
π
π
"Papi β¦ di bawah ada sungai?" Zenya menunjuk ke lembah paling bawah.
"Ada." Dimitri mengiukuti pandangan putranya.
"Look, there's a waterfall!" Lalu Anya menunjuk ke arah lainnya.
"Baru tahu ya? Memangnya kalau Opa mengajakmu ke sini kalian tidak pernah di bawa melihat waterfall nya?" tanya Dimitri kepada putrinya.
"Belum pernah ya, Opa?" Anya menatap sang kakek.
"Ke sana kan jauh." Satria menjawab.
"Ke sini juga jauh, Pih."
"Ya tapi ke bawah itu lebih jauh. Kamu pikir mudah juga jalannya?"
"Bilang saja kalau Papi sudah tidak kuat." Daryl tiba-tiba saja muncul entah dari mana.
"Sembarangan kamu!"Β
Putra keduanya itu tertawa.
"Aku pikir kau tidak akan ikut? Tadi bilangnya begitu?" Darren menatap saudara kembarnya yang baru saja tiba.
"Yeah, setelah aku pikir-pikir sepertinya bagus juga kalau jalan pagi. Udaranya segar kan?" Daryl menjawab.
Darren menatapnya dengan curiga. "Memangnya Nania sudah bangun?" Lalu dia bertanya.
"Sudah."
"Hmm β¦ pantas." gumam saudaranya itu sambil mencebik.
"Hey, apa maksudmu?" Daryl menepuk belakang kepala Darren. "Memangnya kau yang tidak memperhatian apa saja yang Kirana lakukan? Aku tidak sepertimu, tahu!" katanya yang membuat sang adik hampir saja menjawab.
"Sudah, kalian ini berisik sekali! Bisa tidak kalau diam saja tanpa berdebat. Aku pusing mendengarnya." Namun Dimitri segera menghentikannya.
"Papi, aku mau ke sana. It's kinda funn." Zenya menarik-narik tangan dang ayah.
"Yeah, me too β¦ me too!" Anya pun melakukan hal yang sama.
"Memangnya kalian tidak capek ya? Dari villa jalan sejauh ini, terus sekarang mau turun lagi ke bawah?" Darren beralih pada dua keponakannya.
"No, it's funn. I like being here!" Anya menjawab, dan dia benar-benat menarik Dimitri ke arah jalan berundak di dekat mereka.
"Baiklah baik, tapi hati-hati. Disini jalannya agak licin." Dan pria itu pun mengikuti kedua anaknya menuju sungai di bawah sana, disusul Anandita dan Regan.
"Papi tidak akan ikut?" Darren menoleh kepada Satria saat dia hampir mengikuti kakak dan keponakannya.
"Tidak, Papi akan di sini saja menunggu yang menjemput." Sang ayah menjawab.
"Oh, ayolah. Ini akan menyenangkan." Namun Daryl hampir saja mendorongnya.
"Tidak, Der. Papi akan tetap di sini."
"Kenapa? Takut capek? Padahal ini sama saja seperti joging ke hutan belakang kan?"
"Jalan ke hutan belakang itu datar dan tidak licin." Satria menatap tangga tanah berbatu yang sedikit berlumut itu.
"Tidak apa, aku akan menuntun Papi." Pria itu mengulurkan tangannya.
"Ah, terima kasih. Tapi lebih baik Papi kembali saja ke atas." ucap Satria yang mundur saat melihat seorang pegawai resor yang melintas dengan motornya.
"Serius?"
"Ya. Mama mu pasti menunggu."
"Ck!" Daryl berdecak sambil memutar bola matanya, sedangkan Satria bergegas naik di belakang pria itu yang memang sengaja menjemputnya.
"Hey, tunggu aku!" Kemudian Daryl mengikuti dua saudara dan keponakannya.
