TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
S2 Bab 11: Sama-sama Jahil


__ADS_3

Abercio menghentikan motor CBR merahnya ketika melihat Hasna sedang duduk di halte sekolah sendirian. Perlahan dia mengamati gadis cantik berjilbab itu. Sebuah niat muncul untuk megantar Hasna pupang ke rumahnya. Hitung-hitung dia jadi tahu di mana gadis itu tinggal.


"Kamu bareng aku aja, Na." Cio menawarkan diri untuk mengantar Hasna pulang.


Hasna sempat terbelalak karena terkejut dengan kedatangan Cio. Namun, sedetik kemudian gadis itu menundukkan pandangan. Dia merogoh saku kemeja putihnya dan menulis sesuatu di buku catatan seperti biasa.


Nggak usah. Aku langsung ke butik.


"Oh, kebetulan kalau begitu. Aku mau jemput mama sekalian! Yuk!"


Hasna tidak bisa menolak kali ini. Dia terpaksa naik ke motor sport Cio. Akan tetapi, Hasna merasa tidak nyaman karena posisi tubuhnya kini terlalu dekat dengan Cio. Bahkan bagian kanan tubuhnya menempel pada punggung lelaki itu. Hasna menyolek bahu Cio, dan lelaki itu menoleh.


Tasmu, bisa dipindah ke belakang?


Hasna menunjuk tas ransel dan punggung Cio bergantian. Abercio awalnya mengerutkan dahi. Namun, akhirnya dia paham apa yang dimaksud Hasna setelah gadis itu mengulangi gerakannya tiga kali.


"Oalah ... kamu mau aku menggendong ranselku di punggung?"


Hasna mengangguk cepat sembari tersenyum. Abercio pun memakai ransel seperti kemauan Hasna. Namun, setelah memindah tasnya ke belakang, justru sekarang dia yang merasa tidak nyaman. Akhirnya Cio memutuskan untuk menghubungi Makutha dan meminjam motornya.


"Hei, Bro! Di mana?"


"Kenapa?"


"Boleh pinjam motornya? Aku mau anter Hasna pulang, tapi sepertinya dia nggak nyaman naik Si Cabe."


"Aku udah sampai rumah. Kenapa nggak bilang daritadi?"


"Hah! Gila! Perasaan kita belum lama ketemu! Udah sampai rumah aja, Bro!" seru Abercio.


Tak lama kemudian terdengar tawa nyaring yang membuat telinga Cio berdengung. Lelaki itu langsung mematikan sambungan telepon karena kesal. Namun, suara tawa Makutha masih tetap terdengar.


Abercio menautkan alisnya, lalu melirik ponselnya untuk memastikan bahwa sambungan telepon sudah berakhir. Dahinya semakin berkerut ketika melihat panggilannya dengan Makutha memang sudah berhenti.


Abercio menoleh ketika Hasna mencolek bahunya. Gadis itu tersenyum geli sambil menunjuk ke suatu arah. Cio mengikuti jari Hasna menunjuk. Benar saja, Makutha masih ada di depan gerbang sekolah sambil tertawa terpingkal-pingkal.


"Semprul!" umpat Cio.

__ADS_1


Makutha melajukan motor matic-nya, lalu berhenti tepat di samping Cio. Lelaki itu melemparkan kunci motornya kepada sang sahabat, dan berhasil ditangkap oleh Cio.


"Nih, pake aja! Lama juga nggak apa-apa! Aku pinjem motormu buat mejeng cari gebetan!"


Abercio turun dari motor kemudian menurunkan kick stand-nya. Makutha mengambil alih motor sport berwarna merah itu, kemudian langsung memutar tuas gas. Setelah Makutha menghilang dari pandangan, dia juga segera mengendarai motor matic milik sang sahabat.


Hanya membutuhkan waktu selama lima belas menit untuk sampai di butik milik sang ibu. Cio dan Hasna berjalan beriringan masuk ke butik. Hasna berpamitan kepada Cio untuk segera absen dan mulai bekerja.


"Cio, makasih, ya!" Hasna menggunakan bahasa isyarat dengan menggerakkan jemarinya.


Sedikit demi sedikit Cio mulai paham dengan gerakan tersebut. Terlebih lagi, akhir-akhir ini keduanya sering bertemu untuk latihan senam.


"Oh, iya. Sama-sama," ucap Cio sembari tersenyum.


Hasna langsung masuk ke kantor, sedangkan Cio memutuskan untuk menunggu sang ibu di sofa. Ketika sedang sibuk menunggu ibunya menyelesaikan pekerjaan, tiba-tiba seorang karyawan mendekatinya. Gadis itu memiliki tubuh berisi dan memakai pakaian super ketat. Namanya Angel.


