
Cahaya jingga dari langit senja menembus jendela kaca di sebuah restoran bergaya vintage. Restoran itu mulai ramai didatangi pelanggan karena memang hari sabtu. Harinya para muda-mudi yang sedang dimabuk asmara.
Namun, hal itu tidak berlaku bagi David ataupun Berlian. David sibuk memenuhi permintaan sang kakak hingga mengorbankan waktu berduanya dengan Jia. Sedangkan Berlian sedang berjuang mendapatkan kasih sayang sang mantan suami untuk anaknya.
David diam-diam memotret Berlian yang sedang menemui seseorang. Mata elang lelaki itu tak lepas dari perempuan yang kini sedang duduk manis bersama seorang lelaki muda. Lelaki itu terlihat seumuran dengan Reza.
Tanpa David sadari, rahangnya mengeras. Jemari lelaki itu mengepal kuat, membuat pembuluh darah berwarna biru kehijauan di tangannya terlihat semakin menonjol. Dia mengirimkan foto yang berhasil ia ambil kepada Reza.
[Siapa lelaki brengsek ini?]
Sambil menunggu balasan dari sang kakak, David terus mengawasi mereka. Raut wajah Berlian terlihat begitu serius. Terkadang perempuan itu terlihat sedih dan membuang pandangan sambil menyeka air matanya.
Di meja tempat Berlian dan Adam bertemu, perempuan itu kembali memohon kepada sang mantan suami. Dia kembali meminta Adam untuk menemani saat bersalin.
"Kak, tolong kabulkan permintaanku kali ini .... Saat hamil, aku sudah tidak banyak menuntut kepadamu. Aku menjalani kehamilan ini sendirian tanpamu."
Air mata Berlian mulai menetes dan membasahi pipi. Namun, setiap air mata itu menetes, detik itu juga ia segera menghapusnya. Berharap kesedihan dalam hatinya ikut terhapus. Lelaki di depannya hanya bergeming. Menatap Berlian datar bahkan sesekali malah membuang muka.
"Maaf. Aku sudah berulang kali mengatakannya. Aku tidak bisa melakukannya."
"Dia anakmu, Kak. Apa tidak ada rasa sedikit pun yang tertinggal untuknya? Tidak masalah jika kamu sudah tidak menyayangiku. Tapi anak ini? Apa kamu benar-benar tidak menginginkannya?" Dada perempuan itu mulai sesak karena mendapati sikap Adam yang begitu dingin terhadapnya.
"Tidak. Aku tidak menginginkannya." Nada bicara Adam sedingin es hingga membuat bibir Berlian seakan membeku.
Lidah perempuan itu seakan beku karena dinginnya sikap yang ditunjukkan adam kepadanya. Hanya tetesan air mata yang terus meluncur ke pipi, yang bisa ia keluarkan. Dadanya nyeri bukan main, seakan disayat-sayat.
Berlian berusaha mengumpulkan kekuatannya kembali Dia mengusap lagi air matanya. Kali ini entah sudah berapa kali dia menyeka bulir bening itu.
"Baiklah, jika memang kamu tidak menginginkan kami. Jangan pernah meminta kami kembali suatu saat nanti. Aku tidak akan sudi!" ujar Berlian dengan tatapan tajam. Matanya mulai memerah karena menahan tangis. Telunjuknya menuding je arah wajah Adam.
Berlian beranjak dari kursi, berniat untuk keluar dari restoran tersebut. Akan tetapi, baru dua kali ia melangkahkan kaki, dari arah pintu masuk terlihat istri Adam berjalan ke arahnya. Perempuan itu menautkan alis sambil mengerucutkan bibir.
Ketika berada tepat di depan Berlian, perempuan itu melayangkan tangannya ke udara, dan mendarat mulus di pipi tirus mantan istri Adam. Wajah Berlian sampai berpaling ketika mendapatkan tamparan dari istri baru Adam itu.
__ADS_1
"Amy!" teriak Adam kemudian langsung berlari menghampiri sang istri.
"Hai, pelakor! Kamu masih berani, ya, menemui Mas Adam!" teriak Amy seperti orang kesetanan.
"Sudah, Amy, malu dilihat banyak orang!" seru Adam sambil memperhatikan sekeliling restoran. Tatapan puluhan pasang mata, kini menjadikan mereka pusat perhatian.
