TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
S2 Bab 12: Ayahnya Orang Mana?


__ADS_3

"Loh, kamu?" Bintang menautkan alisnya ketika mengetahui perempuan yang hampir ditabrak Cio adalah Tante Hasna.


"Siapa, ya?" Wahyu mengerutkan dahi berusaha mengingat siapa perempuan yang ada di hadapannya ini.


"Saya Bintang, dulu kita pernah rebutan baju obral di Grandmall!" Mata Bintang berkilat mengingat kejadian lucu beberapa bulan lalu.


"Oh," jawab Wahyu singkat.


Perempuan itu meneliti penampilan Bintang dengan tatapan meremehkan. Wahyu tersenyum miring, kemudian melipat lengan di depan dada.


"Dia anakmu?"


"Iya, Mbak." Bintang mengangguk singkat sambil tersenyum.


"Kasih tau, dong, anaknya! Kalau bawa motor jangan ugal-ugalan! Baru juga bawa motor murah, udah ngebut-ngebut di jalan. Apalagi kalau bawa motor mahal?" Wahyu tersenyum miring sembari menatap sinis motor yang tadi hampir menabraknya.


"Eh, Tante! Kalo ngomong otaknya juga dipakai, ya!" seru Cio sambil menunjuk wajah Wahyu.


"Cio ....!" Bintang sedikit meninggikan suaranya kemudian menggeleng sambil menatap tajam, ketika sang putra melihat ke arahnya.


"Maaf, Ma." Cio menunduk, dia yakin betul sesampainya di rumah akan mendapat siraman rohani dari sang ibu karena sikap tidak sopannya barusan.


"Baiklah, saya minta maaf. Tapi, lain kali kalau Anda mau menyeberang harusnya juga lebih hati-hati. Saya melihat kalau spedometer motor anak saya masih masuk dalam kecepatan rendah, kok." Bintang tersenyum lebar sambil menaikkan salah satu alisnya.


"Atau mungkin mata Anda bermasalah sehingga tidak melihat kami yang sedang berkendara?" Nada bicara Bintang sangat lembut, tetapi terdengar begitu menusuk.


Wahyu sampai melongo dibuatnya. Bintang langsung mengajak Cio untuk kembali melanjutkan perjalanan. Sedangkan Wahyu masih terperangah berusaha mencerna kejadian barusan.


"Wooo! Anak dan ibu sama saja! Sama-sama gemblung!" umpat Wahyu sambil menunjuk ke arah motor Cio yang mulai menjauh.


...****************...


Hari ini geladi bersih untuk tugas senam diadakan di rumah Makutha. Besok Cio dan teman sekelompoknya akan mendapat giliran tampil. Setelah mempersiapkan semuanya selama dua minggu, akhirnya mereka bisa membuat gerakan aerobik yang beda dari yang lain.


Semua teman sekelompok itu juga semakin akrab dengan Hasna. Mereka baru menyadari bahwa gadis itu memiliki banyak kelebihan di balik kekurangannya. Sejak saat itu Rachel, Fiska, dan Fitri sering mengajak Hasna mengobrol dan mengerjakan tugas bersama.


"Baiklah, besok hari penentuan! Gerakan kita juga sudah terlihat kompak! Semoga nanti nilai yang kita dapatkan memuaskan!" seru Cio dengan mata bersinar.


"Aamiin!" sahut semua anggota kelompok tersebut.


"Kalian semua hebat!" Cio mengepalkan tangan lalu meninjukannya ke udara.

__ADS_1


Mereka semua berlatih hanya satu jam hari itu. Setelah selesai, semuanya pulang ke rumah masing-masing menyisakan Abercio, Makutha, Rachel, dan Hasna. Cio beranjak dari tempat duduknya kemudian mendekati Hasna.


"Ayo, Na. Aku anter pulang."


Hasna berpikir cara apa lagi untuk menolak Cio. Pasalnya sudah berulang kali dia menolak tawaran Cio. Hasna sebenarnya juga heran kenapa Cio selalu gencar menawarkan diri untuk mengantarkan pulang. Baru saja Hasna hendak membuka mulut dan menggerakkan tangannya, Rachel menyela obrolan mereka.


"Cio, bisa minta tolong anterin pulang, nggak? Mommy nggak bisa jemput aku," pinta Rachel manja sambil menunjukkan obrolan teksnya dengan sang ibu.


"Kamu sama Utha aja, ya?"


"Dih, ogah! Aku capek, mau tidur!" sahut Makutha.


Cio memelototi Makutha karena kesal. Sedangkan sang sahabat tersenyum geli sambil menaikkan alisnya. Tak lama kemudian, Liontin keluar bersama Tiara dan menyapa mereka.


"Eh, ya. Kalian belum ada yang jemput?" tanya Liontin sembari menatap Rachel dan Hasna bergantian.


"Belum, Tante," jawab Rachel, sedangkan Hasna hanya bisa menggeleng.


