
"BAAA!" Liontin mengajak putranya yang baru berumur dua bulan bercanda.
Makutha melihat wajah sang ibu tanpa ekspresi. Penglihatan bayi itu tentu saja belum sempurna. Namun, dia sudah mulai merespon setiap apa yang ia dengar dengan senyuman tipis atau tangis.
"Utha anak ibu! Tampan sekali kamu, Nak!"
"Liontin, sudah siap semua?" Nyonya Oey melongok ke dalam kamar Liontin.
"Sudah, Nyonya. Tinggal menunggu Kak Reza datang."
Nyonya Oey melangkah masuk kemudian duduk di samping Liontin. Perempuan itu meraih tubuh mungil Makutha kemudian menimangnya.
"Ingat pesanku. Setelah sampai Indonesia segera hubungi aku! Bukan karena ...." Ucapan Nyonya Oey menggantubg di udara karena dipotong oleh Liontin.
"Bukan karena aku mengkhawatirkanmu, tetapi karena aku sangat merindukan Makutha!" Liontin menirukan suara Nyonya Oey untuk menggodanya.
Merasa kesal dengan sikap Liontin, Nyonya Oey mendaratkan pukulan ke atas lengan perempuan di hadapannya itu. Sesaat kemudian Makutha menangis.
"Eh, kenapa anak ibu? Nenek ini jahat, ya, sama ibu? Makanya Makutha menangis?" Liontin meraih tubuh mungil Makutha kemudian memeluk bayi itu.
__ADS_1
"Mana ada! Dia mana tahu orang baik atau jahat? Liontin, Makutha masih bayi!" Nyonya Oey tersenyum miring mendengar ucapan konyol ibu muda itu.
"Nyonya tidak tahu, ya? Bayi itu memiliki ikatan batin yang kuat dengan ibunya. Jadi jika ibunya merasa terluka dia juga akan ikut bersedih." Liontin memegang dada sambil memasang ekspresi sedih.
"Pintar sekali menjawab, ya, sekarang?"
Tak lama kemudian terdengar dentingan bel. Nyonya Oey beranjak ke pintu keluar kemudian membukanya. Di depan rumah, David sedang berdiri sambil menggandeng jemari Jia.
"Liontin sudah pulang ke Indonesia! Pergilah!" Nyonya Oey menutup kembali pintu rumahnya, tetapi berhasil ditahan oleh David.
"Aku mohon, ijinkan aku bertemu dengannya sekali saja. Aku dan Jia akan pindah ke negara lain."
"Nyonya, Anda lama sekali!" Liontin keluar dari arah ruang tengah sambil menggendong Makutha.
Langkahnya berhenti ketika melihat David dan Jia sedang berdiri di ambang pintu. Jia melepaskan tautan jemarinya dari David, kemudian berlari menghampiri Liontin.
"Mama? Ada Dedek?" Jia menunjuk Makutha sambil melebarkan mata.
"I-iya. Ini Adik Jia. Mau cium?"
__ADS_1
"Cium!" Balita berumur dua tahun itu melompat kegirangan sambil bertepuk tangan.
Liontin berjongkok hingga tingginya sama dengan Jia. Tanpa menunggu lebih lama, Jia langsung menghujani Makutha dengan ciuman. Makutha hanya menggeliat ketika sang kakak sibuk memberikan ciuman.
Tubuh David seakan membatu. Kakinya terpatri di atas lantai ketika menatap keakraban dua anaknya itu. Detik itu juga dia baru menyadari betapa egoisnya dirinya, karena membiarkan Liontin berjuang sendirian saat mengandung hingga melahirkan.
"Apa kamu baru menyesalinya?" Nyonya Oey tersenyum miring sembati melipat lengan di depan dada.
David menatap Nyonya Oey sekilas kemudian membuang pandangan ke arah halaman rumah. Jakun lelaki itu naik turun berulang kali, pertanda sedang menelan ludah karena rasa gugup.
"Sayangnya tidak ada kesempatan kedua untukmu sekarang. Liontin benar-benar akan kembali ke Indonesia dan menikah dengan Reza."
Sontak David kembali menatap Nyonya Oey. Ekspresi lelaki itu terlihat datar, tetapi dari pupil matanya yang membesar menunjukkan bahwa lelaki itu sedang terkejut.
"Minggir!" seru Reza yang baru saja sampai di kediaman Nyonya Oey.
David menatap tajam lelaki di hadapannya sambil mengatupkan bibir rapat-rapat. Sesaat kemudian, lelaki itu memanggil Jia dan mengajaknya pulang. Sang putri pun dengan patuh menggandeng jemari David dan meninggalkan kediaman Nyonya Oey.
"Ayo, kita berangkat sekarang!" Reza menarik koper dan memasukkannya ke bagasi taksi.
__ADS_1
Nyonya Oey dan Liontin saling berpelukan dan mengucapkan salam perpisahan. Perempuan tua itu memutuskan untuk tidak ikut mengantar ke bandara karena takut semakin berat melepas kepergian Liontin.