"Hey Darren, aku baru lihat arena trail di sini. Memangnya Om Arfan mau membuat turnamen ya?" Dia mensejajari langkah saudaranya.Β
__ADS_1
"Tidak, itu kerjaan Arkhan." Darren menjawab.
"Arkhan?"
"Ya. Dia bikin ulah. Hahaha." Dia tertawa.
"Ulah apa?"
"Membuat arena latihan tanpa izin Om Arfan."
"Arena ini?" Daryl menunjuk ke atas.
"Ya."
"Duh, berani-beraninya Arkhan berbuat begitu? Dia pasti dalam masalah besar."
"Memang."
"Sekarang ke mana?"
"Dibawa Om Arfan ke atas untuk ditatar."
"Aduh β¦."
"Sudah, jangan ikut campur. Kita liburan saja seperti tidak tahu sesuatu." Darren tertawa.
"Look, Papi. Its one of the highest waterfall i've ever seen!" Anya menatap kagum alam di sekitarnya.
"And these a biggest river i've ever know." Zenya pun melakukan hal yang sama.
"Ya, but don't go alone because it's dangerous for little kids like you." Dimitri menjawab kedua anaknya.
"Kalau swimming boleh?" tanya Zenya.
"You wanna swim?"
"Uh'um." Anak itu menganggukkan kepala.
"Tapi sebentar ya? Karena airnya cukup dingin di sini." Dimitri menyentuh air sungai yang cukup jernih itu.
"Come, go ahead." Kemudian mereka bertiga masuk ke dalam air.
"Ugh, kalau tahu mau ada acara renang kayak gini tadi pakai swimsuit dari villa." Anandita bergumam sambil menatap air yang mengalir dari atas bukit.
"Sebaiknya tidak usah." Regan menatapnya dari atas ke bawah.
"Ya kan nggak."
"Hmm β¦."Β
Namun kemudian gadis itu melepaskan sepatu dan jaketnya, sehingga dia hanya mengenakan tanktop dan legging saja. dan tanpa menunggu lama dia melompat ke sungai yang alirannya tidak terlalu deras itu.
"Ann!"
"Tanpa baju renang juga tetap bisa kan? Ahahaha." Gadis itu muncul sambil mengusap wajahnya.
Kemudian Anandita berenang ke arah kubangan di bawah air terjun seperti Dimitri dan anak-anaknya, juga Darren dan Daryl yang menyusul kemudian.
"Ann, nanti kamu kedinginan." Regan menyusuri pinggiran sungai untuk mengikuti gadis itu, namun dia tak mendengar.
"Hey Regan, apa kau hanya akan memperhatikan dari sana?" Daryl berteriak kepada bawahannya. "Kau tidak mengerti kalau kita sedang liburan?" katanya yang bergerak mundur ke arah air terjun.
Regan tak menjawab, namun dia hanya menatap mereka yang asyik bermain di dalam air.
"Ayo Om! Ini airnya seger, kita nggak akan nemu di Jakarta." Anandita pun menarik perhatiannya.
Pria itu menatap Daryl, Darren dan Dimitri yang sibuk dengan kesenangan mereka. Dan tak ada seorang pun yang memeperhatikan Anandita.
Ah, kau gila jika akan mendekat. Batinnya, namun perasaannya tak dapat dipungkiri memang ingin mendekat.
"Ugh! Otak hati sialan!" Dia bergumam kesal ketika mendapati hati, otak dan perasaannya yang mulai tak sejalan.
Apalagi ketika menatap gadis itu yang tampak sedang menunggu.
Gemuruh air terjun berlomba dengan gemuruh di dalam hati yang tengah berperang memperebutkan rasa dan logika, membuatnya tertegun untuk beberapa saat.
__ADS_1
Hingga akhirnya Anandita pun menyerah dan dia memutuskan untuk membiarkannya saja.
"Ah, serah Om aja lah." katanya yang kemudian berenang memutar.
