The Sweetes Feeling 2

The Sweetes Feeling 2
Percakapan Pribadi


__ADS_3

💕


💕


"Ya, bagaimana?" Daryl menjauh ketika seseorang menghubunginya.


"Kau yakin?" Dan untuk beberapa saat dia membiarkan Nania sendirian menelan kekecewaan.


"Baiklah, untuk sementara itu cukup." Dia mengakhiri panggilan, kemudian kembali ke hadapan istrinya.


"Dadd, aku janji. Sekali ini aja, setelahnya aku nggak akan minta lagi." Nania mencoba untuk yang terakhir kalinya.


Daryl menghela napas sambil mengerucutkan mulutnya.


"Dadd?" Dan perempuan itu hampir saja menangis karena mengira bahwa suaminya tidak akan pernah mengizinkannya untuk pergi.


"Regan?" Panggilnya kepada sang asisten yang berada tak jauh dari mereka.


"Ya Pak?" Pria itu tampak siaga untuk menerima perintah.


"Pergilah, jangan biarkan Nania sendiri. Temani dia menemui ibunya." ucap pria itu yang membuat kedua mata Nania berbinar ceria.


"Dan khusus untuk hari ini, antarkan ke mana pun dia mau. Karena aku tidak bisa melakukannya." lanjutnya, dan bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman.


"Beneran?" Tentu saja Nania bereaksi.


Daryl menganggukkan kepala, kemudian dia membiarkan ketika perempuan itu menghambur untuk memeluknya.


"Makasih. Aku janji nggak akan lama. Cuma lihat ibu sebentar habis itu pulang."


"Baiklah, baiklah." Daryl mengangguk sambil menepuk-nepuk punggung Nania dengan lembut.


"Makasih." Nania mendongak, kemudian memeluk pundaknya, lalu di detik berikutnya dia meraih bibir pria itu untuk dicium. Dan interaksi tersebut berlangsung untuk beberapa detik.


Tentu saja membuat beberapa orang yang berada di sekitar memalingkan pandangan karena merasa malu. Terutama Regan yang berdiri cukup dekat dengan pasangan tersebut.


"Baik, cepatlah pergi karena sebentar lagi sore. Aku tidak mau ikut ya, karena masih marah pada ibumu." Daryl segera melepaskannya.


Nania menganggukkan kepala.


"Sana, sana!" katanya yang menepuk bokong perempuan itu kemudian tertawa.


"Oke." Dan Nania pun segera pergi setelahnya, diikuti oleh Regan di belakang.


***


Dan di sinilah mereka, tepat di depan gang menuju ke rumah Mirna yang telah sejak setahun belakangan tak Nania kunjungi.


"Emang Ibu masih tinggal di sini ya?" Keduanya masih berada di dalam mobil.


"Masih. Ibumu kembali ke sini setelah Pak Daryl menebus rumah, ingat?" Regan menjawab.


"Iya gitu?"


Pria itu mengangguk.


"Daryl yang nebus rumahnya? Aku kok lupa?"


"Ya. Enam bulan yang lalu, dan sertifikatnya sudah dirubah atas namamu."


Nania mendengarkan.


"Mau turun atau tidak? Sebentar lagi sore." Regan mengingatkan, lalu dia turun dan berjalan memutar ke arah pintu penumpang dan membukakannya untuk Nania.


Mereka menyusuri sepanjang gang yang cukup ramai tersebut karena aktifitas penghuninya memang masih berlangsung. Dan setelah berjalan sekitar sepuluh menitan akhirnya kedua orang itu yang diikuti dua orang di belakang tiba beberapa meter di depan sebuah rumah sederhana bertingkat dua. Yakni milik Mirna.


Nania tertegun menatap halamannya yang cukup ramai, tidak biasanya. Ada sebuah gerobak dagangan dengan etalase di sampingnya yang berisi beberapa macam bahan makanan.


Mirna tampak ramah menghadapi orang-orang yang sepertinya merupakan pembeli, dan apa itu semua yang sedang dia kerjakan adalah berdagang?


