semakin dalam. Sementara perempuan itu berusaha untuk melakukannya tanpa mengalami kesulitan, meski beberapa kali dia hampir tersedak.


Perbuatan Nania pada alat tempurnya semakin lama menjadi semakin menggila, dan dia kian bersemangat setiap kali mendengar suara des*han suaminya. Itu membuatnya tidak ingin berhenti meski Daryl sudah meracau tak karuan.


Hingga akhirnya pria itu merasa tidak tahan sehingga dia mendorong Nania dan membuat senjatanya terlepas dari genggaman.


Daryl bangkit lalu melucuti pakaian yang masih menempel di tubuh perempuan itu, dan dengan cepat menariknya ke tempat tidur. 


Dia langsung mengungkungnya, dan dengan segera membenamkan alat tempurnya di pusat tubuh Nania, dan dimulailah percintaan itu dengan cukup ganas.


Daryl menghentak keras dan Nania mulai mende*ah. Pertautan itu membuat keduanya segera kehilangan akal.


"Aww, Daddy! Jangan keras-keras!" Nania merintih saat merasakan sakit di bagian bawah perutnya, namun Daryl menulikan pendengaran.


Dia menyentuh setiap bagian tubuh Nania, sehingga lama kelamaan perempuan itu pun terbawa suasana. Dan apa yang mereka lakukan menjadikam malam di Nikolai Tower begitu gaduh.


Daryl menghentak dan berpacu, sementara Nania menggeliat-geliat. Sesekali bagian bawah tubuhnya meliuk sehingga membuat pria di atasnya semakin tak bisa mengendalikan diri. Dan suara-suara erotis mengisi kamar pada lewat tengah malam itu sehingga menambah kesenangan yang seolah belum pernah mereka alami sebelumnya.


"Aahhh, Daddy!" Nania terus berteriak seiring hantakan yang semakin menggila, tubuhnya terus bereaksi setiap kali Daryl bergerak. Dan sepertinya dia sudah merasa tak tahan, begitupun Daryl yang memacu dirinya lebih cepat.


Lalu setelah beberapa lama, akhirnya mereka saling menekan ketika ledakan klim*ks menghantam secara bersamaan.


💕


💕


💕


Bersambung ....


Duh🤭🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2