Dia melewati beberapa batu besar dan kembali berenang menuju ujung air terjun, namun ketika kakinya berpijak pada dasar kubangan dia menginjak batu berlumut yang licin dan membuatnya terpeleset.
Sehingga dalam hitungan detik saja gadis itu terjerembab dan masuk ke dalam air.
"Ann!" Regan berteriak saat Anandita tampak tenggelam padahal air di dalam kubangan itu tampaknya tidak terlalu dalam.
Sementara ketiga pamannya sepertinya tidak memperhatikan sehingga tak ada seorangpun yang menyadari.
Regan mulai panik, namun ia tak tahu apa yang seharusnya dilakukan. Sehingga pria itu hanya mondar mandir di pinggiran.
Tetapi setelah beberapa saat gadis itu tak kunjung muncul dan membuatnya menjadi semakin panik.
"Ann, apa yang kamu lakukan?" Regan meremat rambut di kepalanya saat perasaan takut juga muncul.
Kemudian setelah beberapa detik pria itu melepaskan hoodie juga kaos oblong yang dikenakannya, dan melemparkannya ke sembarang tempat. Lalu tanpa banyak berpikir dia langsung menceburkan diri ke dalam air.
Regan melesat ke titik di mana Anandita tenggelam dan segera menariknya begitu menemukannya. Dia bahkan memeluk gadis itu setelah muncul ke permukaan dan dengan kepanikan yang besar cepat-cepat memeriksa keadaannya.
Namun dia tertegun saat Anandita malah tertawa terbahak-bahak sambil menyemburkan air dari mulutnya, dalam keadaan masih memeluknya.
"Ann?"
"Selamat, Anda kena prank! Ahahahah." Gadis itu tertawa lagi.
Napas Regan menderu-deru namun hatinya terasa lega. Meski kekesalan juga muncul setelah menyadari jika Anandita ternyata mengerjainya.
Dia lupa, tentu saja putrinya Arfan Sanjaya itu tidak akan mungkin tenggelam dalam air yang hanya setinggi dada tersebut, mengingat dia juga merupakan juara lomba renang di sekolahnya. Hanya saja, dirinya seperti mendadak lupa.
"Kaget ya Om? Aku cuma kepleset!" Anandita tertawa lagi.
Regan menatap wajahnya lekat-lekat dengan hati berdenyut. Bagaimana anak ini mampu melakukan hal tidak masuk akal hanya demi menarik perhatiannya dan membuatnya mendekat. Sepertinya dia memang agak gila.
"Jangan lekukan hal bodoh seperti itu, Ann! Kamu membuat saya panik!" katanya dengan raut kesal.
Sementara Anandita masih tertawa.
"Ann!" Regan mengguncangkan pundaknya sehingga tawa gadis itu terhenti.
"Jangan melakukan hal konyol hanya karena ingin menarik perhatian seseorang. Kamu tidak boleh menjadi serendah itu!"
Anandita terdiam.
"Kamu tahu, orang yang tulus tidak perlu digoda agar membalas perasaanmu, tapi mereka aka mendekat dengan sendirinya. Jadi β¦ jangan lakukan apa pun, apalagi hal gila seperti ini." katanya yang memindai wajah basah gadis itu.
"Lagi pula β¦."
"Om kegeeran." Anandita menyela. "Siapa jugsa yang lagi cari perhatian? orang aku kepleset kok. Batunya di bawah sini licin tahu?" Lalu dia mundur menjauh.
Dahi Regan berkerut dalam namun dia tak dapat menjawab ucapan gadis itu.
"Om cemen." katanya lagi yang kemudian bergerak ke arah ketiga pamannya.
π
π
π
Bersambung ...
Duh ...
**Ada dua cerita baru nih gaess. Mohon diramaikan ya.
Ini ada karyanya otor Aurin yang masih hangat**
Ada Mas Junno jugs yang baru muncul. Cus kepoinπ
__ADS_1