TKI (Tenaga Kerja Indehoy)

TKI (Tenaga Kerja Indehoy)
Bab 28. Kemurkaan Cincin


__ADS_3

"Dia ... anakku, Budhe. Ceritanya panjang kenapa aku bisa melahirkan Makutha."


"Astaga! Mbakmu sudah tahu?" Pupil mata Budhe Siti melebar. Perempuan itu menutup mulutnya yang menganga lebar dengan telapak tangan.


"Itu ...."


"Anakmu?"


Budhe Siti dan Liontin menoleh ke halaman rumah karena mendengar suara Cincin. Keduanya terbelalak. Liontin tetap saja terkejut karena kehadiran sang kakak. Dia tak menyangka kakaknya datang secepat itu.


Cincin terus berjalan mendekat kemudian berhenti di depan Liontin. Dia menatap Liontin dengan tatapan tajam, tetapi tampak jelas ada kesedihan yang terpancar dari sorot matanya. Jemari Cincin mengepal erat di samping badan dan dadanya kembang kempis menahan emosi yang bergejolak.


"Masuk!" Suara Cincin terdengar begitu dingin dan menakutkan.


Seumur hidup, Liontin baru dua kali melihat ekspresi kakaknya seperti itu. Pertama kali kakaknya marah besar saat dia ketahuan membolos saat Sekolah Menengah Atas, dan hari ini adalah kedua kalinya Cincin menunjukkan ekspresi kemarahan yang luar biasa.


Liontin terus melangkah masuk mengikuti sang kakak begitu juga Budhe Siti. Ketika sudah berada di ruang keluarga, Cincin menghentikan langkahnya. Liontin terus menunduk, enggan menatap wajah kakaknya.


"Kak, maaf ... Aku ...."

__ADS_1


Belum selesai Liontin bicara, Cincin sudah mendaratkan tamparannya pada pipi mulus sang adik. Liontin semakin tertunduk dalam sambil mengusap pipinya.


"Sabar, Nduk. Sabar ... nyebut!" Budhe Siti meraih lengan Cincin kemudian memeluk perempuan itu.


Air mata Cincin bercucuran membasahi pipi. Hati perempuan itu terasa begitu nyeri karena kecewa terhadap Liontin. Adik yang ia bangga-banggakan, tiba-tiba pulang dari Taipei membawa seorang bayi asing ke rumah.


"Ontin, Mbak nggak nyangka kamu berbuat sejauh ini di sana! Kamu melacur? Ha?"


Sontak Liontin menatap wajah sang kakak. Air matanya mengalir deras mendengar tuduhan sang kakak. Makutha ikut menangis seakan merasakan apa yang sedang Liontin rasakan.


"Mbaaak! Ini sebuah kecelakaan! Jika bisa meminta, Ontin juga nggak mau memiliki nasib seperti ini."


Cincin menatap Makutha tajam sambil menunjuk bayi tak berdosa itu. "Kamu malah pulang-pulang bawa anak haram ini! Kamu sudah melempar kotoran ke muka Mbak, Tin!"


"Haram? Anak haram, Mbak Cincin bilang?" Mata Liontin semakin memerah, dadanya naik turun, dan hatinya seakan diremas mendengar ucapan dari sang kakak.


"Makutha bukan anak haram! Dia terlahir suci, Mbak! Dia hadir karena aku diperkosa oleh majikanku!"


Kaki Cincin tiba-tiba lemas. Perempuan itu merosot ke atas lantai mendengar pernyataan Liontin.

__ADS_1


"Liontin minta maaf, karena tidak bisa menjaga harga diri. Maaf, karena sudah membuat Mbak Cincin kecewa dan tidak bisa memenuhi ekspetasimu, Mbak."


Budhe Siti yang sama terkejutnya dengan Cincin kini ikut menangis sesenggukan. Liontin berjalan ke arah sang kakak kemudian memeluknya.


"Maafin Liontin, Mbak. Maaf ...."


Tangis keduanya saling bersahutan. Makutha juga belum berhenti dari tangisnya. Budhe Siti pun memeluk kedua keponakannya itu agar tangis keduanya berhenti.


Setelah hati ketiganya sedikit lebih tenang, mereka duduk di atas karpet ruang tengah. Makutha sudah kembali tidur, dan kali ini Budhe Siti menggendong bayi mungil itu. Liontin mulai menceritakan semua kejadian yang menimpanya. Tangis Cincin kembali pecah setelah mengetahui fakta yang disembunyikan sang adik.


"Kamu kenapa nggak cerita sama Mbak? Jika kamu cerita, Mbak akan mengusahakan agar kamu pulang ke rumah detik itu juga!" Cincin memeluk tubuh sang adik sambil mengusap rambut panjangnya.


"Mbak, Ontin nggak mau Mbak Cincin terbebani karena hal ini. Maaf karena sudah memberikan kekecewaan kepadamu, Mbak."


"Mbak juga minta maaf, ya? Mbak nggak bisa mengontrol emosi. Lalu apa rencanamu selanjutnya?" Cincin melepaskan pelukannya kemudian merangkum wajah Liontin.


"Ontin belum tahu, Mbak."


"Pergi saja dari desa ini! Mulai kehidupanmu di tempat baru."

__ADS_1


__ADS_2