"Biar Tante antar saja, yuk! Kebetulan Tante mau antar Ara beli buku pelajaran." Liontin tersenyum ramah kepada dua gadis cantik tersebut.


"Makasih, Tante. Jadi ... ngerepotin." Rachel tersenyum canggung.


"Nggak apa-apa, kok. Sekalian jalan juga, 'kan?"


"Yuk, kita berangkat sekarang!" ajak Liontin.


Ketiga perempuan itu pun langsung masuk ke mobil dan mulai meninggalkan kediaman keluarga Makutha. Sepanjang perjalanan, Tiara terus mengoceh tanpa henti. Dia terus mengobrol dengan Rachel.


"Kakak, Kakak! Kok mata Kak Rachel warnanya biru, sih?" Tiara mengerutkan dahi sambil menatap lensa mata Rachel.


"Ah, ayahku orang Inggris, Ara. Jadi aku mendapatkan mata biru ini dari ayah." Rachel tersenyum tipis sambil mengusap lembut rambut Tiara.


"Ooo ...." Tiara menganggukan kepala berulang kali tanda mengerti.


"Kalau Kak Hasna, ayahnya orang mana?"


Hasna tertegun. Bayangan sosok sang ayah timbul tenggelam di benaknya. Hanya 5 tahun mereka bersama dalam hidup. Hanya segelintir kenangan yang terlihat samar dalam bayangan gadis itu. Bahkan hampir tidak ada.


"Ayahku ... aku ... tidak banyak mengenalnya." Jemari lentik Hasna menari-nari di udara mewakilkan dirinya yang sedang berbicara.


Namun, Tiara hanya mengerutkan dahi. Dia tidak tahu apa yang sedang dikatakan oleh Hasna. Menyadari gadis kecil di hadapannya itu tidak memahami apa yang ia maksud, akhirnya Hasna mengeluarkan buku catatan.

__ADS_1


Aku tidak banyak mengetahui tentang ayahku. Beliau meninggal ketika aku berusia lima tahun. Tante juga tidak banyak menceritakan tentang beliau.


Tiara terdiam membaca tulisan dari Hasna. Gadis kecil itu menelan ludah kasar, lalu tersenyum kecut. Dia mengembalikan buku catatan kecil milik Hasna.


"Maaf, Kak. Aku tidak tahu."


"Tidak apa-apa." Hasna menggerakkan jemarinya di depan dada.


Kali ini Tiara menangkap maksud teman dari kakaknya itu. Dia memberikan Hasna sebuah pelukan. Awalnya Hasna terbelalak. Namun, perlahan tatapannya melembut. Dia meraih puncak kepala Tiara dan mengusapnya perlahan. Liontin tersenyum tipis melihat sikap manis putrinya yang terpantul dari kaca spion.


"Ah, sudah sampai, Rachel!" seru Liontin.


Tak terasa mobil yang mereka tumpangi sampai di kediaman mewah milik keluarga Rachel. Gadis itu tersenyum lebar kemudian turun dari mobil. Sebelum masuk ke rumah, dia mengucapkan terima kasih kepada Liontin.


"Tante, makasih, ya!" ucap Rachel.


"Iya, sama-sama. Salam buat mommy-mu!" Liontin melambaikan tangan lalu kembali melajukan mobil setelah Rachel masuk ke rumahnya.


"Baiklah, kita antar Kak Hasna dulu, ya, Ara?"


"Bunda ...," panggil Tiara manja.


"Hm, kenapa?" Liontin tersenyum tipis. Dia tahu kalau sang anak pasti menginginkan sesuatu jika nada manja sudah keluar dari bibir mungilnya.


"Kita aja sekalian Kak Hasna ke toko buku, boleh?" tanya Tiara sambil mengedipkan mata.


"Mmm ... coba tanya ke Kak Hasna. Mau nggak ikut antar Ara beli buku?"


Tiara kini memutar tubuhnya, dan mengedipkan mata berulang kali. "Kak ... bisa ikut aku ke toko buku? Aku ingin lebih lama bersama Kak Hasna."


Hasna sebenarnya ingin menolak. Akan tetapi, dia dilema. Jarang-jarang gadis kecil ini meminta kepadanya. Akhirnya Hasna mengangguk setelah mempertimbangkan kebaikan Liontin selama ini.


Sejak terakhir kali Liontin mengantar pulang ke rumah di awal Tahun Ajaran baru, dia sering mendapatkan kebaikan dari Liontin. Bahkan beberapa kali Liontin membelikannya jilbab dan juga gamis.


"Yeay!" seru Tiara sembari melompat kegirangan.


......***......


Halo ... Terima kasih sudah setia membaca TKI sebentar lagi TKI tamat lohh. 😭😭😭


Oh ya, mampir juga yaa ke karya salah satu sahabat Chika. Jangan lupa tinggalkan jejak❤❤❤

__ADS_1



__ADS_2