Nania tampak mengerutkan dahi.


"Kamu mau ke sana?" tawar Regan yang membuyarkan lamunan Nania.


Perempuan itu terdiam, dan dia masih menatap ibunya yang kini dalam keadaan berbeda. Dia tampak lebih baik dan itu terasa melegakan.


Ada buliran bening yang menetes dari sudut matanya, dan Nania segera menyekanya dengan cepat.


"Kita pulang aja, ini udah cukup." ucap Nania yang hampir memutar tubuh ketika di saat yang bersamaan ada yang memanggilnya.


"Nania?"


Dan hal tersebut membuat perempuan itu mengurungkan niatnya.


"Nania, itukah kamu?" Mirna keluar dari pekarangan rumah setelah pembeli dagangannya pergi.


Nania kembali terdiam di tempatnya.


"Nania!!" Dan Mirna segera menghampirinya begitu dia yakin jika yang ada di depannya adalah sang putri.


Perempuan itu segera memeluknya dengan erat seolah dia sangat merindukannya.


Nania membeku.


Bukan hal besar, tapi cukup untuk membuatnya kehilangan kata-kata ketika untuk pertama kalinya sang ibu memeluknya seperti itu.


Seperti sebuah puzzle yang kehilangan banyak bagian, Nania merasa hal itu satu persatu kembali dan mengisi bagian dirinya yang kosong.


"Bagaimana kabarmu? Apa kamu baik-baik saja?" Mirna menarik diri lalu menatap wajahnya. Dia memeriksa keadaan sang putri yang beberapa bulan belakangan tak ditemuinya.


Nania tak menjawab. Dia balas menatap wajah ibunya seolah hal itu seperti sesuatu yang belum pernah dilakukannya seumur hidup.


"Syukurlah, sepertinya kamu sehat." Mirna sedikit tersenyum dengan kedua tangannya yang memegangi pundak Nania.


"I-ibu?" Hanya kata itu yang mampu terucap, lalu mereka kembali berpelukan untuk beberapa saat.


***


"Daryl pasti masih marah kepada Ibu." Mirna menyodorkan sepiring nasi dengan lauk ayam bakar lengkap dengan tahu tempa dan sayuran hijau sebagai lalapannya.


Nania menatap makanan tersebut dan wajah ibunya secara bergantian.

__ADS_1


"Sejak kapan Ibu jualan kayak gini?" Lalu dia bertanya.


"Tiga bulan belakangan." Dan Mirna duduk di kursi yang berada di samping Nania. Sementara Regan dan dua rekannya berada di meja yang lain menikmati makanan yang sama.


"Ibu rasa selalu menggantungkan hidup kepada orang lain itu tidak baik juga. Dan baru sadar setelah keadaannya seperti ini." Mirna memulai percakapan.


"Ibu sangat menyesal dengan semua yang sudah terjadi, apalagi sampai kalian kehilangan anak. Dan saking menyesalnya ibu pun merasa takut untuk mencoba menemuimu lagi setelah yang terakhir itu." Kini dia mampu berbicara dengan leluasa di hadapan putrinya.


"Tapi meski begitu kita tidak bisa selamanya seperti itu, bukan? Dan Ibu rasa, kita harus melakukan sesuatu agar ada perubahan. Sayangnya Ibu baru sadar sekarang."


Nania memilih untuk diam dan mendengarkan saja.


"Hidup Ibu belum benar-benar baik, tapi setidaknya sedikit ada perubahan."


"Kemarin aku lihat Ibu di jalan." Lalu Nania buka suara setelah membiarkan Mirna berbicara.


"Benarkah?"


"Ya. Tapi pas aku mau turun, tahunya Ibu udah nggak ada."


"Hmm …."


"Ibu habis dari mana?"


"Kemarin Ibu habis mengunjungi Sandi."


"Bang Sandi masih di lapas?"


"Masih. Setidaknya untuk beberapa tahun ke depan dia di sana." Mirna terkekeh, sementara Nania terdiam.