"Pelakor? Apa kamu lupa siapa yang pelakor di sini?" Berlian tersenyum miring sambil melipat lengannya di depan dada.
"Aku yang lebih dulu menikah dengan Kak Adam, bukan kamu!"
"Berani-beraninya kamu!" teriak Amy, kemudian mendorong tubuh Berlian hingga ibu hamil itu tersungkur di atas lantai.
Adam menarik tubuh Amy dan menyeretnya keluar dari restoran. Sedangkan David langsung berlari menghampiri Berlian yang masih terduduk.
"Kamu nggak apa-apa? Ada yang sakit?" tanya David panik.
"Aduh, perutku, sakit!" Berlian mengusap perutnya yang kram.
"Da-darah!" seru Berlian.
David langsung membopong tubuh ibu hamil itu dan berlari keluar dari restoran. Dia langsung membawanya ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan Berlian terus menangis dan merintih kesakitan. Bayangan masa lalu kembali hinggap di pikiran David.
Lelaki itu teringat dengan kejadian yang menimpa Ellena tujuh tahun lalu ketika melahirkan Jia ke dunia. Sang istri mengalami pendarahan dan harus melahirkan Jia sebelum waktunya.
"Sebentar lagi kita sampai. Bertahanlah sebentar lagi. Oke?" Kali ini David berbicara menggunakan bahasa Inggris. Suaranya terdengar gmsedikit gemetar.
Setelah membelah jalanan padat Kota Batik itu, David berhasil membawa Berlian ke Rumah Sakit milik Reza. Berlian dibawa ke IGD dan lelaki itu menunggu di luar ruangan. Jantungnya berdegub kencang. Jemarinya sampai gemetar ada sedikit bercak darah yang menempel si tangan lelaki itu.
David mondar-mandir di depan IGD menantikan kabar baik dari tim medis. Dia begitu berharap Berlian dan bayinya dalam keadaan baik-baik saja dan bisa selamat. Ketika sedang sibuk dengan pikirannya, sebuah suara yang menyerukan namanya menggema di koridor rumah sakit itu.
"Kak Reza."
"Kamu ngapain di sini?" Reza menatap ruang IGD dan David secara bergantian.
__ADS_1
"Siapa yang sakit?" Kini tatapan Reza berhenti pada tangan David yang penuh noda darah.
"Berlian, dia ada di dalam."
Reza terbelalak. "Bagaimana bisa? Kamu tidak mencelakainya, 'kan?"
"Tidak! Tadi ada seseorang yang mendorongnya dan sekarang dia mengalami pendarahan. Aku takut ...." Wajah David mulai terlihat sendu.
"Aku akan meminta tim medis untuk melakukan yang terbaik untuknya. Kamu tenanglah!" Reza menepuk bahu sang adik, kemudian masuk ke dalam IGD.
Ketika Reza memasuki ruangan itu, sontak perawat dan dokter yang ada di sana menunduk hormat.
"Kerjakan saja apa yang seharusnya kalian kerjakan! Berikan yang terbaik untuknya."
Dua orang perawat yang ada di dalam ruangan tersebut saling sikut. Reza berdeham ketika menyadari keduanya saling memberi kode.
"Dia Berlian, sahabat istriku!" seru Reza.
Pria tampan itu tidak ingin setelah ini beredar desas-desus tak mengenakkan mengenai kejadian ini. Sebenarnya niat awalnya masuk ke ruangan itu, agar tim medis yang menangani Berlian bertindak lebih cepat. Akan tetapi, justru tindakannya seperti menimbulkan spekulasi negatif dari dua kaum hawa di hadapannya itu.
Setelah ditangani selama tiga puluh menit, akhirnya pendarahan yang dialami Berlian berhenti. Dia mulai dipindahkan ke ruanh rawat inap. David enggan meninggalkan Berlian , sampai akhirnya panggilan telepon dari Jia membuatnya harus pulang terlebih dahulu.
"Aku pulang dulu, Kak. Bisa titip Berlian? Jia merajuk karena aku belum pulang. Aku ada janji dengannya."
"Baiklah, cepat pulang sana!" seru Reza.
David tersenyum sekilas, kemudian meninggalkan Reza yang masih terpaku di depan bangsal tempat Berlian dirawat.
...****************...
Halo, baca juga karya salah satu teman author yaa...
__ADS_1