
Mendengar ucapan Makutha yang sedikit kasar membuat Cio beranjak dari kursinya lalu menghampiri sang sahabat. Cio menepuk pundak lelaki itu dan menggelengkan kepala.
"Biarlah! Dia itu nggak sopan, pantas saja tidak ada yang mau berteman dengannya."
"Jangan gitu, Tha. Nggak enak dilihat sama yang lain." Cio kini mengedarkan pandangan ke seluruh kelas yang sudah penuh. Tatapan seisi kelas kini menjadikan mereka pusat perhatian.
Tiba-tiba gadis yang menjadi penyebab kemarahan Makutha menyodorkan bukunya. Dua orang lelaki di hadapannya seketika terbelalak. Di atas kertas itu tertulis kalimat yang membuat keduanya terkejut.
Aku Hasna, benar katamu. Aku bisu dan tuli sejak lahir. Maaf jika membuatmu tidak nyaman.
Makutha menelan ludahnya kasar. Lalu dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Hasna menyingkap sedikit bagian samping jilbabnya. Terlihatlah kini alat bantu dengar terpasang di sana. Makutha langsung balik kanan dan kembali ke tempat duduknya. Sedangkan Hasna hanya menggelengkan kepala sembari tersenyum kecut.
Perlakuan semacam yang dilakukan Makutha sangat sering ia dapatkan. Hasna adalah seorang yatim piatu yang kini tinggal bersama bibi dan juga sepupunya. Perempuan itu disekolahkan di sekolah umum, karena sang bibi yang juga janda tidak mampu membiayai jika harus menganyam pendidikan di SLB (Sekolah Luar Biasa).
"Heh, kamu nggak minta maaf, gitu, sama Hasna?" tegur Cio.
__ADS_1
"Hasna siapa?" tanya Makutha cuek sambil mengeluarkan buku dan pulpen dari dalam tas.
"Ya Tuhan, Tha! Baru gitu aja lupa! Kamu udah bikin salah lo sama Hasna, gadis yang duduk di depan meja guru itu!" seru Cio.
"Oh," jawab Makutha singkat kemudian fokus pada buku kosong yang ada di hadapannya.
Abercio menepuk jidatnya karena heran dengan sikap kurang ajar sahabatnya itu. Sifat keduanya memang sama-sama tengil. Namun, Makutha memiliki sifat keras kepala luar biasa dan setiap waktu Cio yang mengingatkannya.
Dua lelaki tampan itu saling melengkapi satu sama lain. Orang tua keduanya pun kini menjadi akrab karena putra-putra mereka. Dua keluarga mereka sering mengadakan perjamuan sederhana setiap sebulan sekali.
"Pagi, Bu ...," jawab mereka serempak.
"Baiklah, selamat datang di Tahun Ajaran baru! Kalian sekarang sudah kelas sebelas. Ibu harap, kalian lebih giat belajar dan mulai memikirkan apa yang ingin kalian lakukan setelah lulus SMA. Jadi, setiap jam istirahat saya akan membuka sesi konsultasi. Silahkan datang ke meja saya."
"Baik, Bu ...."
__ADS_1
"Untuk Makutha, setelah jam pulang sekolah temui Ibu!" Wajah Bu Winda terlihat garang ketika menatap Makutha.
Makutha hanya mengangguk pelan. Jam pelajaran pun dimulai. Semua berjalan lancar dan damai. Sampai bel sekolah berbunyi.
"Kamu pulang duluan, deh, Bro! Aku mau ke kantor guru dulu," ucap Makutha sambil menepuk pundak sang sahabat.
"Oke! Aku duluan, ya?" Cio meraih tas ranselnya kemudian menggendong benda itu.
Makutha mulai membereskan buku dan alat tulis lalu memasukkannya ke dalam tas. Setelah semua beres, dia melangkah santai menuju kantor guru. Sesekali lelaki berumur 17 tahun itu bersenandung gembira.
Ketika sampai di depan kantor guru, dahi Makutha berkerut. Di depan kantor guru, sang ibu dan juga Tiara sedang berdiri bersama Hasna. Makutha melangkah cepat menghampiri mereka.
"Loh, Mama ngapain di sini?"
Liontin menatap tajam ke arah sang putra. Rahangnya mengeras dengan jemari mengepal kuat di samping badan. Dia enggan buka suara. Melihat wajah sang putra saja membuat darahnya seakan mendidih. Liontin hanya diam, kemudian masuk ke kantor guru. Makutha yang masih keheranan atas kehadiran sang ibu hanya mengikutinya.
__ADS_1
Setelah sampai di kantor guru, Bu Winda menyambut mereka ramah. Perempuan paruh baya itu mempersilahkan mereka semua untuk duduk. Berbagai pertanyaan kini berputar-putar di kepala Makutha. Dia heran kenapa suasana di ruangan itu terasa begitu mencekam.