"Tidak usah dipikirkan." Perempuan itu menyentuh tangannya. " Sekarang makanlah. Kamu belum pernah memakan masakan Ibu kan?" Dia tertawa lalag


***


"Datanglah lagi kapan-kapan, Ibu tidak ke mana-mana." Nania memutuskan untuk pergi setelah berbincang cukup lama, dan malam hampir menjelang.


"Tapi hanya jika Daryl mengizinkan."


Nania menganggukkan kepala.


"Berjanjilah untuk baik-baik saja, karena Ibu pasti tidak akan bisa menemanimu seperti orang tua lainnya." ujar Mirna untuk terakhir kali sebelum dia memeluk Nania yang akhirnya pergi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Tugasmu sudah selesai?" Wajah Regan memenuhi layar ponsel yang diberikannya pagi tadi, sementara sebuah headset tersambung ke telinga Anandita agar suara percakapan mereka tidak terdengar keluar.


Dia memilih kursi malas di belakang rumah dengan beberapa buku dibawa sebagai alasan untuk berlama-lama berada di sana.


"Udah barusan." Gadis itu meletakkan ponsel di antara buku bacaan sementara dia duduk setengah berbaring.


"Lalu kenapa masih diluar rumah? Bukankah ini sudah malam?" Regan menatap layar di belakang Anandita yang temaram.


"Sengaja, kalau di kamar tar ada yang nguping." Gadis itu tertawa.


"Memangnya kalau di luar tidak ya? Bukankah orang rumah akan melihatmu yang sedang menepon?"


"Ya nggak lah. Kan aku sambil baca buku, lagian ini posisinya juga menghadap ke pintu belakang. Jadi kalau misalnya ada yang keluar aku bisa tahu."


"Ya kan demi."


"Demi apa?"


"Demi bisa video callan sama Om. Hahaha."


"Eh, Om itu udah sampai rumah atau belum?" tanya Anandita kemudian, yang sesekali melirik ke arah rumahnya yang masih terang benderang.


"Sudah, makanya aku bisa menelponmu." Dan Regan tampak melepaskan jas juga dasinya.


"Jangan buka-bukaan dulu, Om. Kita baru aja jadian." Gadis itu menggumam.


Regan tertawa, dan dia tampak membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Om mau langsung tidur? Nggak mandi dulu apa? Kan baru pulang kerja?"


Pria itu tak langsung menjawab. Dia malah membenahi posisi dan mencari tempat ternyaman untuknya.


"Om?"


"Hum?"


"Menurut Om, sebaiknya aku pilih jurusan apa untuk kuliah?" Anandita memulai kembali percakapan.


"Kuliah?"


Gadis itu menganggukkan kepala.


"Apa saja yang sesuai dengan minatmu. Tapi yang lebih bagus itu yang sesuai dengan usaha Papamu sih. Nantinya kan kamu meneruskan bisnis keluarga." Regan meletakkan bantal di atas perutnya untuk menjadi penopang ponsel agar dirinya lebih leluasa.


"Ah!" Namun Anandita tampak mendengus.


"Kenapa?"


"Bakatku nggak di bisnis."


"Terus apa?"


"Melukis."


"Kamu serius ya soal itu?"


"Uh'um." Anandita mengangguk lagi.


"Lalu bagaimana dengan bisnis papamu?"


"Ada Arkhan."


"Oh iya? Aku dengar Arkhan malah sedang giat-giatnya berlatih untuk turnamen. Dia juga mendaftar ke banyak event untuk ikut lomba, balap dan semacamnya."


"Masa?"


"Iya, jadi dia pasti akan sangat sibuk setelah lulus sekolah nanti."

__ADS_1


"Kok Om tahu?"


"Tahulah. Jaringan staff itu saling berbagi info." Pria itu terkekeh.


"Emang boleh? Bukannya itu rahasia ya?"


"Untuk urusan-urusan tertentu masih boleh."


"Hmmm … terus, Om tahu dong siapa yang mengawasi aku kalau keluar rumah?" Anandita teringat sesuatu.


"Tentu saja tahu, hahaha."


