
Denting sendok yang beradu dengan piring terdengar di ruang makan keluarga Risa. Meja makan persegi panjang itu di kelilingi oleh enam orang dewasa dan juga seorang gadis perempuan berusia lima tahun. Makutha masih terlelap di kamar tamu dan ditemani oleh Mbok Darmi. Semuanya menikmati makanan dengan tenang.
Setelah selesai mereka semua berkumpul di ruang keluarga sambil ditemani kopi, teh, dan kue kering yang tertata rapi di atas meja. Panji, suami Cincin mulai mengutarakan maksud kedatangannya.
"Bu, saya selaku kakak ipar Liontin ingin menjawab lamaran dari Reza ... putra Ibu." Panji melirik Cincin diikuti anggukan sang istri.
"Begini ... Adik kami, Liontin itu janda. Ibu tahu sendiri, bagaimana image seorang janda di mata masyarakat, 'kan? Saya takut jika status Liontin sekarang ini akan membuat nama baik keluarga Anda menjadi kurang baik." Panji menelan ludah kasar, takut kalau apa yang ia sampaikan justru membuat Risa tersinggung.
"Terlebih lagi, saya lihat Anda keluarga yang sangat berada. Sebenarnya saya merasa tidak pantas, jika Liontin dipilih menjadi istri Reza. Tapi, selebihnya keputusan saya serahkan pada Liontin, karena dia yang akan menjalaninya."
"Baiklah. Sebenarnya saya yang merupakan seorang janda tidak setuju dengan ucapan Anda tadi. Kami tidak pernah memandang status sosial seseorang. Banyak di luar sana perempuan berpendidikan dan memiliki status sosial tinggi, tetapi kelakuannya tidak bermoral." Risa tersenyum lebar kemudian menatap Liontin.
"Liontin perempuan yang baik. Dia berpendirian, tegas, tetapi sopan. Aku rasa kalian mendidiknya dengan baik."
"Jadi, kapan kami bisa menikah?" Reza menatap Risa, Panji, dan Cincin secara bergantian.
Tatapan lelaki itu mirip seperti anak anjing yang menginginkan makanannya. Semua orang yang ada di ruangan itu tertawa kecuali Liontin. Perempuan itu mencubit pinggang Reza karena malu.
__ADS_1
"Sabar, kita cari hari yang baik!" ujar Risa.
Obrolan keduanya berlanjut hingga jam menunjukkan pukul 21:00. Reza mengantar Liontin dan kakaknya pulang. Liontin meminta kakak dan keponakannya untuk menginap di Solo, karena sudah terlalu larut jika harus kembali ke kampung.
...****************...
Malam itu, Liontin dan Cincin sama-sama tidak bisa tidur. Mereka melanjutkan obrolan mengenai rencana pernikahan Liontin dan Reza.
"Apa tidak terlalu cepat?" Cincin bertopang dagu sambil memiringkan kepalanya ketika menatap liontin.
"Lebih cepat lebih baik, Mbak." Liontin terkekeh lalu mengerjapkan mata berulang kali.
Bahu Cincin merosot. Dia menatap nanar adik kesayangannya itu. "Mbak begini karena sayang. Maaf, ya, kalau membuatmu nggak nyaman?"
"Aku paham, kok, Mbak. Tapi, aku sudah yakin kalau Kak Reza pria yang tepat. Mbak nggak usah khawatir." Liontin tersenyum lebar kemudian memeluk sang kakak agar perempuan itu lebih tenang.
"Tin, kalau ada apa-apa jangan ragu untuk berbagi cerita sama Mbak, ya? Jangan seperti waktu mengandung Makutha. Kita perlu untuk berbagi cerita agar tidak menanggung semuanya sendirian."
__ADS_1
Cincin melepaskan pelukan Liontin kemudian merangkum wajah cantik adik perempuannya itu. Dia membelai lembut anak rambut Liontin, kemudian menyelipkannya ke belakang telinga.
"Kamu ingat pesan Mbak ini, ya? Mengerti?"
Liontin mengangguk pelan kemudian tersenyum lebar. Kedua kakak beradik kembali berpelukan, dan mulai memejamkan mata. Mereka sama-sama melepaskan lelah hari itu, melepaskan kesedihan, dan berharap membuka mata bersama kebahagiaan yang baru.
...----------------...
Holaaa....
Maaf, ya ....
Sebenarnya semalem saya sudah up Bab baru dari jam 19:00.
Tapi takdir berkata lain, hingga Bab 35 tertahan review otomatis dan kena review manual. Mohon pengertiannya.
Sambil nunggu TKI up lagi, mampir, yuk ke karya bestie akuuu... Dijamin auto baper.
__ADS_1