"Mas Cio, mau minum apa? Biar saya buatin."


"Es kepal milo, atau jus semangka! Tolong, ya, Tante." Cio tersenyum miring ketika melihat perubahan ekspresi perempuan di hadapannya itu.


Mendengar sapaan 'tante' membuat Angel kesal. Dia tidak terima dipanggil dengan sebutan tante. Terlebih lagi jarak umurnya dengan Cio hanya terpaut lima tahun. Perempuan seksi itu melipat lengan kemudian memajukan bibir


Cio terkekeh melihat tingkah Angel. Sejak perempuan itu bekerja di butik untuk menggantikan Mita, dia jadi punya obyek kejahilan baru. Setiap Angel berusaha menggodanya, Cio langsung memelintir keadaan dengan menjahilinya balik. Pernah suatu ketika Angel sengaja menabrak Cio dan membuat roknya basah untuk meminjam jaket Cio.


...****************...


Hari itu Cio sedang menunggu sang ibu di luar butik sambil menyedot jus semangka kesukaannya. Mata lelaki itu fokus pada gawai dan jemarinya menggulir layar ponsel untuk melihat beranda media sosialnya.


Tiba-tiba tubuhnya ditumbuk oleh Angel. Kemejanya kini basah akibat jus semangka yang tumpah. Entah bagaimana ceritanya, kini rok milik Angel juga ikut basah.


"Yah, rokku basah, Mas!" Angel menatap nanar rok pendek yang kini ia pakai.


"Eh, iya basah! Tante Angel ngompol?" Cio terkekeh, sedangkan Angel mengerucutkan bibir.


"Ih, Mas Cio. Ini 'kan basah gara-gara jus semangkamu," rengek Angel dengan nada manja.


Abercio hanya mengerutkan dahi mendengar ucapan Angel. Sedetik kemudian perempuan itu meminta Cio agar mau meminjamkan jaketnya. Dia berdalih akan menggunakan jaket tersebut untuk menutupi roknya yang basah.

__ADS_1


"Boleh, ya, Mas pinjem jaketnya? Aku 'kan naik angkot. Malu kalau dilihat banyak orang dengan keadaan basah begini."


Cio hanya mengangguk-anguk sambil mengusap dagunya berulang kali. Namun, bukan Cio namanya jika tidak jahil. Cio bukannya meminjamkan jaket, tapi malah menyodorkan sarung yang baru saja ia pakai untuk kostum latihan drama.


"Nih, ini aja, mau?"


"Ih, masak naik angkot pakai sarung! Kayak habis khitan aja, Mas!"


"Eh, iya juga ya! Bocah abis khitan aja sekarang langsung pakai celana," ucap Cio sembari mengangguk-angguk.


"Tapi, gimana dong. Aku juga butuh jaket buat nutupin kemejaku yang basah. Kalau nggak, ntar aku bisa masuk angin!" Cio berbicara dengan nada manja menirukan gaya bicara Angel.


Angel akhirnya meninggalkan Cio dengan hati yang kesal. Perempuan itu bersungut-sungut sambil menggerutu ketika berjalan menuju halte bus.


...****************...


"Cio!" panggil Bintang.


"Sudah, Ma?"


"Sudah, ayo!"


Keduanya keluar dari butik. Cio mulai melajukan motornya. Ketika baru berkendara beberapa meter dari butik, tiba-tiba seorang perempuan paruh baya menyeberang jalan tanpa menoleh kiri dan kanan. Sontak Cio menarik rem, sehingga motor Makutha kehilangan keseimbangan dan jatuh.


Cio bangkit bangun dan mulai menegakkan kembali motornya. Bintang meringis kesakitan karena lengan atasnya tergores aspal hingga lecet. Cio langsung menghampiri perempuan yang menyeberang sembarangan itu.


"Bu! Kalau nyebrang hati-hati, dong!" teriak Makutha.


"Eh, harusnya kamu yang bawa motornya pelan-pelan!" seru perempuan itu.


Bintang langsung mendekati keduanya. Dia mengerutkan dahi ketika melihat perempuan yang menjadi penyebab kecelakaan kecil itu terjadi.


"Loh, kamu?"


...****************...


Siapa yaaa kira-kira perempuan itu?

__ADS_1


Oh ya, sambil nunggu update, mampir yukkk ke karya salah satu sahabat Chika. Jangan lupa tinggalkan jejak, ya❤❤❤



__ADS_2