"Kenal?"


"Lumayan."


"Dih, pantesan Om berani datang ke sekolah, orang sama suruhannya Papa kenal."


Regan tertawa lagi.


"Tapi giliran ketahuan Papa takut." Gadis itu mencibir.


"Bukannya takut, Ann."


"Terus namanya apa? Pakai sembunyi-sembunyi segala?"


"Kamu tidak tahu bagaimana papamu ya?"


"Nah kan, kalau masalahnya soal Papa Om pasti takut."


"Sudah aku bilang bukan takut, hanya saja …."


"Apaan?"


Regan terdiam untuk sejenak.


"Ahh … bete nih kalau bahas yang beginian. Serasa jadi apa ya? Harusnya punya pacar kan bikin seneng?"


"Ann, dalam pemahaman papamu kamu itu masih anak-anak yang tidak seharusnya mengalami ini semua. Maksudku, hubungan dengan lawan jenis apalagi dengan laki-laki yang seumuran aku."


"Alah, emangnya Om nggak tahu apa kalau mommy aku aja umurnya jauh dibawah Papa. Terus apa masalahnya?"


Regan kembali tertawa.


"Om ketawa terus ih, bikin kesel." Sedangkan Anandita mendelik kesal.


"Intinya kamu sekolah saja belum lulus masa sudah pacar-pacaran?"


"Terus kenapa juga Om malah ngajakin jadian? Udah tahu kalau aku belum lulus sekolah?"


"Memangnya kamu tidak mau ya? Jadi kita harus putus dulu, terus nanti jadian lagi setelah lulus kuliah, begitu?"


"Ya jangan lah, Om. Masa baru jadian udah putus lagi? Nggak lucu."


"Ya makanya."


"Ya terus ngapain kita sembunyi-sembunyi kayak gini?"


"Intinya kita harus cari aman dulu sebelum nantinya bisa terang-terangan di depan semua orang."


"Emang bakal terang-tetangan?"


"Iya lah. Masa begini terus? Memangnya kita ini sedang selingkuh?"


Kini Anandita yang tertawa.


"Ann?" Kemudian panggilan dari arah rumah mengalihkan perhatian Anandita.


"Ada Papa. Bentar Om." Gadis itu mendongak dan dia melihat Arfan berjalan ke arahnya.


"Bentar." Dia lantas membalikkan bagian layar ponsel ke bawah, lalu menyembunyikannya dibalik kausnya sendiri.


"Ya?" Lalu Anandita melepaskan headset dari telinganya.


"Sudah malam, kenapa kamu masih di sini?" tanya Arfan ketika jaraknya sudah dekat dengan sang putri.


"Nggak apa-apa, lagi baca buku aja." Anandita menunjukkan buku yang sebelumnya menyembunyikan ponsel dan menyamarkan percakapan bersama Regan.


"Baca buku gelap-gelapan? Masuk sana!" ujar sang ayah yang menatap curiga.


"Iya, sebentar lagi."


"Sekarang, Ann. Bukankah besok kamu banyak kegiatan? Seharusnya sekarang sudah istirahat, kan?"


"Eee …."


"Ayo cepat!" Dan Arfan membereskan buku yang berserakan dia meja.


"Iya, iya. Mau baca buku aja repot amat sih?" Gadis bergumam.


"Apa?"


"Nggak, hehe." Lalu dia bangkit dan dengan hati-hati menekan buku dalam genggamannya pada perut sehingga ponsel yang dia sembunyikan tetap berada di sana.


"Hey, kamu kenapa? Sakit perut?" Arfan curiga dengan gerak-gerik putrinya.


"Nggak." Anandita segera menjawab.


"Lalu kenapa kamu begitu?" Arfan kembali bertanya.


"Nggak apa-apa." Lalu gadis itu cepat-cepat berlari ke dalam rumah meninggalkan ayahnya yang tertegun dengan pikiran penuh tanya.


💕


💕


💕


Bersambung ...


hayoloh ... bikin curiga aja 😅😅

__ADS_1


__ADS_2